JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Hubungan apa?


__ADS_3

"Ambilah.." Fiktor melemparkan sesuatu kearah Anton yang berada di samping Alice.


Anton dengan sigap menangkap benda itu dan melihat sebuah flasdisk hitam dalam genggaman telapak tangannya.


"Pergilah." Ucap Fiktor lagi pelan.


"Tapi aku belum selesai menanyakan sesuatu pada mu." Ucap Alice kesal dan menolak untuk pergi dari ruangan itu.


"Pergi.." Ucap Fiktor lagi sambil menutup matanya dengan siku tangannya yang tidak terluka dan mengabaikan ucapan Alice.


"Ayo Al.. Dia meminta kita keluar." Ucap Anton dan mengajak Alice untuk keluar dari ruangan itu.


Alice meronta dan enggan untuk pergi dari sana. Satu-satunya keluarganya saat ini hanyalah Fiktor. Meski mereka bukanlah dari hasil darah yang sama mengalir di tubuh mereka, namun mereka pernah hidup harmonis bersama di dalam satu rumah selama 5tahun sebelum pamannya menikah dengan Belinda.


"Paman Fiktor! Aku akan berkunjung lagi! Jika kau berani menolak ku, aku akan lebih sering berkujung nanti!" Ucap Alice sambil sedikit berteriak agar pria di atas tempat tidur itu mendengar suaranya yang kini sudah di bawa oleh Anton keluar dari kamar itu.


"Dia sangat mirip dengan mu Brother." Gumam Fiktor pelan namun masih bisa di dengar oleh Alice meski dari luar pintu.


Anton membawa Alice keluar dan jauh dari ruang perawatan Fiktor. Anton membawa Alice turun dan menuju mobil mereka. Alice menurut dan berjalan dengan Anton yang menggandeng tangannya.


"Mengapa kau menarikku keluar? Masih banyak hal yang belum aku katakan kepadanya." Teriak Alice kesal kepada Anton saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Anton langsung memeluk tubuh Alice kedalam pelukannya dan mengusap lembut rambut Alice untuk menenangkan gadis yang sedang emosi itu.


"Paul berikan laptop mu." Ucap Anton saat Alice sudah tenang dan masih berada di dalam pelukannya.


Paul dengan sigap menyerahkan laptop yang selalu di bawanya dan menyerahkannya kepada Anton, "Ini tuan."


Anton membuka dan menyalakan laptop itu kemudian menunggu hingga laptopnya menyaka dengan sempurna. Setelah layar laptop sudah menyala Anton segera memasukkan flasdisk yang di berikan fiktor dan membuka data yang ada di dalam sana.


Anton membelalakan matanya saat membaca salah satu isi di dalam folder itu, Anton bahkan menyalakan sebuah video di sana dan dengan menggunakan headset untuk mendengarnya.


Setelah beberapa saat mendengarkan video itu Anton mematikan videonya dan melihat kearah Alice yang masih diam menenggelamkan wajanya pada tubuhnya.


"Alice.. Fiktor memberikan beberapa bukti tentang keterikatannya dengan misi-misi mu sebelumnya dan dia merekam percakapan antara kau dan Belinda mengenai perncanaan pembunuhan kepada mu dan pembunuhan kepada kedua kakek beserta orang tua mu."


"Apa maksud mu?" Tanya Alice yang masih tidak bisa fokus dengan pernyataan dari Anton.


"Fiktor menyerahkan bukti-bukti kejahatannya dan bukti kejahatan Belinda." Jawab Anton lagi menjelaskan kesimpulannya.


Alice yang mendengar itu membelakan matanya tidak percaya. Gadis itu menutup mulutnya dengan tangannya dan lambat laut air matanya membasahi pipinya.


"Mengapa disaat terakhir dia malah menyerah dan memberikan buti-bukti itu? Mengapa dia tidak terus saja menjadi orang jahat sampai akhir! Mengapa dia membuat ku jadi merasa bersalah!" Ujar Alice emosi dengan menumpahkan banyak air mata di pipinya.


"Aku tahu di satu sisi kau merasa berat saat melihatnya terpuruk, namun disisi lain dia memang harus mendapatkan pelajaran." Anton kembali mengusap rambut Alice lembut.


"Semua akan baik-baik saja.. Kau sudah melakuakan hal yang benar.. Kau tenanglah.. Semua sudah berlalu sekarang." Anton masih mengusap rambut Alice dan lebih erat mendekap gadis itu kedalam pelukannya.


Yaa ini sedikit membuat Alice berat. Bagaimanapun Fiktor adalah satu-satunya keluarga yang dia punya dan kini pria itu menyerah di hadapannya dan bahkan menyerahkan barang bukti juga barang bukti lainnya untuk menjatuhkan Belinda.


Berbagai perasaan pasti berkecamuk di dalam hati Alice.


"Apa yang membuat Fiktor menyerah dan memberikan barang buktinya semudah itu?" Gumam Paul pelan.


"Mungkin dia menyesali perbuatannya selama ini karena sudah terlalu dalam terlibat dengan dunia hitam dan kotor. Dan mungkin di sisi lain dia ingin menebus semua kesalahannya selama ini yang terlalu bodoh mempercayai dan mengabaikan keluarganya. Meski mungkin dia tidak bisa mengungkapkan kata maaf langsung dari bibirnya, mungkin ini permintaan maaf darinya." Anton mengusap lembut Alice. Ucapan pria itu semakin membuat Alice memeluk Anton dengan erat.


Alice menumpahkan segala kegundahan dan sakit hatinya dalam dekapan Anton. Saat gadis itu sudah lebih bisa mengendalikan emosinya, "Tolong antarkan aku ke RJP Paul."


"Kau sudah merasa baikan?" Anton mengusap sisa air mata yang membasahi wajah cantik Alice.


"Ya.."


"Ya sudah kita berangkat sekang Paul." Ujar Anton memberikan intruksi dan Paul segera membelokkan stirnya menuju pusat kantor RJP.


Saat sampai di depan gedung RJP, Alice segera membuka pintu mobil dan pergi kedalam gedung pencakar langit itu.


Alice menaiki lift menuju ruangan lantai kerja Roy. Saat dia masuk kedalam ruangan itu dia melihat Roy yang sedikit sibuk dengan laptopnya.


Wajah Roy tampak terkejut saat gadis itu tiba-tiba saja masuk kedalam ruangannya tampa mengetuk pintu dahulu, bahkan bukan hanya itu wajah sembab Alice membuatnya khawatir.

__ADS_1


"Alice kau kenapa?"


"Buka." Alice menyerahkan flasdisk hitam dan meyodorkannya diatas meja kerja didepan Roy.


Roy yang tampak bingung namun dengan sigap tangannyabmengambil benda kecil itu dan segera memasangkannya kedalam perangkat komputernya.


Pria itu membuka isi data di sana dan melihat apa yang ada di dalamnya. Saat mengetahui mengenai bukti-bukti perbuatan jahat Fiktor dan Belinda pria itu membulatkan matanya.


"Dari mana kaubmendapatkan ini Al?" Tanya Roy tidak percaya.


"Aku mendapatkannya langsungbdari Fiktor."


"Apa?" Ucap Roy menggantung dan memilih tidak perlu membahasnya.


"Baiklah.. Ini bagus kita bisa merevisi tuduhan untuk Belinda. Sebelumnya wanita itu menyangkal semua tuduhan yang di berikan kepadanya dan itu sedikit membuat pusing kepala. Namun dengan adanya bukti ini kjta bisa benar-benar membuatnya mendekam di penjara selama sisa hidupnya." Jelas Roy lagi.


"Memang apa yang terjadi kak?" Tanya Alice bingung.


Flashback On..


Juna berjalan memasuki ruangan perawatan Belinda di rumah sakit kepolisian bersama dengan seorang penyidik.


"Nyonya Belinda Stary anda di tangkap karena kasus pencobaan pembunuhan kepada keponakan anda Adeliana Fransisca Baskoro." Ucap penyidik itu dan memberikan surat penangkapannnya.


"Apa maksud anda tuan? Saya mana mungkin mencoba membunuh keponakan saya sendiri." Jawab Belinda dengan penuh percaya diri.


"Semua bukti percakapan di ponsel anda adalah buktinya dan bukti transfer dana sejumlah uang ke rekening pelaku. Selain itu anda juga berada di TKP (Tempat kejadian perkara)." Ucap Juna dingin.


"Ahh ponsel saya dan dompet saya sebelumnya hilang. Saya tidak tahu siapa yang telah menemukannya dan menyalah gunakannya. Saya juga di culik tuan. Saya tidak bersalah tuan dan nanti akan ada pengacara saya yang mendampingi saya." Ucap Belinda tetap menyangkal semuanya.


Juna yang mendengar itu geram dan mengepalkan tangannya kuat.


"Saya akan datang melakukan panggilannya dan akan di dampingi pengacara saya. Saya membutuhkan istirahat untuk kesembuhan saya, silahkan anda sekalian keluar." Ucap Belinda datar.


"Aihh wanita ular ini benar-benar licik." Gumam Juna kesal.


"Ya dia benar-benar licik dan sudah bisa mengelak dari semua tuduhan. Tapi kita memiliki waktu untuk mencari bukti lainnya sebelum pendakwaan di mulai. Segera kumpulkan bukti yang lebih akurat agar dia tidak bisa mengelak lagi." Ucap penyidik itu geram.


"Belinda menyangkal semua tuduhan yang di ajukan kepadanya." Jawab Roy menjelaskan.


"Untunglah kita memiliki bukti rekaman dan semua yang kita butuhkan untuk benar-benar menjatuhkannya dan tidak bisa mengelak lagi." Lanjutnya.


"Baiklah kak jika kau membutuhkan aku hubungi aku. Aku pasti akan langsung membantu mu."


"Kau membutuhkan istirahat. Lebih baik gunakan waktu ini untuk memulihkan diri mu dan merawat calon keponakan ku." Ujar Roy sambil mengusap lembut puncak kepala Alice.


"Heem pasti.." Ucap Alice sambil tersenyum.


"Ya sudah kak aku pergi dahulu.. Terima kasih untuk semuanya kak." Alice memeluk tubuh besar Roy dengan erat.


"Kau adik ku.. Tidak perlu berterima kasih." Jawab Roy dan membalas pelukan Alice hangat.


Alice melepaskan pelukannya dan kemudian segera keluar dari ruangan Roy dan pergi menuju parkiran mobil kekasihnya berada.


"Sudah selesai?" Tanya Anton saat Alice sudah duduk di sampingnya di dalam mobil.


"Sudah."


"Kita belum makan siang, maukah kau makan siang di apartemen ibu?" Tanya Anton hati-hati.


"Emhh maksud ku ibu dan ayah sedang liburan dan mengurus beberapa hal diperusahaan yang perlu mereka cek dan mereka tinggal di apartemen tak jauh dari sini. Itupun jika kau mau, jika tidak kita bisa makan di hotel atau restoran apapun yang kamu mau." Ucap Anton cepat.


"Tidak.. Aku ingin makan masakan ibu.." Tolak Alice.


"Baiklah kalau begitu. Paul kita ke apartemen Royal."


"Baik tuan.." Ucap Paul dan mengendarai mobilnya menuju apartemen tempat tinggal Lidia dan Bram selama di kota X itu.


Mobil berhenti tepat di basement sebuah unit apartemen di pusat kota itu yang tidak jauh dari area rumah sakit.

__ADS_1


Alice turun dari mobilnya dan berjalan berdampingan dengan Anton menuju pintu lift yang akan mengantarkan mereka menuju lantai 8 unit apartemen orang tuanya.


"Kau benar sudah tidak masalah dengan ruangan sempit?" Tanya Alice lagi untuk memastikan keadaan Anton saat mereka sedang berada dalam kotak besi itu.


"Iya aku sudah sembuh sepenuhnya.. Aku bisa menghadaoi trauma ku dan berdamai dengan masa lalau. Kau tidak perlu khawatir." Ucap Anton dan mengusap lembut rambut Alice.


Ting!


Bunyi lift dan berhenti tepat di lantai 8. Alice dan Anton keluar dari kotak besi itu dan berjalan menuju pintu unit apartemen Lidia dan menekan bel yang ada di samping pintu.


Ting tong..


Beberapa saat kemudian


Ceklek.. Pintu terbuka dan menampilkan sosok pria berumur namun masih tampak gagah dan tampan meski di usianya yang tidak muda lagi.


"Ayah.." Ucap Alice menyapa saat melihat pria di depannya itu adalah Bram.


"Nak Alice.. Masuklah nak.. Kau pulang Boy." Sapa Bram saat melihat Alice dan Anton di balik pintu apartemen itu.


Pria itu dengan segera memberikan ruang agar mereka masuk dan masuk kedalam ruang tamu.


"Siapa sayang?" Tanya Lidia dari arah dapur.


"Anak bungsu kita pulang." Jawab Bram dan mengelus lembut rambut Alice.


Lidia yang sibuk di dapur menghentikan aktifitasnya dan memilih melihat menuju arah ruang keluarga.


Lidia tersenyum hangat saat melihat Alice dan Anton datang berkunjung.


"Nak.. Ibu senang sekali kalian datang kemari. Ibu sangat merindukan mu." Ucap Lidia yang langsung memeluk tubuh Alice hangat.


"Iya bu.. Aku juga merindukan ibu.. Terima kasih untuk sarapannya." Ujar Alice di dalam dekapan Lidia.


"Anak nakal.. Kau tidak memberitahu ibu jika kau sedang sakit. Kau tahu jika ibu yang tidak sedang jadwal pemeriksaan pasti tidak akan memgetahui kalian juga berada di sana." Kata Lidia sambil mencuil hidung Alice gemas.


"Aku tidak ingin membuat ayah dan ibu khawatir." Jawab Alice celat.


"Ohh ayolah buu.. Bisa kita mulai untuk makan siangnya.. Kasihan calon cucu ibu dia sudah kelaparan." Ucap Anton memotong percakapan Alice dan Lidia.


"Tunggu apa cucu? Benarkah Alice?" Tanya Lidia memastikannya lagi.


Alice tampak sedikit ragu untuk memberitahukannya. Dia khawatir keluarga Anton tidak akan menerima bayinya.


"I iiya.. Maaf aku tidak memberitahu kalian. Dan maaf aku sudah mengecewakan kalian." Jawab Alice pelan.


"Kau bicara apa nak.. Kami bahagia untuk kalian.. Ayo cepat duduk jangan berdiri terus, itu bisa membuat mu lelah dan menyebabkan bengkak di kaki mu." Ujar Lidia cepat dan menyuruh Alice segera duduk di ruang makan.


"Anton bantu ibu siapkan meja. Ibu sudah membuatkan makan siang." Titah Lidia.


"Biar aku bantu bu." Alice merasa tidak enak dan akan bangkit dari duduknya.


"Tidak perlu Nak.. Duduk saja biarkan Anton yang mengurusnya." Kini Bram yang menepuk tangan Alice pelan yang berada di atas meja.


"Baik Ayah.." Ucap Alice dan kembali duduk.


Anton membantu Lidia menyiapkan meja makan dan menaruh lauk pauk dan nasi yang sudah di masak oleh Lidia.


Ternyata Lidia dan Bram tinggal di apartemen ini hanya berdua saja tanpa ada asisten rumah tangga dan semua pekerjaan rumah dilakukan oleh Lidia sendiri.


"Ayo makan yang banyak Alice.. emhh Adel.. Maaf ibu lupa dan karena sudah terbiasa dengan nama itu." Ujar Lidia sedikit meralat ucapannya.


"Tidak apa-apa ibu, kedunya adalah nama yang di berikan oleh orang-orang yang sangat mencintai ku.. Adeliana adalah nama yang di berikan oleh kedua orang tua ku, dan Alice adalah nama yang di berikan oleh ibu panti. Nama manapun yang di sebutkan keduanya tetaplah nama ku." Ucapnya sambil tersenyum hangat.


"Benar.. Kau benar-benar anak yang pintar dan lembut." Ucap Lidia dan menggenggam tangan Alice.


"Nak bolehkah ibu bertanya. Ibu bukan ingin menggurui mu atau mendesak mu. Tapi bolehkah ibu bertanya apa rencana hidup kedepan mu?" Tanya Lidia lagi.


"Maksud ibu?" Ucap Alice yang malah balik bertanya.

__ADS_1


"Nak bagaimana mengenai hubungan kalian?"


Bersambung....


__ADS_2