
“Ini Tuan.” Ucap pelayan itu cepat memberikan tube obat oles untuk luka bakar itu.
“Anton kau akan kemana?” Tanya wanita yang juga memperhatikan situasi itu.
Pria yang di panggil Anton itu tidak menghiraukan panggilan sang wanita, dan malah pergi bergegas ke arah toilet. Kedua gadis itu diam mematung di sana melihat kejadian itu, kemudian Alice menyadarkan keduanya.
“Kita duduk di sana saja.” Ucap Alice dengan tenang dan mengajak Namira dan Jeni menunjuk sebuah kursi tak jauh dari sana.
“Kenapa tidak kau yang terluka saja.” Ucap Wanita itu melihat kearah Alice. Wanita itu berbicara tepat sebelum Alice beranjak memalingkan badannya namun gadis itu tidak menghiraukannya.
Disisi lain di dalam toilet..
“Aku akan membersihkan tubuhku.” Ucap Diego.
“Perlu aku bantu?” Tanya Auristela.
“Kau mau masuk ke dalam toilet pria?” Goda Diego.
“Emhh ti tidak mungkinlah. Bukan begitu maksud ku.” Kesal wanita itu.
“Ya sudah, haha.. sudah aku tidak apa-apa aku akan membersihkan diri ku, kau kesana saja bersama mereka.” Ucap Diego mengusir Auristela.
“Tidak mau, berikan aku jaketmu saja, aku akan membersihkannya.” Ucap Auristela dan mengambil jaket milik Diego dan masuk ke dalam toilet wanita. Kemudian pemudia itu masuk kedalam toilet pria.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Anton kepada Diego di dalam toilet pria.
“Emhh kau siapa? Apa maksudmu?” Tanya Diego bingung.
“Kebetulan aku ada saat kejadian tadi, kebetulan juga aku seorang dokter, biarkan aku melihat lukamu.” Ucap Anton.
“Oh baiklah.” Ucap Diego dan melepas baju kemejanya. Anton membantunya sedikit memberikan kompresan air untuk membersihkan sisa lengket di tubuhnya dan membantu pemuda itu mengoleskan obat luka bakar.
“Sudah.. semuanya akan baik-baik saja, tidak akan menimbulkan bekas luka jika kau memakaikannya sering-sering dan jangan menggarukknya, jika terasa panas kau bisa mengoleskan obat ini lagi.” Ucap Anton kepada pria itu.
“Thanks Dok.” Ucap Diego.
“Sama-sama.” Jawab Anton.
Setelah selesai pemuda itu segera keluar dan melihat Auristela berdiri tepat di pintu masuk toilet pria itu.
__ADS_1
“Bagaimana? Apakah parah?” Tanya Auristela dengan wajah khawatir.
“Tidak apa-apa tenang saja. Sudah di obati juga.” Ucap Diego menenangkan gadis itu dengan sedikit mengusap lembut kepala Auristela yang sedang khawatir itu.
“Hemm baguslah kalau begitu.” Ucap Auristela cepat dan sedikit tersipu dengan perlakuan Diego kepadanya.
“Yuk Laila dan yang lain pasti sedang menunggu.” Ucap Diego dan mengajak Auristela kembali ke teman-temannya itu. Saat mereka akan pergi dari toilet untuk menemui teman-temannya, mereka berpapasan dengan seorang wanita dengan dandanan yang sedikit tebal.
Anton keluar dari toilet dan langsung melihat seorang wanita yang berdiri menghalangi jalannya.
“Minggir Diana.” Kesal Anton kepada wanita itu.
“Kenapa? Bukankah yang tadi kekasihmu? Kenapa tidak menyapanya? Apakah kau malu dengan teman-temannya?” Lanjut wanita itu.
“Aku tahu itu perbuatan mu. Kau mencoba untuk mencelakainya. Jangan kira aku bodoh. Jika itu terjadi lagi aku tidak akan segan-segan kepada mu meski kau seorang perempuan. Pergi sekarang juga atau aku akan benar-benar menghancurkan mu saat ini juga.” Ucap Anton yang benar-benar sudah geram dengan tingkah wanita itu.
“Aaa itu bukan aku, aku tidak melakukan apapun.” Ucap Diana pura-pura bodoh.
“PERGI SEKARANG JUGA!!” Ucap Anton penuh dengan penekanan.
Wanita itu langsung pergi dari sana dan meninggalkan Anton sendirian, wanita itu pergi dengan mengepalkan tangannya hingga telapak tangannya memutih menahan amarah.
Makanan tiba Anton segera memakannya sambil tetap memperhatikan pujaan hatinya dari jauh yang sedang makan juga. Sungguh sebenarnya dia sangat ingin bergabung dengan meja mereka. Namun dia menyadarinya itu akan membahayakan penyamaran Alice.
Saat Alice berpamitan akan ke toilet sendiri, Anton berinisiatif juga pergi ke toilet. Pria itu menunggu Alice hingga gadis itu keluar.
“Hai sayang. ikut aku sebentar.” Ucap Anton dan menarik lengan gadis itu ke sudut ruang pintu darurat.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Alice penasaran.
“Emhh sebenarnya dari tadi aku ingin menghampiri kalian, namun aku takut aku akan mengacaukan pekerjaan mu. Jadi aku menunggumu sampai kau sendirian.” Ucap Anton sendu.
“Terima kasih untuk itu. Kau tidak membocorkan identitasku di depan mereka.” Ucap Alice.
“Lalu sebernarnya apa yang kau lakukan disini?” Tanya Alice.
“Emhh sebenarnya….”
Flashback On
__ADS_1
Tiga hari yang lalu.. siang hari di Rumah Sakit Kasih Ibu di kota A negara A.
“Dok Anton..” Sapa dokter Maria di selasar rumah sakit.
“Ahh ya Dok Maria..”
“Bisa bicara sebentar?” Ucap dokter maria serius.
“Hemm tentu, ke ruangan ku saja.” Ucap Anton dan mengajak dokter Maria ke ruangannya, yang tak jauh dari sana.
“Silahkan duduk.” Ucap Anton mempersilahkan dokter Maria duduk di sofanya.
“Ada apa sepertinya sangat serius.” Ucap Anton.
“Sebenarnya aku membutuhkan bantuan mu Dok, jika kau tidak keberatan tentu saja.” Ucap Dokter wanita itu.
“Bantuan apa?” Tanya Anton bingung.
“Sebenarnya besok aku harus mengisi acara seminar selama dua hari di kota S di negara B, namun tiba-tiba aku ada keperluan mendadak yang tidak bisa aku undur atau aku batalkan. Dan ini sangat mendadak sehingga aku tidak bisa meminta bantuan rekan yang lain Karena mereka kebanyakan memiliki jadwal oprasi."
"Emhh dokter Anton bisakah menggantikan ku? Aku mendengar dokter Anton akan cuti beberapa hari, namun aku tidak enak membatalkan mengisi acara itu, karena itu dari univeritas kita. Bisakah dokter menggantikan ku.” Lanjut dokter Maria memohon bantuan.
‘Emhh kebetulan, aku sangat merindukan Alice dan berniat mengambil cuti untuk diam-diam mengawasinya. Namun dengan menyetujui permintaan dokter Maria, aku bisa menemui Alice dengan terbuka, beralasan pertemuan yang tidak di sengaja karena aku memiliki acara seminar di kota itu. Sehingga aku memiliki alasan untuk tinggal lebih lama bersama dengannya di negara itu.’ Batin Anton
“Tentu, tidak masalah.” Ucap Anton.
“Itu sudah pasti, kau pasti menolaknya.. Ha? Apa? Kau bisa? Kau mau menerimanya? Benarkah itu.” Tanya dokter Maria tidak mempercayai pendengarannya.
“Iya aku bisa.” Ucap Anton.
“Ahh baguslah kalau begitu. Ini kode booking hotel dan pembayarannya sudah aku lakukan, untuk tiketnya coba aku atur dahulu untuk penerbangan pulang dan pergi mu.” Ucap dokter Maria.
“Tak perlu repot, aku akan menerima pesanan hotelnya saja. Yang lainnya akan aku urus sendiri.” Ucap Anton.
“Ahh begitukah, baiklah kalau begitu. Terima kasih Dok Anton. Aku akan mengirimkan semua materi dan yang lainnya lewat email.” Ucap dokter Maria dan pergi meninggalkan Anton sendirian di ruangannya.
Anton langsung pulang ke rumahnya dan mempersiapkan beberapa barang kebutuhannya. Sebenarnya selain merindukan Alice, alasan kepergiannya kali ini adalah untuk menghindari wanita pengganggu itu yang kadang selalu muncul di kantornya. Untunglah unit apartementnya memiliki keamanan yang sangat ketat, sehingga wanita itu tidak akan pernah bisa masuk ke tempatnya.
Bersambung....
__ADS_1