JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Hujan


__ADS_3

"Sebenarnya..." Ucapan Viki menggantung.


Galih, Asih dan juga Anwar menanti dengan penasaran jawaban dari Viki mengenai pertemuan Viki dan juga Naira.


"Sebenarnya aku baru bertemu dengannya tadi saat tidak sengaja menabraknya saat keluar dari toilet." Jelas Viki jujur kepada semua orang yang penasaran disana.


Galih menyunggingkan senyumannya. Ternyata dugaannya benar. Naira hanya menghindarinya dan datang kesini karena menghindarinya.


"Naira yang sudah ketahuan sedikit kikuk dan beralasan akan menerima panggilan telepon.


"Ahh maaf sepertinya asa telepon masuk.. Aku akan menerima ini dahulu." Ucapnya berpura-pura dan pergi meninggalkan mwja perjamuan itu.


Naira dengan celat berjalan menuju keluar dari ruang perjamuan, Sebelumnya dia semoat melihat Galih dengan senyum mengejeknya. Seperitnya pria itu jadi benar-benar tahu bahwa Naira hanya menghindarinya.


"Aishh Menyebalkan." Gerutu Naira sambil melihat lagi ponselnya yang tidak ada panggilan apapun.


Aish.. Aku akan pulang sajalah dan bilang ada janji dengan teman ku dan dia akan mengantar ku.. Aku tidak mau mempermalukan diri ku lebih jauh lagi." Gumam Naira dan ssgera pergi masuk kedalam ruangan perjamuan lagi memghamoiri meja Viki.


"Emh.. Om, Tante dan Viki maaf Naira ada keperluan mendadak sepertinya Nasira harus segera pergi.. Terima kasih sebelumnya telah mengizinkan Naira bergabung dengan meja kalian. Sekali lagi terima kasih Naira harus pamit ke Abang dahulu." Ucap Naira cepat.


"Ahh mau aku antar?" Tawar Viki dengan berbaik hati menaearkan tumpangan.


"Ahh tidak perlu aku akan pergi bersama teman ku." Jawab Naira berbohong.


"Baiklah Nak kalau begitu hati-hati.. Kami senang bertemu dengan mu." Ucap Asih dan Anwar.


"Sama-sama Om, Tante.. Naira juga senang bisa kenal dengan kalian. Kalau begitu Naira pamit dahulu.." Naira segera pergi meninggalkan meja Viki bahkan mengabaikan Galih yang hanya tersenyum tipis melihat gadis itu langsung mengambil langkah seribu untuk segera pergi menjauhinya.

__ADS_1


"Bang Jun.. Nay mau pergi duluam ya, teman Nay sudah menunggu di depan." Ujar Naira berbohong.


"Ahh benarkah? Ya sudah kalau begitu.. Hati-hatilah.. Nanti abang langsung ke kantor.. Vilang ibu tidak oerlu memnunggu abang pulang." Ujar Juna.


"Baiklah Abang Jun.." Naira segera pergi meninggalkan meja Juna, sebelumnya gadis itu membungkukkan tubuhnya memberi salam kepada Roy dan berpamitan dengan sopan.


Galih yang entah kenapa penasaran mengikuti langkah gadis itu dari belakang. Bahkan kini mereka berjalan bersama-sama hingga di depan pintu lift dan menunggu pintu itu terbuka.


Teng.. Pintu lift terbuka, Naira masuk kedalam lift dan di ikuti oleh Galih yang juga masuk ke dalam pintu lift dan berdiri tepat di samping gadis itu. Lift itu kosong dan hanya mereka berdua yang ada di dalam sana hendak turun ke lantai dasar hotel mewah itu.


"Kenapa kau mengikuti ku?" Tanya Naira kesal saat tahu Galih berada di sampingnya dan ikut masuk ke dalam lift bersamanya.


"Haishh.. Sebenarnya apa mau mu! Iya benar aku mengenal mu dan aku adalah gadis yang ada di dalam bar dan kau yang sudah melukai tangan ku! Lalu kenapa? Kenapa kau sangat tidak ada kerjaan mengganggu ku dan mencampuri urusan ku! Dan bahkan kini kau mengikuti ku!" Cerocos Naira panjang lebar sambil marah di depan wajah Galih.


Galih hanya diam dan memandang wajah gadis itu, "Apa lift ini milik mu?" Juna tidak menjawab pertanyaan Naira, pria itu malah berbalik bertanya dan sukses membuat Naira kesal dan malu dengan tingkahnya.


Galih hanya tersenyum simpul di sebelah Naira mendengar gadis kecil itu menggerutu. Entah kenapa menjahili Naira terasa mengasikkan baginya.


Ting.. Pintu lift terbuka, mekera sudah tiba di lantai dasar.


Saat mereka akan keluar dari pintu lift, tiba-tiba datang segerombolan orang menggunakan jas berwarna hitam dengan tubuh tinggi tegap berjumlah 15 orang, salah satu dari mereka orang yang mempimpin jalan menggunakan sebuah pin dengan lambang bintang.


Galih mengernyitkan dahinya, pria itu seperti mengenali logo itu. Namun Galih lupa pernah melihat logo itu dimana dan apa artinya. Entah kenapa itu sedikit membuatnya terusik.


"Aku sudah sampai di sini apakah kau akan mengikuti ku juga?" Pertanyaan Naira membuat lamunannya terputus dan kembali teringat dia sedang berada di mana.


"Ahh bukankah kau sedang menunggu teman? Aku juga sedang menunggu teman." Jawab Galih singkat dan suskses membuat Naira tambah kesal.

__ADS_1


"Haishh kau benar-benar merepotkan." Gerutu Naira dan malah mengeluarkan ponselnya dan memilih fitur aplikasi taksi online yang ada di dalam ponselnya.


"Bukankah kau bilang di jemput oleh teman mu?" Galih berucap saat ekor matanya menangkap Naira akan memesan taksi online di ponsel gadis itu.


"Kau terlalu ikut campur!" Sinis Naira kesal dan bergeser sedikit menjauhi Galih.


"Ahh asal kau tahu saja.. Mungkin saat ini taksi online tidak bisa mangantar mu karena jaringan internet di hotel ini menutupi signal jadi mungkin kau akan kesulitan mendapatkan taksi mu bahkan jika samlai Juna sudah berada di sini." Ucap Galih menakuti Naira dan itu sukses membuatnya membulatkan matanya.


"Haishh benar! Ini tidak tersambung!"


"Bagaimana ini.." Gerutu Naira lagi..


"Emhh sebenarnya aku membawa mobil jadi mau aku antar atu kau akan bersama Roy dan Juna saja?" Tanya Galih lagi sambil memainkan senyum jahilnya.


"Haish.. Aku sudah bilang pergi bersama teman, jika aku masih terlihat di sini mungkin dia akan heran dan bertanya-tanya.. Haishh ya sudahlah aku terpaksa ikut dengan mu saja." Naira akhirnya mengalah dan memilih ikut dengan mobil Galih.


"Baiklah.. Tunggu di depan lobby saja." Ucap Juna meminta Naira menunggu di depan lobby karena gerimis kecil. Namun gadis itu tidak mendengar ucapan Galih dan memilih mengikuti pria itu yang berjalan keluar menuju lapangan parkir khusus yang ada di luar hotel.


"Kau benar-benar tidak mau mendengarkan orang lain?" Gerutu Galih saat hujan tiba-tiba membesar dan dengan cekatan pria itu membuka jas yang di kenakannya dan menjadikannya payung mendekati dan merangkul bahu Naira agar tidak kehujanan.


Gadis itu mencoba menjauh dan menolak payung dadakan itu, namun tenaga Galih yang jauh lebih kuat mampu membuat Naira diam tidak bisa berkutik keluar dari rangkulan pria itu.


Naira dengan terpaksa mengikuti kecepatan langkah Galih dan bahkan menerima rangkulan dan penjagaan dari pria itu. Saat tiba di depan mobil sport merah kesayangannya, Galih segera membuka kunci dan membukakan pintu penumpang untuk Naira.


Tidak ada kata trima kasih namun Juna mengabaikannya dan segera menutup pintu itu rapat dan segera berlari ke arah berlawanan untuk membuka pintu di bagian depan kemudi.


Pria itu masuk dengan cepat dan menyampirkan jasnya yang basah begitu saja di belakang kemudian mengemudikan mobilnya menuju tempat tinggal gadis itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2