
Brak! Bunyi memekakkan telinga antara dua baja yang bersenggolan membuat telinga siapa saja yang mendengarnya sakit.
Tabrakan dari dua baja itu membuat orang yang berada di dalam mobil yang ditabrak sedikit mengalami guncangan namun tidak berakibat fatal ataupun terbalik. Namun sebaliknya mobil yang menabraknya tampak hancur pada bodi mobil dibagian depannya.
"Ohh sial!" Orang-orang yang berada di dalam mobil SUV hitam itu keluar dengan sedikit memegang kepala mereka dan langsung keluar dengan menodongkan senjata api dari tangan mereka.
"Bersihkan mereka semua.. Cari Alice." Perintah Anton kepada Alex maupun Juna dan Roy.
Juna dan Roy mengerti dan seger keluar dari dalam mobil memalui pintu samping mobil dan menodongkan dan segera menembakkan timah panas itu kepada para penculik.
Dor!
Dor!
Dor!
Anton Juna dan Roy bersembunyi di balik mobil anti peluru mereka dengan pintu terbuka untuk membantu mereka bersembunyi dan dengan cepat dan pasti menembakkan peluru mereka ke arah para penjahat itu.
Bunyi tembakan yang membuat selongsong peluru keluar dari pistol itu silih berganti dan saling bersahut-sahutan. Beberapa penculik yang tidak mengira dalam penyergapan mereka ternyata tim musuh memiliki para penembak handal di dalam tim itu dan membuat beberapa orang rekan kerjanya langsung tergeletak tidak bernyawa di atas aspal yang dingin dan kotor.
"Sialan! Mereka penembak handal!" Maki salah seorang yang bersembunyi di balik pintu depan pengemudi, mengetahui ketiga rekannya sudah mati tergeletak di tanah.
"Miki cepat masuk.. Kita mundur saja!" Perintahnya kepada pria yang menggunakan jas hitam bersembunyi dibalik pintu penumpang untuk mengamankan dirinya dari serangan peluru terbang itu.
"Baik Billy!" Ucap Miki dan langsung masuk dan menutup rapat pintu itu.
Mobil yang sudah hancur bodynya pada bagian depan namun nampaknya mobil itu masih mau bekerja.
Fromm!!
Dengan suara keras mobil itu mencoba untuk melarikan diri dengan mundur secepat mungkin, bahkan sampai melindas mayat rekan kerja mereka sendiri yang sudah tergeletak di jalanan tanpa kasihan.
"Mereka mencoba kabur! Jangan biarkan mereka kabur tembak ban mobilnya!" Seru Anton dan dengan segera terdengar bunyi letusan bebebrapa kali dia antara ban ban mobil itu.
Dor! Dor! Dor!Dor!
Keempat ban mobil meletus seketika dan membuat mobil oleng dan menabrak beberapa tumpukan sampah dan tiang listrik di bagian belang mobil.
Brak!
__ADS_1
Mobil sudah tidak bisa bergerak lagi kedua orang itu memilih keluar dari dalam mobil itu dengan menjadikan Alice sebagai sandra mereka.
"Bawa wanita itu keluar kita pergi dengan sandra!" Perintah Billy tegas.
"Baik!" Ucap Miki dan segera menarik wanita yang di culiknya dan menjadikannya tameng dari para peluru terbang itu.
Anton, Galih dan Juna menghentikan aksi tembak menembak dan melihat apa yang akan di lakukan para penjahat itu.
Alice yang masih pingsan di seret begitu saja dengan tubuhnya yang sedikit di gendong dan di seret dengan todongan pistol di antara kedua pelipisnya oleh kedua penjahat itu.
"Jika kalian berani menembak kami! Maka dengan cepat kami akan melenyapkan wanita ini!" Ujar Billy kejam.
Anton yang mendengar dan melihat adegan itu meradang dan dengan cepat memerintakhan Alex untuk melepaskan tembakan kepada kedua orang itu.
"Alex sekarang!" Perintah Anton dingin.
Dor! Dor! Dor! Dor! Empat tembakan dan di susul teriak kesakitan terdengar kemudian.
Argh!
Argh!
Kedua penjahat itu langsung mendapatkan tembakkan di kedua bahunya secara cepat oleh Alex. Billy dan Miki yang tidak tahu akan keberadaan sniper di sana langsung tertembak tepat di kedua bahunya dan mau tidak mau pegangan pistol di tangannya melepas dan tubuh Alice pun terlepas dari kedua tangan mereka.
"Lumpuhkan!" Ujar Anton dingin.
Bersamaan dengan itu kedua pria itu mendapatkan kembali tembakan lain yang menyusulnya kemudian.
Dor!
Dor!
Dor! Dor!
Argh!
Tembakan di kedua kaki masing-masing dari mereka membuat mereka berlutut tidak berdaya dan merasakan nyeri di kedua tempurung lutut mereka.
Roy dan Juna berjalan mendekati kedua penjahat itu.
__ADS_1
"Roy Juna mereka milik kalian! Introgasi mereka dan dapatkan dalang di balik semua ini! Bagaimanapun caranya aku pasti akan membantu kalian mendapatkan siapapun dalangnya dan menghancurkannya hingga sampai kedasar." Ucap Anton dingin.
"Kau.." Ucap Juna menggantung, sedikit bingung dengan situasi saat ini.
Orang sipil biasa tidak mungkin memiliki satu peti penuh pistol dan bahkan amunisi bahkan ada senapan laras panjang dan jangan lupakan mobil anti peluru dan baja kat menahan tabrakan dan benturan.
"Siapa kau?" Tanya Roy heran sama seperti Juna.
"Aku 'The K' ketua The Black Phanter." Ucap Anton pasti dan membuat Roy dan Juna membulatkan kedua bola mata mereka.
"Kita bahas ini nanti kita harus segera membawanya kerumah sakit." Anton dengan tenang mengangkat tubuh Alice dengan menggendongnya ala bridal style.
Juna dan Roy menurut dan mengikuti masuk kedalam mobil. Juna yang sudah menyelesaikan tugasnya segera memberikan titik lokasinya kepada Galih untuk mengambil dan mengamankan para penjahat itu.
Alex yang sudah selesai dengan pekerjaannya memantau di atas sana segera turun dan memasukkan senjata apinya dan milik tuannya kembali ke dalam peti senjata itu.
Alex segera menutup pintu bagasi mobil dan dengan cepat masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi membelah jalanan pada pagi buta itu menuju Rumah Sakit Kasih Bunda milik tuannya.
"Apa Alice baik-baik saja?" Tanya Roy dan Juna khawatir.
"Dia masih dalam pengaruh obat bius.. Aku harap dia dan janinnya baik-baik saja.. Untuk itulah aku ingin segera memeriksanya dengan alat-alat yang ada di rumah sakit." Ucap Anton sambil memandang wajah istrinya itu.
"Ahh ya aku lupa...Ini.." Ujar Roy menyerahkan pistol Desert Eagle yang dia gunakan tadi beserta amunisi yang ada di dalam tasnya.
Juna dan Roy yang akan mengembalikan senjata di hentikan oleh omongan Anton.
"Untuk kalian saja.. Aku masih banyak." Ucapnya santai.
Juna dan Roy tersenyum mengerti dan memilih memasukkannya kedalam tas yang melilit di tubuh mereka.
"Senjata yang bagus.. Aku suka.. Dan jangan kau minta lagi." Ucap Roy asal dan mengangumi senjata di tangannya.
"Tentu.. Jika masih ada yang kau inginkan ambil saja di belakang." Ucap Anton cuek.
"Kau mafia yang murah hati." Puji Roy.
"Aku murah hati kepada teman dan dingin hati kepada musuh." Ucapnya singkat.
"Dan untunglah kami tergolong sebagai teman.." Ujar Juna sambil sedikit tertawa.
__ADS_1
Bersambung....
🎉🎉🎉Happy New Year All.. Welcome 2022...🎉🎉🎉