JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Siapkah dengan kenyataan2


__ADS_3

Alice tiba di depan hotel Transilvenia tempat Galih menginap selama di kota itu. Alice melihat Maya yang berdiri di depan lobby itu menantinya.


“Ehmm pak tunggu sebentar ya.” Ucap Alice kepada supir taksi itu dan beranjak mendekati Maya.


“Maya, apakah kau membawa uang?” Tanya Alice sedikit tidak enak hati.


“Hemm ya ada apa Al.” Tanya Maya bingung dengan pertanyaan Alice.


“Bisakah aku meminjamnya sebentar. Aku kehilangan dompet dan yang lainnya. Aku harus membayar taksi.” Ucap gadis itu sambil menunjuk taksi dengan dagunya.


“Ahh tentu. Aku akan mengurusnya. Kau masuklah ke dalam dahulu.” Ucap Maya dan menyerahkan satu pass card kepada Alice dan Maya mendekati supir taksi itu dan menyelesaikan pembayaran Alice.


“Terima kasih.” Ucap Alice dan masuk ke dalam lobby hotel itu.


Alice menunggu Maya di depan lift dan mereka naik ke atas unit mereka bersamaan.


“Apa yang terjadi?” Tanya Alice saat memasuki ruang keluarga hotel itu. Disana sudah duduk Galih dan Juna di sofa nyaman berwarna coklat itu.


“Apa Namira baik-baik saja?” Lanjut Alice khawatir jika terjadi sesuatu kepada Namira akibat kecerobohannya meninggalkan gadis itu sendirian.


“Duduklah dulu Al.” Ucap Juna. Alice langsung duduk di sofa samping Juna, dan Maya duduk di samping Alice.


“Baiklah aku akan mulai.” Ucap Galih.


“Misi kita menyelamatkan Namira sukses, para genk Black Mouse tidak akan pernah lagi mengincar kakak beradik itu.” Ucap Galih.


“Bukankah itu bagus?” Tanya Alice.


“Ya.. tentu saja itu sangat bagus.. Namun berita buruknya adalah Roxi yang merupakan kepala penculikan dan penyekapan mu sekaligus wakil ketua gank Black Mouse mati saat kita akan membawanya ke rumah sakit. Dia mati akibat sniper penyusup yang langsung menembaknya di kep*ala dan meleny*apkannya langsung di tempat begitu juga dengan wanita yang mendampinginya. Bahkan setelah kejadian itu kami menyelidiki dimana markas Black Mouse untuk mencari informasi dari ketua genk itu. Namun yang kami dapatkan adalah markas mereka yang di bant*ai bersimbah banyak da*rah dan ma*yat yang tergeletak di lantai, bahkan dengan ketua bos Black Mouse juga ma*ti terduduk di kursinya.

__ADS_1


Setelah kami menyelidikinya proyektil peluru yang ada di kepala ketua Black Mouse, Roxi dan Diana mereka sama-sama satu peluru dengan peluru yang mencoba membu*nuh Bintang. Jadi dapat kami simpulkan sniper ini adalah orang yang sama yang di perintahkan oleh ‘Bos Besar’ untuk membersihkan jalan.


Kemudian berita buruk kedua adalah kita tidak memiliki infomasi apapun dari kedua tersangka itu karena mereka langsung ma*ti di tempat, dan data yang sudah aku retas dari keduanya benar-benar terhubung dengan nomer tidak di kenal yang tidak terdaftar sehingga kita tidak bisa untuk melacaknya.” Ucap galih frustasi.


“Jadi apakah kita beruntung atau kita di jalan yang buntu lagi.” Kesal Galih dan menyandarkan tubuhnya ke belakang sofa. Alice diam sesaat setelah mendengarkan pemaparan dari Galih. Kemudian gadis itu teringat sesuatu.


“Tunggu sepertinya kita tidak berada di jalan yang buntu. Malah kita sudah di jalan yang benar, mangkanya mereka mencoba menghilangkan semua jalan yang sudah kita temukan. Bahkan menghapuskan jejak itu tidak bisa membuatku hanya berdiam saja.” Ucap Alice. Galih, Juna dan Mayapun bingung dengan ucapan Alice.


“Nyalakan video rekaman saat aku berbicara dengan Roxi di gubuk itu.” Ucap Alice memerintah Galih. Galih segera mengambil laptopnya dan menyambungkannya dengan televisi yang ada di ruangan itu dan mulai menyalakan video itu.


“Dapattt..” Ucap Alice saat video tentang percakapan Roxi dan Alice di putar.


“Kita sekarang tahu siapa yang akan menjadi target selanjutnya.” Ucap Alice.


“Apa maksudmu?” Tanya Galih dan Juna bersamaan.


“Target selanjutnya kita adalah perusahaan Jessy. Mereka mengincarku bukan karena aku melakukan penyergapan sebelumnya. Mereka menyergapku karena wajah ku mirip seseorang. Disini juga di jelaskan mereka sudah menghilangkan beberapa orang yang mirip dengan ku. Jadi masalahnya ternyata bisa di persempit. Dan kita bisa menjadikannya sebagai peluang. Jadi kita bisa menyusup di perusahaan Jessy, dan aku akan melakukannya untuk memancing mereka lagi.” Ucap Alice yakin dengan intuisinya.


“Tidak.. memang kenapa?” Tanya Alice bingung.


“Bukankah itu malah akan membuatmu lebih dalam bahaya jika kau masuk ke perusahaan agensi Jessy?” Ucap Juna kesal.


“Ayolah kak… dari pada mereka yang mengincar kita, lebih baik kita yang mengincar mereka.” Ucap Alice yakin.


“Apa kau sedang gila? Kau tidak sayang nyawamu? Mereka memiliki sniper yang handal dan terlatih. Jika mereka mengetahui lokasimu, itu akan memudahkannya untuk melenyapkan mu.” Kesal Galih.


“Aku bertaruh untuk nyawaku sendiri kak. Aku ingin menggeggam nyawaku dengan tangan ku sendiri dan melawan mereka. Jika aku bersembunyi sama saja aku menyerahkan nyawaku sendiri. Karena aku pasti tidak akan mempersiapkan apapun dan hanya bersembunyi.” Ucap Alice yakin.


“Astaga gadis ini..” Ucap Juna frustasi.

__ADS_1


“Aku akan melakukan yang terbaik untuk menangkap dalang di balik semua ini kak.” Ucap Alice yakin.


“Astaga kau benar-benar keras kepala. Aku akan membicarakannya nanti dengan Roy. Saat ini kau tidak di perbolehkan untuk melakukan pergerakan apapun untuk memancing mereka. Kau dengar itu Alice?” Perintah Juna.


“Siap Capt.” Ucap Alice dan memberikan hormat kepada Juna.


“Baiklah.. untuk saat ini sampai disini saja. Aku akan memberitahukan rencana mu kepada Roy.” Ucap Juna dan pergi menuju kamarnya.


“Al apa kau serius?” Tanya Galih memastikan.


“Tentu saja Gal, sejak kapan aku tidak serius mengenai pekerjaan. Tapi aku tidak akan melakukannya sekarang. Aku minta izin off untuk beberapa hari.” Ucap Alice.


“Baiklah. Aku akan bicarakan dengan Roy. Kau bisa off beberapa hari kedepan.” Ucap Galih.


“Apa kau baik-baik saja Al. Entah mengapa aku merasa kau sedikit tidak biasa. Atau apakah ada Sesuatu yang terjadi?” Tanya Galih memastikan.


“Tidak. Semua baik.” Ucap Alice cepat.


“Hemm baiklah kalau begitu.” Ucap Galih mengalah. Pasalnya gadis itu memang gadis yang keras kepala, jika dia tidak ingin mengatakannya, bagaimanapun kau memancingnya dia tidak akan pernah membuka mulutnnya.


“Gal aku minta uang cash dan kartu mu. Kartu dan dompet ku entah dimana.” Ucap Alice.


“Emhh aku yang mengamankan dompet dan ponselmu Bu Al.” Ucap Maya.


“Ahh benarkah?” Tanya Alice, gadis itu pikir ponsel dan dompetnya di buang oleh kedua penculik itu.


“Benar ada di ruang kelasmu, kamu tidak membawanya.. dan aku amankan.. tunggu sebentar aku ambilkan.” Ucap Maya dan masuk ke dalam kamarnya.


“Ini..” Ucap Maya dan menyerahkan ponsel dan dompet itu kepada Alice beserta tas sekolahnya.

__ADS_1


“Ohya Namira di mana?” Tanya Alice teringat mengenai gadis kecil itu.


Bersambung...


__ADS_2