
Alice terbangun dari tidurnya, gadis itu bingung saat tersadar dirinya berada di atas ranjang penunggu pasien yang berada di sebrang kasur yang Anton tiduri. Padahal dia sangat yakin bahwa semalam dia tidur di sofa.
Alice melihat sekelilingnya. Dia melihat Anton masih terlelap diatas kasurnya dengan selimut yang menutupi rapat tubuhnya. Bulir air mata tanpa sengaja menetes di kedua pipinya.
"Jadi semalam kehangatan yang kurasakan, pelukan dan rengkuhan itu hanya mimpi belaka.." Gumam gadis itu yang kembali seperti tertampar oleh kenyataan.
"Jangankan bisikan rindunya, bahkan selimutnyapun masih berada di tubuhnya.. Berarti semalam benar-benar hanyalah sebuah mimpi.." Gumamnya dan dengan cepat menghapus lelehan air mata di pipinya dengan kasar.
"Alice kau sudah berjanji tidak akan menangis lagi bukan.. Sadarlah.." Racaunya dan menepuk pipinya pelan untuk menyadarkannya kembali kepada kenyataan.
Alice dengan sigap merapihkan bed tempatnya tidur dan setelahnya segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan menjernihkan pikirannya.
Tanpa Alice ketahui, Anton menoleh dan membuka matanya. Pria itu melihat punggung Alice yang semakin lama semakin menjauh dan tertelan oleh pintu kamar mandi.
Ya benar.. Pagi tadi Anton meminta Paul untuk datang ke kamar rawatnya dan memintanya untuk menggeser kembali ranjang penunggu pasien ke tempat semula yang berada di sudut ruangan.
Flashback On.
Anton terbangun dari tidurnya saat seorang perawat meminta izin untuk mengganti cairan infusnya. Perawat itu sedikit tersenyum saat melihat Anton yang memeluk tubuh Alice dari belakang saat mereka sedang tertidur.
"Ehh.. Maaf apa saya membangunkan dokter Anton?" Tanya perawat itu pelan.
"Tidak.. Kebetulan saja saya terbangun." Ucapnya ramah dan membenarkan posisi tidurnya menjadi telentang.
"Saya senang melihat Anda sudah sadar dok.. Raut wajah kegembiraan nona Alice juga terpancar jelas di wajahnya.. Sebelumnya saya kasihan kepada nona Alice." Jeda perawat itu.
"Selama dokter Anton tidak sadarkan diri, nona Alice selalu menangis sendiri diluar kamar ICU kamar dokter. Padahal Jika ada sanak saudara atau kenalan dokter bahkan kami para perawat, nona Alice selalu tampak tegar dan kuat. Bahkan dia masih bisa tersenyum jika kami membicarakan hal lucu, namun sepertinya itu hanya pertahanan dirinya saja." Jelas perawat itu panjang lebar.
Anton yang mendengar itu langsung melirik kearah Alice, hatinya menciut sakit saat mendengar penderitaan tentang gadis itu. Namun memori masa lalu yang baru saja dia ingat membuatnya benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Ehh maaf saya jadi banyak bercerita.. Dokter pasti mau beristirahat lagi." Ujar perawat yang menyadari bahwa dia terlalu banyak bercerita.
"Tidak.. Tapi terima kasih karena sudah memberitahukan saya hal itu." Ucap dokter Anton ramah.
__ADS_1
"Sama-sama dok.. Kalau begitu saya pamit berkeliling dahulu dok." Ucap perawat itu yang mendapatkan anggukkan dari Anton. Perawat itu langsung berjalan kearah luar kamar dan menutup rapat pintunya lagi.
Anton menatap lama wajah Alice dari samping, wajah Anton tampak sendu. Pria itu menghembuskan nafasnya kasar dan segera mengambil ponselnya yang berada diatas nakas. Pria itu melihat jam yang tertera pada ponselnya. Saat ini waktu menunjukkan pukul 07.00 AM. Anton langsung mencari nama kontak yang dicarinya dan segera menghubungi nomer Paul dan meminta pria itu untuk segera datang keruangan kamarnya.
Beberapa saat kemudian..
Srrtt.. Pintu ruang kamar Anton terbuka, muncul Paul dari samping pintu yang terbuka itu. Anton langsung memberikan isyarat jari telunjuk yang di dekatkan kedepan bibirnya. Paul mengangguk paham.
"Pagi tuan.. Ada yang bisa saya bantu." Bisik Paul pelan dan melihat nona Alice masih tertidur nyenyak. Mungkin tuannya tidak ingin membangunkan nona Alice sehingga memintanya agar tidak berisik.
"Tolong geser kembali kasur ini di sebrang sana, tempatkan di tempatnya semula. Hati-hati jangan sampai Alice terbangun." Ucap Anton pelan namun dengan suara berat.
Paul yang tidak mengerti tujuan tuannya, namun dia tidak berhak untuk menanyakan maksud dari tuannya. Paul hanya mengangguk paham dan kemudian membuka kuncian roda dibawah kasur itu dan mendorongnya perlahan menuju tempatnya semula. Kemudian Paul kembali mengunci roda bawah kasur itu agar tidak bisa bergerak kembali.
"Sudah tuan.. Ada yang anda perlukan lagi?" Tanya Paul berbisik lagi.
"Ambil selimut yang menyelimuti dia dan selimutkan kepada ku." Ucap Anton lagi. Paul dengan sigap mengambil selimut yang menyelimuti Alice dan meletakkannya di atas tubuh Anton.
"Saya permisi tuan." Ujar Paul dan segera keluar dari ruang perawatan Anton.
Anton membalikkan wajahnya dan melihat punggung gadis yang dicintainya. Berat, sakit dan sesak rasa didadanya saat melihat Alice berada di depan wajahnya namun dia tidak bisa untuk memeluknya erat.
Tanpa terasa Anton telah memandangi punggung Alice selama satu jam. Anton melihat gerakan saat Alice mencoba bergerak dari posisi tidurnya, Anton dengan cepat memalingkan wajahnya dan menutup cepat matanya dengan rapat, pria itu berpura-pura untuk tidur.
Flashback Off.
Satu jam kemudian, Alice keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian barunya.
"Maaf apa aku telah membangunkan mu?" Tanya Alice saat melihat Anton telah terbangun dari tidurnya.
"Tidak." Jawabnya singkat dan dingin.
Rasa sakit di dada Alice mulai terasa lagi, namun gadis itu mencoba untuk menghempaskannya dan tidak memperdulikan lagi rasa sakit di hatinya itu.
__ADS_1
"Ini sudah pagi kau bisa pulang sekarang. Atau kalau kau mau aku bisa memberitahu Paul untuk mengantarkan mu pulang. Kedepannya kau tidak perlu datang lagi kesini. Bukankah kau juga membutuhkan istirahat. Kau juga terluka bukan." Ucap Anton panjang lebar. Namun semua kata-katanya adalah usiran halus dari pria itu kepada Alice.
"Aku tidak akan merepotkan mu.. Sebentar lagi Kak Juna pasti akan datang menjemput ku.. Dan kau tenang saja, aku tidak akan mengganggu mu lagi." Ucap Alice serius dengan menekankan kata 'tidak akan' kepada Anton.
Anton yang mendengar itu sedikit terperanjat namun dengan cepat raut wajah pria itu sudah berubah menjadi tenang dan dingin kembali.
Tiok tok suara ketukan terdengar dari luar kamar Anton.
"Masuk." Jawab Anton.
Seseorang menggeser pintu itu hingga terbuka lebar dan muncul Juna di balik pintu itu.
"Pagi.. Maaf mengganggu istirahat mu Anton.. Aku kesini untuk menjemput Alice." Ucap Juna dan memberi salam kepada Anton. Anton mengangguk mengerti.
"Oh iya ini minuman yang kau minta.. Ini hangat bisa langsung kau minum." Ujar Juna dan menyerahkan botol minuman termos itu.
"Terima kasih." Ucap Alice dan gadis itu langsung menegak air dari dalam botol itu.
Bau jahe sedikit menguar di udara ruang kamar Anton.
"Bagaimana keadaan mu? Kau bisa pergi misi sekarang?" Tanya Juna memastikan, yang malah membuat Anton mengerutkan keningnya.
'Alice sakit? Dan wanuta itu akan pergi misi?" Batin pria itu heran.
"Tidak apa, aku hanya telat makam semalam." Bohong Alice.
"Tunggu kau sakit? Kau akan misi kemana?" Rentetan pertanyaan dari Anton.
"Kita.." Belum selesai Juna menyelesaikan kalimatnya, Alice sudah memotong ucapan pria itu.
"Kita akan ketinggalan pesawat jika tidak segera pergi saat ini.. Ayo kita pergi sekarang, aku sudah siap." Ucap Alice dan dengan sigap menarik tangan Juna untuk pergi meninggalkan ruang perawatan Anton.
Bersambung....
__ADS_1