
Alice membuka matanya perlahan-lahan dan menyesuaikan dengan cahaya di tempat itu. Cahaya yang terang dengan dominasi kamar berwarna pink dan beberapa asesoris pink lainnya.
"Emhh.." Gumam Alice sambil sedikit menggerakkan tubuhnya dari berbaring menjadi bersandar di kepala ranjang. Ternyata ini adalah kamar miliknya di apartemen di kota X ini.
"Kau sudah bangun Al? kau tidak apa-apa? kau sudah pingsan hampir seharian ini." Ucap Galih sedikit khawatir dan duduk di kursi di samping ranjang gadis itu.
"Aku tidak apa-apa." Ucap Alice namun air matanya malah mengalir deras membasahi pipinya. Matanya sudah bengkak dan wajahnya masih pucat dan bahkan tubuhnya terasa lemas.
"Apanya yang tidak apa-apa? apakah ada yang sakit? di bagian mana yang sakit?" Tanya Galih panik melihat Alice malah menangis. Pria itu duduk di pinggir ranjang Alice dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat.
"Apa yang sebenarnya terjadi Al? jangan buat aku panik. Haruskah kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi mu?" Tanya Galih lagi namun Alice menggelengkan kepalanya di dalam dekapan dada pria itu dan hanya mengeratkan pelukannya pada Galih.
"Galih.. aku.. aku.." Ucap Alice terbata-bata sambil menangis terisak-isak.
"Al.. apa yang terjadi? ada apa?" Tanya Galih lagi sambil mengusap-usap rambut panjang Alice mencoba menenangkan dan mencari tahu apa yang telah terjadi kepada gadis itu.
"Aku.. aku.. aku mengingat kejadian kecelakaan itu Gal.. hikss.. hiks.." Ucap Alice masih terbata-bata namun masih dapat di dengar jelas oleh Galih.
"Tenang.. tenang.. semua baik-baik saja sekarang.. tenang.." Ucap Galih sambil terus mengusap punggung Alice yang masih dalam pelukannya.
"I ibuu ku.. A aayah ku.. Hiks.. mereka semua meninggalkan ku.. Semua orang meninggalkan ku.." Ucap Alice menangis lagi dengan sangat menyayat hati.
"Sttt.. tenang.. Al.. aku ada di sini.. aku tidak akan meninggalkan mu.. Tenang Al.. tenang.." Ucap Galih terus menenangkan Alice dengan mengeratkan pelukannya dan mengusap punggungnya agar gadia itu tenang.
Galih terus saja menenangkan Alice yang terluka batinnya akibat mengingat kejadian saat dirinya mengalami kecelakaan itu. Pria itu dengan setia menemani Alice dan menjaganya. Hingga Alice mulai tenang dan hanya menyisakan wajahnya yang sembab dan memerah serta tatapan sendu dari gadis yang di cintainya itu.
'Andai aku bisa meredakan sakit di dalam hati mu.. aku akan melakukan apapun agar bisa membuat mu kembali tersenyum ceria." Batin Galih.
"Minumlah dahulu." Ucap Galih dan memberikan sebuah gelas berisi air di samping nakas tempat tidur Alice.
"Terima kasih Galih.. sungguh aku berterima kasih kepada mu." Ucap Alice dan memberikan sedikit senyumnya yang sedikit di paksakan.
__ADS_1
"Aku sahabat mu.. tentu saja aku akan selalu ada di sisi mu." Ucap Galih mengusap rambut Alice.
'Dan tentu saja kau juga adalah pujaan hati ku.. di dalam hati ku hanya ada dirimu. Bagaimana aku bisa mengabaikan orang yang ku sayang saat dia ada dalam masalah.' Batin Galih.
"Jangan beritahu kepada kak Roy maupun Juna. Aku akan tetap menyelesaikan misi ini bagaimanapun caranya. Setelah itu aku akan membalaskan dendam untuk kedua orang tua ku." Ucap Alice dengan penuh tekad di dalam hatinya.
Meski di sebagian hatinya pasti akan terluka karena dia harus membalaskan dendam terhadap kekasih hatinya Anton.
"Apapun keputusan mu aku akan mendukung mu." Ucap Galih dan mengusap lembut rambut Alice.
***
Sedangkan di luar kamar Alice.
"Apa yang terjadi? Aku mendengar seperti suara Alice menangis. Sepertinya dia sudah sadar." Ucap Maya yang keluar dari ruang kamarnya dan melihat hanya ada Juna di ruang tamu itu.
"Biarkan saja.. ada Galih di dalam sana. Aku yakin Galih pasti bisa menenangkan Alice." Ucap Juna tanpa rasa khawatir.
"Sudah tidak perlu khawatir. Jika ada apa-apa Galih pasti akan memberitahu kita." Ucap Juna masih santai dengan memainkan games di ponselnya.
"Haihh ya sudahlah.." Ucap Maya dan akan kembali masuk menuju kamarnya lagi. Namun belum sempat wanita itu akan masuk, tiba-tiba tangannya di cekal oleh Juna.
"Mau kemana kau?" Tanya Juna heran.
"Mau masuk ke kamar ku saja. Apa urusan mu?" Tanya Maya ketus. Juna hanya mengerutkan keningnya sebentar dan kemudian memiliki ide.
"Temani aku ke luar yuk." Ajak Juna cepat.
"Ihh kau saja sendiri aku sedang malas." Ucap Maya santai dan hendak berbalik lagi. Namun Juna masih belum melepaskan cekalan tangannya di tangan Maya.
"Ayolah temani aku sebentar saja." Ucap Galih dan menarik tangan Maya keluar dari Apartemen itu.
__ADS_1
"Ishh baiklah-baiklah.. tapi jangan tarik-tarik begini." Ucap Maya lagi dengan kesal, dan Juna melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Maya namun malah berpindah menggenggam jari-jemari tangan Maya.
"Hei!!.." Ucap Maya protes. Namun Juna tidak menghiraukan protes dari wanita itu dan tetap menggenggam tangan Maya masuk ke dalam lift dan menekan tombol menunju lantai dasar.
Tidak berapa lama Ting.. Liftpun sudah sampai di lantai dasar.
"Ayo cepatlah jangan banyak protes.. apa mau kau aku tarik seperti tadi lagi." Ucap Juna seenaknya agar wanita itu mau mengikutinya cepat.
"Ish.. mebyebalkan." Keluh Maya namun masih mengikuti langkah pria itu hingga lobby.
"Cepatlah.. aku sudah lapar." Ucap pria itu dan menarik Maya masuk ke dalam mobilnya.
"Bawel." Ucap Maya dan langsung mengenakan seatbeltnya.
Juna segera masuk ke dalam mobilnya dan mengenakan seatbeltnya juga dan kemudian dia mengendarai mobilnya menerjang keramaian di senja hari yang mulai ramai itu.
***
Sedangkan di rumah Pak Aldo..
"Tuan muda.. anda tidak apa-apa?" Tanya pak Aldo khawatir.
"...." Tidak ada jawaban dari Anton.
"Tuan.. mengapa anda tidak menjelaskan kebenarannya kepada nona Alice. Bahwa mobil Anda juga mengalami rem blong dan mobil mereka juga sama. Bahkan jika mobil anda tidak menabrak ke arah mobil mereka, Mereka pasti juga akan mengalami kecelakaan fatal juga." Jelas paman Aldo yang mengetahui tentang bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi.
"Lalu apa bedanya paman.. tetap saja itu adalah mobil yang aku kendarai. Apapun itu tetap saja adalah kesalahan ku." Ucap Anton sedikut sendu.
"Tapi itu adalah kecelakaan yang senggaja di buat seseorang untuk mencelakai kalian. Bukan maumu juga terjadi kecelakaan itu." Ucap paman Aldo lagi.
"Aku tahu maka dari itu, aku tidak akan membiarkan orang yang merencanakan niat jahat kepada Alice hidup tenang. Paman terus selidiki penyebab kecalakaan itu dan cari tahu siapa dalangnya serta bawa buktinya aku akan membalaskan dendam kedua orang tua Alice bagaimanapun caranya. Sekalipun diri ku sendiri." Ucap Anton penuh tegad. Dia harus menebus semua kesalahannya kepada gadis yang di cintainya itu.
__ADS_1
Bersambung....