
Petugas dapur Rumah Sakit Jiwa itu meremas gulungan kertas kecil di tangannya dan memasukkannya ke dalam pakaian dalamnya agar tidak dicurigai saat pemeriksaan dan kembali masuk kedalam dapur.
Wanita tua itu sedikit takut dan ragu. Namun pekerjaannya tidak sulit hanya menghubungi sebuah nomor dan memberitahukan lokasi rumah sakit ini, bukankah itu bukan pekerjaan berbahaya? Tidak ada orang yang akan di rugian juga bukan. Lalu apa salahnya.
Wanita tua itu terus melakukan pekerjaannya seperti biasa sambil terus memikirkan akankah dia melakukan apa yang diminta wanita tadi atau apakah dia hanya akan merobek menjadi serpihan-serpihan kecil dan membuang saja kertas itu.
Bukankah jika dia melakukan tugas yang diminta dia bisa mendapatkan imbalan? Bahkan katanya dengan imbalan itu dia bisa memiliki kafe sendiri, bukankah itu artinya dia bisa membuka usaha tanpa harus bekerja di sini lagi? Menjadi pemilik usaha dan pengelola usaha. Berbagai macam pertimbangan wanita tua itu pikirkan baik-baik.
Bagaimanapun dia bukanlah wanita munafik yang jika diberikan uang satu pak di depan wajah mu dan kau akan menolaknya. Hidup itu perlu uang, dan wanita itu akan memberikannya uang tanpa dia harus bekerja tanpa melanggar hukum.
"Baiklah aku akan menghubunginya nanti.. Aku tidak melanggar hukum.. Aku hanya menelepon seseorang menyuruhnya datang." Gumam wanita penjaga dapur itu setelah memutuskan semuanya.
***
"Mengapa kau menyuruhku datang kemari? Bukankah kau tahu ini tidak akan baik untuk kita bertemu." Ucap suara itu dingin.
"Ayah.. Tidakkah kau ingin mengeluarkan ku dari sini?" Ucap Belinda memelas saat seseorang yang ingin di temuinya datang berkunjung di Rumah Sakit Jiwa itu.
"Kau tahu apa akibatnya jika kau di keluarkan dari sini.. Dan kau tahu resiko reputasi keluarga Stary jika aku membebaskan mu." Ujar pria tua itu dengan sinis.
"Aku tahu, jika begitu tolonglah pergi ke tempat Fiktor. Minta maafkan atas nama aku padanya dan bilang dia agar mengeluarkan ku atau bahkan bayar denda ku saja. Aku tidak tahan makan makanan sampah dan hidup bersama orang-orang gila ini." Ketus Belinda sambil bergidik membayangkan jika dia harus berlama-lama berada di tempat ini.
"Apakah kau tidak tahu?" Denkus Jhon ayah Belinda.
"Ahh aku lupa kau kan sudah di sini selama beberapa hari jadi kau pasti tidak tahu berita itu." Denkus Jhon lagi.
"Apa maksud mu Ayah?"
"Fiktor sudah ditangkap dan diadili. Dia sudah dipenjara dan dia kena hukuman selama 40tahun. Dan kau tahu dengan pidana 40tahun dengan usianya yang tidak muda sama saja dengan hukuman mati." Ucap Jhon kesal.
"Apa? Bagaimana bisa!" Belinda membulatkan matanya tkaget dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya.
"Ayah.. Ayah tolong bantu aku keluar dari sini. Aku akan memberikan semua aset yang aku dan Fiktor miliki.. Aku benar-benar tidak kuat berada di sini." Belinda memohon dengan mengiba.
"Itu salah mu sendiri.. Dan itu bukan urusan ku. Kau nikmati saja waktu mu jangam mengganggun ku lagi. Apalagi meminta seseorang untuk menghubungi ku." Ketus Jhon kesal.
"Tidak! Tidak! Ayah tidak boleh meninggalkan ku.. Kau sudah menikmati uang dari hasil jerih payah ku berada dalam keluarga Baskoro dan saat aku ditimpa masalah kau mendepak ku! Tidak aku tidak akan membiarkan mu lepas begitu saja Jhon!" Ancam Belinda kesal dan penuh emosi.
"Heh memang kau bisa apa saat kau sudah masuk ke dalam RSJ.. Bahkan jika kau tidak mau masuk di sini, kau mau masuk lapas penjara! Bodoh! Sungguh bodoh!" Gerutu Jhon dan pergi meninggalkan Belinda begitu saja.
Belinda yang tidak terima dirinya di perlakukan buruk berteriak-teriak meminta agar Jhon kembali dan membawanya pergi bersamanya. Namun Jhon tidak menggubrisnya dan pergi begitu saja meninggalkan ruang kunjungan itu.
Belinda yang berisik membuat perawat masuk kedalam ruangan itu dan mencoba mencekal tangan dan tubuh Belinda yang meronta-ronta. Belinda dengan emosi terus bergerak dan ingin menghampiri Jhon dengan berteriak hingga sebuah suntikan ditu$ukkan di tubuhnya dan lambatlaun membuatnya lemas dan tenang kemudian tidak sadarkan diri.
"Ada apa dengannya? Mengapa dia histeris sekali?" Tanya perawat yang sudah menyuntikkan obat penenang kepada wanita itu.
"Dia mendapatkan kunjungan.. Sepertinya dari ayahnya." Jawab perawat lain yang membantu mengikat tubuh Belinda dengan tangannya.
"Masukkan dia di ruang isolasi.. Kita lihat apakah malam ini dia akan histeris lagi.. Jika dia sudah tenang baru masukkan kembali dia ke kamarnya." Ucap salah seorang perawat senior dan di angguki oleh dua perawat lainnya.
Beberapa waktu kemudian Belinda tersadar dan mendapatkan tubuhnya terikat pada bed dan ini bukanlah ruang kamarnya.
"Sialan! Ini semua perbuatan wanita j@l@ng itu! Aku tidak akan pernah mengampuni mu! Aku di perlakukan sebagai orang gila! Aku tidak gila! B@ngs@t! Aku akan benar-benar menghancurkan mu Adeliana dan membuat mu menyesal karena telah di lahirkan!" Umpat Belinda sambil menendang udara namun dia tidak bisa banyak bergerak karena tubuhnya terikat dikasur diruang isolasi.
***
"Hacuhhh..." Alice tiba-tiba bersin di siang panas benderang ini.
"Ada apa sayang? Apa kau flu? Demam?" Tanya Anton yang kembali memeriksa kening Alice dan Anton dengan cekatan segera memberikan Alice tisu bersih.
__ADS_1
"Ehem.. Sepertinya tidak.. Mungkin ada orang yang mengutuk ku." Ucap Alice acuh.
"Ada-ada saja kau.. Bagaimana jika kau menggunakan jaket?" Tawar Anton.
"Apa kau sakit Anton? Ini panas terik dan kau menyuruhku memakai jaket? Yang ada nanti aku keringatan dan kepanasan. Sudahlah jangan berlebihan, aku tidak apa-apa." Protes Alice kesal.
"Aku hanya takut kau flu atau deman saja sayang." Ujar Anton lagi.
"Sudah diam Anton.. Aku tidak apa-apa.. Paham!" Ucap Alice tegas.
"Baik paham." Anton menurut dan kemudian diam.
Mereka berjalan menyusuri kantor lapas untuk meminta izin menemui pamannya Fiktor.
Ya.. Fiktor sudah masuk ke lapas tahanan di pinggir kota X itu.
"Permisi Pak, saya ingin berkunjung napi atas nama Fiktor." Ujar Anton sopan kepada petugas itu.
"Maaf tapi hanya boleh seorang saja yang berkunjung." Ucal petugas lapas itu.
"Tentu.. Istri saya yang akan masuk." Jawab Anton lagi.
"Tidak boleh membawa barang elektronik dan benda tajam lainnya." Ujar petugas lapas itu lagi.
"Tentu Pak.." Ucap Alice yang kini menjawabnya.
"Baiklah tulis data anda di sini lalu nanti akan ada yang menemani anda masuk." Ucap pria itu datar.
Alice menuruti semua prosedurnya dan kemudian ditemani masuk hingga bertemu dengan pamannya.
"Kau benar-benar kemari." Gumam Fiktor pelan.
"..." Fiktor hanya diam saja sambil melihat wajah Alice lekat.
"Aku akan memberitahu paman. Aku sudah mendapatkan sepenuhnya saham dan properti atas nama Baskoro dan aku sedang mengelolanya dengan baik. Aku mengeluarkan antek-antek paman yang tidak kompeten apalagi yang sudah berbuat curang dan jahat. Aku akan membuatbperusahan kakek semakin maju dan berkembang. Paman tidak perlu meragukan itu." Ujar Alice menjelaskan panjang lebar hal yang dia lakukan di luar sana dan memberitahukannya lada Fiktor agar pria iti tidak merasa khawatir apalagi menjadi tidak tahubsama sekali dengan dunia luar.
Banyak hal remeh yang Alice ceritakan kepada Fiktor, baik mengenai perusahaan atau bahkan keluhan saat dia makan di suatu kafe. Fiktor tidak menanggapi atau membalas ucapan Alice. Pria tua itu hanya mendengarkan dan melihat raut wajah Alice hingga waktu kunjungan habis.
"Nona.. Jam kunjungan sudah habis." Ucap penjaga lapas itu.
"Paman aku pamit.. Aku mungkin tidak bisa setiap hari atau seminggu sekali kesini, tapi aku akan datang berkunjung menemui mu. Jangan menolak kunjungan ku, atau aku akan lebi sering menemui mu." Ujar Alice dengan senyum manisnya.
"Nona.." Ucap penjaga lapas itu lagi.
"Baik paman sampai jumpa.. Semoga paman sehat-sehat selalu ya." Ujar Alice dan pergi keluar dari ruang kunjungan itu.
"Kau lihat itu, hatinya baik seperti Amelia, namun keras kepala dan tegasnya sama seperti mu Frans.." Gumam Fiktor dan kemudian tidak lama pria itu digiring kembali menuju sel tahanannya lagi.
"Kau sudah selesai?" Tanya Anton yang setia menunggu Alice kembali.
Gadis itu tidak menjawab dan hanya menubruk tubuh suaminya dan menangis di dalam dekapan pria itu. Bahu gadis itu bergetar tanda dia benar-benar tidak tahan menahan sesak didadanya.
"Kau gadis yang ointar dan tegar.. Kau sudah melakukan yang terbaik.. Kau luar biasa." Pujian pujian menenangkan Anton ucapkan untuk menenangkan istri kecilnya itu.
Setelah beberapa saat Alie tenang, Anton membawa Alice kembali menuju mobil mereka. Mereka akan bersiap untuk berkunjung ke negara X untuk acara pesta pernikahan mereka.
Segala sesuatu di perusahaan Baskoro sudah Alice tangani dan beberapa orang kepercayaan sudah Alice dapatkan dari para senior yang masih sanggup bekerja dan loyal terhadap perusahaan.
"Apa tidak masalah untuk mu terus berada mendampingi ku dan tidak bekerja?" Tanya Alice saat mereka sedang menyiapkan pakaian untuk pergi ke negara X.
__ADS_1
"Tidak masalah.." Jawab Anton santai.
"Bagaimana dengan pasien-pasien mu?" Tanya Alice lagi.
"Ehem.. Sebenarnya aku adalah pemilik rumah sakit itu. Jadi tidak masalah aku dinas langsung atau tidak. Lagipula aku selalu mendapatkan informasi dari bawahan ku mengenai rumah sakit. Dan aku selalu membawa pekerjaan ku. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan." Jawab Anton santai.
"Baiklah jika begitu. Lalu bagaimana dengan sisi hitam mu?" Tanya Alice lagi mulai penasaran.
"Kau penasaran dengan itu? Kau tidak perlu khawatir Paul dan Alex akan membantuku memantau dan menjaga bisnis ku. Mereka benar-benar orang terpercaya ku. Kau tahu bukan geng ku tidak akan benar-benar menyalahi aturan hukum dan kami pemilih." Jawab Anton serius.
"Ya aku tahu.. Oleh sebab itu kalian berkembang pesat dan disegani. Mafia yang tidak takut pada abdi negara." Dengkus Alice.
"Sayang tidak baik melakukan itu.. Nanti anak kita akan mengikuti mu." Ujar Anton meninggalkan pekerjaan mengepaknya dan memilih mendekati istirnya dan menggelitik wanita itu.
"Ahh.. Ahh ampun.. Aku tidak akan melakukannya lagi.. Anton hentikan! Geli! Aku tidak akan melakukannya lagi." Ucap Alice sambil tertawa dan rontaan pada tubuh gadis itu.
"Baiklah aku berhenti." Ujar Anton dan kemudian melepaskan kedua tangannya yang menggelitik pinggang Alice dan turun kebawah perut Alice untuk mencium janin mungil di perut Alice.
"Apakah ibu mu mengganggu tidur mu?" Tanya Anton sambil berbisik kepada perut Alice.
"Maaf untuk itu.. Istirahatlah lagi, jangan dengarkan hal yang tidak baik ya nak." Gumamnya lagi pelan dan kembali mencium perut Alice.
Alice refleks memegang rambut Anton lembut dan mengusapnya. Rasa cinta dan kasih sayang benar-benar Anton curahkan untuk Alice dan calon bayinya. Pria itu benar-benar menjadi orang yang lebih hangat dan perhatian. Meski kadang pria itu terlalu protektif terhadap hal-hal yang menurut Alice konyol seperti masalah bersin tadi. Namun kehangatan dan perhatian yang pria itu berikan sungguh membuat Alice bisa berkali-kali jatuh cinta kepadanya.
Tok tok tok
Pintu di ketuk darinluar kamar Alice.
"Masuk." Ucap Alice dan mengizinkan seseorang untuk masuk.
Seorang pelayan datang dan membungkuk hormat, "Nyonya memanggil saya?" Tanya kepala pelayan itu.
"Ya Liesda.. Tolong bantu aku berkemas.. Aku beberapa hari akan di luar negri.. Aku titip mansion." Ucap Alice kepada kepala pelayan itu.
"Baik Nyonya." Ucap Liesda hormat dan kemudian wanita itu memanggil beberapa pelayan untuk merapihkan pakaian tuan mereka.
"Baiklah sambil menunggu pakaian dan barang bawaan kita siap, bagaiman jika kita mandi dahulu." Ujar Anton sambil mengerlip jahil.
"Tidak mau.." Tolak Alice cepat, namun penolakan Alice kalah cepat dengan Anton yang langsung mengangkat tubuh gadis itu keluar dari dalam kamar utama milik orang tua Alice yang kini menjadi kamar pengantin mereka dan Anton membawa tubuh Alice menuju kamar Alice yang berada di ujung lorong lantai itu.
"Argghh Anton.. Hentikan.. Aku bisa jatuh." Keluh Alice saat Anton mencoba menggendongnya sambil mencium leher Alice.
Anton tiba di depan kamar paling ujung di lorong itu, yang merupakan kamar masa kecil Alice dan juga kamar saat pertama wanita itu datang lagi ke mansion ini.
"Sayang kau harus membantuku membuka pintunya." Ujar Anton mesra.
Dengan wajah memerah, Alice membuka pintu itu dengan tangannya dan Anton mendorong pintu kamar itu dengan kakinya. Saat mereka masuk, Anton kembali menutup pintu itu dengan kakinya dan kemudian pintu tertutup rapat.
"Apa yang mau kau lakukan?" Tanya Alice heran.
"Aku merindukan mu.. Dan kita tidak boleh mengagetkan janin di rahim mu.. Jadi tugas mu adalah membantu ku menenangkan ku dan adik ku." Ujar Anton dengan senyum menggodanya.
"Ahh.. Apa?" Tanya Alice semakin heran.
"Tapi aku tidak bisa.." Keluh Alice dan hendak kabur dengan mendorong dada pria itu.
"Hati-hati sayang.. Kau masih dalam gendongan ku.. Jangan bergerak macam-macam." Perintah Anton lagi dan itu sukses membuat Alice sadar akan situasinya nanti.
Fyi.. Lapas atau Lembaga Pemasyarakatan adalah tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia. Sebelum dikenal istilah lapas di Indonesia, tempat tersebut disebut dengan istilah penjara.
__ADS_1
Bersambung....