
"Kau.. Bukankah mereka tidak ada di dalam daftar? Siapa mereka?" Tanya sang kapten.
"Lapor Capt mereka ada di lokasi penggerebekan, dan mereka terlihat mencurigakan dan kami membawanya kemari." Ucap salah satu bawahannya itu.
"Bawa mereka ke kantor polisi pusat.. Aku harus menyelidiki kedua wanita ini." Perintah sang kapten.
"Baik Capt.."
"Tunggu.. Tunggu.. Jangan bawa ke kantor polisi.. Benar ini sungguh kesalah pahaman saja.."
"Anda bisa menjelaskannya nanti di kantor polisi Nona.." Ucap salah satu petugas itu.
"Tidak tidak bisa seperti itu.. Astaga.. Aku benar-benar tidak tahu apapun.. Dan aku bukan orang yang mencurigakan kok.." Ucap Naira memohon kepada para petugas itu.
"Sudahlah Nona.. Semua tersangka juga akan mengatakan mereka tidak bersalah.. Kecuali ada orang yang bisa menjamin mu.." Ucap salah satu pria itu.
"Ahh benar aku bisa minta tolong ke Abang Jun.. Ahh tapi tidak mungkin.. Bisa-bisa aku dimarahi abis-abisan.." Gumam Naira dan kemudian mencoba berpikir dengan keras.
"Sudah.. Ayo cepat nona.." Ucap pria itu mencoba menarik Naira agar ikut dengannya.
"Tunggu.. Ada seseorang yang bisa menjamin aku.. Namanya Galih dia salah seorang pekerja di Roy Jaya Putra." Ucap Naira cepat agar dia bisa terhindar dari bahaya.
Sang kapten yang mendengar itu menghentikan langkahnya yang akan pergi menemui bosnya. Pria itu berbalik dan menghadap kedua wanita di depannya.
"Tunggu.. Biarkan dia.. Baiklah aku akan melapor ke dalam.." Ucap Kapten dan masuk kedalam sebuah ruangan tepat di samping ruang yang digerebek itu.
Tok tok.. Mengetuk pintu dan kemudian membuka pintu dan masuk kedalam ruangan itu.
"Lapor Pak.. Semuanya sudah saya tangkap dan sedang dalam perjalanan menuju ruangan periksa dan interogasi.. Namun kami menemukan kedua orang wanita yang tidak jauh berada di lokasi kejadian perkara, namum kedua wajah itu tampak baru Pak.." Jelas sang kapten.
"Bukan DPO(Daftar Pencarian Orang)?" Tanya pria itu yang masih fokus pada laptop dipangkuannya.
"Bukan Pak.. Namun salah satu dari mereka sepertinya mengenal anda." Jawab sang kapten.
"Baiklah bawa mereka masuk.." Ucap pria itu masih fokus kepada pekerjaannya.
"Baik Pak Galih.. Bawa kedua wanita itu masuk.." Ucap pria itu kepada penjaga di luar pintu.
__ADS_1
Kedua penjaga pria masuk menjaga dua wanita yang berada di pegangan tangan mereka.
Galih mengangkat wajahnya dan membelalakan matanya saat melihat salah seorang wanita itu.
"Hai.." Ucap Naira sedikit gugup dan takut.
Galih menyipitkan matanya, "Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Galih heran bercampur marah.
"Tunggu.. Aku tidak terlibat masalah apapun yang sedang kalian selidiki, aku hanya menjemput teman ku dan tidak sengaja ruangannya tepat berada di samping ruangan yang digerebek itu." Jelas Naira dengan wajah memelas.
"Bagaimana aku bisa percaya jika hanya dari ucapan mu saja?" Ucap Galih lagi sambil melihat penampilan wanita di depannya itu.
Naira hanya mengenakan tank top dan juga hot pans yang di tutupi blazer panjang. Naira yang merasa di tatap penampilannya mengetatkan blazer yang dikenakannya.
"Emhh.. Kau bisa melihat rekaman CCTVnya.. Bahkan jika kau masih curiga kalian bisa tes darah ataupun urin ku.. Tapi aku mohon jangan di bawa ke kantor polisi.. Jika begitu masalahnya akan semakin rumit.. Aku mohon pada mu.. Kau tahu seberapa sulitnya menghadapi Abang ku.." Ucap Naira dengan wajah memelas.
"Haishh.. Kau benar-benar merepotkan.." Ucap Galih sambil memijat pelipisnya.
"Tes kedua gadis ini.. Jika hasilnya positif langsung kirim mereka ke kantor polisi.. Jika hasilnya negatif bawa mereka berdua keruangan kerja ku." Perintah Galih.
"Baik Pak.." Ucap Kapten itu dan dengan segera membawa kedua wanita itu meninggalkan Galih sendirian di ruang VVIP itu.
Galih keluar dari ruangan itu menuju mobilnya yang di parkir dan kemudian melaju menuju kantor pusat.. Banyak yang harus dia tangani selain masalah laporan penggerebekan ini, dia juga harus menangani kasus dengan perusahan besar di luar negri yang masih dia selidiki..
"Haishh.. Aku berharap Juna segera pulang.. Aku kesulitan jika begini terus.. Belum lagi sekarang adiknya yang membuat ku pusing.." Ujarnya sambil terus melajukan mobilnya membelah jalanan sepi ibu kota A itu.
Galih sudah sampai di depan kantor pusat RJP dan segera masuk menuju ruang kerjanya, meneruskan menulis laporan mengenai penggerebekan itu sekaligus memberikan beberapa bukti-bukti yang terkait dari rekaman-rekaman itu.
Pria itu juga melihat rekaman kedatangan Naira dan juga teman gadis itu yang ternyata memang hanya pengunjung yang sedang sial karena berada di waktu dan tempat yang tidak tepat.
"Haihh aku hanya berharap hasil tes narkoba mereka negatif. Jika tidak mereka pasti akan mendapatkan masalah besar.." Galih kembali memijat pelipisnya dan menyandarkan tubuhnya yang lelah karena seharian belum sempat beristirahat.
Tidak lama kemudian pintu ruang kerjanya di ketuk dari luar.
Tok tok..
"Masuk.."
__ADS_1
Seorang pria masuk kedalam ruangan itu, "Lapor Pak.. Hasil kedua wanita itu negatif, saya sudah membawa keduanya kesini." Ucap pria itu memberikan laporannya.
"Terima kasih Kapten Davin.. Bawa mereka masuk, kau bisa kembali mengerjakan pekerjaan mu." Ucap Galih dan memeberikan perintah.
"Baik Pak.." Davin segera menyuruh kedua gadis itu masuk dan kemudian dia pamit keluar dari ruangan itu.
"Kalian duduklah.." Ucap Galih dan menyuruh kedua gadis itu duduk di sofa.
"Bisakah kalian menjelaskan kepada ku kenapa kalian bisa berada di sana?" Tanya Galih yang juga ikut duduk di sofa di seberang kedua gadis itu.
"Aku hanya sedang duduk di sana karena bosan berada di hotel, lalu aku teringat aku meninggalkan domoet ku dan akhirnyabaku memilih menunggu Naira menjemput.. Saat aku akan menjemput Naira kebetulan kami ada di depan ruangan yang sedang digerebek itu." Jelas wanita di samping Naira.
"Dan kau berani keluar pagi buta seperti ini sendirian untuk pergi ke bar? Dengan pakaian seperti itu?" Tanya Galih sinis menatap kearah Naira dengan mata elangnya.
Entah mengapa memikirkan gadis kecil itu terlalu berani keluar sendiri di pagi buta membuatnya semakin kesal memikirkannya. Naira yang di tunjuk dengan pandangan itu hanya bisa menunduk takut tanpa bisa berbicara sepatah katapun.
"Dan kau namamu siapa?" Tanya Galih kepada wanita di samping Naira.
"Nama ku Rifka Kak.." Ucap gadis itu sambil tersenyum menggoda kepada Galih.
Galih berdiri dan berjalan menuju kursi kerjanya, pria itu mengambil gagang teleponnya kemudian menghubungi seseorang. Tidak berapa lama seseorang mengetuk pintunya dan masuk kedalam ruangan itu.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya pria yang baru saja masuk itu.
"Arif tolong antarkan nona Rifka sampai dengan selamat." Ucap Galih tanpa melihat lagi kearah Rifka.
"Ahh tidak perlu.. Aku bisa pergi dengan Naira.." Tolak Rifka dan Naira pun mendongakkan wajahnya untuk menolak perintah Galih itu.
"Jadi kau mau abang mu yang mengantar mu pulang Naira?" Suara dingin yang terucap dari bibir Galih.
Naira diam seketika dan menunduk takut, sedangkan Rifka yang sudah di tarik oleh seorang pria bernama Arif itu untuk segera keluar dari ruangan itu.
"Emhh apakah Naira akan baik-baik saja di dalam sana Pak?" Tanya Rifka kepada Arif saat mereka sudah keluar dari ruangan mencekam itu.
"Aku tidak tahu, tapi ini pertama kalinya melihat Pak Galih begitu marah." Ucap Arif dan melanjutkan jalannya menuju parkiran mobilnya.
"Aku harap Naira baik-baik saja."
__ADS_1
Bersambung....