JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Pagi yang indah


__ADS_3

Alice mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya ruang kamar perawatannya itu. Gadis itu memiringkan wajahnya dan melihat suaminya masih tertidur pulas tepat di sampingnya di atas ranjang pasien.


Ya.. Anton masih belum bangun dari tidurnya, suaminya itu masih setia tidur seperti bayi besar di sisinya. Sebelumnya Alice yang meminta pria besar itu untuk tidur di sampingnya. Entah mengapa dirinya sangat memerlukan dekapan erat tubuh kekar prianya itu.


"Kau sudah bangun?" Tanya suara baritone dengan suara serak khas bangun tidur.


"Ahh.. Apa aku menggangu tidur mu?" Tanya Alice terkejut saat menyadari pria itu ternyata sudah terbangun.


"Tidak.. Aku sudah bangun dari tadi.. Hanya malas untuk melepaskan pelukan ini.." Ucap Anton yang masih setia memeluk ringan tubuh Alice.


"Ada apa?" Tanya Alice heran, sepertinya prianya itu sedikit berbeda.


"Ada sedikit masalah.. Aku harus pergi ke kota X untuk menyelesaikannya." Ucap Anton jujur dan masih setia memeluk tubuh istrinya.


"Aku akan ikut bersama mu.." Jawab Alice cepat.


"Tidak.. Tidak bisa.. Kau masih harus beristirahat beberapa waktu di sini untuk memulihkan tenaga mu. Kau masih terluka ingat.." Ucap Anton menolak dan mengingatkan Alice.


"Tapii..." Belum selesai Alice menyelesaikan kalimatnya, Anton sudah memotong ucapan gadis itu.


"Aku akan baik-baik saja, ini berhubungan dengan kasus Billy aku akan segera menyelesaikannya di kota X sesegera mungkin dan kemudian kembali menemani mu.. Kau juga tidak perlu khawatir, aku akan pergi bersama beberapa anggota dari RJP dan termasuk Juna juga." Jelas Anton lagi.


"Apakah akan berbahaya? Maksud ku apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Alice mulai sedikit khawatir.


"Tidak ada yang terlalu penting.. Namun aku yang merupakan penggugat harus hadis di sana bukan.." Ucap Anton berbohong.


"Kau berbohong.. Aku tahu itu.." Ucap Alice langsung saat melihat raut sedikit kaku di wajah Anton.


"Huft.. Baiklah.. Aku tidak akan berbohong kepada mu.. Situasinya sedikit kacau, kau tahu Jhon Markus sepertinya mencoba berkelit mengalihkan semua kesalahannya kepada Marina dan Belinda. Bahkan kini kita tidak bisa menemui Marina dimana dan sepertinya Jhon mulai melakukan perencanaan untuk dirinya kabur.. Sebelum hal itu terjadi lebih mudah untuk ku jika melihat langsung situasinya di sana. Agar aku bisa menggerakkan seluruh anak buah ku disana. Selain itu aku juga tidak akan sendiri, Juna dan beberapa tim dari RJP juga akan membantu ku.. Bisakah kau tenang sekarang dan hanya fokus untuk perawatan mu istriku sayang?"


"Apakah benar seperti itu?" Alice sedikit meragukan ucapan Anton.

__ADS_1


"Aku mengucapkan semuanya yang aku ketahui dan tidak ada kebohongan di sana." Ucap Anton jujur.


"Baiklah.. Aku mengerti.. Kau pergilah dan segera cepat pulang." Ujar Alice akhirnya.


"Tentu saja.. Itu sudah pasti.. Ohya kau tidak akan sendirian, nanti kau akan di temani seseorang agar kau tidak kesepian. Selain seluruh keluarga ku yang heboh tentu saja." Ucapan Anton sukses membuat Alice jadi penasaran.


"Benarkah? Siapa?"


"Nanti kau akan tau sayang.. Kau hanya perlu bersabar." Anton bangkit dari tidurnya dan beranjak berdiri dari kasur itu.


"Kau mau kemana?" Tanya Alice saat melihat Anton akan beranjak pergi.


"Aku akan mandi.. Kau mau ikut?" Goda Anton sambil mengedipkan mata kirinya.


"Tidak.." Balas Alice cepat, "Ya sudah sana cepat..." Lanjut Alice lagi dengan wajah malunya.


Alice mencoba bangun dari tidurnya dan berusaha bersandar pada kepala ranjang itu dengan tumpukan sedikit bantal.


"Semoga di sana tidak akan ada masalah.. Entah karena apa perasaan ku tidak tenang.." Gumam Alice sambil mengusap-us@p dadanya pelan.


"Kau sudah bangun cantik?" Tanya Juna saat melihat Laristha keluar dari kamarnya menuju kamar mandi.


"Kau sudah bangun?" Tanya Laristha yang heran pria itu sudah bertengger di pantry barnya dengan menggunakan celemek berwarna pink dengan wajah kelinci putih. Wanita itu sedikit tersenyum melihat pemandangan itu.


"Suka dengan cuci mata mu itu cantik?" Goda Juna yang sukses membuat wajah Laristha memerah dan memilih segera masuk kedalam kamar mandi. Juna yang melihat itu terkekeh geli melihat tingkah manis wanitanya itu.


Juna menyiapkan sarapan scrambled egg (telur orak-arik) dan roti panggang beserta beberapa ham dan juga sosis. Pria itu juga menyiapkan secangkir teh melati dan secangkir kopi hitam untuknya.


Beberapa saat kemudian Laristha keluar dengan menggunakan dress berlengan pendek dengan panjang selutut berwarna pink pastel. Juna yang melihat itu tertegun sesaat dan di sadarkan dengan deheman kecil wanita itu.


"Eehmm.."

__ADS_1


"Kau tampak sangat cantik sayang.." Puji Juna tulus dan mendekati Laristha yang berjalan mendekati pantry bar.


"Apa biasanya aku tidak cantik?"


Juna mengerjap-ngerjapkan matanya heran mendengar balasan yang di ucapan Laristha.. Biasanya wanita itu akan diam saja atau malah berbicara dingin dan ketus.. Namun kali ini wanita itu malah berucap manis dan menanggapi pujiannya.


"Tidak.. Tentu saja tidak.. Kau selalu cantik dan memukau setiap saat tentu saja." Ucap Juna menggoda sambil mengecup pelipis gadis itu dan mengecup sekilas bibir kecil dan ranum itu.


"Kau semakin pandai menggoda Juna.." Laristha akhirnya kesal meski wajah wanita itu sudah bersemu kemerahan.


"Hanya kepada mu.." Jawab Juna lagi dengan tulus dan mempersilahkan kekasihnya itu duduk di kursi tinggi bar itu.


"Sudah hentikan itu.. Ayoo sarapan.." Ujar Larista menghentikan tingkah manis kekasihnya itu.


Juna dengan cepat melepaskan apron yang di pakainya dan meletakkannya di sudut ruangan dan dengan cepat duduk di samping Laristh dan mulai memakan sarapan buatannya sendiri.


"Lain kali aku yang akan membuatkan mu sarapan.." Ucap wanita itu sambil memandang pria tampan yang duduk di sampingnya itu.


"Tentu.. Waktu kita sangat panjang.. Aku pasti akan selalu menantikan dan menikmati sarapan buatan mu." Puji Juna sambil merapihkan beberapa saus yang menempel di sudut bibir wanita itu dengan ibu jarinya.


"Manis.." Ucapnya sambil menjil@t ibu jari yang ternoda saus dari bibir wanitanya itu.


Laristha yang diperlakukan manis sedemikian rupa benar-benar membuat wajahnya merah merona dan balas menatap hangat mata pria yang selama ini selalu mengganggu pikirannya itu.


"Terima kasih karena telah memberikan ku kesempatan untuk bisa terus bersama mu.." Ucap Laristha sambil mengulurkan tangannya ke wajah pria di sampingnya itu dengan tatapan hangat.


Juna tahu, Laristha masih belum selesai dengan perkataannya, pria itu hanya diam dan Juna hanya membalas tatapan itu dengan tatapan penuh cinta.


"Terima kasih karena mau sabar menunggu ku dan menerima semua kekurangan ku.. Aku tahu semua ini tidak akan mudah juga untuk mu yang terbiasa sebagai pemain handal untuk meredam semua gejolak di dalam dada mu.. Namun aku benar-benar sangat memerlukan waktu.. Aku berharap kau tidak akan pernah bosan untuk menunggu ku.." Ucap Laristha lagi.


Juna terdiam dan membalas ucapan Laristha.

__ADS_1


....


Bersambung....


__ADS_2