
Anton menghububungi ibunya memberikannya informasi bahwa Alice dan dirinya akan makan malam di rumah utama.
“Baiklah.. ibu akan menyiapkan semuanya.” Ucap Lidia dan mengakhiri teleponnya. Anton melihat kearah gadis yang di cintainya itu, dia tampak tenang menonton acara siaran di televisi.
“Apakah semua akan baik-baik saja?” Tanya Anton masih ragu dengan keputusan yang dia ambil. Alice memandang wajah kekasihnya dan tersenyum cerah.
“Apa yang kau khawatirkan.. semua akan baik-baik saja. Bukankah kau bilang ibu sudah menyetujui kita.” Ucap Alice meyakinkan Anton.
“Hemm kau benar..” Ucap Anton dan meyakinkan dirinya sendiri untuk tenang. Alice menyandarkan kepalanya di bahu Anton, menikmati waktu mereka bersantai di rumah itu menunggu hingga malam hari tiba.
“Ada lagi kah yang ingin kau bicarakan dengan ku? misalnya sesuatu yang kau sembunyikan dari ku.” Tanya Alice yang beralih dari televisi ke arah wajah kekasihnya itu.
“Emhh.. aku melakukan penyelidikan mengenai dirimu dan keluarga mu. Namun masih belum menemukan petunjuk. Selain itu.. emmmhh ada satu hal lagi.. mungkin kau akan marah, tapi sungguh aku melakukan itu untuk kebaikan mu..” Ucap Anton ragu untuk jujur, namun dia sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun juga dari kekasihnya itu.
“Baiklah.. apa itu, katakan.” Ucap Alice menyuruh Anton untuk mengatakan semuanya.
“Aku menyuruh Maya untuk mengikuti mu setiap kau memiliki misi yang berbahaya. Aku menempatkannya untuk melindungi mu, meski kenyataannya dia selalu gagal.” Ucap Anton jujur kepada Alice.
“Akhirnya kau bicara jujur juga.” Ucap Alice datar.
“Kau tidak terkejut?” Tanya Anton bingung dengan respon Alice.
“Awalnya aku tidak menyadarinya, namun setelah kau jujur bahwa kau adalah K, aku baru menyadarinya. Saat itu di ponsel mu, kamu menggunakan foto ku sebagai lock screen sekaligus wallpaper ponsel mu, padahal foto itu hanya di miliki oleh Maya. Namun setelah aku menyadari, selama ini Maya bersikap terlalu melindungi ku.. aku jadi berfikir bahwa dia adalah anak buah mu yang kau letakkan di samping ku." Ucap Alice.
"Bukankah kau sedikit licik, kau menggunakan segala cara untuk memantau dan melindungi ku. Namun aku tidak tahu apapun mengenai mu. Maka dari itu aku memberi mu hukuman selama beberapa hari ini, meski akibatnya aku juga harus menahan rindu padamu. Tapi semuanya telah berakhir. Aku tahu mulai saat ini kau tidak akan pernah menipuku lagi bukan, apalagi melakukan trick licik mu lagi.” Lanjut Alice ketus.
“Tentu saja, aku tidak akan melakukan trick apapun. Aku akan selalu jujur kepada mu, meski itu akan menyakiti kita. Tapi aku berharap meski begitu, tetep izinkan aku berada di sisi mu dan menjelaskan apapun alasannya itu. Bagaimana?” Ucap Anton meminta persetujuan Alice.
__ADS_1
“Baiklah.. aku berjanji, dan kau harus menepati janji mu.. tidak ada lagi kebohongan.” Ucap Alice. Kemudian gadis itu mendekatkan dirinya kepada Anton.
“Dan ini.. cup.. stampel perjanjian kita.” Ucap Alice yang menempelkan bibirnya ke bibir Anton dan melepaskannya cepat. Anton bingung dan mengeluh.
“Apakah stampelnya sepelit ini? Harusnya seperti ini.” Ucap Anton dan kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Alice mengecup, mencecep serta saling menggulum bibir dan mulai berciuman dalam. Alice mengalungkan tangannya di leher Anton. Pria itu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Alice, Anton memiringkan kepalanya dan memasukkan lidahnya, mulai menjelajahi rongga mulut kekasihnya itu. Mengabsen satu persatu gigi, saling menarik dan mengaitkan lidah mereka. Setelah ciuman panas itu, Anton merenggangkan pelukannya dan melepaskan ciuman mereka.
“Kau semakin pandai mengambil nafas dalam ciuman sayang..” Ucap Anton memuji kekasihnya itu, merapihkan helaian rambut yang berantakan di pelipis gadis itu.
“Aku pintar dan cepat dalam belajar Tuan..” Ucap Alice menggoda kekasihnya dengan nada sensual dan tangannya yang menggoda dada Anton.
“Baiklah, kau cepat bersiap sana, sebelum aku benar-benar tergoda oleh mu. Jika saja kita bisa menunda pergi ke rumah utama, aku tidak akan keberatan menghabiskan waktu bergadang semalaman dengan mu.” Ucap Anton menggoda dan mencium leher kekasihnya.
“Dalam mimpi mu Tuan mesum.. aku mandi dahulu. kau tunggulah sebentar.” Ucap Alice dan beranjak menuju kamarnya. Lari dari pria yang di cintainya itu, sebelum pria itu benar-benar menerkamnya.
Alice masuk dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah itu dia memilih dress selutut tanpa lengan dengan renda yang menutupi bahunya yang terbuka. Gaun berwarna kuning kunyit menjadi pilihannya. Alice menggenakan kembali cincin pemberian dari Anton dan memasangkannya kembali ke jari manis tangan kirinya.
“Sudah siap?” Tanya Anton.
“Hemm.. kita berangkat saja, takut macet.” Ucap Alice.
“As you wish, my princess..” Ucap Anton manis sambil mengulurkan siku lengannya untuk di gandeng Alice.
“Thank’s, my prince…” Ucap Alice tak kalah manis dan menyambut gandengan tangan kekasihnya itu dengan memegang siku lengan kekasihnya itu dengan kedua tangannya.
Mereka berjalan berdampingan keluar dari rumah menuju mobil yang di parkirkan Anton di depan rumah Alice.
Anton berjalan hingga pintu mobil penumpang kemudian membukakan pintu penumpang depan untuk Alice. Gadis itu tersenyum manis dan masuk ke dalam mobil, Anton membantu menutup pintu kembali. Dan secepat kilat, Anton berjalan mengitari mobil menuju tempat duduk pengemudi dan duduk di samping Alice.
__ADS_1
Anton memasangkan seat belt milik Alice. Mendekatkan tubuhnya menarik seat belt yang berada di samping Alice.
“Aku bisa melakukannya sendiri.” Ucap Alice, geli melihat tingkah laku Anton hari ini.
“Aku tahu, tapi aku ingin membantu mu, agar aku bisa melakukan ini.. cupp..” Ucap Anton dan kembali mengecup bibir pink mungil milik Alice.
“Tak bisakah melakukannya jangan di depan umum..” Keluh Alice, melihat kekasihnya yang tanpa malu mengecup bibirnya itu.
“Lihat.. tidak ada orang di sini..” Ucap Anton menolak permintaan kekasihnya itu.
“Astaga.. baiklah..” Ucap Alice akhirnya pasrah dengan kelakuan Anton yang baru saja di sadari gadis itu.
“Emhh kalau begitu, sekali lagi boleh dong.” Ucap Anton dan mulai mendekati bibir gadis itu lagi dan mulai **********.
“Anton hentikan.” Ucap Alice mendorong tubuh pria itu, dan mulai kesal.
“Kita nanti akan terlambat. Jalanan nanti keburu macet.” Lanjut gadis itu, mulai mengeluh lagi.
“Baiklah-baiklah.. kita bisa menyelesaikannya setelah pulang dari rumah utama.” Ucap Anton tenang dan kembali ke kursi duduknya dan mulai mengenakan seat beltnya.
“Ha? Apa maksudmu?” Tanya Alice bingung dengan ucapan kekasihnya. Gadis itu menghadap wajah kekasihnya yang duduk di sampingnya itu.
“Maaf, aku tidak bisa melepaskan mu hari ini sayang.” Ucap Anton menggoda menghadap wajah kekasihnya itu sambil menaik turunkan alis matanya. Kemudian Anton menghadap ke arah depan lagi, mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil itu menuju jalan raya.
Alice yang mendengar jawaban itu merinding sekaligus malu, gadis itu memalingkan wajahnya ke arah jendela yang ada di samping tubuhnya. Anton yang menyadari itu tersenyum geli melihat kekasihnya malu seperti itu.
Bersambung....
__ADS_1