JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Salah sangka


__ADS_3

-Galih POV-


"Sekian untuk rapat hari ini." Ucap Roy mengakhiri sesi rapatnya sore hari ini.


"Roy bisakah aku mengajukan cuti ku untuk beberapa hari kedepan?" Tanya ku meminta waktu istirahat.


"Ada apa? Tidak seperti biasanya kau ingin libur. Biasanya kau gila kerja meski tidak harus berada di dalam kantor." Tanya Juna heran.


"Aku butuh menenangkan pikiranku." Jawab ku singkat.


"Ada apa? Apakah kau kesulitan?" Tanya Roy yang kini khawatir kepada ku. Dia memang tidak hanya sebagai sahabatku dia juga sudah menganggap ku seperti keluarganya sendiri.


"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku hanya butuh istirahat setelah sekian lama berkutat di dunia cyber. Berikan aku sedikit waktu untuk bersenang-senang." Ucap ku sambil bercanda.


"Ahh baiklah.. Kau memiliki waktu mu.." Jawab Roy mengabulkan keinginan ku.


"Juna kalau begitu kau yang mengirim surat penangkapan Fiktor atas tuduhan penggelapan dana dan tersangkutnya dengan masalah penjual belian obat terlarang dan perdagangan manusia." Ucap Roy meminta Juna mengambil alih pekerjaan ku.


"Emhh saran ku, bagaimana jika Alice saja yang memberikan surat itu? Sejak keluar dari gudang tua itu dia belum menemui Fiktor. Siapa tau ada beberapa hal yang ingin dia ucapkan mengenai makam ibunya. Karena setelah penangkapan dan sidang berlangsung, gadis itu pasti tidak bisa menanyakan hal itu lagi." Saran ku kepada Roy dan Galih.


"Kau benar. Kalau begitu nanti kau yang mengirimkan suratnya kepada Alice di rumah sakit. Biar dia yang menyelesaikannya." Ucap Roy kepada Juna akhirnya.


"Okey." Jawab Juna setuju.


"Lalu untuk Belinda, layangkan surat penangkapan karena kasus penculikan dan penyekapan beserta kasus pencobaan pembunuhan." Ucap Roy lagi mengingatkan kepada Juna.


"Okey siap aku akan pergi dengan petugas penyidik." Ucap Juna santai.


"Baiklah kalau begitu aku pergi bersenang-senang." Ucap ku ceria berbalik menuju pintu keluar sambil melambaikan tangan ku keatas.


"Bukankah ini masih terlalu pagi?" Tanya Roy yang menganggapku terlalu dini untuk pergi menenangkan diri.


"Aku harus hunting dulu kan?" Jawab ku asal sambil tertawa dan tetap bergegas keluar dari ruangan itu.


"Dia pasti sedikit terkejut dengan keadaan Alice. Dia pasti membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya." Ucap Juna dan Roy yang membahas ku saat pintu belum tertutup sempurna, aku masih bisa mendengarkan percakapan mereka.


Ya.. Mereka benar aku membutuhkan waktu untuk memulihkan hati ku. Ya aku terluka cukup dalam, kau tahu meski selama ini aku berusaha melupakan dan meredam rasa ini, ini sedikit sulit karena kau selalu berada di dalam lingkaran orang yang kau cintai dan terkadang ego ku ingin merebutnya dan menjadikan dia hanya milikku selalu muncul disaat dia sedang bersama ku.


Namun setelah mengetahui dia memiliki sesuatu yang tumbuh dalam dirinya membuat ku sepenuhnya menyerah. Aku tidak akan pernah bisa merebutnya kembali. Karena jika aku melakukan itu, akan ada makhluk kecil yang tak berdosa kehilangan kasih sayang dari salah satu orang tuanya.


Meski mungkin aku tidak keberatan mengakui dan menjaganya seperti milikku sendiri, namun dia tetap memiliki hak untuk bahagia dengan keluarga aslinya bukan.


Dan disinilah aku.. Berdiam diri duduk di meja bar sebuah lounge di sebuah hotel bintang lima sambil menyesap minuman bersoda ku.


Menyedihkan bukan.. Mengapa aku tidak minum alkohol saja atau bahkan pergi ke Pub atau diskotek sekalian sambil mencari wanita untuk membantu ku menenangkan diri dan meluapkan emosi yang tidak tertahankan ini.


Ya kau tahu aku bukan lelaki alim yang tidak pernah menyentuh wanita. Aku adalah seorang brandalan dan playboy sebelum aku mengenal Alice. Dan saat gadis kecil itu muncul di hidup ku semuanya berubah. Aku ingin layak untuknya dan merubah semua gaya hidup ku setelah bertemu dengannya.


Namun apa yang terjadi? Dia malah di rebut oleh orang yang baru di kenalnya padahal aku yang menantikan dari gadis itu remaja. Sungguh konyol bukan meski aku tahu waktu bukanlah sebuah kepastian untuk mendapatkan hatinya namun tetap saja aku berharap suatu hari nanti dia akan melihat ku dan memilih ku.


Kini semua harapan ku sirna.. Seperti goresan gambar yang kau lukis di bibir tepi pantai atau sebuah bangunan istana pasir yang kau bentuk perlahan lahan dengan waktu yang lama dan kemudian terhapus ombak begitu saja dengan mudahnya.


Hancur.. Itulah satu kata yang menggambarkan hati ku saat ini.


Aku mengambil ponsel ku di saku jas sebelah kanan ku. Aku selalu menaruh ponsel di sebelah kanan ku untuk memudahkanku mengambilnya dan menggunakannya.


Aku melihat layar di ponsel ku, kini hari sudah berganti dengan malam. Aku membuka beberapa foto yang ku ambil secara diam-diam saat memperhatikan Alice dan menghapus fotonya satu persatu.


Seseorang tiba-tiba duduk di samping kanan ku.


"Moktail.." Ucap suara dari samping ku.


"Ini nona.." Ucap banterder itu menyerahkan minumannya ke hadapan orang di samping ku.

__ADS_1


Aku terlalu larut dalam menghapus jejak-jejak yang ku buat di dalam ponselku dan tidak memperdulikan di sekitar ku meski masih terdengar dan terlihat samar di pandangan ku.


Baiklah ini benar-benar sudah waktunya menyerah bukan. Biarkan dia bahagia dan biarkan dia memiliki kebahagiaannya bersama keluarga kecilnya. Lagi pula aku yakin pria itu akan benar-benar menjaganya kali ini. Jika tidak, dengan sigap aku pasti akan merebutnya kembali apapun resikonya.


Huft.. Aku buang nafas panjang dan berat ku dan meletakkan ponselku di atas meja bar sebelah kanan ku.


Aku kembali menyesap minuman ku dengan santai. Hingar bingar suara dentuman musik tidak mengganggu ku namun malah semakin membuat ku sepi.


Setelah sekian lama berdiam diri dan meminum bergelas-gelas minuman soda lama-lama membuat ku kembung juga. Aku akan memutuskan pergi dari sini.


Belum sempat aku ingin beranjak pergi, seseorang di samping ku pergi meninggalkan meja bar lebih dahulu. Dia turun dari kursi tingginya dan berjalan menjauhi kerumunan.


Saat aku sudah mulai fokus aku ingin mengambil ponselku di atas meja, namun aku bingung saat aku tidak menemukan ponsel itu disana.


"Sial! Kemana ponsel ku? Bukankah aku letakkan di sini?" Ucapku bingung dan merogoh saku bagian kanan ku dan disana tidak ada apapun.


"Sial! Pasti wanita itu!" Ucap ku kesal dan masih sempat melihat wanita itu pergi menjauh dengan menggenggam ponsel di tangannya.


Ponsel berwarna hitam di tangannya seperti jenis ponsel milik ku. Wanita dengan menggunakan dress berwarna merah selutut dengan rambut yang di ikat tinggi.


"Sialan! Itu pasti milikku!" Ucap ku tanpa berpikir panjang dan mengejar wanita itu dan sebelumnya aku harus membayar minuman yang sudah ku minum.


"Berani sekali wanita itu mencuri sesuatu di depan hidung ku!" Umpat ku kesal sambil terus mengikuti wanita itu dari belakang.


Wanita itu sedikit menoleh kebelang dan menyadari jika aku mengikutinya dan dia berjalan dengan lebih cepat.


"Ohh sial! Dia menyadarinya dan berusaha lari!" Ujar ku semakin jengkel dan berusaha lari mengejar wanita itu.


Wanita itu keluar dari lounge dan berlari menuju sebuah gang. Aku mengejarnya dengan cepat dan kemudian berhasil mencekal tangannya yang menggenggam ponsel hitam itu.


"Lepaskan aku!" Berontak wanita itu.


Tunggu! Dia bukan seorang wanita dewasa, aku bisa melihatnya dia adalah seorang gadis, mungkin dia seumuran dengan Alice.


"Apakah kau pikir saat kau bilang lepaskan aku akan melepaskannya! Dasar gadis nakal!" Ucap ku sambil tidak melepaskan cekalan di tangan gadis itu.


"Lepaskan aku! Aku bukan gadis nakal! Kau salah orang! Lepaskan aku! Seseorang tolong!" Teriak gadis itu sambil tetap mencoba melepaskan cekalan tanganku dan meronta-ronta ingin kabur.


"Dasar gadis nakal! Pencuri kecil! Sudah mencoba melarikan diri dan saat tertangkap kau sok seperti orang yang tertindas benar-benar akting mu luar biasa." Ejek ku mencemooh gadis itu.


"Ahh lepaskan aku! Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!" Keluh gadis itu lagi masih berusaha melepas cekalan tangan ku.


"Ayo ikut dengan ku!" Tarikku ke dalam gang itu, setelah melewati gang ini akan ada jalan raya dan sebuah kantor polisi tak jauh dari sana. Aku akan menyerahkan gadis pencuri ini agar mendapatkan sedikit balasan agar dia jera.


"Hentikan! Tidak mau! Aku tidak mau mengikuti mu! Lepaskan aku!" Teriak wanita itu lagi dan kini tampak air mata tampak membanjiri pipi mulusnya.


Sedikit tidak nyaman saat aku melihat air mata membanjiri wajah kecilnya. Namun aku jadi tidak tega untuk membawanya ke kantor polisi.


Aku menghembuskan nafas ku panjang, "Huft.. Baiklah aku akan melepaskan mu, tapi kembalikan ponsel ku." Ucap ku dan mencoba tenang.


Baiklah aku akan lupakan saja masalah pencurian ini dan mengampuninya yang penting dia mengembalikan ponselku.


"Apa maksud mu! Aku tidak mengerti." Ucap gadis itu lagi di sela-sela isakan tangisnya.


"Ini.. Kembalikan ponsel ku." Ucap ku sambil menggerakkan pergelangan tangannya yang memegang ponsel hitam di tangannya.


"Apa maksud mu! Ini ponsel ku!" Ucap gadis itu kesal dan masih dengan suara tangisnya.


"Aihh sudah seperti ini masih saja tidak mau mengaku." Ucapku kesal dan jengah juga kepada gadis kecil ini.


"Apa yang perlu aku akui! Aku tidak tahu apapun!" Teriak gadis itu berubah menjadi kesal.


"Aihh gadis kecil ini.." Ucap ku kesal dan mengambil ponsel hitamnya dari tangannya dan melepaskan cekalan tangan ku pada tangannya.

__ADS_1


"Tidak itu milikku!" Gadis itu menerjang ku untuk mengambil ponsel hitam ku itu.


"Kau ini keras kepala sekali anak kecil!" Ucap ku masih dengan menjauhkan ponsel ini dari jangkauannya.


Ya aku lebih tinggi darinya, dan dia berjinjit dan mencoba meraih ponsel di tangan ku.


"Aku bukan anak kecil! Usiaku sudah 20tahun!" Ucapnya membalas perkataan ku.


"Haihh kau masih pendek begini!" Ejek ku dan terus saja menjauhan ponsel ku dari jangkauannya hingga tanpa sengaja aku menekan tombol power yang membuat layar itu menyala.


Aku tertegun sesaat saat melihat tampilan layar ponsel itu adalah seorang gadis cantik memegang sebuket bunga mawar putih di tangannya dan hendak menciumnya.


Tunggu! Tunggu! Mengapa mengapa walpapper ponsel ku adalah seorang gadis, dan tunggu dulu bukankah gadis di layar itu mirip dengan gadis di depan ku ini.


"Ahh kembalikan!" Ucap gadis itu masih meronta dan berjinjit mengambil ponsel di tangan ku.


"Tunggu! Diam dulu!" Bentak ku sedikit keras dan membuatnya menciut takut dan diam seketika.


Aku mendekatkan ponsel hitam di tangan ku dan benar ini adalah model ponsel ku namun mengapa walpappernya adalah gadis ini.


Aku mencoba membuka kunci ponsel namun di tolak. Aku bingung, aku tidak pernah mengubah sandi ponsel ku.


"Hentikan! Mengapa kau mau membuka ponsel ku!" Ucapnya kesal.


"Ini ponsel ku!" Ucap ku tidak kalah ketus.


"Paman! Sepertinya kau mabuk! Itu ponsel ku! Kembalikan pada ku!" Ucapnya dengan kesal dan meminta agar aku mengembalikan ponsel ini.


Paman? Apakah aku tamlak setua itu? Namun aku mengabaikannya dan tidak memperpanjangnya.


"Ini ponsel ku! Tidak banyak di negara ini menggunakan ponsel yang kubuat dari keluarga ku!" Ucap ku ketus kepada gadis itu.


"Tapi itu benar milik ku!" Ucapnya menyerah dan pasrah.


"Buka dulu kuncinya!" Perintah ku dan gadis itu dengan takut mengambil ponsel di tangan ku dan membuka sandi kunci ponselnya.


Aku merebut kembali ponsel itu dengan cepat dan melihat semua galeri maupun kontak memang yang tidak aku kenal.


Ohh sial! Sepertinya aku benar telah salah sangka. Lalu jika ini bukan ponsel ku, kalau begitu dimana ponsel ku.


Dengan cepat aku menekan beberapa angka dan segera menekan tombol hijau untuk memanggil dan seketika bunyi nada dering yang ku kenal menghinggapi indra pendengaran ku.


Ohh sial! Suara deringan itu berasal dari saku jas sebelah kiri ku. Sepertinya tanpa sadar setelah menghapus beberapa foto Alice dan aku menyimpannya kembali di saku jas sebelah kiri ku. Dan sialnya aku menyangka gadis ini mencuri ponsel ku dan mengikutinya.


Gadis di depan ku menyipitkan matanya kesal. Air mata di wajahnya sudah nengering dan matanya jadi tampak sedikit memerah.


"Sudah ku bilangkan ini ponsel ku!" Ucap gadis itu ketus sambil merebut ponsel hitam miliknya dari tangan ku.


"Maaf aku mengira kau mencuri ponsel ku dan mencoba untuk melarikan diri." Ucapku mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


"Aku lari dari mu karena kau membuntuti ku! Aku pikir kau pria mabuk! Kau mengejar ku dan menarikku kedalam gang untuk melakukan hal yang tidam sopan kan?" Bentak gadis itu lagi.


"Ehh tunggu aku menarik mu karena akan membawa mu ke kantor polisi karena ku pikir kau pencuri. Itu di sana pos polisinya." Ucap ku sambil menggaruk tengkuk ku yang tidak terasa gatal.


"Maaf untuk itu.. Aku benar-benar menyesal telah salah sangka dan melukai pergelangan tangan mu." Kata ku sambil memandang pergelangan tangannya yang memerah meski di gang ini tampak remang-remang.


"Sakit.." Keluhnya sambil memegang tangannya dengan tangan yang lainnya. Sepertinya dia baru menyadari rasa sakitnya.


"Ikutlah dengan ku aku akan mengobati tangan mu. Aku bersumpah aku bukan orang mabuk yang berniat jahat." Ucap ku sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf V.


"Aishh.. Terserahlah rasanya sakit sekali." Ucapnya sambil meringis dan mengikuti ku dari belakang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2