JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Melarikan diri


__ADS_3

Lidia kalut dan berlari menuju ruang informasi untuk mendapatkan informasi pasien.


"Permisi.. pasien atas nama Antonius Hadi Jaya berada di mana?" Tanya wanita itu panik.


"Oh.. atas nama Antonius sudah ada di ruang vip 101." Jawab petugas informasi.


"Terima kasih." Ucap Lidia dan segera beranjak pergi dari sana menuju kamar perawatan Anton.


Lidia sampai di depan ruangan Anton, dia melihat Anton masih tertidur akibat pengaruh obat biusnya. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.


"Anda kelyarga Antonius?" Tanya Pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


"Benar.. saya Lidia ibunya." Ucap Lidia sambil sedikit bingung.


"Anda tahu, anak anda mengemudikan mobil dan menabrak pengendara mobil lain. Di dalam mobil itu ada empat orang penumpang, tiga di antaranya meninggal di tempat dan satu anak kecil terbaring koma." Jawab pria itu dingin.


"Apa?? Ini.. Ini tidak mungkin.. anak saya tidak pernah mengendarai mobil dengan ugal-ugalan." Ucap Lidia tidak percaya bahwa Anton akan melakukan tindakan seperti itu.


"Anda bebar, tapi apapun itu kenyataannya adalah mobil yang anak anda bawa mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan seorang anak kecil koma. Kenyataan itu tidak akan pernah berubah." Ucap pria itu lagi tegas.


"Tidak.. astaga Anton.. apa yang telah terjadi.. mengapa jadi seperti ini." Ucap Lidia yang menangis histeris karena kalut.


"Aku bisa membantu mu. Tapi kau juga harus membantu ku." Ucap pria itu lagi.


"Apa maksud anda?" Tanya Lidia bingung.


"Kau tidak perlu banyak tahu. Hanya lakukan apapun yang aku suruh dan semuanya biar aku yang urus." Ucap pria itu lagi.


"Baiklah.. apapun itu, demi anak ku aku akan melakukan apapun." Ucap Lidia yakin.


"Bagus.. Bawa pemuda ini pergi dari rumah sakit ini, semakin jauh semakin baik. Lakukan sebelum pria ini sadar." Ucap pria itu lagi.


"Bukankah jika begitu dia bisa di anggap melarikan diri?" Tanya Lidia masih enggan untuk membuatnya semuanya rumit.

__ADS_1


"Aku yang akan mengurus semuanya. Bawa pria itu ke rumah sakit lain keluar dari negara X ini. Aku akan meminta bantuan mu untuk suatu hal, jika aku sudah memastikan hal itu. Kau hanya perlu melakukannya untuk ku." Ucap pria itu lagi.


"Baiklah.. baiklah.. apapun mau mu akan aku lakukan." Ucap Lidia dan segera mengemas barang bawaan Anton.


"Ingat aku akan membutuhkan bantuan mu nanti. Beritahu aku nomer ponsel mu." Ucap pria itu lagi.


"Ini momernya.. 12345678. Kalau boleh tau anda siapa?" Ucap Lidia bingung dengan keinginan pria di depannya ini.


"Aku dokter keluarga yang meninggal itu. Selebihnya kau tidak perlu tahu apapun. Yang pasti jika aku membutuhkan mu aku akan menghubungi mu. Sekarang pergi dari tempat ini." Ucap pria itu lagi.


"Baik.." Ucap Lidia cepat.


Wanita itu dengan cepat meminta bantuan seorang supir untuk mengangkat Anton dan membaringkannya ke dalam mobil. Kemudian memasukkan barang-barang Anton dan segera pergi dari kota X menuju rumah sakit pinggiran kota S, di mana teman lamanya memiliki sebuah rumah sakit di kota itu.


Lidia menelpon sahabat suaminya itu.


"Halo Bagas.. aku butuh bantuan mu.. tapi tidak perlu beritahu Bram." Ucap Lidia.


Beberapa jam kemudian Lidia sampai di rumah sakit Healthy Centre.


"Lidia.. ada apa? kau tampak kalut? apa yang terjadi dengan Anton?" Tanya Bagas saat melihat Lidia turun dari mobil.


"Bantu aku periksa Anton, tapi di ruang kamar perawatan saja." Ucap Lidia lagi. Bagas bingung dengan permintaan Lidia namun menuruti keinginan istri dari sahabatnya itu.


"Bawakan brankar.. Angkat Anton ke atas brankar menuju kamar PS1." Ucap Bagas memerintah.


Mereka mengangkat tubuh Anton yang masih tidak sadarkan diri dan kemudian mendorongnya dengan brankar menuju kamar perawatan presidential suit nimor 1 itu.


Setelah sampai dan memindahkan Anton ke kasur di ruang rawatnya, semua perawat di minta keluar oleh Bagas.


"Ada apa ini? Aku melihat beberapa luka jahitan yang baru. Dia di rawat di mana sebelumnya? mengapa langsung di bawa ke temoat lain sebelum dia mendapatkan perawatan lanjutan?" Tanya Bagas bingung saat melihat bekas luka di tubuh Anton, bahkan anak muda itu masih belum sadarkan diri.


"Untuk itu aku meminta mu untuk merawat Anton. Aku kurang percaya dengan dokter lain, sehingga aku langsung membawanya ke sini." Ucap Lidia berbohong.

__ADS_1


"Kau benar-benar mengambil resiko. Bagaimana jika dia kenapa-kenapa di jalan. Astaga!!" Ucap Bagas tidak habis pikir dengan Lidia.


"Sudahlah.. toh aku sudah di sini tolong rawat Anton dan cek apakah perlu perawatan lanjutan." Ucap Lidia lagi khawatir.


Bagaimanapun juga perjalanan dari pusat kota negara X sampai ke pinggiran kota S menghabiskan waktu 4jam. Di khawatirkan terjadi pendarahan pada luka itu atau bahkan terjadi terbukanya lagi luka akibat perjalanan yang tidak rata.


"Aku akan periksa dahulu." Ucap Bagas dan memeriksa kondisi tubuh Anton.


"Luka sobek di kepala dan beberapa di tubuhnya untunglah baik-baik saja. Lain kali meskipun kau tidak percaya dengan orang lain, setidaknya kan bisa menghubungi aku. Aku akan datang ke rumah sakit tempatnya di rawat. Tidak perlu kau yang langsung angkut anaknya ke sini. Kau pikir dia barang. Jika terjadi sesuatu di jalan bagaimana?" Bagas mengomeli kecerobohan Lidia.


"Maaf aku tidak berpikir ke sana." Ucap Lidia.


'Aku tidak punya pilihan lain selain segera pergi dari sana. Aku tidak sanggup untuk melihat apa yang terjadi pada anak ku nanti jika aku masih menetap di kota itu." Ucap Lidia dalam hatinya.


"Sudahlah.. aku tahu kau sudah menyesal. Biarkan dia istirahat, dia belum sadar karena pengaruh obat saja." Jelas Bahar lagi.


"Syukurlah kalau begitu." Ucap Lidia dan mulai tenang.


"Ayo makan siang. Aku tahu kau pasti belum makan siang, kita makan siang saja dahulu." Ucap Bagas dan Lidia menyetujuinya.


Meskipun saat ini dia tidak selera makan, namun di depan Bagas wanita itu masih harus tetap bersikap biasa saja. Agar tidak ada yang mencurigainya, apalagi jika masalah ini sudah sampai terdengar oleh suaminya.


Dia sudah mengambil keputusan. Apapun itu kedepannya dia akan menanggung dan menyembunyikannya seorang diri. Serta membereskan akibat masalah ini juga seorang diri. Dia tidak mau jika sampai suami atau bahkan anaknya sendiri tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini.


"Kau benar baik-baik saja?" Tanya Bahar saat mereka sudah duduk di meja makan kafetaria rumah sakit.


"He'em aku baik-baik saja. Hanya syok karena anak bungsu ku kecelakaan saja." Ucap Lidia santai di buat senatural mungkin.


"Kau tenang saja, anak itu tidak apa-apa. Paling sebentar lagi juga dia akan siuman." Ucap Bagas menenangkan Lidia.


"Hemm.. aku percaya pada kemampuan medis mu. Terima kasih Bagas.. kau sahabat terbaik Bram, dan juga aku." Ucap Lidia dan mulai memakan makanannya meski wanita itu sedikit enggan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2