
"Selamat malam.. Apa kalian sudah memilih pesanan?" Tanya seorang wanita yang mengenakan kaus putih berlengan pendek dan jeans pendek yang di tutupi oleh celemek berwarna hitam bergaris-garis putih.
"Ahh ya.. Kami ingin pesan makanan dan minuman yang ini saja 2 set." Ucap seorang pria pelanggan yang menunjukkan sebuah gambar makanan pada buku menu bergambar itu.
"Baik selain set makanan ini ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya wanita pelayan itu lagi sopan.
"Sayang kamu ada yang mau di pesan lagi?" Tanya pria pelanggan kepada kekasihnya yang duduk tepat di seberangnya.
"Tidak sayang itu aja." Jawab sang wanita itu.
"Sudah mbak ini saja.." Jawab pria pelanggan itu kepada pelayan wanita.
Pelayan wanita tersenyum sopan, "Baik jika begitu untuk pesanannya mohon di tunggu.. Saya permisi dahulu."
Pelayan itu segera bergegas menginformasikan kebagian dapur untuk menyiapkan pesanan meja pelanggan yang dilayaninya. Saat wanita itu hendak kembali kebagian depan untuk menyambut tamu, tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat sosok yang tidak biasa di depan matanya.
Celenteng! Pintu kafe terbuka dan memperlihatkan sosok tubuh tinggi besar dan sedikit tambun pria paruh baya dengan beberapa rambut putih di kepalanya.
Wanita itu tanpa sengaja menjatuhkan buku menu yang sedang dipegangnya.
Pria tua yang melihat respon itu tersenyum sinis, "Wah wah wah.. Ternyata kau selama ini tinggal di sini? Kau tahu karena kesalahan mu aku menderita mendekam di penjara selama beberapa tahun dan kau malah hidup enak-enakan di sini." Ujar seorang pria tua itu yang berjalan mendekati wanita pelayan itu.
"Maaf tuan, saya tidak mengenal anda.. Mungkin anda salah orang, saya permisi dahulu." Wanita pelayan itu sedikit gemetar dan hendak pergi menghindari pria tua itu.
Pria tua itu tertawa terbahak-bahak, "Hahaha mana mungkin aku salah orang.. Ristha keponakan tersayang ku.. Kau tidak bisa kabur kemanapun.. Aku pasti akan menemukan mu lagi.." Teriak pria tua itu dan dengan senang hati duduk dan memanggil pelayan lainnya untuk melayaninya.
Wanita pelayan yang sebelumnya di panggil Ristha segera masuk ke dalam dapur dan melepaskan celemeknya.
"Bos.. Maaf.. Aku tidak enak badan aku akan pergi sekarang.." Ucap wanita itu dengan suara yang sedikit bergetar.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa Ta?" Tanya seorang pria yang merupakan pemilik kafe itu yang merangkap sebagai koki juga.
"Saya tidak apa-apa.. Saya hanya kurang sehat.. Permisi." Ujar Laristha dan segera pergi meninggalkan kafe itu dari jalan belakang di dapur.
Ya.. Wanita itu adalah Laristha yang selama ini menggunakan nama dan identitas milik Maya untuk menjadi mata-mata menjaga wanita Tuannya selama ini.
"Sial! Bagaimana pria itu sudah keluar dari penjara? Dan bodohnya bagaimana bertemu dengannya aku malah ketakutan? Aku bukanlah Laristha yang dahulu yang hanya bisa menangis dan meringkuk di pojokan menanti seseorang datang menyelamatkan ku! Aku adalah Laristha seorang anggota Mafia The Black Phanter! Apa yang harus aku takutkan? Seharusnya dia yang takut kepada ku!" Gerutu wanita itu.
Namun entah kenapa logika dan kenyataannya tidaklah selaras saat ini. Logikanya menyuruhnya agar tidak takut dan gentar, bahkan seharusnya pria itu yang takut kepadanya. Namun kenyataannya tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Wanita itu berlari sekuat tenaga menghindari kafe yang jauh berada di belakangnya.. Wanita itu menabrak beberapa orang yang berpapasan dengannya namun kembali berlari lagi.
Brak!
"Maaf aku terburu-buru.." Ujarnya lagi entah keberapa orang yang sudah dia tabrak malam ini.
Wanita itu tidak mengangkat kepalanya dan membungkuk meminta maaf kemudian hendak berlari lagi, namun tangan orang yang menabraknya tidak melepaskan cekalan di tangannya..
"Maya... Tidak.. Laristha.." Ucap pria itu masih dengan mencekal tangan wanita di depannya itu tidak membiarkan wanita di depannya lari lagi.
Wanita yang merasa namanya di panggil mendongakkan wajahnya dan matanya terbelalak saat melihat orang yang di depannya adalah seorang pria yang selama ini selalu hadir di dalam mimpinya menemani malam-malam sepinya.
"Jun Juna.." Ucapnya tergagap dan meneteskan air matanya lagi.
"Kau kenapa? Ada apa dengan mu?" Tanya Juna yang heran melihat Laristha yang tiba-tiba menangis dan bahkan dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi jauh dari sini!"
"Tidak! Tidak akan! Aku tidak akan meninggalkan mu lagi dan aku tidak akan membiarkan mu meninggalkan ku lagi." Juna mengetatkan pegangan tangannya pada pergelangan tangan wanita itu.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu cepat bawa aku pergi dari sini.." Ucap wanita itu menyerah dengan wajah memelas dan air mata yang masih membanjiri wajahnya.
"Baiklah.. Aku tidak tahu apa ya g terjadi.. Tapi kau mau kemana?" Tanya Juna heran.
"Kemana saja asalkan pergi meninggalkan tempat ini.." Suaranya bergetar dan air mata masih terus membanjirinya.
"Baiklah kita ke penginapan ku." Juna dengan cepat membawa Laristha menuju tepi jalan dan menghentikan sebuah taksi yang berlalu lalang di pinggir jalan itu dan dengan cepat mengajaknya masuk kedalam mobil itu.
Juna masih tidak tahu apa yang sedang terjadi namun tangannya tetap menggenggam tangan Laristha dan mengusap bahu wanita itu agar membuatnya tenang.
Sebelumnya sudah seharian ini Juna memang mencari wanita itu hampir di seluruh hotel dan bahkan menyusuri seluruh kafe pinggir pantai K namun dia tidak menemukan hasil, hingga saat dia akan pergi ke kafe terakhir dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita dan kebetulan itu adalah wanita yang di carinya.
Untunglah dia bisa berpapasan dengannya, jika mereka tidak bertabrakan, bisa jadi pencariannya hari ini akan gagal karena mereka berada di persimpangan jalan.
Tubuh Laristha sudah tidak gemetar lagi, bahkan wanita itu juga sudah menghapus cairan bening yang sebemumnya membanjiri di kedua pipinya. Wanita itu sudah bisa mengendalikan emosinya dan sudah mulai tenang.
"Ayo.." Ajak Juna saat mobil sudah berhenti tepat di sebuah hotel.
Wanita itu hanya diam dan mengikuti tarikan pelan dari Juna tanpa membantah sedikitpun.
Juna membawa Laristha masuk kedalam lift menuju lantai 12 dimana kamarnya berada. Bahkan sepanjang perjalanan dari taksi hingga ke hotel mereka sama sekali tidak berbicara.
"Masuklah.." Ucap Juna saat pintu kamarnya sudah di buka dan memperlihatkan ruangan yang sedikit berantakan.
"Maaf aku sedikit kacau dan membuat ruangannya berantakan." Ujarnya saat memasuki ruang kamar itu. Beberpa selimut berjatuhan di lantai dan bahkan bantalpun berserakan di lantai.
Ya.. Pagi-pagi sekali Juna sudah pergi meninggalkan kamar hotel untuk mencari Maya atau nama asli wanita itu adalah Laristha.. Juna seperti orang gila yang pagi-pagi buta sudah pergi kesana kemari ke setiap hotel untuk menunjukkan pas foto milik wanita itu dan mencari jejak wanita itu.
Laristha masuk kedalam kamar hotel itu, ketika gadis itu melangkah masuk, dengan cepat Juna menutup pintunya dan menghambur memeluk wanita yang sangat dirindukannya itu.
__ADS_1
"Aku sangat merindukan mu..."
Bersambung....