JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Penjelasan


__ADS_3

"Apakah penjahat itu masih hidup?" Tanya Alice penasaran dan mulai serius.


"Ya.. Dia selamat, dia merupakan bos penyerangan tadi malam.. Dia sudah sadar dan sedang di introgasi oleh tim kita.. 10 orang tewas di tempat dan 14 lainnya luka-luka.." Jelas Galih.


"Maaf kita terlambat bergerak karena menyelesaikan bentrok dengan mereka yang menggunakan senjata api." Ucap Galih sedikit menyesal.


"Bagaimana dengan tim kita?" Tanya Alice penasaran.


"Tidak ada luka dalam tim kita namun ada 3 orang yang berada di lokasi mengatakan bahwa mereka di sana untuk melindungi mu dan langsung menyerahkan diri saat kami datang. Mereka bertiga mendapatkan luka tembak namun tidak membahayakan nyawanya. Hanya satu orang yang katanya rekan mereka yang meninggal di tempat di lokasi terakhir kalian pergi." Ucap Galih menjelaskan.


"Astaga!" Ucap Alice menutup mulutnya.


"Kami masih memastikan identitas mereka." Ucap Galih lagi menjelaskan.


'Mungkinkah itu pria yang melindunginya di balik tembok deretan ruko-ruko kosong itu.' Batin Alice.


Gadis itu merasa sedikit menyesal dan berduka atas meninggalnya pria itu.


"Mereka orang-orang suruhan Anton untuk melindungi ku.." Ucap Alice yang kini berbicara.


"Baiklah jika begitu, kami akan segera membebaskan mereka." Ucap Galih dan mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Makanlah ini sudah jm9.." Ucap Galih menyuruh gadis itu memakan sarapannya.


"Nanti saja.." Ucap gadis itu sendu dan tidak tergerak untuk melakukan apapun.


Tok tok tok.. Pintu ruang kamar Alice di ketuk dari luar.


"Masuk.." Ucap Alice.

__ADS_1


Seseorang membuka handle pintu dan tampak kedua orang pria dan wanita mendekati Alice.


"Nak.. Kau tidak apa-apa?" Tanya Bram kepada Alice saat pria itu sudah di samping ranjang Alice.


Ya.. Seseorang yang datang menjenguk adalah Bram dan Lidia. Gurat kekhawatiran tidak lepas dari kedua wajah mereka.


"Saya tidak apa-apa.. Tapi Anton.." Ucap Alice menggantungkan ucapannya.


"Kami sudah tahu.. Kami tadi baru dari tempatnya." Ucap Bram masih berusaha tenang.


"Bagaimana keadaannya apakah dia sudah sadar?" Tanya Alice penasaran.


"Belum.." Ucap Bram sambil menggeleng.


"Maaf.. Maafkan aku.. Semua karena aku.. Anton terluka karena dia berusaha melindungi ku." Ucap Alice lagi dan kini air mata lolos dari kedua matanya.


"Itu bukan salah mu nak.. Dia melakukannya karena itu pilihannya untuk melindungi mu. Jangan salahkan terus diri mu." Ucap Bram lagi yang mengusap lembut rambut Alice.


"Aku tidak lapar." Ucap Alice kembali sendu.


"Ibu tahu.. Tapi kau perlu nutrisi untuk pemulihan mu." Ucap Lidia.


Lidia menggeser nampan makanan di atas meja dorong dan mendekatkannya ke arahnya. Wanita itu dengan tenang duduk di kursi di samping ranjang Alice dan mengambil sendok dan menaruh bubur di atasnya.


"Makanlah sedikit.." Ucap Lidia.


Lidia menyodorkan sendok berisi bubur hangat di depan mulut Alice. Alice dengan enggan membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Gadis itu mencoba menelan bubur yang terasa keras di mulutnya.


"Kamu harus segera pulih.. Bagaimanapun Anton pasti tidak ingin melihat mu seperti ini." Ucap Lidia lagi dan kembali memberikan suapan lainnya.

__ADS_1


"Mmmm.." Gumam Alice kembali menerima suapan dan berusaha keras menelan bubur itu dengan linangan air mata di kedua pipinya.


"Nak.. Kita keluar saja kamu belum sarapan kan?" Ucap Bram kepada seorang pria di kamar Alice.


"Baik pak." Ucap Galih setuju dan meninggalkan Alice dan Lidia berdua saja di ruangan itu.


"Maafkan ibu yang tidak bisa jujur saat kalian menanyakan apa yang terjadi di masa lalu. Bukan niat ibu untuk menutupinya atau melupakan hal itu. Namun ibu tahu jika kalian memgetahuinya itu akan menyakiti dan membebani hidup kalian. Maka dari itu ibu selalu memendam ini semua. Biar ibu saja yang tahu dan menerima beban di masa lalu. Namun sepertinya kalian sendiri memang memiliki hak untuk mengetahui masa lalu itu." Ucap Lidia panjang lebar namun masih setia menyuapi Alice.


"Ibu akan memberi tahu apapun yang terjadi di masa lalu tanpa ada yang ibu tutupi.." Ucap Lidia dan mulai menceritakan semua kejadian di masa lalu yang telah di alami Alice dan Anton.


"Ibu tidak tahu siapa dokter itu, dan dari keluarga mana kamu berasal. Dokter itu menutupi semuanya dari ibu, bahkan semua hal yang terjadi dia yang menutupinya demi keselamatan mu.. Awalnya ibu tidak mengerti mengapa dia mau membantu ibu menyelamatkan Anton, namun akhirnya setelah beberapa waktu ibu mengerti dia juga ingin menyelamatkan mu dari sesuatu hal yang buruk dan ibu mengerti itu." Jelas Lidia.


"Ibu juga melihat Anton menderita setelah kejadian itu. Dia menderita Claustrophobia takut akan ruangan sempit dan bahkan dia mengalami Amnesia. Dia melupakan semua yang terjadi sebelum kejadian kecelakaan naas itu. Dokternya memberitahu hilangnya ingatan dan terjadinya trauma padanya adalah akibat dari respon tubuhnya akibat kejadian luar biasa yang membuatnya syok. Bagian bawah alam sadarnya tanpa sengaja melindungi dirinya sendiri dan mengakibatkan beberapa komplikasi terjadi kepadanya selain karena benturan di kepalanya."


"Hidupnya setelah kejadian itu jauh berubah. Dia jauh lebih pendiam dan dingin, bahkan dia enggan untuk bersosialisasi dengan orang-orang dekat di sekitarnya. Dia tidak memberitahukan kepada siapapun mengenai trauma besarnya dan memilih menutupinya dan menghadapinya sendiri."


"Ibu juga melihat mu saat sadar dari kecelakaan itu, kamu juga memiliki gangguan ingatan dan melupakan semua ingatan di masalalu bahkan melupakan siapa diri mu sebenarnya. Sehingga ibu memutuskan akan membawa mu jauh dari kedua negara itu dan membawa mu dekat dengan ibu dan memulai semuanya dari awal." Tutup Lidia setelah menjelaskan semuanya kepada Alice.


"Ibu menyayangi mu seperti putri ibu sendiri meski ibu tidak pernah melahirkan mu. Tapi kamu tumbuh dan besar di hati ibu. Ibu juga sangat menyayangi Anton karena dia adalah anak yang paling kuat yang ibu miliki. Ibu hanya ingin kalian mendapatkan kebahagiaan kalian, apapun itu keputusan yang akan kalian ambil nantinya." Ucap Lidia sambil mengusap lembut air mata yang membasahi di kedua pipi Alice.


"Lepaskan amarah di hati mu, raih kebahagiaan di dalam hati mu. Kalian berdua sudah sangat menderita menjalaninya hingga saat ini. Lepaskan semuanya kedua orang tua mu juga tidak akan menginginkan kamu menderita." Ucap Lidia.


"Tapi kematian kedua orang tua ku..." Ucap Alice berat dan kemudian tidak melanjutkan ucapannya.


"Jika kamu ingin keadilan untuk kedua orang tua mu maka raih lah itu.. Tapi jangan dengan dendam.. Dendam tidak akan membuat mu bahagia, bahkan dia akan lebih membuat mu tersakiti dan lebih terluka." Saran Lidia.


"Hmmm.." Ucap Alice mengangguk paham. Lidia mendekati ranjang Alice dan memeluk gadis kecilnya itu.


"Ibu berharap kamu menemukan kebahagiaan mu sendiri nak.." Ucap Lidia pelan dan mengusap lembut rambut gadis itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2