JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Es potong


__ADS_3

Alice kembali mengaduk mangkuk bubur keduanya dengan sambal. Dan kali ini Galih hanya membiarkan gadis itu melakukan apapun yang diinginkannya. Kali ini pria itu hanya melihat Alice makan karena makanan miliknya sudah habis.


"Kau tidak menambah lagi? Buburnya enak loh.." Ucap Alice saat pipi gadis itu tampak menyembul karena makanan di dalam mulutnya. Galih yang melihat itu tersenyum yang di tutupi oleh tangannya.


"Ada apa?" Tanya Alice bingung mengapa pria itu malah tersenyum.


"Wajah mu persis seperti hamster yang sedang mengumpulkan biji-bijian di dalam mulutnya. Ehem" Ucap pria itu dan mengacak-acak rambut Alice.


"Hei.. Hentikan itu.. Aku di pasti di bilang kucing manis dan kau bilang aku tikus?" Ucap Alice kesal namun gadis itu masih melanjutkan makannya.


"Itu hamster Alice bukan tikus." Ucap Galih mengingatkan.


"Tapi keduanya sama-sama binatang pengerat." Ucap Alice kasal.


"Baiklah kau bukan hamster kau kucing saja." Ucap Galih akhirnya daripada berbuntut panjang.


"Nah itu lebih baik. Ehh tapi bukankah keduanya sama-sama hewan.. Sudahlah kau menyebalkan Gal." Ucap Alice dan mendorong bahu pria itu.


"Loh kok jadi aku yang di salahkan. Kan kau sendiri yang bilang tadi." Galih menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Semua karena kau aku jadi tidak ***** makan lagi." Alice mengambil teh tawar hangatnya dan kemudian meminum air hangat itu hingga habis.


"Ha? Salah ku? Tapi itu.." Belum selesai Galih menyelesaikan kalimatnya, Alice sudah berdiri dari duduknya.


"Cepat bayar." Alice memerintah Galih dan pria itu membayar tiga mangkuk buburnya.


"Bukannya tidak ***** makan lagi namanya, orang di mangkuknya sudah habis apalagi yang mau di makannya, mangkuknya." Gerutu Galih pelan.


"Aku bisa mendengar mu." Ucap Alice lagi.


"Kita jalan saja. Kita baru selesai makan." Ucap pria itu mengalihkan pembicaraan, akan repot jika mood gadis ini berubah lagi.


"Ehh kita kesana yuk sepertinya lebih ramai." Alice menunjuk kerumunan yang lebih ramai sepertinya ada pelatihan pencak silat yang di lakukan oleh beberapa anak kecil yang membuatnya jadi pusat perhatian.


Beberapa anak kecil usia 4 sampai 6tahun berjajar berbaris rapih dan dengan tekunnya mengikuti instruktur dari guru mereka.


"Aihh manisnya.." Ucap Alice saat melihat anak-anak itu mengikuti gerakan demi gerakan yang sangat terstruktur meski beberapa anak yang usianya lebih kecil lebih terlihat bermain-main dan tidak fokus.


Namun itu adalah daya tariknya yang membuat penonton semakin mengelilingi mereka bahkan ada yang duduk berselonjor tak jauh dari tempat anak-anak kecil itu berlatih.

__ADS_1


"Saat aku kecil aku hanya tahu bermain.. Mereka sangat menggemaskan saat mulai seruus berlatih seperti ini. Aku yakin mereka akan lebih hebat dari ku nantinya." Ucap alice dengan mata berbinar-binar menatap kearah pelatihan anak kecil itu.


Meski mereka kebanyakan saat ini melatih tinjuan, tangkisan tangan dan gerakan langkah kaki beserta tendangan. Mereka tampak serius dan bersenang-senang dengan aktifitas olahraga itu.


"Sudah balik yuk sudah makin panas." Ucap Galih saat melihat matahari semakin naik keatas dan menyorotinya semakin panas.


"Ahh.. Baiklah kalau begitu.. Kita jalan santai saja." Ucap Alice dan berjalan santai menyusuri jalan menuju ke rumahnya.


"Kau akan ke pusat hari ini?" Tanya Galih di sela-sela mereka berjalan pulang.


"Tidak.. Aku akan di toko saja melihat perkembangan toko.. Jika ada apa-apa baru hubungi aku." Ucapnya.


"Ahh baiklah.. Nanti siang aku makan di rumah mu. Kau tidak lupa bukan untuk memasakkan makanan untuk ku." Ucap pria itu mengingatkan.


"Ya.. Aku ingat.. Nanti siang kau ke rumah saja. Aku buatkan untuk makan siang mu." Ucap Alice cepat.


"Ahh.. Ada es cream potong.. Belikan aku itu sana cepat." Perintah Alice saat melihat gerobak penjual es cream potong yang berada di seberang jalan.


"Bukan kah kau sudah kenyang?" Tanya Galih bingung.


"Untuk itu aku belum kenyang. Sana hentikan abangnya cepat!" Perintahnya lagi sambil sedikit mendorong tubuh Galih.


Pria itu terpaksa berlari ke seberang dengan menengok kiri kanan untuk memastikan tidak ada kendaraan yang lewat.


"Ohh iya mas.. Mau es cream potong rasa apa?" Tanya pria penjual es cream potong itu.


"Ha? Emang banyak ya bang rasanya?" Tanya pria itu bingung.


"Iya mas ada 6 rasa. Alpukat, coklat, durian, kacang hijau, stroberi, ketan hitam." Ucap pria penjual es potong itu dan memperlihatkan isi gerobaknya. Disana terlihat seperti es kecil dengan ukuran panjang yang terbungkus plastik tampak seperti es mambo namun dengan ukuran yang lebih panjang.


"Emhh semua rasa deh bang." Ucapnya dari pada bingung memilih rasa yang di inginkan Alice.


Penjual es itu mengeluarkan es yang ukurannya panjang kemudian memotong ujung plastiknya dan menusukkannya batang stik tusuk sate ke tengah-tengah es itu dan memotongnya. Kemudian membuka bungkusan plastiknya dan dicelup ke dalam coklat cair. Begitupun dengan es rasa lainnya.


"Wahh gimana bawanya ini." Ucapnya yang bingung saat satu persatu es itu di berikan kepadanya.


"Tunggu bang saya bayar dulu aja. Berapa semua jadinya?" Tanya Galih dan memberikan es itu kepada penjual untuk memegangnya dahulu.


"Jadi 12ribu.." Ucap pria itu dan menyerahkan uang 20ribuan.

__ADS_1


Setelah memberikan uang itu Galih mengambil kembali es itu dengan hati hati dan menjepit beberapa stiknya dengan ibu jarinya.


Setelah meletakkan 3stik di jari kiri dan tika stik di jari kanan, pria itu hendak pergi meninggalkan penjual es potong itu.


"Ehh tunggu mas.. Kembaliannya." Ucap pedagang itu menyerahkan beberapa uang kepada Galih.


"Buat abang aja tangan saya penuh." Ucapnya dan memilih untuk menyeberang jalan karena jalannya sudah lenggang.


"Wahh terima kasih mas." Ucap pria penjual es itu penuh syukur.


"Al.. Ini permintaan mu." Ucap Galih dan menyodorkan ketiga stik di tangannya.


"Wah.. Banyak sekali kamu beli." Ucap Alice bingung.


"Aku tidak tahu kau mau yang mana, jadi semua rasa aku ambil saja satu." Ucap Galih cuek.


"Benarkah? Kalau begitu aku akan mencicipi satu-satu." Ucap gadis itu ceria dan terlihat terpesona dengan es yang di balut dengan coklat itu. Alice menggigitnya dan mulai memakannya.


"Emhh enaknya.. Ini.. Coba deh." Ucapnya dan menyodorkan es potong bekas gigitan kepada Galih.


"Ish.. Jorok bau jigong." Ejek Galih sambil terkekeh.


"Enak aja.. Aku sudah mandi tahu." Ucap gadis itu kesal.


"Hahaha aku hanya bercanda."


"Ya sudah jika tidak mau! Akan aku makan semua!" Ucapnya marah.


"Hei! Aku hanya bercanda.. Berikan aku satu gigitan." Ucap Galih memohon agar Alice mau memaafkan dan memberikan satu gigitan untuknya.


"Ya sudah.. Karena aku baik hati.. Nih.." Alice menyodorkan es potong yang sudah tinggal setengah bekas gigitan kepada Galih. Galih menggigit es itu tanpa ragu dan memakannya.


"Enak.." Komentar pria itu.


"Mau lagi yang rasa ini?" Tanya Alice yang tinggal sedikit di stik pertamanya itu.


"Tidak buat kau saja."


"Baiklah akan aku habiskan." Alice segera menghabiskan stik pertamanya dan kemudian mulai dengan stik keduanya yang berada di tangannya.

__ADS_1


Tidak lupa Alice juga menyodorkan es itu kepada Galih dan pria itu juga mencicipinya hampir semua rasa es yang telah Alice gigit.


Bersambung....


__ADS_2