
Alice yang sudah tiba di kantor pusat RJP meminta beberapa ear pice agar terhubung dengan misi yang di lakukan Juna. Gadis itu juga dengan cepat meminta laporan situasi yang terjadi dan membelalakan matanya saat mendengar laporan terakhir.
"Apa? Kak Juna.. Berikan kunci dan beberapa senjata." Ucap Alice cepat kepada anak buahnya yang berada di dalam kantor.
"Baik Bu.." Ucap pria itu dan dengan sigap menyerahkan senjata api dan beberapa magasin pistol.
Alice mengambilnya dan menggunakan sebuah belt yang diikatkan di pahanya dan lengan bagian atasnya kemudian meletakkan senjata apinya di sana.
"Kak.. Ini milik mu.." Ucap Alice menyadarkan Laristha dari lamunannya
"Aku yakin kak Juna pasti baik-baik saja." Ucap Alice mencoba tenang dan menyerahkan pistol kearah Laristha. Meski air matanya tampak menggenang di pekupuk matanya.
"Kau akan ikut dengan ku kan kak?" Tanya Alice lagi sambil menyodorkan senjata api itu kehadapan Laristha.
Laristha menatap langsung kedalam manik bola mata Alice yang tampak berembun sama seperti miliknya. Meski Laristha masih dalam keadaan yang sudah tampak kacau namun dia mencoba untuk tenang seperti Alice.
"Ya.." Ucapnya seperti cicitan dan mengambil pistol itu dan beberapa amunisi di dalam tas pinggang yang di berikan Alice.
Alice menyalakan ear pice yang terhubung dengan anggota regu tim yang lainnya yang tampak sedikit ramai dan kacau itu akibat Juna yang tiba-tiba hilang kontak.
"Bagaimana ini? Sekarang apa lagi yang akan kita lakukan? Siapa yang akan memimpin?" Tanya salah satu regu di sana.
"Biar aku yang memimpin!" Ucap salah satu regu lain.
"Biar aku saja yang memimpin aku lebih dekat dengan target." Ucap salah satu tim regu lainnya.
Situasi di dalam ear pice tampak sedikit kacau.
__ADS_1
"Diam! Aku Alice Anatasya akan mengambil tempat pemimpin! Laporkan situasi kalian sekarang!" Perintah Alice tegas dalam ear pice yang terhubung membuat beberapa orang yang terhubung di sana menjadi kaget.
Beberapa laporan dari masing-masing tim regu segera di laporkan kepada Alice.
"Dimana lokasi mereka sekarang?" Tanya Alice datar.
"Kami menemukan mereka mencoba masuk kedalam sebuah kota yang terbengkalai yang ada di kota G." Jawab salah satu regu yang membuntuti mobil Jhon.
"Aku sedang menuju lokasi melalui jalan lain. Tetap pada pekerjaan kalian sebelumnya. Setelah ini kita akan membahas sikap kalian yang sedikit tidak kompeten!" Ujar Alice dengan nada dingin yang membuat beberapa orang kepala tim regu sebelumnya malu dengan tingkah mereka.
Alice mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang lenggang dia mendapatkan lokasi dimana Jhon berada. Gadis itu menggenggam setir kemudi dengan erat. Bagaimana bisa anggotanya di kota X ini sangat keterlaluan. Mereka bukannya segera melakukan tugasnya dengan saling berkoordinasi, mereka malah saling memperrebutkan posisi pemimpin dimana Juna saat ini masih belum bisa di hubungi dan tidak tahu bagaimana keadaan pria itu.
Sepertinya mereka harus mentatar semua anggota di kota X ini. Alice melirik kearah Laristha yang duduk di kursi penumpang di sampingnya. Wanita itu tampak kalut dan cemas yang dapat terlihat dari genggaman dan r€masan di ketua tangannya yang berada di atas pangkuannya.
"Semuanya pasti akan baik-baik saja." Ucap Alice mencoba menenangkan Laristha dan juga lebih kepada menenangkan dirinya sendiri.
"Tim medis dan pemadam kebakaran sudah tiba di lokasi.. Mereka segera memadamkan api dan mencari keberadaan Kak Juna dengan tim regu 3 yang mungkin kak Juna mencoba menyelamatkan dirinya di rawa-rawa itu sebelum mobil itu meledak.. Kita berdoa dia benar-benar keluar dari mobil itu." Ucap Alice lagi dengan menggenggam lebih erat kemudi mobilnya dan tanpa terasa tetesan air mata mengalir di pipinya dan segera dia bersihkan.
"Kita harus mendapatkan Jhon agar pria itu bisa mendapatkan balasan atas perbuatannya." Ucap Alice lagi dan tanpa terasa tetesan lainnya kembali membasahi pipinya dan segera gadis itu hapus.
"Heemmmm." Hanya gumaman Laristha yang dapat keluar dari tengorokan wanita itu.
Kerongkongannya terasa kering dan tercekat dadanya sedikut sedak namun semuanya dia coba tahan untuk melanjutkan misi pria itu yang belum selesai.
Sedangkan di sisi lain..
"Paul bagaimana situasi Juna? Apa tenanga medis dan para pencari sudah tiba di lokasi?" Tanya Anton.
__ADS_1
"Sudah tuan.. Mereka sedang memadamkan api dan mencari Juna.. Tim yang berada di belakang kita sebelumnya sudah aku kerahkan agar memantau situasi di sana." Jawab Paul cepat.
Anton menggenggam kemudinya erat pria itu marah dan tidak berdaya saat melihat mobil Juna yang mencoba menabrakkan diri ke pembatas jalan dan terpelanting masuk kedalam rawa-rawa sedangkan mobil lainnya menabrak pohon di ladang yang luas. Dia hanya bisa melihat kejadian itu tepat berada di depan matanya karena mereka tepat berada di belakang mobil Jhon yang sedang di apit oleh kedua mobil tim RJP.
Jika dia mencoba menghentikan mobilnya dan membantu Juna dia pasti akan kehilangan jejak Jhon yang melarikan diri. Jadi Anton memutuskan menyuruh mobil salah satu anak buahnya yang tepat berada di belakangnya dan meminta agar memantau kondisi Juna.
"Sialan pria tua ini benar-benar licik.. Aku tidak akan melepaskannya." Ucap Anton geram sambil mengeratkan genggamannya di stir mobilnya.
Anton terus membuntuti mobil Jhon yang memasuki kota terbengkalai di pinggiran kota G yang kemudian memasukkan mobilnya di salah satu gedung tua di sana.
"Bagus.. Akhirnya dia berhenti juga.. Ayo kita masuk.." Ucap Anton saat berhenti di suatu tempat dan memperhatikan Jhon dan juga seorang pria keluar dari mobil itu.
"Baik tuan.. Tapi beberapa orang kita masih belum tiba, apakah sebaiknya kita masuk saat semuanya sudah tiba saja?" Saran Paul saat melihat Anton sudah tidak sabar untuk menyerbu temoat persembunyian Jhon.
Ya.. Beberapa mobil anak buahnya dan juga RJP masih tertinggal di belakang dan belum terlihat.. Paul khawatir jika sesuatu yang buruk akan terjadi di dalam nantinya.
"Kau takut Paul?" Tanya Anton sambil memberikan senyum sinisnya.
"Tentu saja tidak tuan.." Jawab Paul cepat.
"Baiklah kalau begitu kita masuk sekarang." Ucap Anton dan mengeluarkan senjata apinya yang di sembunyikan di balik bajunya dan mengambil beberapa magasin pistol untuk mengisi ulangnya kembali.
"Tentu saja tuan.." Ujar Paul menimoali dan melakukan hal serupa dengan Anton yang membawa beberapa pistol berserta amunisinya.
Anton dan Juna berjalan perlahan dengan tangan yang di angkat sejajar dengan bahunya dan pistol berada di genggaman jarinya. Pistol sudah di kokang agar siap saat meraka akan melakukan penembakan. Paul berjalan di sebrang dengan Anton dan memantau situasi.
Bersambung....
__ADS_1