
"Akhirnya kita sampai.. Kau ada tempat tinggal? Kau bisa tinggal bersama ku di penthouse Roy jika kau mau." Tawar Juna saat mereka sudah mendarat dengan selamat di bandara kota X.
Mereka berdua berjalan melalui gate keluar bandara internasional langsung menuju pintu keluar karena mereka tidak memiliki barang di bagasi mereka. Hingga kini mereka sudah berada di depan bandara kota X mencari jemputan mereka.
"Tidak.. Aku akan kembali ke mansion utama keluarga Baskoro membereskan sesuatu setelah itu aku akan menemui anak buah ku dahulu untuk mengetahui bagaimana perkembangan penyelidikannya." Jelas Anton mengenai jadwalnya nanti.
"Astaga.. Kita baru saja tiba dan kau sudah merancang semua jadwal mu sebegitu rapatnya.." Ucap Juna sambil menggelengkan kepalanya heran. Anton ternyata penggila kerja.
"Aku ingin secepatnya kembali.." Jawab Anton sambil tersenyum penuh arti kepada Juna.
"Hemm ya.. Kau benar.. Baiklah aku juga akan ke markas RJP saja menanyakan perkembangan kasusnya." Ucap Juna dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke penthouse Roy dan memilih menyelesaikan pekerjaannya lebih dahulu.
"Baiklah mobil jemputan ku sudah tiba.. Aku duluan.. " Ucap Anton dan pergi berjalan mendekati mobil hitam dengan seseorang yang dia kenal sedang mengemudikan mobil itu.
"Oke aku akan menghubungi mu jika ada berita baru.. Jemputan ku juga sudah tiba.." Kata Juna yang berjalan mendekati kobil berwarna putih.
"Baiklah.. Sampai jumpa nanti.." Jawab Anton melambaikan tangannya.
Anton masuk kedalam mobil hitam dan duduk disamping pengemudi.
"Lama tidak berjumpa dengan mu Tuan.. Sepertinya kau sedikit lelah.." Ucap pria yang duduk di belakang kemudi.
"Aku tidak apa-apa Paul.. Kita ke Mansion Baskoro dulu.." Ucap Anton memberikan intruksi kepada Paul.
Ya pria yang kini menjemput dan duduk di belakang kemudi adalah Paul tangan kanan Anton yang merupakan orang kepercayaannya.
Beberapa waktu kemudian mereka tiba di Mansion keluarga Baskoro. Beberapa pelayan membungkuk dan memberi hormat saat pria itu datang melewati mereka.
Paul berjalan di depan menunjukkan jalan kepada Anton sampai berdiri di sebuah pintu besar yang di lengkapi sebuah kunci pintu digital elektronik. Paul memasukkan passcodenya dan memberikan sidik jarinya. Tidak lama kunci pintu terbuka dan Paul membukakan pintu itu untuk Anton.
"Maaf Tuan saya melakukan ini untuk keamanan." Ucap Paul saatvmereka sudah masuk kedalam ruangan itu.
__ADS_1
"Tidak masalah Paul.. Aku tahu kau tidak ingin kecolongan apapun." Kata Anton dan mempercayai integritas pria di depannya itu.
Ya kini mereka ada di ruangan kerja Paul. Paul membawa masuk Anton kesebuah ruang kerjanya yang selama ini di tempati oleh Paul sementara di mansion besar itu untuk melakukan penyelidikan mengenai kasus yang menjerat Belinda maupun pengaturan dan pengoprasian perusahaan milik Alice. Tidak hanya itu, Paul juga yang selalu membantu Anton memantau dan mengendalikan Black Phanter.
" Ohya bagaimana perusahaan Alice selama ini?" Tanya Anton saat pria itu telah duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan kerja itu.
"Semua berjalan baik tuan.. Beberapa orang yang sebelumnya berbuat kerugian sudah di bereskan membuat semuanya bekerja dengan baik dan tidaka da kendala. Selain itu dokter Imanuel juga sudah membantu memantau perkembangan perusahan di bagian cabang lainnya, dan semuanya berjalan dengan baik." Jelas Paul mengenai perusahaan Baskoro Grup.
"Bagaimana mengenai keluarga Stary?" Tanya Anton.
"Belinda masih dalam penyelidikan, kini wanita itu menjalani penyelidikan di kepolisian tidak di rumah sakit jiwa lagi. Untuk surat yang sudah di layangkan untuk menggugat Jhon dan Marina sampai saat ini mereka tidak datang untuk melapor tuan. Bahkan Marina tidak terlihat di manapun Tuan.. Saya takut mereka akan pergi meninggalkan negara ini." Jelas Paul lagi.
"Apakah kalian sudah mencari di rumah atau vila milik keluarga mereka?" Tanya Anton lagi.
"Sudah tuan.. Tapi sepertinya agak sedikit sulit.." Jawab Paul cepat.
"Coba kau hubungi salah satu anak buah kita untuk menghubungi Billy di penjara. Beritahu keadaan saat ini dan kemungkinan Marina yang di sekap dan kemungkinan Jhon yang akan melarikan diri keluar negri." Perintah Anton.
Paul segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang di sana, pria itu juga memerintahakan anak buahnya untuk melakukan semua perintah dari tuannya.
Anton masih duduk di sofa dan memperhatikan beberapa berkas yang ada di meja itu dan mempelajarinya. Bagaimanapun dia sangat beruntung memeiliki Paul yang selalu bisa menghandle semua hal sekligus.
"Paul.." Ucap Anton menggantung saat Paul sudah menyelesaikan panggilan teleponnya itu.
"Iya Tuan.. Ada yang bisa saya bantu.." Jawab Paul cepat.
"Apakah kau tidak lelah seperti ini? Kau selalu terlibat hal rumit bahkan pekerjaan mu jauh lebih banyak dan sulit saat ini."
"Tidak tuan.. Saya baik-baik saja.. Selama saya mampu membantu Anda, tidak ada yang bisa membuat saya lelah." Jawab pria tu cepat.
"Hehe kau benar-benar gila kerja.. Kau tidak ingin memiliki kehidupan sendiri Paul?" Tanya Anton lagi penasaran.
__ADS_1
"Hidup saya selalu milik saya.. Dan kesetiaan saya kepada Anda adalah hidup saya." Ucap Paul tegas.
"Baiklah Paul.. Terima kasih.. Kau adalah saudara ku.." Ucap Anton sambil menepuk bahu pria yang lebih tua darinya itu.
"Saya yang harus berterima kasih kepada anda dan juga Tuan besar Bagus Hadi Jaya karena dahulu pernah menyelamatkan hidup saya. Bahkan memeberikan saya kehidupan yang baru." Ujar Paul lagi.
"Kau selamanya akan menjadi sauda ku Paul." Ucap Anton dan tersenyum hangat kepada pria itu.
"Dan jika suatu hari kau menemukan seseorang yang ingin kau habiskan sisa hidup mu dengannya, jangan lupa kau katakan kepada ku.. Aku tidak ingin kau terlalu terperangkap dengan semua pekerjaan mu itu." Ucap Anton lagi.
"Baik Tuan.." Jawab Paul cepat.
"Baiklah kerjakan pekerjaan mu lagi Paul.. Aku akan memeriksa email mengenai pekerjaan di RS dan juga memeriksa laporan The Black Phanter." Ucap Anton.
"Baik Tuan.."
Paul dan Anton kembali berkutat dengan laptop mereka dan mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing sambil menunggu informasi lanjutan dari bawahan mereka.
Sedangkan di sisi lain..
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Juna kepada beberapa anak buahnya yang sedang mengadakan rapat di sebuah ruang pertemuan.
"Maaf Pak.. Surat gugatan ke dua sudah di layangkan namun sepertinya kedua orang itu tidak ada yang menanggapi. Dan untuk pencegahan, kami sudah melayangkan surat larangan terbang untuk Jhon Markus dan juga Marina. Beberapa petugas kepolisian juga mencari keberadaan mereka berdua namun masih belum menemui titik terangnya." Jawan salah seorang anggota pertemuan itu.
"Haish.. Ternyata semua ini sepertinya sudah di rencanakan oleh pria tua itu. Dia menghilang bagaikan di telan bumi, tapi kalian sudah memastikannya bukan dia masih ada di dalam negara X ini?" Tanya Juna kepada para anak buahnya untuk memastikannya kembali hasil laporan mereka.
"Benar Pak.. Mereka tidak terdaftar dalam penerbangan luar negeri maupun dalam kota sekalipun.. Saya yakin mereka hanya bersembunyi hingga menunggu kita melonggarkan kewaspadaan." Ucap salah satu pria di sana.
"Baiklah.. Tetap awasi semuanya, jika ada pergerakan segera hubungi saya." Ucap Juna dan kemudian menyelesaikan rapat malam itu.
"Sepertinya di sini cukup rumit.. Untunglah kami disini sekarang.. Namun sepertinya di luar perkiraan kita akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk tinggal disini dari perkiraan sebelumnya." Gumam Juna yang sudah kembali keruang kerjanya dan duduk di kursi kerjanya di kantor pusat di kota X itu.
__ADS_1
Bersambung....