JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Lupa


__ADS_3

"Sudahlah.. Jangan mengganggunya biarkan dia makan." Ucap Bram.


Alice terharu dengan situasi saat ini. Ini benar-benar kehangatan yang sudah lama dia rindukan, terakhir kali adalah saat dia sedang flu saat masih kecil dan Ayah dan Ibunyalah yang merawatnya dengan membuatkan sup ayam hangat dan menemaninya. Bayangan samar mengenai orang tuanya yang hampir dia lupakan selama ini.


'Mereka memperlakukan ku dengan sangat baik.. Namun aku masih merindukan kalian..' Batin gadis itu.


"Emh..." Gumam suara parau dan pelan dari arah bed Anton.


Refleks Alice berdiri dan mendekati kasur pria itu, "Kau sudah sadar? Kau membutuhkan sesuatu?" Tanyanya saat melihat mata Anton sudah terbuka.


Senyum pria itu terbit dan berbisik, "Aa air.."


Alice dengan sigap mengambil air hangat yang berada di atas meja samping bed Anton dan membantu pria itu minum menggunakan sedotan.


"Perlahan-lahan." Ucap Alice memperingatkan Anton.


Pria itu meminumnya dengan perlahan. Lidia dan Bram bangkit dan mendekati bed Anton dan memeluk putra bungsu mereka.


"Syukurlah kau sudah sadar nak.. Ayah dan ibu sangat khawatir." Ucap Lidia bersamaan dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Maaf membuat kalian semua khawatir." Ujar Anton perlahan.


"Tidak apa-apa nak, yang penting sekarang kau jangan membuat kami cemas lagi." Ucap Bram memandang Anton namun tangannya merangkul Lidia dan mengusap lengan wanita itu untuk menenangkannya.


"Berapa lama aku tidak sadar?" Tanya Anton yang merasa anggota tubuhnya sedikit kaku dan tidak nyaman.


"Sudah hampir seminggu kau tidak sadarkan diri! Untunglah Alice mau merawat dan menemani mu! Jika tidak, ibu tidak akan mau merawat mu!" Ucap Lidia asal karena kesal. Namun tangannya menyentuh pipi tirus pria itu.


"Iya ibu aku tahu, maafkan aku karena telah membuat kalian khawatir ya.. Aku tahu kalian sangat mencemaskan ku." Ucap Anton dan menggenggam tangan ibunya yang berada di pipinya.


Srrrrttt pintu geser kamar ruang perawatan Anton terbuka dan memperlihatkan Amanda beserta Alious dan Sisilia bersama Axel.


"Syukurlah bro kau sudah bangun.. Kau membuat kami khawatir tahu." Ucap kedua pria yang kini berdiri di depan Anton.

__ADS_1


"Maaf.." Ucap Anton sambil menyengir memperlihatkan giginya.


"Syukurlah kau kembali Anton.." Ucap Amanda dan Sisilia bersamaan dan menggenggam tangan pria itu.


Drtt drrtt drrtt.. Ponsel Alice bergetar, gadis itu melihat siapa ID yang tertera adalah Galih. Sepertinya akan berhubungan dengan misi mereka.


"Ehem.. Maaf Anton, Ibu, Ayah, Kakak, Alice pamit keluar untuk menerima panggilan." Izin gadis itu dan kemudian pergi meninggalkan ruangan setelah mendapatkan jawaban dari Bram dan anggukkan dari anggota keluarga yang lain.


Alice menutup kembali pintu kamar Anton dengan rapat kemudian melihat seisi lorong itu yang tampak sedikit ramai. Alice mengedarkan pandangannya dan melihat sebuah lorong jalan yang sepertinya jauh lebih sepi dan kemudian berjalan kearah lorong itu untuk menjawab panggilan di ponselnya.


📞 "Halo Gal.." Ucapnya saat panggilan itu telah tersambung.


📞 "Alice.. Kita harus rapat siang ini, bisakah kau? Ada beberapa hal yang harus didiskusikan. Aku sudah mencoba menelpon Juna namun ponselnya tidak tersambung. Beritahu dia juga." Pesan Galih di akhir kalimatnya.


📞 "Baiklah aku akan ke sana." Ujarnya dan kemudian memutuskan panggilan teleponnya.


"Huft... Baiklah aku harus kembali menyelesaikan misi yang masih belum selesai, padahal aku masih ingin bersama dengannya." Gumam Alice sedikit enggan.


Wanita itu berjalan meninggalkan lorong sepi dan mulai mendekati pintu kamar Anton. Alice tertegun saat melihat dari kaca pintu yang tidak terlalu besar, kegiatan yang terjadi di dalam ruangan kamar itu.


"Mungkin mereka lebih memerlukan waktu untuk bersama.."


Alice memutuskan menggeser pintu kamar itu dan masuk ke dalam ruangan yang terasa kehangatannya.


"Kau sudah selesai Nak?" Tanya Lidia yang melihat kehadiran Alice di ruangan itu.


"Iya Bu.." Jawab Alice singkat.


"Ada yang tidak beres Nak?" Tanya Bram yang melihat gurat kecemasan di wajah Alice.


"Ehem sebenarnya ada yang harus Alice lakukan.. Maaf Alice tidak bisa berlama-lama di sini." Ucapnya merasa tidak enak dengan situasi saat ini.


"Ohh.. Tentu Nak.. Selesaikan saja dahulu keperluan mu, kami ada di sini menjaga Anton. Kamu tidak perlu khawatir." Ujar Bram dan di setujui oleh Lidia dan Anton.

__ADS_1


"Benar tidak apa-apa pergilah." Ucap Lidia.


"Hmm.. tidak apa." Ucap Anton.


"Astaga kau khawatir ya dia akan segera lari, kau tenang saja Al, kami akan merantai anak ini." Gurau Alious yang membuat seluruh orang di ruangan itu tertawa.


"Baiklah kalau begitu aku pamit dahulu." Alice mengambil tas miliknya yang berada diatas meja di samping kasur Anton dan kemudian melakukan perpisahan dengan mengecup dan merangkul Sisilia, Amanda dan Lidia.


"Hati-hati Al / Nak." Ucap semua orang secara bersamaan.


Alice mengangguk dan kemudian keluar dari ruangan kamar Anton dan bergegas turun menuju parkiran mobilnya. Sebelum gadis itu keluar melewati pintu lobby utama rumah sakit, dia teringat harus mengambil sesuatu dahulu di apotik. Alice bergegas membelokkan langkahnya dan pergi menuju apotik yang berada tepat di sudut ruangan lantai itu.


Alice memberikan resep yang di tulis oleh dokter Maria dan kemudian duduk di kursi ruang tunggu untuk memunggu vitamin yang sedang di resepkan untuknya.


"Nona Alice Anatasya." Ucap seorang petugas apoteker memanggil namanya.


"Saya.." Jawab Alice dan mendekati jemdela kecil yang berada di sana.


"Ini beberapa vitaminnya.. Ini vitamin untuk penambah darah dan...." Apoteker itu menjelaskan beberapa vitamin yang di dapat oleh Alice beserta cara meminumnya.


"Terima kasih.." Ujar Alice saat apoteker itu selesai menjelaskan semuanya dan Alice sudah membayar tagihannya.


Alice berjalan santai sambil memasukkan kantung kertas yang berisi beberapa vitamin kedalam tasnya dan pergi menuju parkiran mobilnya. Saat Alice sudah masuk ke dalam mobilnya dan akan menyalakan mesin mobil dia baru teringat akan sesuatu hal yang penting.


"Astaga!! Bagaimana mungkin aku melupakan kak Juna! Aihh Alice apa yang terjadi kepada mu hari ini? Semuanya kau lupakan.. Hadeh.." Ucapnya kesal dan kemudian keluar dari mobilnya dan mengunci kembali mobilnya. Alice kembali masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang perawatan Maya.


Srrrrtt.. Alice membuka pintu ruang kamar perawatan Maya tanpa mengetuknya dahulu.


"Ehem maaf.." Dehemnya saat melihat Maya yang sedang fokus menatap wajah Juna yang terlelap dengan posisi duduk di samping kasur Maya.


"Ahh.. Emhh Alice.." Maya tampak sedikit gugup dan terbata-bata karena ketahuan oleh Alice dia sedang memandangi pria di sampingnya.


"Tenang aku sudah pernah melihat hal lebih dari ini dengan aktor yang terbalik." Ujar Alice ambigu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2