
Juna terdiam dan melanjutkan ucapannya.
"Tentu saja aku akan menunggu mu sampai diri mu sendiri yang menyerahkan diri mu pada ku.. Aku mencintai mu dengan seluruh kekurangan dan kelebihan mu.." Juna mengecup bibir Laristha lagi dan lagi kemudian mencium bibir kecil itu dan melum@tnya dengan di sertai decap@n dan cec@pan yang di balas oleh Laristha.
Perlahan wanita itu menikmati dan membalas ciuman-ciuman itu sampai tangan Juna yang berada di samping tubuhnya beralih untuk memegang tengkuk wanita itu untuk memperdalam ciuman mereka.
Namun perlahan tapi pasti rasa ciuman itu sudah berubah menjadi panas. Tangan Laristha yang awalnya hanya berada di samping tubuh Juna memegang tepi baju pria itu, namun kini tangan itu sudah beralih di depan dada pria itu mencoba untuk memberikan mereka jarak.
Juna yang paham akan perubahan tubuh Laristha perlahan tapi pasti menurunkan dan memperlambat ciuman mereka dan perlahan lahan melepaskan ciuman itu.
Juna menempelkan keningnya di kening wanita itu. Sekilas Juna bisa mengerti ada tatapan sedikit takut yang terlihat sekilas dari mata wanita itu. Sorot mata Laristha berubah menjadi takut dan kalut, nafas mereka yang masih sama sama cepat namun Juna dengan cepat mencium ujung hidung Laristha dan kemudian mengecup kening wanita itu pelan dan dengan sepenuh hati. Perlahan hal itu membuat perubahan di mata wanita itu dan membuatnya melepaskan tangannya yang membuat jarak antara tangannya dan dada pria itupun terjatuh kembali di samping tubuhnya.
'Aku akan menunggu mu dan perlahan-lahan membuat mu menerima diri ku seutuhnya.' Batin Juna dan menatap langsung ke manik mata Laristha yang sudah berubah menjadi hangat dan penuh cinta lagi untuknya.
"Baiklah.. Lanjutkan lagi sarapan mu.. Setelah ini kita berangkat ke rumah sakit. Kau akan menemani Alice selama beberapa waktu.. Aku akan pergi ke kota X bersama Anton menyelesaikan kasus kami." Ucap Juna sambil mengusap lembut pipi Laristha.
"Berapa lama? Apakah aku perlu ikut?" Tanya Laristha lagi.
"Mungkin dua atau tiga hari.. Tidak perlu, kami membutuhkan mu untuk menemani Alice.. Bagaimanapun dia membutuhkan seseorang di sisinya." Ucap Juna lagi.
"Baiklah kalau begitu.." Ucap Larisha datar dan kembali memakan sarapannya.
Entah kenapa kini raut wajah Larisha tidak bersemangat seperti sebelumnya, bahkan wanita itu juga hanya memainkan makanan yang tersisa di piring makannya.
Juna yang sudah selesai dengan sarapannya melihat keanehan itu dan mencoba menggerakkan tubuh Larisha dengan kedua tangannya pada kedua bahu wanita itu agar mau menghadap kepadanya.
"Ada apa?" Tanya Juna yang mengangkat dagu Larisha dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
__ADS_1
"Tidak ada.. Hanya sudah kenyang.." Bohong Laristha dan enggan menatap pada manik mata Juna.
"Benarkah? Padahal kau tadi sangat lapar bukan? Jangan berbohong lagi katakan apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Juna lagi memaksa agar Larisha mau berbicara yang sesungguhnya.
"Ti..." Belum sempat Larisha menyelesaikan kalimatnya, Juna sudah lebih dahulu mengecup bibir kecil itu.
"Aku tidak akan pergi lama.. Aku pergi juga bersama dengan beberapa anggota RJP dan juga anggota The Black Panther.. Kita hanya melihat situasi langsung dan mencegah agar tersangka tidak mencoba bersembunyi atau bahkan melarikan diri. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.. Kau tenanglah.. Aku pasti akan segera kembali sebelum sempat kau rindukan." Ujar Juna sambil mengecup lagi bibir manis kekasihnya itu.
"Kau benar-benar bermulut manis.." Ucap Larisha sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya agar Juna tidak lagi mencuri ciumannya.
"Yaa.. Dan kau berbibir manis.." Goda Juna sambil menarik hidung mancung kekasihnya itu.
"Sudah cepat selesaikan makan mu.. Nanti kita terlambat.." Ucap Juna beranjak berdiri dari kursinya dan mengecup pelipis Larisha.
"Kau mau kemana?" Tanya Larisha yang melihat Juna beranjak pergi.
Ceklik.. Suara nada pintu tertutup dan mengunci otomatis.
"Huft.. Baru kali ini aku merasakan seperti benar-benar kesepian.. Padahal sebelumnya aku memang sudah terbiasa semuanya sendiri.. Semua ini pasti karena kehadirannya.." Gumam Larisha sambil melanjutkan sarapannya dengan tenang dan tidak memakan waktu banyak sarapannya pun selesai.
"Huft.. Belum apa-apa saja aku sudah sangat merindukannya bagaimana dengan nanti.." Ujarnya lagi sambil merapihkan meja bar dan beranjak untuk menaruh dan membersihkannya di wastafel pencucian piring.
"Siapa merindukan siapa?" Juna tiba-tiba muncul di belakang punggungnya yang sudah memeluk perut wanita dari belakang.
"Astaga mengagetkan ku saja." Ucap Laristha sambil melonjak kaget.
"Maaf.. Padahal bunyi kunci pintu otomatis sudah terdengar kencang, aku pikir kau sudah tau aku datang." Ucap Juna meminta maaf dan tidak lama melepaskan pelukannya dari belakang takut akan memicu trauma Laristha lagi.
__ADS_1
"Hemm.. Maaf aku melamun sebelumnya sehingga tidak menyadari dan tidak mendengar suara kunci pintu." Laristha kembali mengerjakan tugasnya dan merapihkan piring-piring itu di tempatnya masing-masing.
"Tidak apa apa.. Aku punya sesuatu untuk mu.." Ucap Juna dan pria itu melingkarkan sesuatu di leher Laristha dan kemudian menguncinya tepat di belakang tengkuk wanita itu.
Laristha yang terkejut reflek memegang sesuatu di lehernya dan membuat Larisha membalik wajahnya dan menghadap Juna.
"Itu kalung yang aku dapatkan saat aku mencari mu.. Entah mengapa aku merasa kalung itu cocok untuk mu.. Dan sebagai gantinya aku juga memakai kalung yang sama dan kau lihat ini.. Ketika ini di satukan ini akan terpasang dan menempel.. Di dalam ini juga ada GPS.. Jadi jangan pernah kau mencoba untuk melepaskannya." Ucap Juna serius sambil menyatukan kedua kalung mereka yang seperti satu buah lingkaran pasti.
"Baiklah.. Aku berjanji tidak akan melepaskannya." Jawab Laristha dengan janjinya.
"Jadi kau pergi ke apartemen mu untuk mengambil ini?" Tanya Laristha lagi penasaran.
"Hemm.. Tentu saja.. Biar kau selalu merasa aku selalu ada di sisi mu. Bolehkah aku memeluk mu? Aku pasti akan merindukan mu beberapa hari tanpa melihat mu nanti." Ucap Juna meminta izin kepada Laristha agar wanita itu tidak terkejut dan memicu traumanya.
"Tentu saja.." Ucap Larista dan membiarkan Juna memeluk tubuhnya dari belakang dengan erat. Laristha juga memeluk tangan kekar itu dengan erat yang sudah melingkari pinggangnya. Juna juga menaruh kepalanya di ceruk leher Larista dan menikmati bau harum tubuh wanita yang di cintainya itu yang bisa dengan seketika membuatnya sangat tenang dan damai.
"Aku juga pasti akan merindukan mu.. Sangat sangat merindukan mu.." Ucap Juna lagi dan terus memeluk erat wanita itu dan mendaratkan kecupan di rahang gadis itu dari belakang.
Seketika tubuh Laristha sedikit menegang dan dengan cepat Juna melonggarkan pelukannya perlahan lahan tanpa membuat tubuh Laristha takut ataupun kaget. Pria itu sedikit lupa dan terbawa suasana tadi.
"Ini aku.. Juna mu.. Aku yang sedang memeluk dan mencium mu.. Aku adalah kekasih hati mu.." Bisik Juna pelan di samping telinga Larista sambil perlahan lahan tubuh gadis itu mulai rileks kembali.
"Maaf aku sedikit terbawa suasana tadi.." Ucap Juna merasa bersalah tadi. Pria itu menegakkan tubuhnya sehingga kepala Laristha bersandar di dada bidangnya.
Larista diam...
__ADS_1
Bersambung....