JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Kesepakatan


__ADS_3

Alice terbangun saat ada pesan notifikasi masuk ke dalam ponselnya, suaranya yang sengaja di buat bising membangunkannya. Gadis itu mengambil ponselnya di atas nakas dengan mata yang masih terpejam dan tubuh masih memeluk guling.


Dengan mata yang masih menyesuaikan cahaya, gadis itu mencoba untuk membaca isi pesan itu masih dengan posisi terlentang.


💌 "Kau mencari ku." Isi pesan dari sebuah nomer tidak di kenal, namun entah kenapa dia yakin bahwa pesan itu di kirimkah oleh Bahar.


Beberapa kali dia mencoba membaca isi pesan itu, dan akhirnya tersadar dengan nyawa yang sudah terkumpul. Alice duduk di atas kasur dan bersandar dengan sandaran kepala, gadis itu segera menggeser ikon gangang telepon untuk menghubungi nomer yang kemungkinan adalah milik pria itu.


📞 "Bahar kau kah itu?" Ucap Alice saat panggilan telepon tersambung.


📞 "Ya.. Ini aku.. Ada apa mencari ku?" Tanya dingin suara di sebrang sana.


📞 "Aku ingin bertemu dan membahas kesepakatan dengan mu. Bisakah aku bertemu dengan mu?" Tanya Alice lagi mengajak pria itu bertemu.


📞 "...." Lama tidak ada jawaban dari pria itu.


📞 "Apa yang terjadi? Aku datang ke pure bar dan kau tidak ada di sana." Ucap Alice memecah keheningan.


📞 "Jangan mencari ku di sana dan jangan pernah menginjakkan kaki mu ke sana lagi." Ucal suara dingin itu lagi.


📞 "Baiklah aku tidak akan kesana untuk mengganggu mu, tapi bisakah kau katakan di mana kita bisa bertemu? Ada hal yang ingin aku sampaikan pada mu." Ucap Alice lagi.


📞 "Katakan." Ucap suara dingin itu lagi.


📞 "Di telepon?" Ucap Alice, namun tidak ada jawaban balasan dari pria itu. Alice akhirnya mengalah dan mengatakan niatnya melalui telepon saja dari pada tidak sama sekali.


📞 "Aku membutuhkan bantuan mu. Beberapa hari sebelumnya Belinda mengirimkan sekumpulan orang untuk menangkap ku dan mencoba untuk melenyapkan ku. Bisakah kau bantu aku harus mencaritahu bukti keterikatannya secara langsung atau paling tidak aku ingin mendapatkan buktin lain ke salahan mereka terhadap suatu kasus." Jelas Alice.


📞 "..." Tidak ada jawaban dari sebrang sana. Pria itu sedang menahan emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya saat mendengar penjelasan Alice.

__ADS_1


📞 "Baiklah itu bukan kewajiban mu memberitahuku tapi bisakah bantu aku, apa yang harus aku lakukan, setidaknya untuk mendapatkan keadilan untuk kematian kedua orang tua ku dan kedua kakek ku." Ucap Alice dengan sedikit menggertakkan giginya kesal bercampur sedih.


📞 "Huft.." Suara hembusan nafas berat terdengar dari sebrang sana.


📞 "Bisakah kau tidak membalas dendam? Aku akan janjikan kepada mu Belinda maupun Fiktor tidak akan memiliki hidup yang tenang saat ini. Biarkan aku yang membalaskannya untuk mu. Aku pasti akan melenyapkannya sendiri." Ucap Bahar dingin dan mencoba meyakinkan Alice.


📞 "Tidak... Aku tidak ingin mereka lenyap dengan mudah! Aku ingin mereka menderita di penjara seumur hidup mereka. Kematian terlalu mudah dan mewah untuk mereka!" Ucap Alice emosi.


📞 "Baiklah jika kau mau seperti itu, aku akan membantu mu." Ucap Bahar yang kembali dengan suara tenang.


📞 "Terima kasih.. Lalu apa yang harus aku perbuat untuk menangkap mereka berdua?" Tanya Alice yang mulai semangat untuk melakukan misinya.


📞 "Kembalikan nama mu." Ucap pria itu singkat.


Alice mengerutkan dahinya, gadis itu sudah sangat lama bahkan sudah terbiasa di panggil dengan nama Alice Anatasya, dia bahkan hampir lupa dengan nama yang di berikan oleh kedua orang tuanya.


📞 "Dengan kau mendapatkan kembali nama mu, beberapa properti akan langsung menjadi milik mu dan kau bisa memeriksa bank data yang ada di perusahaan itu mengenai kebusukan Fiktor untuk mendapatkan buktinya. Namun kau pasti tahu, jika kau mendapatkan kembali namamu itu, kehidupan mu saat ini pasti tidak akan pernah mendapatkan ketenangan. Fiktor maupun Belinda pasti akan selalu mencoba untuk melenyapkan mu." Ucap Bahar lagi dingin.


📞 "Pikirkanlah baik-baik, setelah itu hubungi aku kembali." Ucap pria itu dingin dan akan segera menutup teleponnya.


Namun Alice dengan cepat menahan pria itu untuk memutuskan panggilan telepon itu, "Tunggu.."


📞 "Aku akan mendapatkan kembali nama ku, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alice berani mengambil keputusan.


📞 "Kau benar-benar keras kepala, padahal tahu bahaya apa yang akan kau hadapi jika kau berani melangkah untuk mendapatkan namamu kembali." Ucap suara di sebrang sana yang sekarang malah terdengar kesal.


📞 "Aku akan mengambil resiko itu untuk membalaskan dendam kedua orang tua ku." Ucap Alice tegas.


📞 "Baiklah.. Jika kau ingin tahu keberanarannya dan mendapatkan kembali namamu, datang temui dokter Imanuel Brees dia dokter dari kota kecil B di negara X. Bawa kalung merah bersama mu, dan dia akan tahu apa yang harus di lakukan." Ucap pria itu tenang.

__ADS_1


📞 "Namun ingat satu hal.. Jika kau sudah mencoba maju satu langkah untuk mengembalikan nama mu, kau tidak akan bisa melangkah mundur meski hanya setengah inchi pun." Kecam Bahar tegas.


📞 "Aku tahu.. Aku tidak akan pernah menyesal mengambil keputusan apapun.." Ucap Alice tidak kalah tegas.


📞 "Baiklah jika begitu.. Untuk informasi yang lainnya yang kau butuhkan ada di pisau lipat yang aku berikan kepada mu. Tangal lahir mh." Ucap Bahar ambigu dan kemudian panggilan telepon itu terputus.


"Hah pisau lipat?" Ucap Alice bingung dengan kalimat terakhir Bahar.


Alice segera menghampiri dompet tangannya dan kemudian membuka dan melihat isinya. Alice mengambil pisau lipat yang sebelumnya di berikan oleh Bahar. Gadis itu meneliti setiap inchi dari pisau itu.


"Ah.. Apa ini?" Tanyanya bingung saat melihat sesuatu di gagang pisau yang tersembunyi di suatu celah. Alice mengambil pisau kecil di toolkitsnya dan mencongkel benda itu. Sebuah microSD card yang terjatuh di atas meja riasnya.


"Hah? Kartu memori." Dengan cepat Alice membawa microSD itu dan keluar menuju kamar Galih.


Gadis itu dengan cepat mengetuk-ngetuk pintu kamar Galih.


Tok tok tok tok tok.


Suara ketukan yang cepat dan berisik membuat sang pemilik kamar terkejut dari tidurnya dan langsung bergegas membuka pintu kamarnya.


"Hah? Alice.. Ada apa?" Tanyanya Galih masih bingung, gadis itu tiba-tiba menggedor kamarnya kasar dan kepalanya masih terasa pusing akibat bangun yang terlalu cepat membuatnya sedikit tidak fokus.


Juna yang juga terbangun dari tidurnya segera muncul dari balik pintu kamarnya saat mendengar ke gaduhan di sebrang pintu kamarnya.


"Ada apa ini?" Tanyanya Juna membuka pintu kamarnya lebar dan sudah siap dengan kuda-kudanya, pria itu celingak celinguk melihat keadaan sekitar kamar hotel mereka.


"Buka ini!" Perintah Alice dan memperlihatkan sesuatu benda kecil di tangannya. Galih sampai mendekatkan wajahnya ke jari jemari Alice yang memegang benda itu.


"Kartu memori?" Tanya Galih bingung dan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Cepat periksa ini! Ini di berikan oleh Bahar." Jelas Alice singkat dan dengan cepat membuat Galih sadar dari mengantuknya.


Bersambung....


__ADS_2