
"Kau benar-benar gila." Ucap Alice sambil tertawa melihat tingkah Maya.
"Ayo.. aku akan mengajarimu mencari uang tambahan." Ucap Maya dengan percaya dirinya.
Alice hanya pasrah mengikuti gadis itu dan berkeliling melihat situasi di sana.
"Sepertinya belum ada orang-orang dari daftar orang yang di curigai." Gumam Alice dan kembali memoerhatikan apa yang akan di lakukan Maya.
Ratusan meja di atur dalam berderet-deret memanjang. Setiap meja memiliki lampu tinggi dengan tiang menyerupai cendawan. Namun Alice memperhatikan tidak semua bulatan kaca di tiang itu merupakan lampu. Dari lima bola kaca di setiap tiang cendawan ada tiga kamera keamanan yang di samarkan mirip lampu. Namun itu merupakan kamera yang bisa berputar 360 derajat.
"Wow.. mereka benar-benar memantau." Gumam Alice pelan.
Maya lebih memilih bermain kartu poker dan mulai dengan sang bandar yang membagikan kartu-kartu. Dan kemudian Maya dengan lihainya mengintip perlahan kartu di tangannya.
"Kau benar-benar menbuatku salut Maya.. Gaya mu sunggul luar biasa." Gumam Alice lagi sambil terkekeh pelan.
"Call.." Ucap Maya tenang mengikuti taruhan itu.
"Fold.." Ucap seorang wanita di ujung sana. Sepertinya dia menyerah.
"Raise.." Ucap salah seorang pria yang ternyata lawan main Maya. Sepertinya pria itu memiliki kartu yang baik. Sungguh Alice sedikitpun tidak paham.
Mereka kemudian melanjutkan permainan dan membuka kartu itu. Ternyata kartu Maya yang menang kali ini.
"Astaga wanita itu memenangkan beberpa chip langsung saat baru saja bermain." Ucap Alice sambil menggelang-gelengkan kepalanya tidak percaya.
Beberapa saat Maya masih bermain dengan kartunya, Alice lebih memilihe menjelajah dengan matanya memantau dan meihat siapa saja yang mungkin saja di kenal olehnya.
"Ahh.. ketemu.." Ucap Alice saat dia melihat sosok yang tidak asing di matanya.
"Aku pergi ke arah jam11." Ucap Alice sambil berbisik pelan. Kemudian gadis itu meninggalkan Maya yang masih asik bertaruh dengan pria asing itu.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kau akan ada di sini." Ucap Alice datar kepada sosok tubuh pria tegap itu.
"Kau!! kau di sini? dasar gadia bodoh kau malah mengantarkan nyawa mu." Ucap pria itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku tidak menyerahkan nyawa ku. Tapi aku mempertahankan nyawa ku sendiri Tuan Bahar." Ucap Alice sedikit sinis.
"Kau sungguh konyol.. seharusnya kau tidak di sini, ini terlalu berbahaya. Cepat menyingkirlah dari kapal pesiar ini." Ucap pria itu lagi yang ternyata adalah Bahar Angkasa.
"Aku tidak akan pergi kemanapun sebelum kau memberitahu ku siapa bos besar sebenarnya. Aku akan menagkap dan memenjarakannya akibat semua oerbuatan buruk yang telah dia lakukan." Ucap Alice lagi.
"Kau benar-benar keras kepala." Ucap pria itu dan menyerahkan sesuatu kepada tangan Alice sambil menyenggol tubuh gadis itu agar tidak kentara bahwa pria itu menyerahkan sesuatu.
Alice mengerutkan kening dan seketika raut wajahnya normal kembali.
"Apa ini?" Tanya Alice saat melihat pria itu masih tidak terlalu jauh darinya.
"Hadiah pertemuan dari ku." Ucap pria itu santai dan melenggang menghilang masuk ke dalam kerumuan orang yang sedang berjudi.
"Aihh.. jika aku punya bukti lengkap akan aku tangkap kau dengan segera." Ucap Alice sedikit jengkel. Bagaimanapun pria itu adalah kaki tangan Bos Besar, dan misinya mencari bukti keterikatan Bahar dan mengungkap siapa Bos Besar itu sebenarnya.
***
Sedangkan disisi lain..
"Brak!!! breng.se..k!! kenapa gadis itu masih bisa hidup!! bukankah aku sudah menyuruh Bahar untuk melenyapkan gadis itu!! arghh sial!!" Teriak Fiktor frustasi dengan kenyataan bahwa Alice masih hidup dan sehat.
Dia baru tahu kenyataan itu saat melihat hasil dari bawahannya yang berada di cabang mengenai beberapa hasil foto dari salah satu model yang mengikuti acara di kapal pesiar di bawah naungan Little Star.
"Ada apa kau melampiaskan amarah mu terhadap barang-barang yang tidak bersalah ini sehingga sangat bercecer berantakan kemana-mana." Ucap seorang wanita tua yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Kau lihat sayang semua anak buah ku sangat bodoh!! bagaimana mungkin dia membiarkan gadia itu lepas lagi!! astaga haruslah aku sendiri yang menidingkan pistol langsung ke pelipis gadis itu!" Ketus Fiktor emosi dengan semua ini.
__ADS_1
"Astaga.. tenanglah sayang.. hanya semut kecil.. lagi pula nanti dia akan tersingkir juga cepat atau lambat." Ucap Wanita itu santai.
"Tapi dia mirip dengan wanita itu. Bagaimana jika dia adalah anaknya." Tanya Fiktor sedikit khawatir.
"Apakah kau lupa sayang. Anak kecil itu sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Untuk apa kau selalu melenyapkan semua orang yang mirip dengan wanita itu sejak 10 tahun yang lalu. Kau hanya membuang-buang uang dan tenaga. Di dunia ini memang banyak orang yang mirip. Sudah tidak perlu kau cemaskan." Ucap wanita tua itu mengingatkan Fiktor.
"Baiklah.. aku mengerti.. kau memang istri ku yang selalu bisa menenangkan ku." Ucap Fiktor dan merangkul dan mencium mesra wanita tua itu yang ternyata adalah Belinda Stary istrinya.
"Baiklah.. aku akan pergi ke negara P sementara waktu. Bolehkan aku meminta beberapa kartu mu." Ucap Wanita tua itu.
"Tentu saya sayang. Semua milik ku adalah milik mu." Ucap Fiktor menyerahkan dua kartu kredit black card miliknya untuk bisa di gunakan oleh istrinya.
"Terima kasih sayang." Ucap Belinda dan mencium suaminya mesra dan setelah itu segera pergi dari ruangan kerja suaminya yang berantakan itu.
"Baiklah.. mungkin yang di katakan Belinda benar.. Adeliana sudah meninggal 10 tahun yang lalu.. Lagi pula sudah banyak yang mirip gadis itu selama 10 tahun kebelakang telah aku singkirkan. Mungkin gadis ini hanya kebetulan mirip saja. Baiklah.. aku akan melepaskan mu." Ucap Fiktor pada dirinya sendiri.
Pria itu kemudian mengambil telepon yang ada di mejanya dan menyuruh sekertarisnya untuk masuk ke dalam ruangannya.
Tok tok pintu di ketuk dari luar ruangan dan muncul seorang sekertaris cantik menggunakan baju mini dress ketat dan berjalan berlenggang-lenggok hingga menghadap di depan Fiktor.
"Ada yang bisa saya bantu yuan." Ucap sang sekertaris itu sopan.
"Apa dia sudah pergi?" Tanya Fiktor ambigu namun dapat di mengerti oleh sekertarisnya itu.
"Pak Agus bilang mereka sedang menuju bandara." Ucap sang sekertaris memberi tahu bahwa nyonya mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara.
"Ahh.. begitu.. kalau begitu.." Ucap Fiktor menggantung di udara dan sang sekertaris paham maksud pria itu. Sang sekertaris mendekati kearah pintu dan menguncinya kemudian berbalik menghadap Fiktor untuk memuaskan pria tua itu.
30menit berlalu dan mereka sudah menuntaskan gairah yang memuncak itu. Intan sang sekertaris sudah mulai merapihkan ruangan itu kembali dan berjalan pergi meninggalkan Fiktor sendirian di ruangannya.
Pria tua itu mulai bangkit berdiri dan berjalan ke depan kaca besar yang menghadap ke arah jalanan raya yang mulai padat dengan senyum dan wajah yang terpuaskan.
__ADS_1
Bersambung....