
"Jun..." Panggil seseorang yang berjalan tidak jauh dari pintu rumahnya.
"Galih.. Sedang apa kau disini?" Tanya Juna heran melihat sahabat sekaligus rekan kerjanya berada di depan rumahnya pagi-pagi begini dan hendak keluar dari rumahnya itu.
"Emhh..." Galih sedikit bingung dan tergagap akan berbicara soal apa.
Pasalnya pria itu sudah berjanji pada Naira bahwa dia tidak akan menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada keluarga gadis itu. Tapi dia juga tahu meskipun saat ini dia merahasiakannya, lambat laun Juna pasti akan mengetahuinya juga dan mendengar laporan yang akan di berikan bawahannya kepada pria itu.
'Lebih baik memilih berbicara jujur saja ketimbang menjadi masalah nantinya.' Batin Galih.
"Ehem.. Hanya.." Belum selesai Galih menjelaskan maksud dan ucapannya, Naira segera keluar dari dalam rumahnya dan berlari dan menerjang tangan Galih dan melingkarkan tangannya di tangan pria itu.
"Kak Juna ini urusan anak muda.. Tolong kakak jangan membuat Kak Galih jadi merasa terintimidasi. Naira yang menyuruhnya datang kerumah." Ucap gadis itu dengan bergelayut manja di tangan Galih.
"Kaliann..." Ucap Juna menggantung.
"Tidakk.. Bukan begitu.." Belum sempat Galih ingin menjelaskan kesalah pahaman, Naira dengan cepat memotong ucapan Galih.
"Kakak jangan rese deh.. Udah sana masuk ke dalam.. Ayoo sayang kita masuk ke dalam rumah juga." Naira menyeret lengan Galih dan menariknya agar masuk ke dalam rumahnya.
Juna dan juga Laristha mengerutkan alis mereka bersamaan, heran dan bingung dengan apa yang baru saja di lihat mereka.
"Bocah itu pasti membuat masalah." Tebak Juna.
"Kenapa kau berfikir demikian?" Tanya Laristha heran meski dia sedikit meragukan ucapan gadis kecil tadi.
"Galih sedang berusaha move on, tidak mungkin dia secepat itu ingin menjalin hubungan dengan orang lain. Pasti gadis kecil itu yang membuatnya mau terlibat kesalahpahaman ini." Selidik Juna.
"Sudahlah.. Tidak apa, nanti kita juga akan mengetahuinya.. Kita masuk saja yuk.." Ucap Juna lagi dan mengenggam tangan Larista erat dan menuntunnya masuk kedalam rumah.
Larista berjalan berdampingan dengan Juna dan masuk kedalam rumah pria itu. Ini adalah kunjungan pertamanya menemui kedua orang tua pria yang menjadi kekasihnya itu.
__ADS_1
Meski sedikit gugup, namun genggaman erat tangan Juna di tangannya membuat wanita itu sedikit tenang dan merasa ada seseorang yang akan selalu bersamanya dan menemaninya.
"Wahh... Ada tamu rupanya.." Ucap Nesrine saat melihat anak gadisnya yang sedang merangkul tangan seorang pria dan tidak jauh dari belakang tubuh anak gadisnya itu, ada Juna dan juga Laristha yang berjalan mendekatinya di ruang keluarga.
"Wahh sungguh kejutan yang tidak terduga.. Kau pulang membawa sorang gadis kerumah Jun.. Dan tunggu.. Naira, siapa pria yang sedang kau gandeng?" Tanya Nesrine penasaran.
"Bu.. Kenalkan ini Kak Galih kekasih Naira dan sekaligus teman kerja Kak Juna." Ucap Naira menjelaskan siapa pria yang sedang dia rangkul itu.
"Hah? Sejak kapan kau..." Belum selesai Nesrine bertanya, Naira segera memotong ucapan ibunya itu.
"Bu.. Bukankah Kakak pulang dengan calon kakak ipar.. Seharusnya ibu bahagia bukan dan cepat lihat kakak ipar.." Ucap Naira cepat agar ibunya mengalihkan perhatiannya tidak kepadanya.
"Ahh kau benar juga.. Kakak mu ini memang jarang sekali pulang.. Ahh apa kalian sudah sarapan?" Tanya Nesrine kepada keempat orang yang ada di depannya itu.
"Kami sudah sarapan.." Ucap Laristha sopan. Juna juga mengangguk mengiyakan ucapan Laristha.
"Buu.. Kami lapar.. Kami belum sarapan.." Rengek Naira dan bergelayut manja di lengan wanita tua itu.
Nesrine mengajak kedua anaknya beserta kedua tamunya ke ruang makan dan meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan untuk putrinya dan juga kekasihnya. Sedangkan untuk putranya dan juga kekasihnya, Nesrine meminta pelayan untuk menyiapkan kudapan/deesert lainnya.
Tidak berapa lama seorang pria berumur datang dan duduk di ujung kursi makan.
"Sepertinya ruang makan ini jauh lebih hidup ya.." Ucap pria tua itu hangat.
"Ayah.. " Ucap Naira dan juga Juna bersamaan.
"Moment seperti ini sangat langka sekali.. Ayah senang kalian bisa pulang bahkan membawa orang yang penting bersama kalian." Ucap sang ayah sambil menatap kedua anaknya yang memang jarang sekali bisa berkumpul di atas meja makan.
"Perkenalkan saya Arsenio ayah dari kedua anak ini.. Dan ini istri saya Nesrine ibu dari kedua anak nakal ini." Ucap Arsenio dengan senyum hangatnya.
"Ayah ini Laristha kekasih ku.." Juna memperkenalkan Laristha kepada ayah dan ibunya.
__ADS_1
Nesrine sedikit heran Juna memanggil wanita di sampingnya dengan sebutan Laristha, bukankah dia Maya? Namun Nesrine lebih memilih diam dan mengabaikannya, pasti ada kisah di balik itu semua.
"Paman.. Saya Laristha.." Ucap Larista menunduk hormat.
"Kau sangat cantik.." Puji Arsenio hangat.
"Ayah ini Galih kekasih Naira.." Jelas Naira lagi yang membuat dahi ayahnya mengerut heran.
"Om.." Galih mengangguk hormat kepada pria tua itu.
"Tunggu sepertinya wajah mu tidak asing." Ujar Arsenio berusaha mengingat wajah pria di depannya itu.
"Ayah kak Galih tidak hanya kekasih ku dia juga merupakan teman kerja kak Juna. Ayah pasti pernah menemuinya." Ucap Naira cepat agar Galih tidak perlu berbicara apapun yang akan membuat kedoknya diketahui oleh keluarganya.
"Bukankah ini sudah berlebihan?" Bisik pelan Galih di telinga Naira.
"Ayah pasti pernah melihatnya dia pasti sering bertemu saat kak Juna mengajak temannya kerumah bukan." Ucap Naira lagi mencoba mengabaikan ucapan Galih.
"Tidak bukan.. Abang mu tidak pernah membawa temannya kerumah.. Aku yakin pernah bertemu dengan mu anak muda.. Ahh ya aku baru ingat.. Bukankah putra bungsu keluarga Adiwarman?" Tanya Arsenio memastikan.
"Benar Om.." Ucap Galih dengan mengangguk.
"Wahh aku tidak menyangka anak gadis ku bisa berkencan dengan salah satu anak sahabat baikku.. Jika begitu bukankah ini hal yang bagus.. Aku harus memberitahukan kepada Mario tentang hal ini.. Pria itu sedikit khawatir melihat mu anak bungsunya tidak pernah membawa gadis manapun kerumah dan kini kau malah main kerumah ku.. Dia pasti akan senang jika mendengar hal ini." Ujar Arsenio bahagia yang mana malah membuat Naira membelalakan matanya.
"Sial.. Aku menggali kuburan ku.." Gumam Naira pelan yang mana bisa di dengar oleh Galih pria yang duduk di sampingnya itu.
"Aku sudah memperingatkan mu Nona.. Dan kau membuatku dalam masalah besar." Bisik pria itu pelan kepada Naira.
Arsenio sangat bahagia saat melihat Naira bersama putra sahabatnya, pria tua itu juga bahagia saat melihat anak sulungnya membawa gadis yang dicintainya untuk datang berkunjung dan bertemu dengan keluarga mereka.
Arsenio, Nesrine, Galih dan Naira memakan sarapan mereka sedangkan Juna memilih mengambil kopi hitam kesukaannya. Laristha memilih memakan cake red velvet dan menemani mengobrol sambil makan dengan seluruh anggota keluarga Aguera itu.
__ADS_1
Bersambung....