
Juna baru saja tiba di depan apartemen yang Maya tempati. Pria itu membunyikan bel apartemen Maya beberapa kali namun tidak ada sahutan dari arah dalam.
Juna menelpon ke ponsel wanita itu namun panggilannya tidak dapat tersambung. Juna sudah mulai keringat dingin, cemas dengan keadaan wanita itu yang pulang tanpa memberitahu padanya.
Juna yang sudah kehilangan kesabaran karena sudah menunggu setengah jam di depan pintu apartemen Maya, memutuskan mengambil kartu akses apartemen wanita itu dan membuka pintu itu dengan cepat karena khawatir terjadi sesuatu pada wanita itu di dalam apartemennya.
Ceklek.. Pintu apartemen terbuka dari luar. Juna masuk ke dalam apartemen dan mulai mencari keberadaan wanita itu. Ruang tamu dan ruang pantry tampak kosong, membuat Juna lebih khawatir dan segera membuka ruang kamar gadis itu.
Juna membelalakan matanya saat melihat tubuh Maya yang terbalut kimono mandi tampak kesulitan dengan dua kruk alat bantu berjalan di tangannya.
"Arghh!" Teriak Maya spontan, kaget saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok pria tampan dengan wajah kusut di depannya.
"Ups sorry." Ucapnya namun pria itu tidak keluar dari kamar Maya dan tetap mematung berdiri di depan pintu kamar Maya yang terbuka.
"Kenapa kau masih disana, sana pergi." Ujar Maya ketus namun Juna meresponnya dengan tersenyum jahil.
"Hei! Pergi sana!" Teriak Maya lagi.
"Sepertinya kau membutuhkan bantuan ku.." Ujar Juna santai dan langsung masuk lebih kearah dalam kamar wanita itu.
"Hei! Kenapa kau maalah masuk? Pergi sana!" Teriak Maya namun Juna tidak menanggapi ucapan qanita itu. Juna dengan cekatan mengangkat tubuh Maya tanpa aba-aba apapun kepada wanita itu.
"Argh! Hei! Apa yang kau lakukan!" Ucap Maya syok saat tiba-tiba tubuhnya merasa melayang tidak menapak ke lantai.
"Kau baru selesai mandi?" Tanya Juna saat harum sabun yang mengguar dari tubuh Maya.
""Hei lepaskan aku!" Berontak Maya takut dan khawatir sebagian tubuhnya menempel langsung dengan pria itu tanpa halangan.
Juna dengan santai membawa tubuh Maya mendekati kearah kasur dan mendudukan wanita itu telat di tepi ranjang.
"Aku akan membantu mu.. Jangan banyak protes." Ucap Juna dan tanpa persetujuan wanita itu Juna membuka lemari Maya dan mengambil baju asal dan membuka beberapa laci di dalam lemari itu yang ternyata adalah pakaian dalam milik wanita itu.
"Hei!" Teriak Maya yang benar-benar sudah berwajah merah karena malu.
__ADS_1
Juna dengan santainya membawa pakaian pilihannya dan meletakkan di samping tubuh wanita itu.
"Cepat pakai, atau aku akan membantu mu." Ancam Juna dengan wajah liciknya.
"Tidak! Aku bisa memakainya sendiri. Kau pergi saja keluar dari kamar ku!" Perintah Maya lagi ketus. Wanita itu tampak marah dan juga malu.
"Ini hukuman mu karena kau kepuar dari rumah sakit dan tidak memberitahu ku!" Ucap Juna sinis.
"Cepat pakai! Aku tidak akan keluar dari kamar mu, aku hanya akan membalik tubuh ku." Ucap Juna yang membelakangi Maya.
"Cepat! Sudah belum?" Tanya Juna dengan senyum jahilnya.
"Ahh.. Tidak mau! Kau pergi saja!" Tolak Maya kekeh.
"Tidak akan! Kau cepat pakai sekarang atau aku benar-benar akan memasangkannya untuk mu!" Ancaman Juna berhasil membuat Maya bergerak mengambil penutup gunungnya dan mulai menggunakannya.
Maya sedikit kesulitan saay akan menyatukan kaitan gunung itu.
Juna yang melirik kearah kaca meja rias melihat Maya yang kesulitan. Pria itu menghembuskan nafasnya kasar dan kemudian membalikkan tubuhnya.
"Kau kesulitan.. Aku akan membantu mu." Juna kearah belakang tubuh Maya dan membantu mengaitkan benda itu.
"Sudah! Bereskan." Ucapnya santai.
"Sana berbalik lagi!" Ketus Maya kesal.
Juna dwngan senyum jahilnya menurut dan kembali membalij tubuhnya memunggungi Maya.
Maya kembali mengenakan penutup bagian bawahnya dan kemudian menggunakan piyama tidurnya.
"Sudah selesai! Sekarang kau keluar dari kamar ku!" Ucap Maya lagi yang kini raut kesal dan marah yang ada pada wajahnya.
"Rambut mu basah.. Aku akan mengeringkan rambut mu!" Ucap Juna dan beralih menggendong Maya menuju meja rias dan mendudukan gadis itu di sana.
__ADS_1
"Dimana hair dryer mu?" Tanya Juna.
"Disana." Tunjuk Maya pada salah satu lemari yang ada di meja riasnya.
Juna dengan sigap membuka lemari itu dan mengambil alat yang di carinya. Juna kemudian menyambungkannya ke songket listrik dan menyalakan alat itu. Juna mengeringkan rambut wanita itu dengan sisir untuk merapihkannya dan hair dryer untuk mengeringkannya.
"Sepertinya kau sangat ahli." Ucap Maya tersenyum sambil melihat Juna dari pantulan cermin di depannya.
"Aku sering melakukannya untuk Naira dan karena hal itu aku jadi ahli." Jawab Juna sambil tersenyum geli mengingat dia selalu melakukan itu terpaksa oleh adik kecilnya dan sekarang dia beruntung karena bisa melakuakannya untuk wanita pujaannya.
Deg! Deg! Jantung Maya terasa sedikit ngilu saat pria itu tersenyum dan menyebut nama gadis lain. Entah apa yang terjadi padanya namun dia benar-benar tidak menyukai hal itu.
"Sudah selesai.. Kau bisa keluar." Ucap Maya dingin.
"Ada apa dengan mu? Mengapa mood mu langsung berubah?" Tanya Juna heran.
"Tidak, bukankah dari tadi aku seperti ini." Jawabnya lebih dingin.
"Entahlah sepertinya aku merasa nada bi ara mu sedikit kesal." Ujar Juna jujur.
"Tidak ada. Mungkin hanya perasaan mu." Elak Maya dan tetap menunjuk pintu keluar kepada Juna.
"Baiklah aku akan keluar.. Tapi setelah membaringkan mu di kasur." Ucap Juna dan kemudian merangkul lagi gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Juna dengan sigap membawa Maya ke kasur dan membaringkannya di tengah-tengah kasur.
"Tugas ku sudah selesai. Aku tidak tahu ada apa dengan mu hari ini, tapi istirahatlah dengan baik. Aku akan berada di sofa luar." Ucap Juna kemudian mengecup cepat pelipis Maya yang langsung mendapat dorongan pada dadanya.
"Jangan pernah lakukan itu!" Ucap Maya ketus dengan kedua tangannya berada di dada pria itu mendorongnya.
"Ada apa dengan mu?" Tanya Juna heran.
"Tidak ada! Pergi sekarang!" Ulang Maya dan menoleh ke bagian sisi lain yang berlawanan dengan posisi Juna, Maya tidak ingin memandang pria itu.
Juna menghembuskan nafasnya kesal. Tidak tahu ada apa dengan wanita di depannya ini. Mungkin wanita itu lelah dan mungkin memang membutuhkan istirahat. Juna dengan sabar turun dari ranjang dan mulai menyalakan lampu tidur di samping nakas tempat tidur Maya. Kemudian Juna berjalan menuju pintu dan mematikan lampu utama kamar yang ada didinding di samping pintu keluar. Juna akan menutup pintu namun dia mengurungkannya dan menyembulkan wajahnya memandang wanita yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
"Istirahatlah agar kau cepat segera pulih." Ucapnya dan kemudian menutup pintu kamar Maya dengan rapat dan berjalan kearah sofa ruang tamu.
Bersambung....