
Waktu terus berlalu, tak terasa nanti malam adalah pertemuan pertama Alice dengan keluarga besar Antonius kekasihnya itu.
Gadis itu sibuk mempersiapkan blackfores cake buatannya sendiri sejak pagi hari dan di lanjutkan dengan menghias kue itu dengan cherry di atasnya. Dan merapihkan dapur kembali seperti keadaan semula.
Alice berencana masuk ke dalam kamar untuk mandi, karena seharian ini dia berada di dalam dapur dan merapihkan rumahnya yang membuat tubuhnya terasa lengket.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu membuat Alice mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamarnya dan berbalik melewati ruang tamu menuju pintu masuk untuk membukakan pintu yang dia yakini adalah kekasihnya yang datang menjemputnya di sore hari itu.
Alice membuka pintu dan melihat sesosok pria tampan berpakaian semi kasual kemeja lengan pendek berwarna navi dengan jeans yang membuat penampilannya sangat tampan dan memperlihatkan tangan berototnya. Alice seketika terpesona dengan wajah tampan bak dewa yunani di depannya itu.
“Bolehkah aku masuk dulu sayang? kau boleh melihat ku lagi sepuasmu saat di dalam nantinya, bahkan jika menginginkan yang lainnya pun aku tidak akan menolak.” Goda pria itu yang membuat Alice tersadar kembali dari lamunnannya.
“Aa ahh masuklah.” Ucap Alice terbata, gadis itu malu dengan perbuatannya itu.
“Ah aku membuat blackfores cake untuk di bawa sebagai buah tangan, apakah itu boleh?” Tanya Alice ragu kepada kekasihnya itu sekaligus mengalihkan pembicaraan memalukan tadi.
“Kau membuatnya sendiri? Benarkah?”
“Iya aku membuatnya sendiri, sejak kecil aku kadang membantu para suster memasak untuk anak panti bahkan membuat cake maupun cookies, dan itu menjadi kebiasaan hingga saat ini. Aku akan membuatnya jika aku ada waktu senggang dan sedang ingin, meski aku akan membuat ukuran kecil.” Jelas Alice
“Wahh aku baru mengetahui ternyata kekasih ku ini serba bisa ya.” Anton memuji kekasihnya itu.
“Kau belum menjawab pertanyaan ku, apakah tidak apa-apa jika aku membawanya? Atau tidak usah saja? Tapi kita akan membawa apa? Aku tidak mau melenggang begitu saja.” Ucap Alice bingung.
“Astaga, sudah tidak perlu repot-repot. Kau bawa dirimu saja. Mereka pasti akan senang sekali.” Ucap Anton Jahil.
__ADS_1
“Ahh kau tidak bisa serius sama sekali, aku serius Anton.” Kesal Alice dan mencubit perut pria itu.
“Iya iya maaf sayang aku hanya bercanda. Kau bawa cake yang kau buat saja, ibu dan kedua kakak ipar ku sangat menyukai cake coklat.” Ucap Anton sambil melihat cake yang sudah di kemas kedalam karton box kue yang tampak lezat itu.
“Baiklah kalau begitu, aku mau mandi dahulu.” Ucap Alice dan meninggalkan Anton di ruang tamunya sambil menonton televisi.
Alice bergegas ke kamar mandi dan segera mandi. Setelah selesai mandi, gadis itu memilih dress selutut dengan lengan panjang berwarna biru langit dengan bordiran bunga di bawah dressnya, dressnya nampak sopan namun tetap memancarkan kesan cantik. Gadis itu juga memoles dirinya dengan makeup tipis dan tidak lupa mengenakan cincin pemberian kekasihnya itu.
Alice beranjak dari depan nakas dan mengambil tas selempang berwarna hitam simple dan mengambil ponselnya dan akan bergegas keluar dari kamarnya.
Drrrt drrt drrt
Ponsel Alice bergetar saat ia memegang ponsel itu untuk di masukkan ke dalam tas selempangnya, namun dia urungkan saat melihat ID yang tertera di sana adalah Galih.
Alice kemudian mengurungkan niatnya untuk keluar kamarnya dan masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk menerima panggilan itu.
“Al ada info terbaru, kemungkinan kau akan melakukan misi besok. Bisakah itu? Kau akan di pasangkan dengan Maya lagi. Apa kau keberatan atau kau ingin istirahat dahulu? Situasinya agak sedikit berbeda. Tapi aku tidak bisa menjelaskannya di telpon.” Ucap Galih.
“Ahh baiklah. Besok aku akan ke pusat.” Ucap Alice.
“Baiklah kalau begitu aku akan menunggumu besok. Aku Agak sibuk saat ini, bye.” Ucap Galih dan memutuskan panggilannya tanpa mendengar jawaban apapun dari Alice.
Alice tahu dan memakluminya, Galih pria yang sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Pria itu akan sangat serius dengan semua yang berhubungan dengan pekerjaan yang di cintainya itu. Apalagi informasi yang dia dapat itu merupakan hal yang sangat penting untuk melanjutkan perencanaan dalam menjalankan misi.
Alice memasukkan kembali ponselnya kedalam tas selempangnya dan bergegas keluar dari kamar mandi dan kamarnya menuju ruang tamu untuk menemui Anton kekasihnya itu.
“Kau sudah siap? Kau sangat cantik Alice.” Puji Anton saat melihat kekasihnya keluar dari kamarnya dengan sangat menawan.
__ADS_1
“Sudah yuk, aku tak ingin mereka menunggu.” Ucap Alice dan membawa box cake itu.
“Yuk.. Biar aku saja yang bawa.” Ucap anton dan mengambil box cake di tangan Alice dan berjalan beriringan dengan kekasihnya itu.
Anton membukakan pintu penumpang di samping kemudi untuk kekasihnya kemudian menutupnya saat Alice sudah masuk dan duduk manis di sana. Kemudian Anton membukakan pintu belakang penumpang untuk meletakkan box cake di sana dan menutup pintunya. Anton segera bergegas menuju kursi kemudi dan menjalankan mobilnya di jalan raya.
“Ada apa kau tampak pendiam sekali sayang.” ucap Anton saat sepanjang perjalanan Alice hanya terdiam dan hanya menggenggam tangannya sendiri.
“Hanya gugup.” Ucap Alice jujur.
“Santailah sayang semua tidak semenakutkan pikiranmu. Kita hampir tiba, tenangkan dirimu.” Ucap Anton dan menggenggam tangan kekasihnya itu. Mereka memasuki pintu gerbang yang terbentang klasik dan terbuka sendiri saat Anton menekan tombol kunci di remote yang dia ambil di dalam laci dashbor mobilnya. Dua orang penjaga berjaga di kedua sisi gerbang itu dan sedikit membungkukkan badannya memberi hormat kepada Anton.
Halaman luas terbentang indah dengan berbagai tanaman bunga yang di tata rapih dan pepohonan serta rumput-rumput yang menghiasi bagaikan sebuah taman mini yang indah. Tampak sebuah bangunan mansion klasik dengan gaya eropa namun tetap terkesan mewah dan indah. Anton menghentikan mobilnya tepat berada di depan pintu masuk mansion itu. Kemudian pria itu menghampiri pintu Alice dan membukakan pintu mobil itu serta mengulurkan tangannya untuk membantu Alice keluar dari sana.
“Terima kasih.” Ucap Alice dan berdiri di samping Anton kekasihnya.
“Malam Tuan Muda.” Seorang pelayan pria menghampiri mereka.
“Ada cake di dalam mobil. Bawakan kedalam.” Ucap Anton dan memberikan kunci mobilnya kepada pelayan pria itu.
“Baik Tuan Muda.” Ucap pelayan pria itu, dan memberikan kode kepada seorang pelayan wanita yang segera mendekat dan menghampiriya.
Alice dan Anton berjalan berdampingan masuk ke dalam mansion itu. Di belakang mereka seorang pelayan wanita mengikuti mereka sambil membawa box cake buatan Alice.
“Selamat datang Tuan Muda.” Ucap wanita paruh baya itu, menyambut kedatangan mereka. Wanita tua itu mengenakan blouse panjang, berbeda dengan pakaian kedua pelayan yang mengenakan setelan hitam dan putih khas pelayan di rumah itu.
“Bu.. Lisaa..” Ucap Anton.
__ADS_1
Bersambung....