
Tok tok tok suara ketukan dari luar pintu kamar Anton.
"Masuk.."
"Tuan.."
"Paul.. Bagaimana dengan tugas mu mengambil alih sedikit demi sedikit aset atas nama keluarga besar Baskoro?" Tanya Anton santai dan meletakkan laptop yang tadinya di pahanya ke atas meja.
"Semuanya sudah berjalan lancar tuan.. Aset yang di miliki nyonya Belinda Stary atas perusahaan Baskoro sudah kami dapatkan semua sebesar 30%.. Pemegang saham yang lainnya menjual saham mereka secara bersamaan karena pemberitaan penangkapan beberapa orang di kapal pesiar yang membuat cabang perusaahaan itu sedikit mendapatkan goncangan dari dalam sehingga mau menjual saham mereka di sana dengan harga berapapun. Dengan kejadian itu kita mendepatkan 20% sahamnya dengan cepat.. Saat ini total saham yang kita miliki adalah 50% sedangkan yang Fiktor miliki 30%.." Jelas Paul.
"Siapa pemilik saham 20% lainnya?" Tanya Anton penasaran.
"Ini.. Pemilik saham ini Anonim tuan.. Maksud saya beberapa orang dari pemilik saham 20% ini sudah saya datangi, namun pemiliknya hanya seorang pelayan atau tukang kebun. Bahkan saat saya menyatakan ingin membeli saham yang mereka miliki, mereka seperti terkejut dan segera mengusir saya." Jelas Paul.
"Ah.. Kalau begitu kau tidak perlu mengganggu mereka lagi. Sepertinya dia sama tujuannya seperti kita tidak ingin mengambil alih keluarga Baskoro." Ucap Anton.
"Bukankah itu akan menjadi kesulitan dan bahaya bagi kita jika ingin menguasai sahamnya tuan?" Tanya Paul lagi.
"Kau tak perlu cemaskan itu.. Lebih baik kau perhatikan terus Belinda. Aku yakin dia pasti akan menjual saham properti lainnya atas nama Baskoro. Jika dapat kesempatan segera ambil alih." Ucap Anton memerintah.
"Baik tuan.." Ucap Paul cepat.
"Tuan.." Ucap Paul ragu.
"Ada apa?" Anton bingung dengan sikap Paul.
"Di negara X sedang sedikit kacau terutama setelah penangkapan beberapa orang berpengaruh di kapal pesiar itu. Selain itu suksesnya saat acara peragaan busana serta brand yang nona Alice ikuti, membuat wajahnya berada hampir di seluruh majalah minggu ini dan screan billboard di mall-mall besar dan jalan raya. Emhh saya khawatir jika itu akan membahayakan nona Alice." Jelas Paul.
"Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Anton tidak percaya.
"Tutup semua media dan ganti dengan yang lain!" Perintah Anton.
"Maaf itu mustahil tuan.. Di negara X kita tidak memiliki banyak yang berhubungan dengan periklanan dan perfilman. Selain itu kita jauh terlambat menyadarinya. Maaf tuan saya lalai." Ucap Paul menyesal.
"Siapkan semuanya sebelum badai terjadi." Ucap Anton ambigu namun dapat di mengerti Paul dan pria itu mengangguk.
__ADS_1
"Haish.. Ada hal segawat ini kenapa baru kau beritahu ku! Haish! Lalu di mana gadis itu sekarang? Bukankah sudah aku suruh beberapa penjaga untuk melindunginya dari jauh?" Ucap Anton lagi.
"Nona Alice sekarang berada di mall tak jauh dari rumahnya. Dia menemui kedua kakak ipar anda di sana." Jelas Paul.
"Ha? Apa? Apa yang kedua kakak ipar ku lakukan?" Tanya Anton bingung.
"Sepertinya biasa tuan. Makan bergosip dan shoping." Ucap Paul menjelaskan.
"Apakah dia baik.." Ucap Anton penasaran dengan keadaan gadisnya.
"Ini tuan.." Paul menyerahkan tabletnya yang menampilkan foto Alice sedang tersenyum cerah dan sangat bahagia bersama kedua kakak iparnya.
'Sepertinya kau sangat bahagia sayang.. Aku terlalu khawatir akan dirimu. Tapi sepertinya ke khawatiran ku tidak berdasar. Aku senang kau bahagia.' Batin Anton.
"Lalu apakah mereka masih di sana?" Tanya Anton lagi namun mata dan tangannya masih mengusap layar tablet itu.
"Nyonya Amanda dan Sisilia sudah pulang dan kembali ke kediaman utama. Sedangkan nona Alice..." Paul diam sesaat dan melanjutkan ucapannya.
"Nona Alice saat ini bersama dengan Galih.. Pria itu juga sejak semalam bermalam di rumah nona Alice." Ucap Paul menjelaskan dan Anton jarinya terhenti di layar saat melihat foto pria itu menggendong Alice ke dalam rumah saat gadis itu tidur di dalam mobilnya.
"Huft..." Anton menghembuskan nafasnya kasar.
"Paul! Biarkan aku sendiri dahulu!" Ucap Anton dingin. Paul mengerti dan segera meninggalkan kamar tuannya itu.
Brukkkk!! Anton menghempaskan tubuhnya di sofa dengan keras dan menyingkirkan bantal sofa kesembarang arah kesal. Pria itu merebahkan tubuhnya dan menutup matanya dengan sikunya.
Dia cemburu! Tentu saja dia sangat.. sangat cemburu! Dia marah namun yang membuatnya kesal adalah dia tidak bisa berbuat apa-apa membiarkan gadisnya bersama di pelukan pria lain.
Ingin rasanya melepaskan saja lengan pria yang berani menyentuh gadisnya namun apa haknya? Dia adalah pria yang sudah merenggut ayah dan ibu gadis itu. Jika dia melakukan hal itu bukankah sama saja dia merenggut kebahagiaan gadis itu lagi.
Cemburu! Tidak berdaya dengan keadaan! Membuatnya semakin frustasi.
Sebening kristal cair menetes di sela mata pria itu dengan pantulan dari cahaya lampu di ruang kamarnya.
"Aku merindukan mu...."
__ADS_1
***
"Kau mau makan malam apa?" Tanya Galih saat mereka sudah menjauhi toko pakaian pria yang membuatnya semakin jengkel dan malu karena tidak bisa membalas Alice malah membuatnya semakin salah tingkah.
"Emhh bagaimana jika ramyeon?" Jawab Alice cepat.
"Tentu.. Yuk kita ke atas.." Ucap pria itu dan tidak sadar masih menggenggam tangan gadis itu. Alice pun tidak menyadarinya dan terus saja mengikuti pria itu menuju konter makanan yang ingin mereka makan.
Alice dan Galih memilih duduk di samping jendela yang menghadap lapangan parkir yang mulai ramai pengunjung.
Mereka berdua memilih beberapa variasi makanan mie dan tidak lupa Galih memesankan Patbingsoo untuk Alice. Patbingsoo adalah desert makanan khas korea dengan es serut kacang merah dengan tambahan toping es cream, yougurt dingin, susu kental manis sirup, buah-buahan, agar-agar, kue beras dan remahan-remahan sereal.
Pelayan segera mencatat dan membuatkan pesanan untuk mereka. Tidak berapa lama pelayan datang dengan membawakan beberapa pesanan mereka.
"Woah.. Aku sudah lapar." Ucap Alice cepat saat makanannya sudah diletakkan di depan mejanya.
"Kau selalu lapar.. Padahal sebelumnya bukankah kau sudah makan ice cream tadi?" Tanya Galih.
"Itu berbeda.. Lagipula tadi kan sudah di cerna karena berkeliling. Sekarang tenaga ku terkuras dan membutuhkan asupan makanan lagi." Ucap Gadis itu ceria dan siap dengan sumpit di tangannya.
Alice dengan lahapnya memakan Jjampong yang merupakan mie kuah pedas yang di sajikan dengan aneka sayuran dan seafood lengkap yakni udang, kerang dan gurita.
Sedangkan Galih memilih kalguksu atau mie pisau karena teknik pembuatannya di potong pipih dan tipis dengan pisau. Kaldu mienya terbuat dari rebusan kerang, teri kering dan rumput laut.
Galih yang melihat Alice dengan lahapnya memkan mienya, pria itu tersenyum dan kemudian menawarkan mienya untuk gadis itu cicipi.
"Al.. Mau coba mie punya ku?" Tanya pria itu mengganggu makan gadia itu.
"Emhh.. Mau.. Mau.." Ucapnya dan kemudian membuka mulutnya lebar. Galih dengan temang mengambil mie dengan sumpit dan memasukkannya kedalam mulut Alice tidak lupa pria itu juga mengambil kuah dan memasukkannya ke dalam mulut gadis itu.
"Enak.." Ucap Alice dan kemudian melanjutkan memakan mie miliknya.
Galih yang melihat itu tersenyum dan kemudian melanjutkan makannya sama seperti Alice. Mereka mengobrol dan bercerita di sela-sela makan malam itu. Kebahagiaan terpancar dari wajah cantik Alice, dan Galih menyukainya.
Bersambung....
__ADS_1