
Alice menghapus tetesan air mata yang lolos dari pipinya gadis itu mencoba bangkit dan berdiri dari duduknya di lantai. Alice mencari sebuah kamar mandi dan membersihkan wajahnya dari sisa-sisa cairan bening di wajahnya dengan air mengalir.
Gadis itu melihat pantulan wajahnya di cermin yang memperlihatkan hidung dan matanya menjadi merah, serta kantung mata yang sedikit menghitam di wajahnya.
"Astaga Al.. penampilan mu buruk sekali, mereka pasti akan mengkhawatirkan mu." Ucapnya sambil meringis melihat pantulan dirinya di cermin.
Alice membuka sesuatu di tasnya dan mengambil bedak sekaligus foundasion untuk menutupi kantung hitam di bawah matanya dan juga hidungnya yang memerah, tidak lupa dia juga menggunakan sedikit liptint di bibirnya.
"Jauh lebih terlihat hidup.." Gumamnya dan pergi peninggalkan kamar mandi itu.
Alice tidak ingin siapapun melihatnya dalam keadaan terpuruk seperti ini. Alice berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan berhenti tepat di depan pintu ruang rawat Maya.
Tok tok Alice mengetuk pintu itu dari luar.
"Masuk.." Sahutan dari dalam.
Alice menggeser pintu itu dan kemudian masuk ke dalam, di sana gadis itu melihat Juna sedang duduk di kursi di samping ranjang Maya.
"Bagaimana keadaan mu kak Maya?" Tanya Alice sambil mendekati ranjang wanita itu.
"Jauh lebih baik.. Saat ini aku sudah bisa bergerak dan berjalan, mungkin aku bisa pulang besok." Wanita itu berbicara sambil menggerak-gerakan tangannya.
Alice tersenyum tulus, "Syukurlah kalau begitu."
"Bagaimana dengan kondisi tunangan mu?" Tanya Maya.
"Ini sudah 6 hari dan dia masih belum sadarkan diri.. Dia masih enggan bangun dari ilusi mimpinya." Alice sedikit sendu saat membahas mengenai pria itu.
"Bersabarkah.. Di sana dia sedang berjuang untuk mu, kau harus lebih kuat dan sabar melewatinya di sini." Maya mengusap dan menggenggam tangan Alice.
Alice tersenyum, "Tentu.."
__ADS_1
Juna berdiri dari kursinya dan mendorong kursi itu, "Duduklah.." Ucapnya sambil melihat kearah Alice.
Alice menggeleng pelan, "Aku kesini hanya ingin menjenguk kak Maya, aku akan pulang sekarang. Aku tidak ingin mengganggu kalian."
Setelah mengucapkan hal itu Alice berpamitan kepada Maya dan Juna. Juna mendekati Alice sebelum gadis itu pergi, " Biar aku mengantar mu Al.." Juna sedikit khawatir kepada gadis itu.
Alice tersenyum dan menggeleng, "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kau jaga saja kak Maya. Aku pergi sekarang." Gadis itu berjalan kearah pintu dan keluar dari ruangan itu.
"Kau yakin dia akan baik-baik saja sendirian?" Tanya Maya saat Alice sudah tidak terlihat di dalam ruangannya.
"Dia membutuhkan waktunya untuk dirinya sendiri. Aku yakin dia akan baik -baik saja. Dia gadia yang kuat." Ucap Juna namun pandangannya tetap tidak terlepas dari pintu tempat Alice pergi tadi.
"Kau mengkhawatirkannya namun masih berusaha tampak tidak perduli." Sindir Maya saat melihat pria itu masih saja berdiri memandangi pintu.
"Dia pasti ingin menangis, namun dia tidak akan leluasa jika dia melakukannya di hadapan ku. Selain itu dia harus terus berpura-pura baik-baik saja, itu pasti sangat melelahkan. Yang bisa aku lakukan saat ini hanya memberikannya waktu untuk menyendiri dan menumpahkan air matanya." Juna masih berdiri dan memandang pintu.
"Kau lebih memahaminya ternyata." Ucap Maya dan ada sedikit nada tidak suka di sana, entah mengapa dia merasa sedikit cemburu.
Maya gugup dan mengibaskan tangannya cepat, "Tidak, untuk apa aku cemburu kau bukan siapa-siapa ku." Ucapnya tegas namun malah memperlihatkan bahwa wanita itu benar terpengaruh oleh ucapan Juna.
"Dia sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri, kita bertiga selalu menyayangi dan melindunginya. Dia merupakan bagian terpenting bagi kami. Jadi jangan cemburu kepadanya, dia memiliki posisi lain di hati kami namun bukan sebagai seorang kekasih, tidak seperti posisi mu di hati ku." Ucap Juna tulus dan memandang wanita itu dalam.
Maya yang mendengar pernyataan itu langsung menundukkan wajahnya malu. Gurat kemerahan terlihat di wajah Maya yang menunduk.
"Aku akan tidur di sini malam ini, aku sudah menghubungi bu Mae untuk tidak menginap malam ini dan datang besok lagi saja. Besok aku harus ke kantor memberikan laporan." Jelas Juna dan memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Hemm.." Gumam Maya sambil menganggukkan kepalanya, "Terima kasih." Lanjutnya meski kepalanya masih menunduk.
"Bukankah seseorang mengajari mu, jika berbicara itu harus memandang lawan bicara." Ucap Juna sambil menganggkat dagu Maya dengan ibu jari dan telunjuknya.
Mata bulat hitam legam Maya bertemu langsung dengan mata sipit Juna yang ternyata memiliki warna coklat terang. Kedua orang itu terpaku sesaat dan di sadarkan oleh bisikan Juna.
__ADS_1
"Cantik.. Aku baru tahu ternyata warna pupil mata mu benar-benar hitam legam.. Mata yang indah.." Puji Juna namun masih melihat wajah wanita itu sari dekat.
Maya yang tersadar dangsung mendorong dada Juna cepat dan kemudian berpura-pura merapihkan rambutnya, "Ehem.. Pupil mata ku memang hitam.." Ucapnya sedikit canggung.
"Ya.. Aku melihatnya.." Ucap Juna dan meregangkan tangannya ke atas tubuhnya.
"Ugh.. Aku sedikit mengantuk sekarang, aku akan tidur lebih awal. Tidak perlu merindukan ku, aku ada di samping mu." Ucapnya lagi sambil menaik turunkan alisnya menggoda Maya.
"Aku tidak merindukan mu!" Maya kesal mendengar ucapan pria itu dan melempar bantalnya ke tubuh Juna.
Bruk! Bantal yang menubruk tubuh Juna dengan cepat di tangkapnya dan kemudian berjalan mendekati Maya lagi.
"Jangan lempar-lempar bantal saat kau masih sakit.. Kita akan lempar-lempar bantal saat kau sudah sepenuhnya pulih." Ucap Juna Ambigu dan sukses membuat Maya mencubit tangan pria itu dengan sepenuh hati.
"Awhh.. Sakit May.." Keluh Juna yang merasakan nyeri pada tangannya yang mendapatkan capitan itu.
"Jika bicaramu tidak jelas aku akan memberikan mu cubitan lain." Ancam Maya.
"Baik-baik aku tidak akan bicara macam-macam lagi.. Satu macam saja yang penting sama kamu." Ucapnya kembali menjahili Maya, namun kini Juna pergi sedikit menjauh dari Maya. Sehingga Maya tidak bisa memberikan capitannya lagi.
"Juna!!" Ucap Maya kesal dan sedikit berteriak.
"Aku di sini sayang.. tidak perlu berteriak." Ucap pria itu masih menggoda Maya.
"Sayang sayang, palamu peang!" Ketus Maya kesal.
"Sudah-sudah aku tidak akan bercanda lagi.. Jangan berteriak lagi, nanti perawat malah datang kesini." Ujarnya sambil tertawa dan malah membuat Maya melipat tangannya di dadanya.
"Aku akan tidur, kau juga istirahatlah.. Ini sudah malam.." Ucap Juna dan mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa. Maya hanya diam tidak menanggapi Juna, namun lambat laun terdengan deru nafas teratur milik Juna, sepertinya pria itu benar-benar telah terlelap karena lelah.
Bersambung..
__ADS_1