
"Paman.. aku ingin istirahat.. bisakah paman meninggalkan ku." Ucap Anton meminta pak Aldo untuk meninggalkannya sendirian di kamarnya.
"Baik Tuan Muda." Ucap pak Aldo dan meninggalkan Anton sediri2an di dalam kamarnya.
Setelah kepergian pak Aldo anton mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.
"Paul.. selidiki semua hal tentang Fiktor Baskoro." Ucap Anton datar saat panggilan telepon itu tersambung.
"Baik Tuan.." Ucap Paul cepat. Kemudian Anyon mematikan sambungannya dan mencoba menghubungi nomor ibunya Lidia.
"Halooo Nak.." Ucap Lidia saat panggilan itu tersambung.
"Bu.. Terima kasih karena selama ini telah melindungi ku dan selalu berada di sisi ku.. tapi kini biarkan aku melakukan apa yang harus aku lakukan. Ku mohon jangan halangi aku. Dan untuk pernikahan, tolong batalkan semuanya." Ucap pria itu dengan suara bergetar.
"Nak.. ada apa? apa yang terjadi?" Tanya Lidia panik, entah mengapa dia memiliki furasat tidak enak.
"Aku sudah tahu semuanya Bu.. Bukankah ini alasan mengapa ibu menentang hubungan kita." Ucap Anton masih dengan suara bergetar.
"Astaga.. Jangan bilang kalau kau..." Belum selesai Lidia mengucapkan kalimatnya, Anton sudah memotong ucapan Lidia.
"Ya.. aku tahu.. aku akan mencari tahu kebenarannya dan melindungi Alice, meskipun aku salah satu orang yang bertanggung jawab atas ketidak bahagiaan gadis yang kucintai." Ucap Anton dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Anton.. Nak.. ini bukan kesalahan mu sendiri.. Nak.. kau juga mengalami kecelakaan itu. Jangan salahkan diri mu sendiri Nak." Ucap Lidia sudah menangis di sebrang teleponnya.
"Bu.. aku tidak apa-apa. Kumohon batalkan semuanya. Aku akan baik baik saja. Ibu terima kasih atas segalanya dan jaga kesehatan mu." Ucap Anton lagi dan kemudian menutup teleponnya.
Pria itu melempar ponselnya ke atas kasur dan merebahkan dirinya. Kepalanya pusing dan berat dia menatap langit-langit kamarnya sambil membayangkan wajah Alice.
Berat dan sulit untuk dirinya menerima kenyataan ini bahwa dirinyalah penyebab kecelakaan kekasihnya menderita kehilangan kedua orang tuanya. Bahkan dia harus menerima keputusan untuk jauh dari pujaan hatinya. Namun Anton juga tidak bisa menerima dirinya sendiri karena kesalahan masa lalunya. Pria itu ingin menebusnya dan bahkan menuruti semua keinginan gadis itu meski gadis itu menginginkan nyawanya sendiri. Maka dengan rela Anton akan menyerahkannya dengan ikhlas.
"Sungguh aku tidak bisa melihat wajah mu seperti tadi.. hati ku sakit saat melihat mu menatap ku penuh dengan kebencian. Meski demikian aku masih bisa melihat dari dalam mata mu bahwa kau ingin aku mengatakan bahwa ini bukanlah kenyataan. Namun inilah kenyataannya Alice. Aku tidak bisa berbuat apapun.. aku tidak bisa merubah masa lalu.. tapi aku bisa merubah masa depan. Aku akan membuat orang yang mencelakai mu dan kedua orang tua mu menerima akibatnya." Ucap Anton sambil menutup matanya dengan siku tangannya menutupi buliran air mata yang semakin mengalir deras dari pinggira matanya.
__ADS_1
"Aku sungguh mencintai mu Adeliana Fransisca Baskoro.. Maafkan aku.. hiks.. sungguh maafkan kesalahan ku.." Ucap pria itu terlarut dalam kesedihannya menangisi apa yang akan terjadi kedepannya tanpa kekasihnya di hidupnya ini.
***
Tok tok tok pintu kamar Alice di ketuk dari luar.
"Masuklah." Ucap Alice dengan suara seraknya akibat menangis berjam-jam tadi.
"Ini.. makanlah.. aku tahu kau sedang tidak berselera makan, namun ini juga demi kebaikan mu bukan. Bukankah kau bilang kau ingin menyelesaikan misi kali ini. Jika begitu makanlah dan bersemangat lagi." Ucap Galih panjang lebar sambil membawa nampan berisi makan malam untuk gadis itu.
"Hemm terima kasih. Kita makan di luar saja.. Kita makan bersama saja." Ucap Alice menyarankan dan beranjak dari atas kasur.
"Kau sudah tidak apa-apa?" Tanya Galih khawatir. Tadi pria itu masih melihat Alice masih mengeluarkan air matanya.
"Iya.. aku sudah tidak apa-apa." Ucap gadis itu mencoba untuk tetap ceria.
"Iya sudah ayo ke ruang makan." Ucap Galih dan mengajak gadis itu menuju ruang makan. Di atas meja sudah terdapat beberapa makanan fastfood kesukaan Alice dari pizza, spagethi, burger, kentang goreng, ayam krispy, toppoki, jajangmyeon, minuman berkarbonasi dengan ice cream dan beberpaa es cream cup.
"Apakah kau sedang mengadakan pesta?" Tanya Alice bingung melihat banyak makanan di atas meja makan itu.
"Kau benar-benar deh.. ohya kemana Maya?" Tanya Alice saat tidak mendengar atau melihat wanita itu.
"Mungkin dia pergi mencari makan bersama Juna." Ucap Galih acuh.
"Ah.. mereka berdua ternyata akrab juga." Ucap Alice mencoba mengalihkan pikirannya dari masalahnya sendiri.
"He'em.. sepertinya Juna juga jauh berbeda dari dulu sepertinya dia sedang tertarik pada Maya." Ucap Galih menjelaskan pikirannya.
"Benarkah? Baguslah jika kak Juna mau berhenti menjadi playboy." Ucap Alice tersenyum sambil mengambil toppoki dan mulai memakannya.
"Kau tidak makan nasi dan ayam? bukankah kau belum makan dari siang tadi?" Tanya Galih saat melihat makanan pilihan Alice.
__ADS_1
"Bagaimana kau tahu? Tidak.. aku sedang tidak berselera.. Ini saja cukup. Ohya bagaimana kau tahu aku ada di sana?" Tanya Alice lagi.
"Aku memang mengikuti mu sejak kau keluar dari apartemen dan saat kau keluar dari pure bar." Ucap Galih jujur.
"Terima kasih karena telah menolong ku saat aku akan tertabrak tadi." Ucap Alice sambil terus menyuapkan toppoki ke dalam mulutnya.
"Ya sama-sama." Ucap Juna singkat.
"Kau tidak mau menanyakan aku menemui siapa di pure bar dan melakukan apa?" Tanya Alice penasaran mengapa Galih tidak menanyakan apapun kepadanya.
"Tidak.. karena aku yakin jika kau sudah siap, apapun itu kau pasti akan menceritakannya kepada ku." Ucap Galih dengan tenang dan mulai makan kentang goreng miliknya.
"Aku menemui Bahar Angkasa di sana." Ucap Alice memberitahukan kepada Galih mengapa gadis itu pergi ke bar.
"Apa yang dia lakukan? mengapa kau keluar dengan tergesa-gesa?" Tanya Galih yang mulai penasaran.
"Dia mengatakan sesuatu, tapi ini tidak ada hubungannya dengan kasus.. Dan malah berhubungan dengan kehidupan pribadi ku." Ucap Alice kemudian diam sesaat dan kemudian mulai berbicara lagi.
"Hentikan menggali informasi mengenai Lidia dan hal lainnya. Aku sudah tau siapa diri ku sebenarnya dan siapa musuh ku." Ucap Alice lagi sambil menggenggam sumpit di tangannya sambil membayangkan wajah Anton. Sedikit rasa ngilu di hatinya saat membenci pria itu.
"Baiklah aku akan menghentikan pencarian itu.. beritahu apapun jika kau membutuhkan bantuan ku." Ucap Galih lagi.
"Ya.. tentu saja." Ucap Alice dan kembali mengambil toppokinya dengan sumpit namun gadis itu meletakkan toppokinya beserta sumpit itu dan malah mengambil minuman berkarbonasi dengan ice cream itu dan mengaduknya agar menyatu.
"Besok aku akan mulai misi lagi. Beritahu tim untuk tetap bersiap di bagian masing-masing." Ucap Alice dan mengambil ice cream vanila cup dengan lelehan coklat dan kacang di atasnya.
"Kau tidak makan lagi?" Tanya Juna yang heran Alice malah mengambil ice cream dan mengabaikan toppokinya beserta makanan yang lainnya.
"Mood ku sedang jatuh ke dasar." Jawab gadis itu datar dan menyendok besar ice ream vanila dengan lelehan coklat itu lalu memasukkannya kedalam mulutnya.
"Baiklah.. lakukan apapun mau mu.. apa perlu aku masukan ke freezer kedua ice cream ini agar saat kau memakannya masih beku?" Tanya Galih lagi kepada kedua cup ice cream vanila yang memiliki lelehan selai strowbery dan coklat lainnya.
__ADS_1
"Tidak perlu.. aku akan memakannya sekarang." Ucap Alice yang sudah dengan cepat menyelesaikan satu cup ice cream vanilanya itu.
Bersambung....