JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Beku yang mendarah daging


__ADS_3

-Roy POV-


"Apa yang terjadi?" Tanya Galih dan Juna bersamaan dengan wajah penasaran mereka.


Huft.. Ku hembuskan nafas berat dengan kasar.


Aku adalah Roy Jaya Putra, putra tunggal dari keluarga Jaya Putra.. Ya aku putra tunggal dan satu satunya ahli waris dari pemilik perusahaan properti di negara ini. Sedangkan bidang yang ku geluti adalah bidang jasa keamanan berbeda jauh dengan yang di geluti oleh kedua orang tua ku.


Namun kesuksesanku tidak memalukan mereka. Aku memikiki beberapa cabang dari perusahaan ku yang berada di luar negri meski tidak sebesar kantor pusat ku yang ada di kota A, namun itu cukup besar untuk bisa dipandang oleh keamanan negara setempat.


Kemampuan ku dalam bidang ini tidak diragukan lagi ayah dan ibu ku sangat bangga kepada ku, namun di dalam sisi lain mereka sangat mengkhawatirkan aku yang bahkan terlalu sibuk dalam pekerjaan ini dan melupakan tugas penting bagi mereka.


Yakni mencari calon menantu untuk mereka dan memiliki cucu untuk mereka..


Astaga tidakkah itu merupakan permintaan yang terlalu konyol.. Tidak tidak bukan aku tidak normal dan tidak ingin memiliki keluarga sendiri. Namun di usia ku ini bukankah terlalu cepat? Aku masih ingin mengembangkan usaha ku ini selain itu aku juga belum menemukan wanita yang cocok jadi itu merupakan permintaan konyol bagiku.


"Huft.." Kuhembuskan lagi nafas berat ku.


"Jadi?" Tanya mereka bersamaan masih menunggu reaksi dari jawaban ku.


"Ibu ku sakit dan dia ingin aku membawanya calon menantu untuk merawatnya. Haish bisakah secepat itu membawa seorang wanita begitu saja. Jika dia ingin seseorang yang merawat, bukankah bisa aku sewakan saja seorang perawat untuk menjaganya selama dia sakit. Saat aku bilang demikian dia malah melempar ku dengan bantalnya dan mengusir ku dengan kejam. Hishh aku tidak bisa mengerti mengapa harus di buat serumit itu." Jawab ku jujur sambil menyandarkan punggung ku ke sandaran sofa.


"Hahaha ini lah bos kita yang sebenarnya.. Kau memang sangat pintar dan brilian di usia muda mu untuk mengembangkan bisnis, namun dalam hal perasaan kau benar benar bocah. Untunglah kau hanya di lempar bantal saja dan tidak di lempar pisau." Gelak tawa Juna terdengar di telinga ku, begitu juga Galih yang menertawai penjelasan ku.


"Aku menyesal telah memberitahukan kepada kalian tapi kalian bukannya membantu ku mencari solusi tapi malah menertawai ku dan membuatku tambah frustasi! Puas-puaslah kalian menertawai ku." Ujar ku sarkas dan melipat kedua tangan ku di dada.


"Oke oke maafkan kami bos.. Kami akan serius sekarang.. Kenapa kau tidak mencoba membuka hatimu dengan salah satu wanita yang di kenalkan oleh ibu mu dan mencoba menjalaninya? Tidakkah itu mudah? Bagaimana kau tahu dia cocok atau tidak jika kau sendiri saja tidak pernah memberi mereka kesempatan." Ucap Juna lagi.


"Aku sudah mencobanya namun hasilnya tidak baik.. Aku tidak mengerti mengapa." Jawab ku jujur.


"Apa? Bisa kau ceritakan kepada kami? Siapa tau kami bisa memberi mu saran." Galih kini yang berbicara dengan wajah serius.


"Haishh kita bertiga ini jomblo lalu apa yang mau di ceritakan lagi.." Gerutu ku kesal.


"Ayolah tapi setidaknya kita berdua lebih tahu jelas masalah ini ketimbang dengan pengalaman mu bukan." Ejek Juna dengan mengubah posisi duduknya dengan menyilangkan kaki di atas pahanya dan tangan terlipat di depan dadanya..


"Haish.. Baiklah.." Ujar ku akhirnya mengalah. Bagaimanapun kedua orang di depan ku ini adalah mantan playboy cap kucing.


Baiklah aku akan menceritakan kisah perjalanan cinta ku.


Sebelumnya aku sudah di perkenalkan dengan anak dari sahabat ibu ku. Hampir setiap minggu ibu ku pasti memasangkan ku dengan seseorang. Dan semuanya tidak berjalan lancar entah mengapa. Pernah suatu malam aku di ajak ke suatu restoran untuk kencan buta oleh ibu ku.


Wanita itu bernama Lavender seperti nama bunga, nama yang unik menurut ku. Apakah kedua orang tuanya ingin anaknya agak tidak terkena gigitan nyamuk kah? Atau ada filosofi lain yang tidak aku ketahui. Entahlah aku tidak memikirkannya.


Baiklah balik lagi ke masalah kencan malam itu. Wanita itu mengenakan mini dress warna merah tanpa lengan dia cantik dengan rambutnya yang tergerai indah belum lagi senyumnya dengan pemerah bibir dengan senada warna pakaiannya. Dia duduk dengan manis sambil mengangkat tangannya memberitahukan kehadirannya.


"Hai kau Roy bukan." Ucapnya saat aku mendekat kearah mejanya.


"Ya.." Jawab ku singkat. Untuk apa di tanyakan lagi sudah pasti aku Roy bukan jika aku sudah duduk di hadapannya. Sungguh basa basi yang membosankan.


"Aku lavender." Ujarnya lagi dan mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Aku tahu." Jawab ku singkat dan membalas uluran tangannya.


Wanita itu diam sesaat, "Kau tidak suka dengan pertemuan ini?" Tanyanya lagi.


"Tidak biasa saja." Jawab ku singkat. Mengapa dia harus bertanya itu? Jika aku tidak suka untuk apa aku membuang waktu ku pergi ke sini, aku lebih suka berkutat dengan tumpukan berkas di meja ku.


Dia menghembuskan nafasnya, "Baiklah kita makan saja. Aku sudah sangat lapar." Ucapnya lagi dan kemudian memanggil pelayan dan memesan makanan.


Aku sedikit heran dengan tingkahnya, dia bilang dia lapar namun dia hanya memesan salad sayuran apakah itu mengenyangkan? Entahlah aku tidak mengerti dengannya tapi aku memilih daging steak dan makan dengan tenang.


Selama makan dia terus berbicara banyak hal mengenai umur ku, hobi ku bahkan di mana aku tinggal sekarang, bukankah dia terlalu berisik. Dia ini ingin sensus penduduk atau apa? Apa perlu aku bawakan saja CV (Curuculum Vitae /Biodata) ku saja saat bertemu dengannya agar tidak perlu menyulitkan ku dengan pertanyaan pertanyaannya.


Aku hanya menjawab ya atau tidak, bahkan kadang aku hanya mengangguk atau menggeleng saja untuk mempersingkat jawaban. Sampailah kita selesai makan malam dan dia bilang ingin berjalan-jalan di sekitar untuk membantunya mencerna makanan. Tentu saja aku turuti saja kemauannya dan kami berjalan keluar dari kafe itu.


"Huft.. Dingin.. Bukankah ini sudah mulai musim dingin." Ucapnya sambil mengusap-usap kedua lengan bagian atasnya. Mini dress berwarna merah di atas lutut dan tanpa lengan. Jika dia kedinginan kenapa tidak menggunakan pakaian yang lebih panjang saja. Menurut ku itu sedikit aneh.


"Tidak.. Menurut ku tidak dingin dan ini bukan waktunya musim dingin." Jawab ku singkat dan merapihkan dan mengetatkan blazer yang aku kenakan. Yaa saat ini aku sedang memakai T-shirt polos berwarna putih pas tubuh dengan blazer berwarna navi.


Wanita itu memandang ku dengan sedikit heran, aku tidak mengerti mengapa dia memandang ku dengan wajah seperti itu tapi aku abaikan saja dan lanjut berjalan kaki melewatinya.


"Tunggu." Ucapnya lagi sambil memengang belakang blazer ku.


"Ya?" Ada apa lagi?


"Kita akan jalan kaki?" Tanyanya dengan keheranan.


"Bukankah kau bilang tadi ingin jalan jalan mencerna makanan.. Ya tentu saja dengan berjalan kaki bukan?" Ucapku lagi dan hendak berjalan.


"Tunggu.." Ucapnya lagi menahan ku berjalan.


"Bisakah kita jalan jalan naik mobil saja?" Ucapnya dengan wajah memelas.


"Kenapa tidak bilang saja dari awal." Ucap ku singkat dan berjalan menuju parkiran mobil ku.


Aku berjalan dengan tenang menuju mobil dan langsung masuk kedalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Wanita itu masih diam mematung di samping pontu masuk penumpang. Aku menurunkan kaca jendela ku hingga turun seluruhnya dan aku sedikit membungkukkan badan melihatnya dari kaca itu.


"Kau tidak masuk?" Tanya ku heran. Tadi katanya mau naik mobil, sudah di depan mobil dia malah tidak masuk ke dalam mobil. Wanita ini memang aneh.


"Tidak bisakah dia membukakan pintu, jaket tidak di beri bahkan pintupun tidak di bukakan lelaki ini benar-benar keterlaluan." Gumam wanita itu masih berdiri di samping pintu penumpang tapi aku masih bisa mendengarnya meski sangat samar.


Bukankah dia memiliki tangannya sendiri? Lalu apa salah ku? Dan lagi masalah jaket, bukankah salahnyabsendiri memakai pakaian penxek seperti itu. Lalu mengapa jadi salah ku lagi. Haishh wanita benar-benar membuat ku penat.


Wanita itu mendengkus kesal, "Tidak jadi jalan-jalan aku ingin pulang." Jawabnya sedikit dengan nada ketus.


"Ohh okey.. Kalau begitu aku pulang duluan.. Bye." Jawab ku santai dan berlalu menginjak gas dan meninggalkan dia sendirian masih berdiri di tempat sebelumnya sambil menghentak kentakan kakinya di jalannan.


Loh apa aku salah lagi? Bukankah dia bilang tidak jadi jalan jalan dan ingin pulang. Ya sudah aku pulang. Tapi melihat dari kaca spion yang berada di tengah saat aku melihatnya dari kaca itu dia tampak kesal akan sesuatu.


Entahlah mungkin dia sedang tidak mood saja dan aku mengabaikannya dan dengan santainya pulang menuju rumah utama.


Begitu aku baru sampai di teras rumah, ibuku sudah berdiri di depan pintu dengan muka memerah karena marah.

__ADS_1


"Roy! Apa yang telah kamu lakukan sehingga membuat Lavender begitu marah." Tanya ibu ku dengan berapi api padahal belum juga sampai dan duduk di dalam.


"Aku tidak tahu.. Memang apa yang telah dia adukan ke ibu." Tanya ku balik dengan wajah keheranan.


"Dia bilang kau benar-benar pria yang jahat. Ada apa sebenarnya Roy! Ayo jawab ibu apa yang telah kau lakukan pada gadis manis itu?" Cecar ibu ku ingin mengetahui apa yang terjadi.


"Astaga Bu.. Roy tidak melakukan apapun kepadanya, masa ibu tidak bisa percaya kepada anak ibu sendiri." Belaku, bahkan aku saja tidak tahu apa kesalahan ku lalu mengapa dia bilang aku jahat? Aku bahkan tidak menyentuh kulitnya sama sekali dan tidak melakukan pelanggaran hukum. Lalu salah ku di mana? Jahatnya di mana? Aihh benar-benar membuat ku pusing.


"Kalau begitu mengapa dia bilang seperti itu Roy?" Tanya ibuku lagi masih belum selesai dengan introgasinya.


"Bu.. Roy benar benar tidak tahu.. Kami hanya makan malam dan setelah itu pulang. Roy bahkan tidak menyentuh kulitnya. Bagaimana bisa aku di katakan jahat? Mungkin dia lagi sensitif saja mungkin." Ujar ku santai dan berlalu melewati tubuh ibu ku yang menghalangi jalan pintu masuk rumah.


"Roy benarkah itu." Tanyanya lagi masih mengikuti ku dari belakang.


"Tentu saja ibu.. Kapan aku berbohong pada mu.. Bu aku sudah lelah aku ingin membersihkan diri dan berganti pakaian, besok aku masih harus mengecek beberapa berkas-berkas." Ucap ku mengakhiri perbincangan tidak penting ini.


"Baiklah kalau begitu, mungkin gadis itu memang sedang sensitif saja.. Yasudah kau istirahat saja.. Malam sayang.." Ibuku akhirnya mengakhiri perdebatan tidak penting ini dan mencium pelipis ku.


Haishh aku ini sudah besar, dia masih saja memperlakukan ku bagaikan aku bocah kecil.


"Tidak hanya sekali saja ibu ku membuat kencan buta, setelah itu beberapa wanita di pasangkan juga dengan ku dan hasilnya sama tidak ada yang berubah. Ibu ku sudah hampir bosan dan kesal dengan tidak ada kemajuan apapun dari anaknya ini." Jelasku sejelas jelasnya kepada Juna dan Galih.


Setelah aku menjelaskan semuanya kepada mereka, mereka malah tertawa habis-habisan sampai terpingkal-pingkal. Bahkan Galih sudah meringkuk memegang perutnya sambil tertawa.


"Adakah di dalam kisah itu yang lucu? Aku tidak mengerti dimana letak kelucuannya." Ucap ku acuh tapi itu sedikit membuat ku kesal.


"Bagaimana bisa wanita ingin berhubungan dengan mu jika kau nya saja seperti tembok dan sedingin salju di kutub utara. Dengan senang hati para wanita akan langsung lari dari hadapan mu." Ujar Galih di sela tawanya.


"Memang harus seperti apa?" Tanya ku polos.


"Hadeh.. Bayi besar kita memang kelewatan pintarnya." Gerutu Juna di sela tawanya.


"Haihh aku pergilah jika kalian masih ingin tertawa.. Agar kalian tertawa sampai puas." Ujar ku kesal dan ingin beranjak dari sofa.


"Ohh baik baik baik.. Kita mulai serius." Ujar Juna cepat menarik tangan ku agar kembali duduk di sofa.


"Kalau begitu bicaralah jangan menertawai ku lagi." Ucapku akhirnya setuju dan duduk di sofa lagi.


"Ya.. Menurut ku kau terlalu kaku dan cuek, wanita itu ingin di mengerti atau setidaknya beri mereka perhatian kecil itu sudah membuatnya bahagia. Salah satu contohnya saat dia bilang dingin itu adalah kode untuk mu, mungkin kau sebaiknya inisiatif memberikan jaket mu padanya dan memasangkannya di pundaknya." Jelas Juna lagi.


"Bukankah itu merepotkan? Jika mereka kedinginan mengapa harus menggunakan pakaian kurang bahan seperti itu." Tolak ku tegas.


"Wanita itu ingin tampil cantik, elegan dan anggun. Bahkan mereka akan dengan rela menggunakan pakaian mini meski sedang di musim salju." Gerutu Galih yang kini memotong ucapan.


"Nahh dan di situlah fungsinya kita.. Kita harus memahaminya dengan memberikannya jaket atau membiarkannya berdiam di dalam ruangan yang lebih hangat. Bahkan jika kau memang menyukainya, kau bisa menggenggam tangannya dan di taruh di dalam saku bajumu. Hal sepele seperti itu akan membuatnya melambung dan menjadi semakin menyukai mu." Lanjut Juna lagi.


"Itu terlalu merepotkan." Jawab ku singkat setelah mendengarkan pencerahan dari kedua mantan playboy itu.


"Haishh.. Penyakit mu memang sangat berat teman." Gumam Galih dan Juna bersamaan.


****

__ADS_1


FYI.. Bunga Lavender memiliki arti yang sangat dalam, yaitu melambangkan pengabdian, kesucian dan juga cinta.


Bersambung....


__ADS_2