
Juna bergerak dalam tidurnya dan membuat posisi tangannya yang menjadi bantalan kepalanya dan pria itu memiringkan kepalanya ke hadapan Maya. Matanya masih terpejam memeluk mimpi indahnya.
"Kalau di lihat-lihat kau tampan dengan hidung yang mancung dan rahang yang tegas serta bibir yang kecil." Bisik Maya sambil memperhatikan pria yang sedang tidur di samping kasurnya.
"Namun jika kau sudah bersuara kau sangat menjengkelkan dan berisik." Ucap Maya lagi dengan suara pelan.
"Sudah puas melihat wajah ku yang tampan tapi menjengkelkan ini." Ucap Juna yang masih memejamkan matanya namun berbicara dalam tidurnya.
"Tunggu! Kau tidak tidur! Kau berpura-pura tidur ya!" Ucap Maya menyerang Juna dengan ucapan-ucapannya.
"Tidak.. Aku tidur beneran.. Hanya saja saat Alice mengetuk pintu aku terbangun, namun mataku masih tidak ingin di buka saja." Ucap pria itu asal dan meregangkan punggungnya yang tertekuk selama beberapa waktu itu membuatnya sedikit kaku.
"Kau berarti mendengarkan aku bicara tadi?" Tanya Maya lagi.
"Tentu.. Kau bahkan merutuki ku." Ucap pria itu santai dan berdiri dan meregangkan badannya.
"Kau menyebalkan." Ucap Maya ketus.
"Ya aku mendengar itu. Si tampan yang menyebalkan." Ucap Juna yang memuji dirinya sendiri.
"Yuk.. Sebentar lagi kita menepi. Kau mau di sini saja atau bagaimana? Apalah luka mu masih sakit?" Tanya pria itu lagi.
"Tidak.. Aku sudah tidak apa-apa.. Aku akan ikut kalian." Ucap Maya yakin dan bergerak dan mencoba berdiri.
"Hei! Hati-hati.. Kau baru saja bangun dari oprasi." Ucap Juna dan membantu wanita itu untuk berdiri.
"Aku sudah tidak apa-apa, lagi pula itu hanya oprasi kecil. Jangan banyak mengeluh! Ayo cepat kita lihat ke atas." Ucap Maya dan mulai berjalan.
"Kau benar tidak apa-apa? Jika masih sakit kau berbaring saja. Kau tidak perlu melapor nanti dan istirahat saja, aku akan melaporkannya untuk mu." Ucap Juna lagi.
"Aihh.. Kau beneran cerewet sekali jika sudah bangun. Aku tidak apa-apa, luka bagi agen kita adalah teman. Sudahlah jangan diributkan membuat kuping ku panas saja." Ucap Maya dan berjalan sedikit cepat karena malas mendengarkan ocehan Juna.
__ADS_1
"Baiklah aku tidak akan bicara lagi tapi kau jangan berlarian seperti itu! Jalan santai saja." Ucapnya mengingatkan dan menarik tangan Maya agar wanita itu mau berhenti berjalan cepat.
Maya melirik Juna dengan kesal dan menyipitkan matanya kesal. Pria itu dengan cepat memberikan gerakan ibu jari dan jari telunjuk di rapatkan kemudian membuat garis lurus di atas bibirnya dan memberikan gerakkan mengunci di sudutnya. Mau tidak mau Maya yang melihat itu tertawa dengan tingkah konyol pria di depannya ini.
"Jika aku bukan anak buah mu, aku akan meragukan identitas mu sebagai kepala tim keamanan RJP." Ucap wanita itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Juna tidak berbicara namun pria itu memberikan gerak geriknya dengan mengangkat kedua bahunya dan kedua tangannya yang di tekuk dengan kedua telapak tangannya menghadap ke atas.
"Kau konyol!" Ucap Maya kembali tertawa dan mengabaikan gerakan-gerakan lainnya yang akan di perlihatkan Juna. Namun wanita itu lebih memilih mengabaikannya dan berjalan terus menuju ke geladak utama.
Saat sudah tiba di geladak, Maya melihat Alice sudah berada di sana. Gadis itu memandang lurus kedepan namun pikirannya seperti pergi menjelajah keluar dari tubuhnya.
"Kau di sini?" Ucap Maya menyadarkan lamunan Alice.
"Ah.. Ya.. Kau tidak istirahat saja? Wajahmu sedikit pucat." Ucap Alice saat melihat Maya sudah berdiri di sampingnya dan di ekor oleh Juna.
"Aku baik-baik saja." Ucap Maya mengingatkan.
"Abaikan saja dia Al.. Dia lagi puasa bicara." Ucap Maya dan terkekeh membayangkan hal konyol yang di lakukan Juna.
"Ahh.. Sepertinya kau sedang di hukum ya. Aku tidak mengerti bahasa isyarat tubuh mu. Jadi lebih baik kau diam saja." Ucap Alice yang bingung dengan gerakan-gerakan konyol Juna. Membuat Alice dan Maya terkekeh saat kedua wanita itu saling memandang satu sama lain.
"Baiklah.. Aku sudah puas melihat kalian berdua tertawa bahagia. Tapi aku harus pergi melihat situasi di dalam. Nikmati waktu kalian di sini aku ke dalam dahulu." Ucap Juna dan langsung pergi menuju dalam kapal.
"Sekarang kau tampak hidup." Ucap Maya saat melihat Alice berhenti tertawa.
"Dan kau tampak tidak kaku." Ucap Alice menimpali ucapan Maya.
"Jika kau membutuhkan bantuan ataupun teman bicara, aku akan siap kapan saja dan menjadi pendengar mu." Ucap Maya mengingatkan gadis itu. Alice yang mendengar itu sedikit terkejut dengan ucapan Maya namun kemudian gadis itu tersenyum.
"Tentu.. Aku pasti akan merepotkan mu." Ucap Alice dan kembali melihat ke arah dermaga di depan sana.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian kapal ferry mereka menepi di dermaga di kota A negara A dan beberapa petugas RJP yang sudah tiba di dermaga membantu mengamankan lokasi saat akan memindahkan para pelaku ke dalam mobil tahanan.
Beberapa petugas lain membatu kedua gadis yang di sekap turun dari kapal ferry menuju mobil, yang mendapatkan perlindungan ketat menuju rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut baik pemeriksaan fisik maupun mental mereka.
Mereka berharap pelaku kejahatan dalam kejadian ini segera di tangkap sehingga kejadian serupa seperti ini tidak akan pernah ada lagi.
Alice, Maya dan Juna masuk ke dalam mobil pribadi yang mengantarkan mereka langsung ke kantor RJP. Mereka harus melaporkan situasi kepada atasan mereka.
Dua jam telah berlalu dan mereka telah sampai di kantor pusat RJP. Alice memilih masuk ke dalam ruangan kerjanya dan membersihkan dirinya. Sedangkan Maya memilih pulang ke apartemen miliknya di temani oleh Juna yang mengikutinya.
"Kenapa kau mengikuti ku." Ucap wanita itu kesal. Karena Juna ikut berjalan masuk ke gang menuju apartemennya hingga memasuki lift apartemen itu.
"Aku tidak mengikuti mu. Aku memang tinggal di sini. Aku kan salah satu penghuni apartemen ini. Bukankah aku harus membersihkan diri ku sebelum melapor." Ucap Juna beralasan.
"Apa?? Kau tinggal di sini juga?" Tanya Maya tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Iya.." Ucap pria itu singkat.
Maya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Jangan-jangan pria ini...
"Jangan bilang sebenarnya kau adalah pemilik apartemen yang aku sewa? Dan kau menipu ku!" Ucap Maya lagi kesal.
Juna tidak bicara namun hanya mengangkat kedua bahunya saja.
"Argh.. Benarkan! Aihh kau menipu ku! Dasar kau penipu!" Kesal Maya dan memukul bahu pria itu.
"Hei aku tidak menipu mu.." Ucap Juna berdalih.
"Kau tidak menipu ku tapi kau menjebak ku!" Ucap Maya kesal. Dan berjalan keluar dari lift saat pintu itu telah berdenting dan membuka.
"Hei tunggu!!" Ucap Juna berlari mengikuti Maya.
__ADS_1
Bersambung....