JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Moment


__ADS_3

"Bagaimana keadaan kak Maya?" Tanya Alice saat gadis itu berkunjung ke kamar rawat Maya.


"Jauh lebih baik.." Ucap Maya sambil tersenyum.


Wanita itu tidur dengan posisi setengah duduk di bantu oleh kasur yang memudahkannya untuk mengubah posisi dengan menggunakan remot.


"Bagaimana keadaan tunangan mu?" Ucap Maya memberanikan dirinya menanyakan langsung kepada Alice mengenai pria itu.


"Belum ada kemajuan.." Ucapnya kembali sendu.


"Dia pasti akan sadar.. Bersabarlah.." Ucap Maya menguatkan, Alice menggangguk dan memberikan senyumnya tanda dia bisa melewati semua cobaan ini.


Juna tiba-tiba keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, wajah tampan yang segar terpancar membuat Maya tertegun seketika. Alice tersenyum melihat tingkah Maya.


"Lakukan yang terbaik dalam hidup mu sebelum kamu menyesal nantinya." Bisik Alice pelan di telinga Maya. Maya kembali sadar dari lamunannya dan mengerutkan keningnya saat mendengar bisikan dari Alice.


"Jangan sampai terlambat dan menyesalinya." Ucapnya lagi pelan.


"Pagi kak Juna.." Ucap Alice menyapa pria tampan itu.


"Pagi Al.. Kau sudah rapih mau kemana?" Tanya Juna penasaran.


"Aku akan ke kantor pusat dan memantau perkembangan di sana." Ucap Alice memberitahukan Juna.


"Bukankah kau masih sakit. Istirahatlah dahulu." Saran Juna.


"Aku sudah tidak apa-apa kak.. Lagipula tangan kiri ku yang terluka.. Aku masih bisa melakukan aktifitas dengan tangan kanan ku.. Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan banyak orang.. Aku akan segera mengungkap kejadian kemarin." Ucap Alice yakin.


"Baiklah kalau begitu.. Nanti agak siangan aku akan ke kantor.. Kita akan membahas itu di tempat biasa." Ucap Juna.


"Baik kak.." Ucap Alice.


"Pagi semua.. Al, aku mencari mu ke seluruh ruangan mu ternyata kau di sini.. Aku kira kau menghilang." Ucap Galih yang tiba-tiba muncul di balik pintu ruang perawatan Maya.


"Kau tidak sadar Alice pergi dari kamar? Kau sedang menjaganya atau dia yang menjaga mu? Hadeh.." Keluh Juna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maaf aku kelelahan.." Ucap Galih merasa bersalah.

__ADS_1


"Sudah bukan salah dia juga kak Juna.. Dia pasti lelah seharian.. Kau membersihkan diri saja dahulu Gal, setelah itu kita sarapan bersama dan aku akan pergi ke pusat." Jelas Alice.


"Serius? Kau tidak mau istirahat lagi?" Tanya Juna.


"Tidak aku sudah baik.." Jelas Alice.


"Baiklah kalau begitu aku akan membersihkan diri ku dahulu. Setelah itu kita akan berangkat bersama." Ucap Galih dan pria itu menghilang dengan cepat dari ruangan perawatan Maya.


"Bukankah seharusnya aku juga ikut rapat?" Tanya Maya yang dari tadi diam tidak menimpali ucapan mereka.


"Kau bercanda? Kau masih begitu babak belur masih mau keluar dari rumah sakit? Jangan bercanda!" Juna menjawab pertanyaan Maya dengan ketus.


"Bukankah Alice sudah boleh bekerja?" Ucap Maya memelas.


"Kau berdiri saja belum tentu bisa! Jangan banyak berpikir.. Istirahat dan sembuhkan diri mu dahulu.. Nanti siang aku akan ke sini lagi memberitahu hasil rapat.. Kau jangan mencoba untuk meninggalkan ruangan ini dengan memaksakan dirimu." Ucap Juna posesif.


"Sudah sudah.. Aku mau memesan sarapan.. Kalian mau makan apa?" Tanya Alice menengahi. Gadis itu hendak pergi dari ruangan Maya menuju kantin.


"Tidak perlu.. Kau duduk saja temani Maya.. Biar aku yang pergi.." Ucap Juna dan kemudian pergi keluar dari kamar Maya.


"Karena dia perduli mangkanya dia jadi lebih mudah tersulut emosi. Tidakkah kak Maya melihat betapa dia sangat memperdulikan mu?" Tanya Alice dan membuat Maya hanya diam.


"Bukankah dia selalu menyatakan perasaannya kepada kak Maya. Lalu mengapa kakak tidak pernah menanggapinya?" Tanya Alice yang mulai penasaran.


"Aku tidak pantas baginya. Banyak gadis baik yang jauh lebih pantas untuknya." Ucap Maya sambil memandang pintu di mana Juna menghilang dari pandangannya.


"Lalu bagaimana dengan perasaan kak Maya sendiri?" Tanya Alice.


"Bagaimana perasaan ku tidaklah penting.. Aku tidak bisa dan tidak mungkin bersamanya.." Ucap Maya lagi.


"Belum mencoba bagaimana kakak bisa tahu?" Tanya Alice lagi.


"Lalu bagaimana dengan mu? Sepertinya minggu sebelumnya kau tampak terpuruk dan menghindari tunangan mu?" Ucap Maya mengalihkan pembicaraan mengenai dirinya.


"Ya.. Terjadi sesuatu dalam hubungan kami.. Maka dari itu aku menyesal karena tidak mengetahui hal itu sebelumnya bahkan kini menyesalpun aku tidak bisa berbuat apa-apa." Ucap Alice jujur.


"Maka dari itu, mengapa kakak tidak membuka sedikit diri kakak dan mencoba untuk mengatakan hal yang sebenarnya kakak inginkan.. Berikan diri kakak sendiri kesempatan untuk bahagia.. Lakukan hal yang bisa kakak lakukan sebelum kakak terlambat seperti diri ku." Alice memberikan saran dan menggenggam lembut tangan wanita itu.

__ADS_1


Maya masih terdiam tidak merespon ucapan Alice. Bukannya tidak perduli, malah sebaliknya dia banyak memikirkan sesuatu di kepalanya. Haruskah dia mencoba membuka hatinya. Bisakah dia mempercayai seorang pria lagi? Haruskah dia mencoba menggapai kebahagiaannya?


Banyak pertanyaan yang menyeruak di dalam kepala dan hatinya. Namun dia selalu menepis semuanya. 'Aku wanita yang tidak pantas mendapatkan hal itu..' Batin Maya.


"Terima kasih atas saran mu Al.. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Ucap Maya dan memberikan senyuman tulusnya.


'Namun kebahagiaan terlalu mewah untuk ku'. Batin Maya lagi.


"Apapun itu aku akan mendukung mu kak.." Ucap Alice tersenyum dan saling menguatkan.


Setelah berbicara beberapa hal lain, Galih muncul dan mulai berbincang mengenai hal remeh lainnya.


"Maaf lama.." Ucap Juna yang ikut bergabung dengan membawa beberapa bungkusan papperbag di kedua tangannya.


"Aku pikir kau membeli sarapan di negara tetangga." Ucap Galih menyindir.


"Hadeh.. Di bawah ramai.. Antriannya cukup panjang." Jelas Juna yang tampak kesulitan dengan beberapa barang bawaannya.


"Aku beli beberapa makanan.. Lihatlah kalian ingin pilih yang mana." Ucap Juna dan membuka bungkusan yang dia bawa.


Galih mengambil kopi hitam dan roti croisant dan berjalan menuju sofa untuk makan di sana.


Alice mengambil teh cup hangat dan sandwich lalu berjalan menuju sofa dan duduk di samping Galih.


"Kau mau makan bubur ayam atai cream soup?" Tanya Galih kepada Maya.


"Bosan bubur.. Mau cream soup saja." Ucap Maya menawar, Juna mengangguk dan mendekatkan mangkuk cream soup di meja makan pasien.


"Buka mulut mu.." Ucap Galih saat mendekatkan sendok berisi cream soup yang sudah dia dinginkan dengan meniupnya.


"Tidak perlu aku bisa makan sendiri.." Ucap Maya menolak karena sedikit malu ada Alice dan Galih di sana yang memperhatikan mereka berdua.


"Sudah abaikan saja kedua orang itu.. Pentingkan dahulu cacing di perut mu.. Cepat buka mulutnya." Ucap Juna memaksa. Alice dan Galih pura-pura tidak perduli dengan yang di lakukan kedua orang itu. Mereka fokus dengan makanan mereka masing-masing.


Maya dengan terpakasa membuka mulutnya dan menerima suapan dari Juna. Juna tersenyum saat melihat wanita di depannya patuh meski wajahnya masih terlihat kurang nyaman, namun pria itu menikmati moment berharganya itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2