
Beberapa minggu kemudian..
Ponsel Alice bergetar di atas meja kerjanya yang sedikit tertutupi oleh kertas-kertas yang berserakan di sana, namun masih dapat terlihat sebuah Id pemanggilnya adalah Laristha.
"Kak Laristha.." Gumam Alice yang segera meraih ponselnya dan dengan segera menggeser ikon hijau untuk bisa menerima panggilan suara itu.
π "Hai Al.." Sapa suara riang dari seberang telepon itu saat panggilan itu sudah tersambung.
π "Bagaimana keadaan di sana?" Tanya Laristha lagi yang ada di ujung telepon sana dengan nada penuh semangat.
π "Di sini semua aman terkendali, bagaimana keadaan kak Juna?" Alice berbicara sambil merapihkan beberapa berkas yang ada di atas meja kerjanya yang berantakan dengan ponsel yang di jepit di antara kepala dan bahunya.
π "Juna sudah jauh lebih baik dia sudah bisa melepas gipsnya dan sudah bisa melakukan aktifitas ringan.. Rencananya kami akan ke kota X besok." Ucap Laristha penuh semangat.
π "Ahh benarkah itu, syukurlah kalau begitu.. Aku akan menyiapkan kalian kamar jika kalian tidak keberatan untuk tinggal di mansion ku saja.. Aku sedikit kesepian.." Ucap Alice masih sibuk merapihkan berkas-berkas itu.
π "Tentu aku tidak keberatan.. Aku akan memberitahukan Juna nanti.." Ucap Laristha senang.
π "Kenapa kalian ingin terburu-buru pulang? Bukankah kota F sangat tenang dan damai, sangat jarang kota namun pemandangannya layaknya sebuah padang gunung yang indah.." Tanya Alice lagi heran.
π "Seperti kau tidak tahu saja, dia sudah sangat ingin bekerja.. Bahkan hampir setiap hari dia mencoba diam-diam untuk melakukan olah raga berat di belakang ku. Dan kami harus berduel dulu agar dia mau mendengarkan ku." Keluah Laristha kesal.
π "Ya, aku tahu dia pasti akan seperti itu.. Dia sama saja dengan kak Roy dan juga Galih yang sangat gila kerja.. Untunglah Anton kini bisa menyesuaikan diri dengan ku sehingga aku tidak merasa di abaikan." Ucap Alice sambil tersenyum manis.
π "Kau seharusnya bertemu dengannya dulu.. Tuan sangat penggila kerja sebelum dia bertemu dnegan mu.." Laristha memberitahukan sesuatu yang tidak di ketahui oleh Alice.
π "Benarkah itu? Aku tidak tahu.. Tapi untunglah kini dia tidak seperti itu lagi.. Dia sangat meluangkan waktunya untuk ku." Ucap Alice sambil kembali menyunggingkan senyum indahnya saat mengetahui seseorang masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1
π "Haishh.. Aku sedikit cemburu kepada kalian berdua.. Baiklah sudah dulu ya.. Aku harus menyiapkan makan siang dulu, nanti aku akan menghubungi mu lagi.. Bye Al.." Ucap Laristha mencoba mengakhiri panggilan telepon itu.
π "He'em, oke kak Laristha.. Salam untuk kak Juna.." Ucap Alice sebelum memutuskan sambungan telepon itu dan kemudian meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya yang kini sudah tertata rapih dengan beberapa berkas yang tersusun.
Alice memandangi seseorang yang kini duduk di sofanya itu. Pria tampan yang menggunakan pakaian serba hitam, tubuhnya sangat terlihat atletis saat dia menggunakan kemeja hitam lengan pendek yang memperlihatkan beberapa hasil karya akibat olah raga rutin itu. Namun wajah pria itu tampak tidak bersahabat.
"Kenapa wajah mu tampak serius seperti itu?" Tanya Alice heran saat melihat raut wajah Anton yang tampak sedikit tegang dan gelisah.
"Apa ada sesuatu yang telah terjadi?" Tanya Alice lagi heran melihat perubahan mood suaminya itu dan duduk mendekati suaminya itu.
"Nanti kau akan tahu.. Kau ganti baju mu dengan pakaian hitam.." Ucap Anton singkat dan meminta Alice untuk mengganti pakaiannya itu.
"Hah? Ada apa?" Tanya Alice lagi masih geran dengan permintaan suaminya itu.
"Ayoo cepat kau ganti baju mu.. Kau akan tahu nanti.." Ucap Anton datar yang membuat Alice semakin penasaran.
"Ayoo.." Ucap Anton singkat dan merangkul pinggang istrinya posesif.
***
Alice diam di depan makan kedua orang tuanya.. Gadis itu menatap rerumputan yang kini menyelimuti pemakaman itu yang tertata dengan rapih.
"Ayah.. Ibu.. Alice sudah bahagia di sini.. Maaf Alice tidak bisa membalas dendam seperti apa yang mereka lakukan kepada keluarga kita. Namun Alice sudah merelakan semua kesusahan dan rasa sakit dan kesepian tanpa kalian selama ini. Aku sudah melepaskan dendam ini.. Ijinkan Alice berbahagia, dan maafkan Alice Ayah.. Ibu.." Ucap Alice lagi dengan air mata yang kini sudah membasahi kedua pipinya.
"Semua akan baik-baik saja sayang.. Tenanglah.." Ucap Anton merangkul pundak Alice dan mencium pelipis gadis itu mesra.
"Semua akan baik-baik saja.. Semuanya sudah berakhir." Ulang Anton dan mengetatkan pelukannya.
__ADS_1
***
Ya.. Alice tidak bisa membuat Jhon untuk bertanggung jawab terhadap perbuatannya di kata hukum karena pria itu meninggal beberapa hari setelah dia koma. Dan Belinda maupun Billy keduanya sudah mendapatkan hukuman berat atas perbuatan mereka selama ini.
Untuk Marina, dia tetap setia mendampingi anak dan sahabat hidupnya yaitu Billy, dia selalu mengunjungi lapas Belinda putrinya dan juga lapas Billy jika Maria memiliki waktu lebih untuk berkunjung.
Marina kini mendedikasikan dirinya di sebuah panti asuhan untuk merawat anak-anak yang terlantar dan untuk perusahaan Stary, semuanya bangkrut ditarik oleh bank dan keluarga itu bahkan tidak memiliki apapun lagi yang tersisa.
Belinda yang sebelumnya terobsesi dengan kekayaan keluarga Baskoro kini wanita itu lebih banyak berdiam diri.. Dia cukup puas saat mengetahui hampir setiap sebulan dua atau tiga kali ibunya berkunjung untuk menemaninya bercerita mengenai dunia luar.
Bahkan Marina sesekali mengunjungi menantunya Fiktor di penjara. Hidupnya kini terasa penuh perjuangan dan berharga di usia senjanya. Meski dia baru saja kehilangan suami yang selama ini mendampingi hidupnya selama ini, namun ini adalah kehangatan pertama dalam hidupnya yang penuh dengan arti kata bahagia.
Wanita tua itu benar-benar menikmati hidupnya menjadi wanita paruh baya yang tinggal di panti asuhan bukan lagi sebagai Nyonya Stary yang tinggal di masion mewah.
Sedangkan untuk Jeniver Zack wanita yang mencoba melakukan percobaan pembunuhan terhadap Jhon Markus di bebaskan dari segala tuduhan karena wanita itu memiliki gangguan kejiwaan. Wanita itu sudah dua tahun belakangan di perlakukan tidak baik oleh rumah sakit jiwa yang merawatnya di bawah perintah Jhon Markus, bahkan wanita itu di berikan beberapa terapi obat yang membuatnya benar-benar menjadi orang yang memiliki penyakit gangguan kejiwaan.
Hingga saat Jhon Markus tidak memiliki pengaruh lagi terhadap rumah sakit jiwa itu karena perusahaannya sendiri sedang mengalami collapse, Jeniver melarikan diri dari rumah sakit jiwa dan saat mengetahui keberadaan Jhon Markus, wanita itu mengambil sembarang obat yang ada di rumah sakit kepolisian dan terjadilah hal yang dilakukannya pada malam itu.
Sungguh ironis.. Jhon Markus meninggal secara tidak langsung karena perbuatannya sendiri yang menyebabkan Jeniver menjadi wanita yang memiliki gangguan kejiwaan. Bahkan Jeniver sama sekali tidak bisa mendapatkan hukuman penjara karena penyakit kejiwaannya akibat perbuatan Jhon sendiri di masa lalu.
***
"Janji ku untuk mu.. Aku akan selalu bersama mu menemani dan menjaga mu sampai maut memisahkan kita..."
....Tamat....
β€β€β€Terima kasih untuk semua dukungannya selama ini kepada karya pertama ku, JIHAN (Janji dan Penghianatan).. Terima kasih kepada sesama author maupun pembaca setia karena telah banyak meluangkan waktu untuk membaca karya sederhana ku ini, like, komen, gift, serta vote.. Sekali lagi TERIMA KASIH BANYAK atas dukungan kalian semua.. Salam sayang Vi4β€β€β€
__ADS_1