
Juna mengemudikan mobilnya seperti seorang mata-mata yang sedang membuntuti targetnya. Tidak membiarkan wanita itu mengetahui bahwa Juna mengikutinya dia selalu menjaga jarak aman agar tidak terlalu dekat agar tidak ketahuan dan tidak terlalu jauh dari mobil yang di kendarai Maya agar tidak ketinggalan jejak wanita itu.
Akhirnya Juna menghentikan mobilnya saat dia melihat Maya turun di sebuah lobby sebuah hotel bintang lima yang lumayan jauh dari kantor mereka. Juna yang melihat itu mencengram kemudi mobilnya hingga tanganya memutih. Entah mengapa timbul gejolak yang membara di dalam hati Juna. Pria itu benar-benar marah dengan apa yang di lihatnya. Padahal hanya melihat wanita itu berhenti di depan sebuah hotel membuatnya benar-benar kehilangan kesabarnnya.
Saat Maya mulai memasuki lobby, Juna segera mengemudikan mobilnya dan berhenti tepat di depan lobby dan meminta seorang petugas memarkirkan mobilnya. Dan pria itu dengan marah mencari berkeliling sosok Maya di sana.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya seorang resepsionis kepada Juna saat melihat Juna yang terus saja mengedarkan pandangan mencari sosok Maya.
"Emhh apakah kau melihat istri saya yang mengenakan baju kemeja merah lengan pendek dan mengenakan celana jeans biru? kemana dia perginya ya? saya sedang memarkirkan mobil dan sepertinya dia lupa untuk menunggu ku." Ucap Juna semeyakinkan mungkin bahwa wanita yang di carinya adalah istrinya.
"Ahh Nona itu.. ahh maksud saya Nyonya itu.. dia naik ke lantai 12 Tuan." Jelas resepsionis itu. Mendengar hal itu Juna benar-benar tidak bisa menahan emosinya dia mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Pria itu diam-diam menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan agar emosinya tidak memuncak.
Bayangkan bagaimana tidak emosi saat melihat wanita yang kau sukai datang ke kamar seorang pria yang baru saja dia kenal belum lama ini. Ehhh tapi tunggu.. wanita yang di sukai? tunggu sebentar.. jadi apakah benar Juna sudah menyukai wanita itu sebegitu dalam? sampai-sampai akalnya tidak jalan? untuk apa dia membuntuti wanita itu? dia bukan siapa-siapa Juna bukan. Ahh persetan dengan itu.. yang terpenting sekarang adalah menyeret wanita itu keluar dari kamar hotel sialan ini.
"Kamar nomer berapa?" Ucap Juna saat dia sudah mulai tenang dan bertengkar dengan batin dan pikirannya sendiri.
"Maaf tuan?" Tanya resepsionis itu bingung.
"Istri saya datang ke kamar nomer berapa?" Ucap Juna mengulang pertanyaannya. Astaga apakah resepsionis itu bodoh? masa harus di jelaskan sekali sih. Kesal pria itu.
"Maaf tuan, Nyonya tidak memesan kamar namun Nyonya pergi ke lantai 12 Restoran hotel ini." Ucap resepsionis itu menjelaskan.
"Apa?" Ucap Juna tidak yakin dengan pendengarannya.
"Benar tuan.. Nyonya tidak memesan kamar, tapi nyonya menanyakan restoran hotel lantai berapa dan kemudian nyonya segera pergi menaiki lift di sana." Tunjuk resepsionist itu ke arah depan yang tidak terlalu jauh dari meja mereka.
__ADS_1
"Ahh begitu.. maaf saya kira istri saya memesan kamar. Terima kasih kalau begitu." Ucap Juna dan segera pergi dari sana.
"Astaga... Sumpah malu-maluin banget sih!! kesannya aku ngarep banget dia pesen kamar. Astaga Juna kenapa kau jadi begini sih! kenapa gak di tanya sedari awal aja biar gak salah paham kan!" Ucap pria itu merutuki kebodohannya sendiri.
"Huh.. syukurlah.." Ucap Juna akhirnya. Entah mengapa dia benar-benar merasa lega setelah mendengar penjelasan itu dari resepsionist bahkan dia hampir berpikiran jahat kepada wanita itu.
"Sepertinya aku harus meminta maaf kepada wanita itu karena sudah merutukinya." Ucap Juna.
Ting!!
Lift terbuka saat tepat di lantai 12, pria itu keluar dari dalam lift. Namun setelah itu dia bingung akan melakukan apa. Pasalnya ini kan bukan restoran umum. Aneh banget tiba-tiba makan di sini. Tapi jika dia tidak masuk, untuk apa dia bela-belain sampai membuntui wanita itu dan bahkan mempermalukan dirinya di depan resepsionist.
"Astaga apa yang harus aku lakukan?" Ucapnya bingung dan mondar mandir di depan pintu lift itu.
"Selamat siang tuan.. ada yang bisa saya bantu? sudah reservasi?" Tanya seorang petugas pelayan saat pria itu memasuki restoran itu.
"Belum." Ucap Juna dan kemudian melihat berkeliling di mana sosok wanita yang dia cari.
Ahhh itu dia.. Wanita itu duduk dengan pria tampan. Ya.. dia adalah Widi. Meja mereka berada di dekat jendela kemudian beberapa meja berikutnya ada beberapa wanita sedang mengobrol tak jauh dari meja itu. Tak jauh dari meja itu ada sebuah meja kosong dan kebetulan spot meja itu terhalang oleh sebuah dinding setinggi dada sehingga jika dia duduk di sana, dia tidak akan terlihat dan bahkan sepertinya dia bisa mendengar percakapan kedua orang itu dari sana.
"Ahh di sana apakah sudah ada reservasi?" Tanya Juna menunjuk sebuah meja kosong yang tepat tidak jauh dari meja Maya.
"Mohon tunggu dahulu.." Ucap pelayan itu dan kemudian mengecek di sistem mereka, "Tidak ada Tuan. Anda ingin duduk di sana?" Tanya pelayan itu kemudian.
"Iya di sana saja." Ucap Juna.
__ADS_1
"Baik Tuan silahkan.." Ucap pelayan itu dan menunjukkan jalan kepada Juna dan mempersilahkan Juna untuk duduk.
"Ini buku menunya Tuan." Ucap pelayan itu dan mendorong sebuah buku menu di atas meja itu.
"Terima kasih." Ucap Juna dan mulai melihat pilihan berbagai macam menu. Namun dirinya sedang tidak fokus melihat menu bahkan tidak berselera untuk makan.
"Anda sudah memilih Tuan?" Tanya pelayan itu memastikan.
"Saya mau menu spesial di restoran ini saja." Ucap Juna dan menyerakhan kembali buku menu itu.
"Untuk minumannya Tuan?" Tanya pelayan itu lagi. Sambil mengambil buku menu yang di kembalikan oleh Juna.
"Sama. Minuman spesial di restoran ini saja." Ucap Juna malas dan ingin segera pelayan ini pergi. Karena dia ingin memastikan apa yang sedang Maya dan Widi bicarakan.
"Baik Tuan, kalau begitu segera saya siapkan. Mohon di tinggu." Ucap pelayan itu lagi dan kemudian meninggalkan Juna sendiri di mejanya.
"Huhh akhirnya pergi juga. Mengganggu saja." Ucap Juna kesal dan mulai duduk mengambil ponselnya dan berpura-pura memainkan game di ponselnya. Padahal dia sedang fokus mencuri dengar apa yang Maya dan Pria itu bicarakan.
"Bukankah itu manis." Ucap Widi sedikit menggoda dan tersenyum ramah kepada Maya.
"Ya.. sangat manis.. kau benar-benar tak terduga Wid." Ucap Maya menimpali ucapan Widi.
"Sial!! apa yang mereka bicarakan apa yang manis? makanannya? atau penampilan Maya? Arghh sial di sini tidak terlalu jelas dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Arghh membuat ku kesal saja." Gerutu Juna sambil menggenggam erat ponselnya dengan kedua tangannya.
Bersambung....
__ADS_1