JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Mendalami Peran


__ADS_3

Maya PoV..


Aku menaiki taksi online dan berhenti tepat di depan lobby dan menuju resepsionist untuk menanyakan di mana letak restoran hotel berada. Setelah aku mengetahui tujuan ku, aku segera bergegas menaiki lift menuju lantai 12.


Ting..


Lift berhenti tepat di lantai 12. Pintu lift terbuka lebar, aku terpana saat melihat pria tampan itu berdiri tepat tak jauh dari pintu lift. Manis sekali dia bukan, aku berjalan keluar dari lift dan menghampirinya.


"Manis sekali kau menunggu ku tepat di depan pintu lift. Ada apa? ada sesuatu yang gentingkah? kau tidak menjelaskan secara rinci di telepon tadi." Ucap ku saat melihat pria itu tertawa dan sedikit kikuk.


"Ehemm temani aku makan siang ya. Kau boleh berakting manja atau centil sekalian juga tak apa." Ucap pria itu yang membuat ku bingung.


"Untuk apa aku bermanja dengan mu Wid?" Tanya ku yang tak mengerti jalan pikiran pria ini.


"Emhh sebenarnya aku membutuhkan bantuan mu bukan hanya untuk menemani ku makan siang. Namun aku ingin menguji seseorang apakah dia akan terpengaruh dengan adanya wanita lain di sisi ku." Ucap pria itu dan sedikit tidak enak hati kerena mungkin menggunakan ku untuk kepentingan dirinya.


"Ahh begitu.. apakah dia wanita yang istimewa bagi mu Wid?" Tanyaku terus terang kepadanya.


"Ehemm tidak..tentu saja tidak.. jangan salah sangka." Ucap pria itu dengan sedikit terbata-bata.


"Ahh baiklah.. bukan wanita istimewa.. baik.. baik.. aku mengerti." Ucap ku dan sedikit menggoda pria itu.


"Sudahlah.. ayo masuk.. aku minta izin kau menggandeng tangan ku ya." Ucap pria itu saat kami akan memasuki pintu restoran itu.


"Baiklah.." Ucap ku dan mengabulkan keinginannya. Aku merangkul tangan pria tampan itu saat dia menyodorkan siku tangannya ke arah ku.


Ya.. pria itu adalah Widi, pria yang baru aku kenal saat acara pesta itu. Aku sudah berjanji kepada Widi untuk mengabulkan permintaannya satu kali karena dia sudah mau membantu ku di malam pertunangan Bu Alice dan Pak Antonius dan aku menyetujui pria itu. Saat ini dia memintaku untuk datang menemaninya makan siang di sebuah restoran hotel untuk membuat seorang gadis cemburu, well aku akan melakukan itu. Toh bukan hal-hal yang di luar batas kemampuan ku. Mengapa aku tidak membantunya.

__ADS_1


"Astaga seorang penakluk wanita yang sudah berpengalaman harus kah memancingnya dengan cara seperti ini? bukankah banyak trick yang bisa kau mainkan untuk membuatnya mengakui perasaannya Dok?" Tanya ku menggodanya saat kita sudah sampai di kursi kami yang berada tepat dekat jendela dan tidak terlalu jauh dari sekelompok wanita yang sedang berbincang-bincang.


Ya.. ternyata Widi adalah seorang dokter bedah dan dia merupakan sahabat dari dokter Antonius tunangan Bu Alice. Entah apa yang membuat pria tampan ini lebih memilih aku untuk menjadi penolongnya. Padahal aku sangat yakin jangankan satu, sepuluh wanitapun mau jika pria itu meminta para wanita untuk menemaninya makan siang.


"Emhh entahlah aku hanya kepikiran ini." Ucap pria itu jujur.


"Lalu mengapa kau mengajak ku? bukankah teman wanita mu pasti banyak?" Tanya ku langsung kepadanya mengenai apa yang aku pikirkan.


"Jika aku meminta tolong kepada wanita lain, 1.000% aku yakin yang ada mereka akan benar-benar menggunakan kesempatan ini untuk menggoda dan mengejar ku dan itu sedikit membuat ku jijik. Namun jika dengan mu aku tahu kau tidak tertarik kepada ku, jadi aku bisa bebas tanpa harus khawatir bahwa kau akan mengejar ku." Ucap pria itu jujur.


"Wahh apakah aku harus tersanjung untuk itu." Ucap ku pura-pura merajuk.


"Tunggu sungguh aku memuji mu loh bukannya menyalahkan selera mu." Ucap Widi langsung takut aku merajuk dan mengacaukan rencana pria itu.


"Hahaha astaga aku paham, tenang aku hanya bercanda." Ucap ku menenangkan pria itu. Diapun kembali tenang setelah mengetahui bahwa aku hanya bercanda saja.


"Ehemm apakah terlalu kentara." Ucap pria itu malu ketahuan oleh ku.


"Tentu saja tidak." Ucap ku menenangkannya. Jika orang awam yang melihat, mereka pasti akan mengira bahwa Widi sedang memperhatikan ku yang tepat berada di depannya. Namun karena aku seorang agen, tentu saja ini sangat mudah untuk mengetahui gerak-gerik dari bola mata pria itu yang sedang fokus mengarah kemana.


"Jadi yang manakah gadis yang kau incar itu?" Tanya ku lagi.


"Dia duduk di belakang mu yang pandangannya mengarah ke sini." Jelas Widi.


Aku mengambil ponsel ku dan menyalakan kamera depan, berpura-pura mencari angle foto yang bagus.


"Apakah dia yang mengenakan dress berwarna peach?" Tanya ku pada Widi. Pria itu tidak menjawab ku namun raut wajahnya tampak cerah dan ceria, sepertinya benar itu adalah gadis yang dia maksud.

__ADS_1


"Wah.. kau tahu saja memilih gadis yang paling manis ya." Ucap ku menggoda pria itu.


"Bukankah itu Manis?" Ucap Widi akhirnya jujur dan menatap ke arah belakang ku kemudian pria itu tersenyum ramah. Aku tahu dia sedang memandangi gadis itu.


"Ya.. sangat manis.. kau benar-benar tak terduga Wid. Ku pikir kau tertarik kepada wanita yang sedikit menantang bukan gadis manis seperti dia." Ucap ku menimpalinya tidak menyangka pria palyboy ini tertarik kepada gadis manis yang sepertinya lugu itu.


"Emhh entahlah aku hanya tidak bisa mengabaikan gadis itu begitu saja." Ucap pria itu jujur lagi.


"Ups sory berbicara dengan mu entah mengapa begitu mengalir sehingga aku dengan mudahnya mengakui semuanya." Ucap pria itu sambil tersenyum malu.


"Tak apa. aku senang bisa di andalkan tentu saja." Ucap ku.


"Ahh dia mulai memperhatikan kita." Ucap Widi memberi kode agar aku memulai acting ku.


"Wid.. bukankah kau bilang hari ini kau free.. jadi bisakah kau menemani ku hingga esok? aku kebetulan bisa mengambil libur cuti ku hari ini." Ucap ku dan sedikit menggeser duduk ku mendekati meja sehingga jarak ku dengan jarak Widi semakin dekat. Aku juga menggenggam tangannya bahkan kini aku berani menyentuh tulang rahangnya.


Bukankah dia menginginkan ku bersikap manja dan nakal? baiklah aku merupakan agen mata-mata terbaik bukan, aku bisa melakukannya.


Pria itu memperhatikan reaksi gadis yang ada di belakang ku. Kemudian tak lama Widi menerbitkan senyuman kemenangannya. Sepertinya rencana pria ini berhasil. Benar-benar pria yang licik ya.


"Maya, sorry aku harus menyusul gadis itu dahulu ya.. terima kasih atas bantuan mu." Ucap pria itu sambil tersenyum bahagia.


"Iya cepatlah pergi, nanti dia keburu pergi jauh." Ucap ku santai.


Setelah mendengar itu Widi kemudian beranjak pergi dari meja itu. Namun baru beberapa langkah pria itu tiba-tiba berhenti dan kemudian dia tersenyum sinis kepada pengunjung di balik sekat tembok setengah badan itu. Apakah ada seseorang yang di kenalinya?


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2