
Setelah selesai makan siang, Lidia kembali ke ruangan perawatan Anton. Sedangkan Bagas kembali merawat pasiennya yang membutuhkan bantuannya.
Saat memasuki ruangan, Lidia melihat Anton yang menggerakkan jari tangannya.
"Anton.. Nak.." Ucap Lidia pelan. Lambat laun Anton membuka matanya dan matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan cahanya yang ada di ruang perawatannya.
"I iibuu.." Ucap Anton akhirnya saat melihat ibunya di depan matanya.
"Iya Nak, ini ibu.. Apa yang kamu butuhkan Nak?" Tanya Lidia.
"A aaiir.." Ucap Anton terbata-bata. Kerongkongannya terasa kering.
"Ahh.. tentu Nak." Ucap Lidia dan segera mengambil gelas yang berada di samping nakas dan mengisinya dengan cerek air yang berada di sana.
"Ini Nak.. minumlah perlahan." Ucap Lidia dan mendekatkan gelas itu di bibir Anton dan membantu kepala Anton agar lebih tinggi dari bagian tubuh yang lainnya.
"Mau ibu ambilkan lagi?" Tanya Lidia saat Anton telah menghabiskan seluruh air minumnya.
"Tidak Bu.. sudah cukup." Ucap Anton mulai bersuara normal.
"Bagaimana perasaan mu Nak? Apakah ada yang sakit?" Tanya Lidia.
"Tidak Bu aku baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan kondisi orang di dalam mobil itu Bu?" Tanya Anton yang teringat bahwa dirinya menabrakan mobilnya kepada orang itu.
"Ehem.. Pria tua itu dia baik-baik saja Nak, bahkan dia sudah pulang kerumahnya." Ucap Lidia berbohong.
"Benarkah? hanya seorang pria Bu? Emhh aku sungguh tidak bisa mengingat setelah kejadian itu." Ucap Anton lagi.
"Ha? kau tidak ingat apapaun setelah kejadian itu?" Tanya Lidia dan Anton menggelengkan kepalanya pelan. Karena di kepanya masih terasa sesikit pusing.
"Lalu apa yang kau ingat?" Tanya Lidia mulai menggali informasi dari Anton.
"Entahlah.. aku juga bingung aku tidak tahu mau kemana dan tiba-tiba aku menabrak sebuah mobil dan aku tidak ingat apa-apa lagi." Ucap Anton lagi.
"Bu.. Apakah benar mobil yang aku tabrak tidak apa-apa?" Tanya Anton lagi mulai sedikit khawatir.
__ADS_1
"Iya Nak.. tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja." Ucap Lidia menenangkan Anton.
"Istirahatlah Nak.. kau pasti masih lelah." Ucap Lidia lagi.
Antonpun mengikuti perintah Lidia dan mulai memejamkan matanya lelah. Lidia keluar dari kamar rawat itu dan menemui Bagas.
"Bagas.. aku tidak tahu sepertinya Anton kehilangan sebagian memoriny." Ucap Lidia saat berjumpa dengan Bagas di ruang kantor pria itu.
"Itu bisa terjadi akibat benturan di kepala Anton. Bisa juga dia melupakan sesuatu karena hal itu yang membuatnya syok." Jawab Bagas.
"Apakah itu berbahaya?" Tanya Lidia lagi.
"Kita akan pabtau bagaimana perkembangan Anton nanti. Bisa saja terjadi hilang ingatan sesaat, dan nanti akan kembali mengingatnya. Jangan terlalu khawatir aku akan membantu mu menjaganya." Ucap Bagas lagi.
"Baiklah jika begitu.. Bagas maaf aku harus pergi ke suatu tempat. Mungkin lusa aku akan kembali ke sini. Bisakah aku menitipkan Anton kepada mu?" Tanya Lidia dengan hati-hati.
"Tentu lakukan saja kegiatan mu. Aku akan menjaga Anton. Bagaimanapun dia anak kalian , aku sudah menganggapnya seperti anak ku sendiri." Ucap Bagas menenangkan Lidia.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi sekarang." Ucap Lidia dan beranjak oergi dari ruangan Bagas menuju supir pribadi yang menunggunya.
"Baik Nyonya." Ucap supir itu dan mengemudikan mobilnya di jalanan sore hari itu.
'Aku sedikit khawatir apa yang sebenarnya terjadi di sana. Aku akan melihat perkembangan di sana.' Batin Lidia di dalam hatinya.
Hati kecilnya merasa sedikit tidak tenang jika pergi begitu saja. Setidaknya dia harus tahu apa yang terjadi pada korban-korban itu.
Beberapa jam kemudian Lidia sudah sampai di rumah sakit pusat kota X.
"Permisi saya mau kontrol mengapa semua pintu masuk rumah sakit di jaga sedemikian rupa?" Tanya Lidia kepada salah satu staf informasi.
Seluruh pintu rumah sakit di jaga oleh staf berbaju serba hitam bertubuh tinggi tegap dan berotot layaknya seorang bodyguard. Pengawasannya begitu ketat bahkan sepertinya seekor nyamukpun tidak bisa melewatinya.
"Maaf nyonya. Untuk sementara waktu rumah sakit tidak berjalan, anda bisa berobat di rumah sakit lain." Ucap petugas informasi itu.
"Ha? kenapa?" Tanya Lidia bingung.
__ADS_1
"Untuk itu saya tidak tahu nyonya. saya hanya di suruh untuk tidak menerima pasien hingga waktu yang belum di tentukan." Ucap petugas informasi itu lagi.
"Saya ada janji dengan dokter Markus." Ucap Lidia lagi memaksa masuk karena ingin mengetahui bagaimana keadaan gadis kecil itu.
Dan yaa. kebetulan dokter Markus adalah sahabatnya waktu sekolah dasar dahulu. Sekaligus dokter obgyn saat pengangkatan rahimnya beberapa waktu sebelumnya.
"Ahh jika demikian silahkan masuk langsung ke ruangannya." Ucap petugas informasi dan mempersilahkan Lidia masuk langsung menuju ruang kerja dokter itu.
Tapi belum sempat Lidia akan masuk ke dalam ruang dokter itu, Lidia lebih tertarik mendengarkan perbincangan para perawat yang menggelitik telinganya.
"Kasihan sekali anak kecil itu.. kedua orang tuanya meninggal dan seorang supir juga meninggal di tempat." Ucap salah seorang suster.
"Iya.. naas sekali ya nasib anak itu. Bahkan sekarang dia tertidur lelap masih belum sadarkan diri juga." Ucap salah seorang perawat lain yang menimpali.
"He'em kasihan sekali. Kalau begitu dia di rawat di ruang mana?" Tanya salah satu perawat yang sepertinya tidak tahu.
"Di ruang ICU no 1. Kasihan sekali dia, mereka mengalami tabrakan tunggal dan mengakibatkan meninggal 3 orang. Hanya dia yang selamat namun sekarang dia malah terbaring koma." Ucap perawat itu lagi.
'Ha? kecelakaan tunggal? bukankah kecelakaan tabrakan dengan mobil Anton? apakah pria itu yang mengubah pandangan publik ini?' Batin Lidia di dalam hatinya.
Lidia segera beranjak dari sana menuju ruang ICU dan menyusuri koridor yang sepi itu dari petunjuk yang ada di sana.
"Ahh ini dia ruang ICU no 1." Ucap Lidia.
Wanita itu melirik kesekitar, di sana tidak ada siapapun bahkan seorang perawat atau penjagapun tidak ada. Lidia masuk ke dalam ruang rawat itu dengan memakai jubah untuk menjenguk saat di ruang perawatan ICU.
Wanita itu mendekati ranjang anak kecil itu. Wajahnya begitu terlihat lemas namun Lidia yakin anak ini adalah anak yang cantik dan ceria sebelum kejadian na'as itu.
"Maafkan tante yang tidak bisa mengungkapkan kebenarannya. Tante juga tidak tahu harus berbuat apa. Sekali lagi maafkan tante." Ucap Lidia dan menggenggam tangan kecil itu.
"Berjuanglah untuk bangun. Bagaimanapun tante berharap kamu segera sadar dan bisa pulih kembali. Meski setelahnya mungkin kamu akan sendiri. Tapi tante janji, tante akan menemani mu." Ucap Lidia lagi.
Beberapa hari berlalu Lidia selalu diam-diam masuk kedalam ruang perawatan gadis kecil itu, menyemangatinya atau bahkan hanya berbicara tentang hal-hal konyol yang dia ingat dengan anak bungsunya saat masih kecil.
Namun tidak ada sedikitpun respon gadis kecil itu akan terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Bersambung....