JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Tak perlu kata


__ADS_3

Alice bingung dengan berkas yang ada di tangannya. Di sana tertulis mobil yang di kendarai Alice dan kedua orang tuanya sudah di sabotase meskipun tidak ada mobil yang menabrak mereka, mereka pasti akan mengalami kecelakaan hebat bakan bisa saja te rjun ke jurang dan tidak bisa menyelamatkan diri.


Bahkan di berkas lainnya juga tertulis bahwa mobil sport merah itu juga sama di sabotase oleh seseorang untuk mencelakai sang pengemudi namun naasnya mobil merekalah yang terkena dampak itu.


"Jadi sebenarnya kau juga tidak berdaya dengan kecelakaan itu.. Apakah ini palsu.." Ucap Alice pelan sambil menggenggam erat kertas itu hingga sedikit brantakan.


"Aku sudah memastikannya kepada seorang ahli tehnik untuk memeperkirakan rekayasa kejadian dan semua yang tertulis di dalam sana sudah terbukti benar tidak ada yang janggal." Jelas Galih.


"Apa yang harus aku lakukan Gal?" Tanya Alice mulai berlinangan air mata.


"Maksud mu Al?" Galih bingung dengan pertanyaan gadis itu.


"Mobil sport merah yang menabrak keluarga ku adalah mobil yang di kendarai Anton." Ucap Alice dan kemudian meneteskan kembali air matanya.


"Apa??" Pria itu tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Sesungguhnya memang benar di dalam berkas itu tidak menyebutkan siapa pengemudi mobil itu.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Alice lagi dan tertunduk melihat berkas di tangannya.


"Semua kembali kepada mu Al.. Kau sudah tahu siapa yang menyabotase mobil mu, bukankah seharusnya kau mencari keadilan mengenai itu. Untuk orang yang menabrakan mobil kearah mu, kau juga tahu dia mengalami hal yang sama pada mobilnya bukan karena kelalaian pada pengemudinya namun memang karena mobilnya yang bermasalah." Ucap Galih.


"Aku akan ke kamar ku.." Ucap Alice masih menggenggam kertas-kertas itu dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Galih tahu Alice membutuhkan banyak waktu untuk dirinya berpikir dan bahkan memerlukan waktu untuk menyembuhkan luka hatinya sendiri. Di sisi lain Galih juga jadi tahu, betapa Alice sangat terpuruk di saat dia jauh dari kekasihnya itu.


"Aihh.. Sepertinya benar-benar tidak akan ada lagi kesempatan untuk ku membuat tempat di dalam hati mu Al. Huft.." Galih membuang nafasnya berat pria itu masih memandangi pintu kamar Alice dan duduk di sofa.

__ADS_1


"Baiklah aku akan jadi apapun untuk mu.. Dan akan selalu ada di sisi mu.. Bahkan untuk menjadi penyembuh luka mu jika kau berfikir untuk meninggalkannya. Dan aku akan selalu ada di samping mu meski kau tetap ingin bersamanya." Ucap Galih pelan yang sudah pasti akan di dengar Alice.


"Pikirkan semuanya baik-baik.. Aku hanya ingin kebahagiaan mu dan keceriaan mu kembali.." Ucap pria itu lagi sambil menatap pintu dan kemudian bangkit dari sofa beranjak pergi keluar rumah Alice.


Pria itu ingin membiarkan Alice tenang dan memberikan kebebasan untuk mengambil keputusan apapun yang akan di pilih gadis itu nanti.


Tubuh Alice luruh di belakang pintu.. Tangannya masih menggenggam berkas berkas itu.. Air matanya semakin tidak bisa terbendung.


"Maaf Gal.. Kau selalu ada di samping ku dan selalu mendukung ku.. Namun maaf aku benar-benar tidak bisa.. Hati ku sudah sepenuhnya terisi olehnya.. Meski kini diisi oleh benci dan cinta namun sudah tidak ada ruang lagi yang tersisa." Ucap gadis itu menyesalinya.


"Bahkan jauh sebelum aku bertemu dengan mu Gal aku sudah jauh bertemu dengannya dan menyukainya.. Perasaan ini sangat dalam sehingga luka ini pun tertorehkan terlalu dalam.." Ucapnya monoton sambil memegang dada di sebelah kirinya yang terasa sakit.


Ya.. Alice sudah mengingat semuanya.. Beberapa minggu ini gadis itu sedikit demi sedikit mengingat apa yang sudah terjadi saat itu bahkan hari pertama dia bertemu dengan orang yang di cintainya itu. Cinta masa kecilnya yang konyol dan bahkan teringat saat di pertemuan pertama dan menjadikannya kekasih pertamanya.


"Ibu.. Ayah.. Maafkan aku yang menjadi anak tidak berbakti karena telah mencintai orang yang telah melukai kalian.. Maafkan aku.." Ucapnya sambil terisak.


Gadis itu menangis dan termenung seharian di dalam kamarnya. Bahkan Galih sudah beberapa kali mengetuk pintunya untuk menyuruhnya makan malam. Namun tidak ada sahutan dari dalam kamar itu.


"Al.. Aku akam mendobrak pintu mu jika kau tidak keluar! Kau sudah melewatkan makan siang jangan harap kau bisa melewatkan makan malam!" Ucap pria itu berteriak sambil mengatuk pintu kamar Alice.


Ceklek.. Kunci pintu terdengar di buka dan pria itu membuka handle pintu dan menggesernya. Di lihat Alice masih duduk di lantai hanya memberikan dirinya masuk ke dalam kamar itu.


"Aih.. Kenapa lampunya tidak di nyalakan.. Kau sudah persis seperti sadako.. Hentikan kemurungan mu itu.. Kita makan dahulu nanti baru la jutkan lagi bermuram durjanya." Ucap Galih asal dan menarik tangam gadia itu agar berdiri.


"Aihh apa yang aku suka dari gadis ingusan dan mata sembab ini." Ucapnya mengejek saat melihat mata Alice yang bengkak dan memerah belum lagi masih ada jejak air mata dan lelehan cairan kental yang mengintip.

__ADS_1


"Nih.." Galih menyerahkan tisu kepada Alice. Alice mengambilnya dan kemudian meletakkannya di hidungnya.


Srottttt.... Suara panjang terdengar dari hidung Alice.


"Ishh kau benar-benar tidak ada cantik-cantiknya." Keluh Galih dan memberikannya lagi sebuah tisu dan mengambil tisu kotor dan di buangnya ke tempat sampah.


Srottt... Suara lainnya terdengar lagi.


"Haihh.. Benar-benar.. Ayoo bergerak kau perlu makan.. Tapi sebelum itu cuci tangan mu itu." Ucap Galih mengingatkannya.


Galih mengajak Alice ke pantry dan menyuruh gadis itu untuk membersihkan tangannya dan dia pun melakukan hal yang sama.


Di meja makan sudah ada beberapa menu makanan kesukaan Alice. Ayam bakar kalasan, pecel lele dan bahkan ada ice cream dan juga es campur.


"Cepat makan.. Kalau tidak aku akan menghabiskan semuanya." Ucap Galih mmperingati saat mereka sudah duduk di meja makan.


"Gal.. Maaf.." Ucap Alice terbata dan ingin menyelesaikan kalimatnya namun Galih dengan cepat memotong ucapan gadis itu.


"Makan yang banyak.. Aku tidak suka melihat mu kerempeng seperti itu. Kau tidak melakukan kesalahan." Ucap Galih lagi asal.


"Terima kasih Gal.." Ucap Alice akhirnya.


Gadis itu mengerti jika kata maaf di saat seperti ini tidak akan ada gunanya. Bagaimanapun perasaan tidak pernah bisa di kendalikan bukan. Lalu apa yang perlu di mintai maaf dan apa yang perlu memaafkan.. Hanya sebuah kata-kata yang malah akan menambah sakit dan terluka. Biarkan saja waktu yang menyelesaikan semuanya.. Lambat laun hati pasti akan terbiasa dan mulai menerima.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2