
Alice segera naik lift dan turun ke lantai
dasar, gadis itu menggerek kopernya hingga lobby dan menolehkan kepalanya
mencari mobil Maya. Maya menghampiri Alice dengan mobilnya, yang sebelumnya
parkir tak jauh dari sana.
“Terimakasih Dok Danita.” Ucap Alice dan
mengerek kopernya kebelakang mobil dan membuka bagasi mobil itu. Alice
memasukkan koper kecilnya kedalam bagasi dan mulai masuk ke dalam pintu
belakang penumpang.
Maya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang
dengan arahan dari Namira, karena saat ini mereka akan pergi ke rumah kontrakan
miliknya.
“kalian sudah makan siang?” Tanya Maya.
“Belum.” Jawab Alice, Namira hanya diam saja.
“Kita makan saja dulu ya.” Ucap Maya.
“Boleh Dok.” Ucap Alice tanpa ada rasa
canggung.
“Emhh dari sini masih jauhkah kontrakkannya?” Tanya
Maya kepada Namira yang sedari tadi lhanya diam.
“Emhh tidak Dok.” Jawab Namira.
“Baiklah kita ke ruko ini saja ya, fastfood
tidak masalah kan?” Tanyanya Maya kepada kedua gadis itu. Saat melihat toko
makanan fastfood yang bersebelahan dengan toserba yang lumayan besar.
“Iya.” Ucap keduanya.
Alice, Maya dan Namira turun dari mobil yang di
parkirkan Maya tidak jauh dari pintu tempat makan itu.
Mereka memesan makanan, Alice yang berinisiatif
membayar makanan mereka.
“Aku akan mentraktir Dokter dan Namira karena
sudah mengantarkanku tadi.” Ucap Alice asal.
“Ahh baiklah jika begitu.” Ucap Maya dan
memberikan senyum kepada Alice.
“Kau cari saja meja untuk kita.” Ucap Alice kepada
Namira.
Namira menuruti perkataan Alice dan pergi
mencari meja yang kosong untuk mereka bertiga.
“Gadis itu tidak akan mau menerima jika tidak
ada sesuatu hal. Sepertinya dia sedang kesulitan.” Ucap Alice.
“Hemm ya, aku juga dapat melihatnya.” Ucap Maya.
Alice dan Maya membawa nampan isi makanan dan
membawanya menghampiri Namira yang sedang duduk. Namira bangkit saat melihat
Alice dan Maya menghampirinya.
“Biar saya bantu.” Ucap Namira kepada Maya,
saat melihatnya membawakan nampan berisi makanan itu.
“Tidak masalah. Duduk saja.” Ucap Maya. Namun sepertinya
gadis itu enggan untuk beranjak, sehingga Maya mengalah dan membiarkan gadis
__ADS_1
itu untuk membawakan nampannya yang berisi berbagai makanan itu.
Maya duduk dahulu di susul oleh Alice dan
meletakkan nampan di atas meja. Namira juga meletakkan nampan berisi makanannya
di atas meja. Mereka semua duduk dan memulai makannya sambil sesekali berbicara
mengenai hal-hal yang sederhana. Mereka menyelesaikan makanan mereka kemudian
beranjak pergi dari sana.
“Tunggu.. bisakah kita ke toserba dahulu.” Ucap
Alice. Namira sedikit mengerutkan keningnya.
“Emhh baiklah.” Ucap Namira. Maya hanya diam
dan mengikuti kedua gadis itu.
“Apa yang sedang kamu butuhkan?” Tanya Namira.
“Sedikit bahan pokok, aku membutuhkannya untuk
makan malam kita nanti.” Ucap Alice.
“Ahh sebelah sini.” Ucap Namira menunjukkan
jalan lorong bagian bahan mentah sayuran maupun daging.
“sepertinya kau sudah sangat sering kemari.” Tanya
Alice.
“Aku bekerja di sini.” Ucap Namira sedikit
tidak enak.
“Oh, lalu kenapa kamu sedikit tidak nyaman? Apa
kamu tidak nyaman kita berbelanja disini?” Tanya Alice.
“Emhh tidak, aku hanya takut kalian tidak
nyaman jika ada yang mengenali ku disini.” Jawab Namira jujur.
“Tidak masalah.. emhh sejujurnya Namira, aku
bekerja? Selain aku juga ingin mandiri, aku juga tidak ingin berada di rumah
sendiri.” Ucap Alice sedikit berbohong.
“Kau ingin bekerja? Benarkan? Kau yakin?” Tanya
Namira serius.
“Iya aku yakin, dan aku serius tentang itu. Jadi
bolehkah aku?” Tanya Alice dengan wajah memelas.
“Emhh oke. Lagi pula kita memang membutuhkan
satu pekerja lagi, nanti aku akan menemui manager toserba ini.” Ucap Namira.
“Teriama kasih Namira.. Tapi nanti aku ingin
jam kerja ku dan kamu selalu bersama ya.. please… aku tidak mau sendirian di rumah”
Ucap Alice sendu.
“Baiklah.” Ucap Namira setuju dengan usulannya Alice
itu.
“Terima kasih banyak Namira.”Ucap Alice dan
memeluk gadis itu.
Alice menyelesikan belanjaannya dan membayar
tagihannya, sedangkan Namira izin pamit menemui managernya untuk memberitahukan
perihal pekerjaan untuk Alice. Namira menghampiri Alice dan Maya saat gadis itu
sudah bertemu dengan managernya itu.
“Dia bilang setuju, dan bisa mulai bekerja saat
aku masuk bekerja besok.” Ucap Namira memberikan informasi kepada Alice.
__ADS_1
Alice memeluk Namira kembali karena sudah
meykinkan bosnya untuk menerima Alice bekerja. Alice membawa barang
belanjaannya dan masuk ke dalam mobil, Maya dan Namirapun membantu memasukkan
barang belanjaan itu ke dalam mobil, merekapun melanjutkan perjalannan kerumah
kontrakkan Namira.
Rumah susun enam lantai itu terlihat lusuh
karena cat yang sudah pudar di beberapa sisi, dan bahkan beberapa bagian
tertutupi debu bahkan lumut. Namira mengajak Alice dan Maya masuk menaiki lift
dan menuju lantai tiga. Namira berhenti di depan rumah kontrakkan bernomor 308,
gadis itu membuka kuncinya menggunkana sandi danmembuka heandle pintu.
“Mari masuk.” Ucap Namira kepada kedua orang
itu. Rumah yang minimalis namun tetap bersih dan tertata rapih setiap perabotan
di rumah itu.
“Silahkan duduk.” Ucap Namira sambil
mempersilahkan duduk di sebuah sofa minimalis berwarna merah maroon.
Namira pergi ke dapur dan menyiapkan minuman
untuk Alice dan Maya. Dan membawanya di nampan kecil dan menaruhnya di atas
meja ruang tamu itu.
“Jus jeruk tidak masalah kan?” Tanya Namira dan
meletakkan gelas-gelas itu di hadapan Alice dan Maya.
“Iya tidak apa-apa.” Ucap Alice dan Maya
bersamaan.
“Ah ya, kamu menempati kamar ini. Kamar mandi kecil
ada di dalam.” Ucap Namira menunjukkan sebuah pintu yang terlihatlebih besar
dari kedua pintu yang lainnya yang terlihat dari sana.
“Dan itu kamar aku. Yang ini kamar mandinya.” Ucap
Namira menunjuk sebuah pintu yang lebih kecil berada tidak jauh dari pintu kamar
mandi.
“Dan di sebelah sana dapur dan ruang cuci,
serta ruang jemur.” Tunjuk namira kesebuah ruang yang hanya tersekat oleh untaian
manik-manik yang di bentuk menyerupai gorden untuk pembatas.
“Rumah mu sangat nyaman.” Ucap Alice.
“Terima kasih. Sebenarnya aku jarang di rumah,
aku di rumah hanya untuk tidur. Namun stelah kepulangan kakak ku, dia
melarangku untuk melakukan semua pekerjaan sekaligus. Jadi aku keluar dari
semua pekerjaan ku dan hanya menyisakan pekerjaan di toserba saja. Aku hanya
merasa sangat di sayangkan jika aku keluar. Lagi pula pemilik toko sangat murah
hati dan mau menerima jam kerja ku yang fleksible karena aku masih sekolah.” Ucap
Namira.
Mendengar ucapan Namira, Alice mengingat
kembali masa-masa saat dia masuk SMA dan mulai bekerja untuk menghasilkan
uangnya sendiri, dia juga pernah seperti Namira bekerja di beberpa tempat untuk
membantu mengumpulkan uang agar tidak merepotkan suster Salsa. Dia merasakan
benar-benar seperti mengulang kembali masa hidupnya semasa SMA, gadis itu jadi
lebih merasakan kedekatan di antara mereka berdua karena merasa mereka berdua
__ADS_1
sedikit banyak memiliki kesamaan dalam menjalani hidup.