
Sedangkan disisi lain..
Galih berjalan di lorong hendak masuk kedalam ruang kerjanya. Pria itu sedikit memijat pangkal hidungnya yang sedikit pusing akibat drama yang tadi pagi di buat oleh adik sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.
"Galih.. Kok kau di sini?" Tanya suara baritone yang tepat berada di belakang punggungnya.
Galih membalikkan tubuhnya dan melihat sahabatnya sekaligus bosnya yaitu Roy.
"Ahh.. Kak Roy.. Aku kira siapa.." Ucap Galih dan berjalan kembali dan kemudian membuka pintu ruangan yang tepat berada di depannya itu.
Roy berjalan dan mengikuti pria itu masuk kedalam ruang kerjanya.
"Kau kenapa?" Tanya Roy lagi heran dengan tingkah Galih yang masih saja memijat pangkal hidungnya.
"Apa kasus semalam begitu rumit? Tapi aku tidak mendengar keluhan ataupun laporan dari yang lainnya." Ujar Roy lagi heran.
"Tidak.. Semalam kasusnya sudah di selesaikan dengan baik.. Misi berjalan baik dan tidak ada kendala." Jawab Galih cepat.
"Lalu apa yang membuat mu begitu pusing dan suntuk seperti itu?" Tanya Roy lagi penasaran.
"Adik Juna ada tidak jauh dari di TKP bersama temannya. Aku berinisiatif mengantar gadis itu ke rumahnya agar dia tidak berkeliaran kemana-mana lagi. Tapi akhirnya aku berpapasan dengan Juna di rumah orang tuanya. Dan dengan konyolnya gadis itu mengakui bahwa aku sedang memiliki hubungan asmara dengannya. Bahkan dengan kehebatannya membuat masalah, dia malah memperkenalkan ku kepada kedua orang tuanya sebagai kekasihnya. Yang mana orang tua Juna adalah sahabat ayah ku. Dan terjadilah kekacauan selanjutnya. Ayah Juna menghubungi Ayah ku dan menceritakannya. Lalu Ayah ku sekarang memintaku untuk membawa gadis itu berkunjung kerumah.. Dan kau pasti sudah tau kekacauan selanjutnya yang akan terjadi bukan.." Jelas Galih panjang lebar sambil terus memijat pangkal hidungnya.
"Wow..." Roy tidak tahu harus berkata apa, pria itu ingin sekali tertawa tapi Galih pasti akan melemparkan kotak tisu jika dia berani melakukan hal itu.
"Bolehkah aku bertanya?" Ujar Roy akhirnya.
"Ya.." Jawab Galih malas.
"Apa gadis itu memiliki kekasih?" Tanya Roy penasaran.
__ADS_1
Tapi pertanyaan Roy sukses membuat Galih heran dan juga kesal.
"Roy.. Bagaimana aku tahu bocah kecil itu memiliki kekasih atau tidak.. Lagipula itu tidak ada hubungannya dengan ku! Mengapa aku harus sibuk mengenai dirinya berhubungan dengan pria lain atau tidak. Aku hanya bingung bagaimana menjelaskan kesalah pahaman ini kepada kedua orang tua ku!" Cercaan Galih panjang lebar.
"Maksud ku jika dia memang tidak memiliki kekasih lalu apa masalahnya.. Toh kalian berdua sama-sama sedang tidak berhubungan dengan siapapun. Siapa tahu kalian berdua cocok dan berjodoh." Ujar Roy asal yang sukses membuat kepala Galih semakin sakit.
"Sudahlah Roy, ucapan mu malah semakin membuat ku sakit kepala.. bisakah kau pergi meninggalkan ku sendirian membiarkan ku berfikir jernih.. Aku membutuhkan sedikit ketenangan." Ucap Galih akhirnya meminta Roy pria itu pergi meninggalkannya sendirian di ruangannya.
Galih mencoba mendorong tubuh pria tinggi besar itu agar mau keluar dari ruangan kerjanya.
"Ehh tidak.. Tunggu tunggu.. Aku kesini benar ada urusan penting.." Ucap Roy cepat agar tidak di usir dari ruangan Galih.
"Haishh.. Cepatlah.. Ada apa?" Tanya Galih lagi sudah mulai kesal.
"Kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau pergi bersama Juna ke kota X menyelesaikan masalah di sana?" Tanya Roy yang sudah kembali serius membahas mengenai pekerjaan.
"Aku tidak ikut kesana.. Juna pergi bersama dengan beberapa staf keamanan dan juga staf IT handal dari sini, dan dia juga di temani oleh Anton dan juga beberapa anggota dari The Black Phanter." Jelas Juna lagi.
"Juna dan Anton bilang mereka akan menyelesaikan semua di sana dan jika ada kabar terbaru mengenai jaringan informasi disana, mereka akan segera memberitahu ku dan meminta ku menyelesaikannya dari sini. Lagipula jika masalah tidak genting, seluruh staf disana pasti bisa menanganinya." Jelas Galih lagi.
"Baiklah kalau begitu.. Aku serahkan semuanya kepada kalian.. Mengenai penggerebekan semalam sudah kau serahkan kepada pihak yang berwenang?" Tanya Roy lagi.
"Sudah.. Semuanya sudah di selesaikan dengan rapih.. Laporannya akan ada di atas meja mu dalam 30 menit." Jawab Galih lagi serius.
"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke ruangan ku.." Ucap Roy dan kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Galih berbalik menuju kursi kerja kebesarannya, dan duduk dengan menyandarkan punggungnya dengan santai.
"Gal..." Roy kembali muncul di celah pintu ruang kerjanya. Yang membuatnya heran mengapa Roy hanya memunculkan kepalanya saja di celah pintu itu.
__ADS_1
"Haish... Ada apa lagi?" Tanya Galih menghembuskan nafasnya panjang.
"Menurut ku, kau bisa mencoba memulainya dengan adik Juna.. Toh sepertinya dia gadis yang baik dan manis dan kau juga seorang jomblo yang sedang patah hati.. Mengapa tidak kau mencobanya saja." Ujar Roy tanpa rasa bersalah.
Dan seketika kotak tisu melayang dan menabrak pintu dengan keras.
"Upsss tidak kena.." Ujar Roy dan segera menghilang dari balik pintu ruang kerja Galih.
"Haishh.. Roy memang pria tua yang menyebalkan!" Gerutu Galih dan menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya frustasi.
"Bagaimana bisa aku memulai suatu hubungan jika hubungan sebelumnya saja belum bisa aku selesaikan.. Haishh.. Andai bisa semudah itu berpaling dan melupakan.. Sepertinya ini benar-benar karma ku karena perbuatan selama ini yang selalu menyakiti dan mempermainkan hati para wanita itu. Dan kini aku mendapatkan balasan yang setimpal."
"Jadi beginikah rasanya sakit hati di tinggalkan dan di abaikan.. Haishh sakit ini sangat menyiksa ku.." Gumam pria tampan itu sambil menyandarkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan sudut sikunya.
"Aku masih belum bisa melupakan mu seutuhnya Al.. Apa yang harus aku lakukan.." Gumamnya sambil memejamkan matanya.
Lambat laun pria tampan itu tertidur lelap di atas kursi kerjanya dan terbangun saat terdengar suara ketukan di balik pintu ruang kerjanya.
Tok tok tok.
"Masuk.." Ucap Galih cepat dan sedikit membenarkan posisi duduknya dan merapihkan wajahnya dengan mengusap wajahnya dengan tangannya.
Tiba-tiba seorang gadis masuk kedalam ruangannya dengan mengenakan dress sesiku berwarna pink dengan panjang selutut. Gadis itu menenteng sebuah tas dari karton di tangannya.
"Hai.." Ucap gadis itu dan memberikan senyuman manisnya.
"Kau... Untuk apa kau kesini?" Tanya Galih heran melihat kedatangan gadis itu yang membuatnya tidak pernah menyangka akan kehadirannya.
"Ibu ku yang menyuruh ku kemari.. Jika tidak dia akan marah besar kepada ku.. Ibu ku bilang kau seperitnya kelelahan dan kurang fit.. Makadari itu ibu membuatkan mu sup ayam gingseng untuk makan malam mu.." Ucap Naira dan meletakkan tas karton itu di astas meja kerja Galih.
__ADS_1
"Apa?"
Bersambung....