
Maya yang mendengar ucapan dari Juna langsung marah begitu saja. Pria itu benar-benar oaling bisa membuatnya tersulut emosi. Memang benar dia yang telah berjasa mempertemukannya dengan pemilik apartemen yang akan dia tempati nantinya. Namun mengaoa dia yang mengatur ini itu seenaknya. Ada hak apa dia mengatur-ngatur seenak jidatnya saja.
"Aku melakukannya demi kebaikan mu." Ucap Juna tenang.
Pasalnya setelah Maya yang ketus saat mendengar ucapan Juna, Yoga langsung menyerahkan kunci apartemen itu kepada Juna dan segera kabur dari unit itu karena takut terkena imbasnya mengenai keributan yang akan terjadi. Bagaimanapun dia masih menyayangi nyawa dan kerjaannya, dia tidak ingin di tendang oleh tuam mudanya ke jalanan karena tidak sengana takut membela wanita galak itu.
"Kebaikan apa hah?" Ucap Maya keden emosi.
"Itu kostan ku dan ini juga apartemen yang akan aku tinggali. Mengapa kau yang seenaknya memutuskan kapan aku akan pindah? memangnya kau siapa? aku memang berhutang terima kasih karena kau membantu ku mencarikan apartemen. Tapi bukan hak mu menggusik kehidupan ku dan mengatur ku!!" Ucap Maya lagi dengan nada tinggi.
"Astaga.. kau sepertinya masih belum mengerti maksud ku." Ucap Juna tenang.
"Bagaimana aku mengerti diri mu. kau hanya ingin aku menuruti mu. kau pikir aku pembantu mu seenaknya kau atur-atur!" Ucap Maya masih dengan berapi-api.
"Bisakah kita duduk dahulu. Lelab kaki ku berdiri dari tadi." Ucap Juna santai dan mendudukkan bokongnya di sofa empuk itu.
"Huh!!" Dengus Maya masih kesal. Namun wanita itu menuruti Juna dan ikut duduk juga di ujung sofa.
"Aku berkata demikian untuk kebaikan mu. Kita akan menyelesaikan urusan ku dengam ibu kost mu sebelumnya sekaligus pindahan barang. Karena kau tidak akan memiliki banyak waktu untuk menundanya lagi." Ucap Juna kemudian menjeda ucapannya sebentar, dan kemudian melanjutkan ucapannya lagi.
"Aku baru mendapatkan pesan. Alice sudah kembali. Kau tahu kan kalau Alice sudah kembali itu artinya misi akan segera di mulai dalam waktu dekat. Untuk itu aku memutuskan untuk mu agar segera pindahan hari ini juga." Ucap Juna masih dengan nada tenang.
"Tapi aku kan masih kerja." Ucap Maya kesal.
"Aku sudah menangani itu. Tidak perlu kau khawatirkan." Ucap Juna menjelaskan.
"Tapi aku juga harus merapihkan barang-barang ku." Ucap Maya lagi.
__ADS_1
"Maka dari itu aku bilang aku akan membantu mu. Kau hanya perlu membawa keperluam pribadi mu, dan beberapa barang yang tidak ada di dalam apartemen ini. Sisanya bisa kau berikan kepada teman kost mu sebelumnya atau bisa kah berikan kepada pemulung atau kau buang saja. Karena di sini ku lihat sudah lengkap." Jelas Juna realistis.
"...." Maya terdiam dan berpikir sejenak. Benar kata pria ini, dia tidak bisa menunda waktu karena bisa di pastikan setelah Bu Alice masuk kantor, mereka pasti akan segera melakukan misi. Dan itu artinya tidak tahu kapan akan pulang dan kapan dia akan sempat lagi untuk pindahannya.
"Baiklah.. aku turuti mau mu.. maaf atas ucaoak ketus ku tadi." Ucap Maya menyesali ucapan sebelumnya.
"Tidak masalah." Ucap Juna singkat.
"Ya sudah yuk berangkat." Ucap Maya segera bangkit dari duduknya di sofa empuk itu.
"Nanti." Ucap Juna singkat lagi.
"Loh.. katanya biar cepat di selesaikan hari ini. Tapi sekarang malah bilang nanti.. bagaimana sih?" Kesal maya lagi dan menjatuhkan bokongnya di sofa lagi dengan kesal.
"Aku memang bilang hari ini, namun nanti kita akan berangkatnya karena kita aka makan siang dahulu. Kau belum makan siangkan?" Ucap Juna lagi.
"Tidak perlu, kita makan di sini saja. Aku sudah pesankan beberapa makanan. Sepertinya sebentar lagi tiba." Ucap Juna. Baru saja Juna selesai menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba terdengar bunyi dari luar unit mereka.
Teng tong..
"Ahhhh.. itu sepertinya sudah tiba.. sana kau bayar." Ucap Juna santai dan masih duduk di sofanya dengan nyaman.
Maya menuruti ucapan pria itu dan bergegas ke luar untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata benar, itu adalah seorang food delivery, dari makanan chinese.
"Selamat siang Bu.. pesanan atas nama pak Juna." Ucap food delivery itu.
"Benar Mas." Ucap Maya. Kemudian petugas itu memberikan beberapa tentengan di papper bag dan beberpa di sebuah kantung plastik.
__ADS_1
"Totalnya berapa mas?" Tanya maya saat telah menerima semua pesanan itu.
"Sudah di bayar Bu.. Sudah semua ya Bu pesanannya.. Saya permisi, selamat menikmati." Ucap petugas itu san segera pergi dari sana.
"Hah? Bukankah tadi dia suruh aku keluar untuk bayar? tapi katanya sudah di bayar. Jadi aku di suruh mengambil makanannya saja ini? Astaga kenapa gak ngomong aja sih, bilang aja tuh ambil pesananya gitu. Kok gitu aja ribet tuh orang." Kesal Maya menggerutu dengan suara pelan.
Maya kembali keruang keluarga dan kemudian melewati Juna yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Maya yang melihat itu mendengus pelan dan berjalan menuju pantry bar.
"Huhh.. baiklah aku melakukan ini karena aku anggap aku membayar hutang makan siang ku." Gumam Maya san kemudian mulai membuka isi lemari satu persatu memastikan isinya dan mengambil beberapa piring mangkuk dan sendok serta garpuh untuk mereka makan.
Maya mwngalaskan makanan yang di beli ke dalam piring dan mangkuk yang sebelumnya suda dia cuci dahulu. Bahkan sabun cuci piringpun sudah ada di sini. Benar-benar tak terduga.
Setelah mengalaskannya di piring dan mangkuk, Maya meletakkan piring-piring itu dan merapihkannya di atas meja makan beserta sendok dan garpuh bahkan sumpit juga. Tidak lupa gadis itu juga menyiapkan gelas dan menuangkan air botol mineral yang sebelumnya di pesan kepada petugas food delivery itu.
Entah mengapa Maya jadi merasa seperti newlywed jika seperti ini. Kemudian wanita itu langsung bergidik ngeri membayangkannya jika harus terus bersama dengan pria menyebalkan seperti Juna.
"Amiitt.. Amiitt.. Amiitt.." Ucap Maya pelan sambil mengelus perutnya sambil mengetuk meja makan itu. Dia benar-benar seperti seorang yang sedang hamil yang tidak menginginkan anaknya seperti orang yang tidak di sukainya. Benar-benar konyol wanita itu.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Juna saat Maya masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ehemm.. ahh tidak ada.. sini sudah aku siapkan semuanya." Ucap wanita itu sedikit gugup karena apa yang dia bayangkan sebelumnya.
Juna hanya mengangguk dan kemudian duduk di kursi makan itu dengan tenang. Maya juga duduk tepat di sebrang pria itu.
'Astaga gara-gara membayangkan hal mengerikan itu aku jadi gugup duduk berdua seperti ini.' Batin Maya dan merutuki kebodohan otaknya yang sudah traveling kemana saja itu.
"Mari makan.." Ucap keduanya dan memulai makannya dengan tenang.
__ADS_1
Bersambung....