JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Terjerat


__ADS_3

"Aku sangat merindukan mu.." Memeluk tubuh Laristha dengan erat.


Namun Wanita itu hanya berdiam diri tidak merespon pelukan itu dan bahkan kedua tangannya masih tetap setia di samping tubuhnya.


Juna melepaskan pelukan itu dan menatap Laristha yang hanya diam tidak merespon ucapan ataupun pelukannya, "Ada apa? Kau tidak merindukan ku?" Tanya Juna yang kini menampilkan wajah kecewanya.


"Terima kasih untuk hari ini.. Aku hanya butuh istirahat sebentar di sini, setelah itu aku akan pergi dari sini dan tidak akan merepotkan mu lagi."


Ucapan pertama Laristha yang keluar dari bibir wanita itu adalah perkataan yang menyakitkan bagi Juna.. Wanita itu ingin meninggalkannya lagi..


"Apakah sulit untuk mu memberikan ku kesempatan untuk memberikan sedikit ruang di sana?" Tunjuk Juna pada dada Laristha.


"Aku pikir aku akan pergi sekarang saja." Menghindari pertanyaan Juna dan hendak berjalan melangkah menuju pintu untuk keluar dari ruangan kamar itu.


"Aku mencintai mu Laristha.. Sangat.. Sangat mencintai mu.. Tidak bisakah kau melihat keseriusan ku dan ketulusan ku.. Aku mohon berikanlah aku kesempatan untuk membuktikannya dan memperlihatkannya kepada mu.." Juna memegang tangan Laristha yang mencoba untuk keluar dari ruangan itu.


"Kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari ku Juna.." Laristha melepaskan pegangan tangan Juna di tangannya.


"Bukankah cinta tidak bisa di prediksi Laristha.. Dan kini orang yang menempati hati ku adalah dirimu.. Ku mohon berikan aku kesempatan.. Dan berikan diri mu sendiri kesempatan." Ucap Juna lagi yang kini masih meminta agar wanita itu mau memikirkan ucapannya.


"Aku pergi.." Ucap Laristha masih melangkah menuju pintu keluar kamar itu.


Juna menatap punggung wanita di depannya yang hampir menghilang fi balik pintu, namun pria itu dengan cepat melangkah dan menuju pintu keluar itu dan menyusul Laristha.


"Aku akan mengantarkan mu.." Ucap Juna dan mengambil tangan wanita itu yang berada di samping tubuhnya dan kemudian menggenggam tangan Laristha.


Laristha kaget dan menatap wajah pria di sampingnya dan mengikuti langkah pria itu tanpa mencoba menepis kembali tangan yang besar dan hangat itu.

__ADS_1


"Aku akan membuat mu berubah pikiran.. Kau persiapkan saja diri mu.." Ucap Juna lagi di sela jalannya sambil menggenggam erat tangan wanita yang di cintainya itu.


"Kau keras kepala.." Gumam Laristha namun senyum sedikit mengembang di sudut bibir wanita itu.


"Aku belajar dari mu.." Kata Juna sambil melirik kearah wanita di sampingnya.


Ketika Juna dan Laristha hendak berjalan menuju parkiran mobil yang terparkir di pelataran hotel, tiba-tiba beberapa orang menghadang mereka.


"Wah wah.. Ternyata kau sudah bersenang-senang dengan orang kaya ya.. Hebat bahkan bisa bermalam di hotel bintang 5 seperti itu.. Wahh aku tidak meragukan kemampuan mu keponakan ku.." Ucap seorang pria tua yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Juna dan juga Laristha.


"Morgan! B@jing@n! Kau bukan Paman ku!" Umpat Laristha geram. Namun tubuh dan perasaannya masih tidak selaras. Tubuhnya bergetar hebat karena takut dan trauma terhadap pria itu namun di sisi lain wanita itu sangat ingin menghajar pria tua di depannya itu.


Hidupnya hancur dan berantakan setelah kehilangan bibi tercintanya, bahkan dia kesulitan setelah pria itu kembali bebas dari penjara dan mencoba menghancurkan sisa kekuatan dan kehormatan yang di milikinya.


"Mulut mu semakin manis keponakan ku tersayang.." Morgan semakin maju ke depan dan melihat wajah pucat namun masih tersirat emosi yang terpancar dari cahaya remang-remang lampu lapangan parkiran itu.


"Aku sedikit mengalami kesulitan keponakan tersayang ku.. Dan kebetulan aku melihat mu di restoran itu.. Bisakah kau membantu ku.. Itu tidaklah sulit, kau hanya perlu untuk menemani seorang tamu.. Aku hanya membutuhkan mu selama dua malam untuk menemaninya.. Bagaimana?" Ucap Morgan dengan wajah bengisnya.


"Kau tidak pernah berubah.. Manusia sampah tetaplah menjadi manusia sampah!" Gerutu Laristha sambil mengepalkan kedua tangannya.


Juna yang melihat perubahan di wajah Laristha dan mendengar pembicaraan pria tua itu jadi mengetahui sesuatu. Dengan cepat Juna menggenggam tangan wanita itu dan menguatkan wanita di sampingnya itu.


"Aku akan mendukung tindakan apapun yang ingin kau lakukan.." Bisik Juna di telinga Laristha.


"Jika kau bersikeras tidak mau pergi dengan ku dengan cara baik-baik, jangan salahkan aku jika membawa mu dengan sedikit kekerasan.." Kata pria tua itu dan menggerakkan jari telunjuknya memberikan kode kepada ketiga pria yang sebelumnya menghadang Juna dan Laristha menuju mobil mereka.


"Dan kau pria kaya.. Lebih baik kau lepaskan tangan wanita itu jika kau tidak ingin terlibat dan terluka karenanya." Ancam Morgan dengan senyuman merasa berkuasa.

__ADS_1


"Kau urus ketiga pria di belakang biar aku yang mengurus pria tua itu.. Aku tahu kau tidak bisa memukulnya karena trauma mu.. Serahkan dia pada ku, setelah pria tua itu selesai nanti aku akan membantu mu.." Bisik Juna kepada Laristha dan itu sukses membuat matanya membulat tidak percaya.


Bagaimana Juna tahu bahwa dia tidak bisa memukul pria tua itu, bahkan dengan memandang wajahnya saja tubuhnya sudah bergetar hebat karena ketakutan.


"Aku akan menjelaskan kepada mu nanti.. Bisakah kita menyelesaikan ini terlebih dahulu?" Pinta Juna yang membuat Laristha kembali sadar dari lamunannya.


Laristha kembali mengangguk mengerti dan segera membalikkan tubuhnya menghadap ketiga pria di depannya itu. Tubuhnya kembali normal dan bisa di kendalikan saat matanya terputus kontak dengan wajah Morgan.


"Kau pria kaya yang bodoh yang mau terlibat dengan wanita murahan dan lemah seperti itu!" Bentak Morgan kesal saat melihat pria di depannya sudah mulai maju kearahnya.


"Kau terlalu meremehkan lawan mu tuan.." Ucap Juna kesal karena ucapan pria tua itu.


Morgan dengan cepat menerjang tubuh Juna dan melayangkan tinjuan di wajah Juna namun dengan cepat Juna menangkapnya dan mematahkan tinjuan itu dengan memelintir tangan Morgan di belakang tubuhnya dan menjatuhkan tubuh besar itu ke tanah yang dingin.


"Lihatlah wanita yang kau bilang lemah itu dengan mata mu tuan..." Ujar Juna sambil memperhatikan Maya menangkis dan memberikan pukulan dan tendangan bertubi-tubi kepada ketiga pria di depannya itu dengan cepat dan pasti.


Mata Morgan membulat lebar melihat Laristha dengan sigapnya menangkis dan membalas pukulan-pukulan itu. Bahkan tidak satupun dari ketiga pria itu bisa menyentuh ujung baju wanita itu. Dan dengan sekejap ketiga pria itu tergeletak di tanah dengan meringkuk memegang perut dan tubuh mereka yang sudah babak belur.


"Kau terlalu meremehkan wanita itu.. Kau sudah membuatnya menderita selama ini bukan tuan Morgan.. Aku tidak mengerti mengapa kau bisa terbebas dari penjara lagi dan lagi.. Namun kali ini aku akan membuat mu masuk kembali kedalam penjara dan menghabiskan sisa hidup mu ini di dalam sana." Bisik Juna dan dengan cepat Juna memukul tengkuk Morgan dan pria itu dengan cepat kehilangan kesadarannya.


Juna bangun berdiri dan menghampiri Laristha, "Kau semakin lamban.." Ucapnya sambil membersihkan sisa debu pada punggung wanita itu.


"Terima kasih.." Ucap Laristha menatap langsung mata pria di depannya itu.


Juna tersenyum hangat kearah Laristha, "Aku akan menghubungi seseorang untuk menyelesaikan ini dahulu.. Aku akan memastikan mereka tidak akan pernah mengganggu mu lagi.." Ujar Juna dan segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Kau sangat baik.. Bagaimana bisa aku tidak terjerat oleh mu.." Gumam Laristha sambil melihat punggung Juna yang sedang sibuk menelpon seseorang itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2