JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Hukuman Juna


__ADS_3

Di Rumah sakit.


Anton yang melihat Alice tidur terlelap membelakanginya dengan sedikit meringkuk, mencoba untuk menggeser tubuhnya perlahan-lahan. Saat tubuhnya berada bersisian dengan tubuh Alice, pria itu memberikan selimutnya dan menyelimuti tubuh Alice.


Anton yang sangat merindukan kekasihnya mencoba memiringkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh Alice yang sudah menjelajah ke dunia mimpi dari belakang tubuh gadis itu.


"Aku sangat merindukan mu, my sunshine." Ucapnya sambil mencium ceruk leher Alice. Anton mengeratkan pelukannya yang melingkari perut gadis itu dan mulai terlelap menyambut mimpinya.


***


Pagi harinya Juna bangun dan menyiapkan sarapan untuk mereka. Juna membuat roti isi ham dan juga teh hangat untuk Maya, sedangkan untuk dirinya kopi espreso.


Pria itu sedang berkutat di dapur dengan lihainya, tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya suara pintu terbuka.


Ceklek. Pintu kamar Maya terbuka lebar, tidak membutuhkan waktu lama, wanita itu muncul di belakang pintu dengan menggunakan kruk di kedua tangannya untuk menopang dua kakinya.


"Kau masih belum pulang?" Tanya Maya ketus saat melihat pria itu berdiri di ruangan pantry barnya.


"Belum.. Aku sudah menyiapkan sarapan." Ucap Juna tanpa memperdulikan nada ketus wanita itu.


"Tidak perlu, aku bisa membuatnya sendiri!" Ucap Maya lagi dan berjalan perlahan menuju arah pantry.


"Aku sudah meyiapkan sarapan, jika tidak dimakan itu akan berdosa karena membuang-buang makanan. Sedangkan di dunia ini masih banyak orang yang kekurangan dan membutuhkan makanan." Ujar Juna tenang. Pria itu dengan cepat menghampiri Maya dan mengangkat lalu menggendong wanita itu lagi tanpa aba-aba.


"Hei lepaskan aku!" Ucapnya kaget saat Maya sudah melayang di udara dan di gendong sampai di sofa ruang keluarga. Juna dengan oerlaham menurunkan Maya duduk di tengah-tengah sofa.


"Kenapa kau selalu melakukan apapun sesuka mu? Aku tidak ingin makanan mu! Aku juga tidak ingin bertemu dengan mu! Lebih baik kau pulang sekarang!" Usir Maya lagi ketus.


"Huft..." Juna menghembuskan nafasnya kasar, pria itu sudah sangat berusaha bersabar menghadapi wanita di depannya ini. Juna kemudian mengabaikan ucapan Maya dan kembali ke pantry untuk mengambilkan sarapan Maya dan meletakkannya di atas meja di depan Maya.

__ADS_1


"Makanlah mumpung masih hangat." Ucapnya dengan nada hangat.


"Apakah kau tuli? Aku bilang aku tidak membutuhkannya! Aku hanya ingin kau pergi dari hadapan ku!" Teriak Maya penuh emosi.


Juna yang sudah habis kesabarannya mendekati kearah Maya dan dengan cepat menempelkan bibirnya dan kemudian ******* bibir wanita itu.


Maya yang kaget dengan ciuman Juna mencoba mendorong tubuh pria itu sekuat tenaganya namun tidak bergeser sedikitpun. Tenaga Maya kalah kuat dengan tenaga pria itu. Apalagi dirinya yang masih terasa sedikit sakit di bagian lengannya.


"Hmmmpp.." Berontak Maya. Kedua tangan Maya berada di tangan Juna yang menguncinya dengan satu tangan.


Juna tetap ******* bibir wanita itu dan mencoba membuat bibir wanita itu membuka. Maya merapatkan bibirnya tidak membiarkan pria itu melakukan apa yang dia inginkan. Namun Juna yang licik menggerakakan tangannya yang lain dan melepaskan kaitan yang berada di belakang punggung Maya sehingga membuat wanita itu kaget dan tanpa sengaja membuka mulutnya.


Juna sedikit menyeringai saat pria itu sudah berhasil menguasai permainan. Pria itu dengan semangatnya memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Maya dan menjelajah setiap sudut di dalam sana. Pria itu menghisap lidah Maya kuat.


"Argh.."


Maya yang sudah kelelahan akibat perlawanannya hanya bisa pasrah dan mendiamkan perbuatan pria itu. Lambat laun Juna yang tidak merasakan penolakan Maya mulai melepaskan kuncian tangannya di tangan wanita itu dan menggantinya dengan memeluk tubuh wanita itu dengan erat.


Lambat laun bibir Maya mulai mengikuti sentuhan-sentuhan manis dan lembut dibibirnya membuatnya terbuai dan mengikuti gerakan Juna. Tanpa sadar Maya mengangkat tangannya dan merengkuh tubuh pria itu dan memeluknya erat.


Tangan Juna yang bebas masih bergerak di punggung Maya mengusap dan membelai punggung wanita itu dari tengkuk sampai bawah pinggang sehingga menimbulkan desiran aneh dalam tubuh wanita itu.


"Argh.." Suara lengkuhan Maya yang lolos dari bibirnya.


Juna melepaskan pagutan bibirnya yang sudah memanas dengan perlahan-lahan. Tangan juna yang berada di punggung wanita itu beralih memegang dagu wanita itu dan mengelap sisa cairan yang membasahi sudut mulut wanita itu.


Juna mematap lekat bola mata dengan pupil hitam itu, "Aku mencintai mu Maya.. Tidak perduli jika kau masih belum bisa menerimaku seutuhnya, tapi jangan pernah mengusir ku." Ucapnya lembut dan dalam.


Maya yang terpaku dengan warna pupil mata berwarna coklat terang yang memandang hanya kepadanya membuatnya jadi hanya terdiam dan terhipnotos dengan ucapan pria itu. Kecupan lembut mendarat lagi di bibir wanita itu.

__ADS_1


Pria itu melepaskan kecupannya dan beralih memeluk Maya erat dengan kepalanya yang berada di ceruk leher wanita itu. Juna mencium wangi sabun yang menempel pada tubuh Maya.


"Kau tahu.. Sangat sulit untuk menahan ini.. Kau benar-benar membuar ku gila." Ujarnya disela kecupannya di leher Maya.


Juna dengan lihainya menurunkan tangannya dan tiba-tiba masuk kedalam baju piyama Maya ke arah punggung wanita itu.


"Juna!" Maya yang kaget tiba-tiba tangan pria itu masuk kedalam bajunya dan mengusap punggungnya yang langsung bersentuhan kulit. Maya mencoba mendorong tangan pria itu namun tenaganya tidak bisa melampaui tenaga Juna.


Juna Masih menciumi lembut ceruk leher Maya dan mengusap lembut punggung gadis itu dari tengkuk hingga bawah punggungnya. Maya yang merasakan desiran aneh di tubuhnya mencoba mendorong tangan pria itu lagi mamun hasilnya tetap sama, pria itu tidak bergerak mundur sama sekali.


"Juna.." Rengek Maya karena wanita itu benar-benar tidak bisa mendorong tangan pria itu.


Juna tersenyum licik di sela-sela kecupannya, "Ciuman panas tadi adalah hukuman mu karena sudah membuat ku tidak tahan semalam, dan ciuman ini adalah hukuman karena kau sudah berusaha mengusir ku." Ujarnya masih terus berada di ceruk leher Maya dam bermain-main di sana.


Hawa panas nafas Juna, ciuman-ciuman lembut di lehernya dan belakang telinganya, belum lagi sentuhan tangan Juna yang bermain di pinggungnya tanpa penghalang membuat Maya benar-benar sudah tidak tahan lagi.


"Maaf.. Maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi." Ucap Maya dengan cepat agar pria itu mau segera melepaskannya. Maya tercekat saat sesuatu terasa mengikat di punggungnya.


"Gadis pintar. Ingat jangan pernah ulangi kesalahan mu lagi." Ucap Juna dan langsung menegakkan tubuhnya dan melepaskan pelukannya dari tubuh wanita itu.


"Sudah.. Aku harus menuntaskan ini. Kau sarapanlah." Ucapnya santai dan berjalan masuk menuju kamar mandi.


Maya yang tiba-tiba bingung pria itu melepaskannya begitu saja merasa lega meski ada sedikit kecewa di di hatinya.


"Eh..." Ucapnya bingung.


Wanita itu baru menyadari ternyata saat dia merasa tercekat dengan sesuatu yang mengikatnya ternyata Juna membantunya memasangkan pengait belajang punggungnya yang terlepas.


"Sialan! Pria itu benar-benar licik! Membantu memasangkannya saja perlu bermain-main trik kotor. Aih.. Aku harus menjauhinya jika tidak aku bisa celaka." Ucap Maya kesal namun tangannya mengambil roti isi dan mulai memakannya dengan lahap.

__ADS_1


"Aku perlu tenaga bukan." Bantahnya dan terus memakan sarapannya.


Bersambung....


__ADS_2