JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Mulai menemui titik terang


__ADS_3

Tok tok tok pintu di ketuk dari luar, tidak lama seseorang membukakan pintu dari dalam dan muncul seseorang dari celah pintu.


"Emhh? dokter Widi ada yang bisa saya bantu?" Ucap suara itu, wanita itu tampak bingung melihat ketiga pria muncul di depan ruang istirahatnya.


"Hai Nabila.. bisakah kita bicara di dalam.." Ucap Widi meminta agar mereka tidak berdiri di lorong rumah sakit itu.


"Ahh tentu.. masuklah.." Ucap Nabila dan membuka lebar pintu ruangan itu. Anton dan Pak Aldo mengikuti Widi yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Maaf mengganggu mu pagi-pagi sekali.. kami butuh bantuan mu." Ucap Widi langsung tanpa basa-basi.


"Apa yang bisa saya bantu." Ucap Nabila sedikit penasaran tentang apa itu.


"Begini kami membutuhkan kamh mencari data pasien ini yang kurang lebih mirip dengan kondisi data pasien ini. Kau sudah belerja di sini sudah lama, sepertinya kau bisa membantu ku." Ucap Widi.


"Boleh aku lihat datanya dahulu." Pinta Nabila, dan Widi menyerahkan berkas data kondisi Alice saat di rumah sakit pusat kota dan di nyatakan meninggal setelah satu bulan.


"Bukankah ini pasiennya + (Meninggal).." Ucap Nabila saat membaca status rawat data pasien itu.


"Hemm kau benar.. Namun bisa kau selidikikah kondisi kesehatan pasien yang mirip seperti itu dengan pasien yang ada di sini 10 tahun yang lalu, Mengenai pasien anak yang koma." Jelas Anton. Nabila dan Widi pun melirik ke arah Anton.


"Sepertinya aku memiliki salah satu pasien anak yang koma namun bisa sadar.. tapii aku lupa kapan kejadiannya." Gumam Nabila.


"Benarkah.. bisa tolong di ingat kembali dan bagaimana mendapatkan data-data itu." Ucap Anton mulai bersemangat.


"Data 10 tahun yang lalu sudah pasti berada di ruanganan khusus. Dan pasti akan memakan bayak waktu untuk mencarinya." Ucap Nabila.


"Tunggu sebentar.. aku memiliki beberapa data saat aku masih magang di sini.. sebentar.." Ucap Nabila dan gadis itu mengeluarkan buku yang tampak sudah kusam, yang sepertinya buku itu sudah sangat lama.

__ADS_1


"Aku menulis beberapa catatan jika menemukan seorang pasien dengan keadaan unik dan menulisnya di sini. Kalau tidak salah waktu itu aku merawat pasien anak yang koma, dan sadar saat di bulan ke duanya. Namun aku tidak bisa melihatnya keesokan harinya sehingga aku melupakan hal itu." Ucap Nabila aambil membalikkan bebrapa halaman.


"Kau pernah merawat pasiennya?" Tanya Widi bingung.


"Ahh ya dapat.. Hemm aku dulu menjadi asisten perawat saat itu.. aku tidak bisa melupakan anak itu, beberapa luka oprasi di tubuhnya yang tampak lama. Tapi karena dia sangat cantik dan seperti sedang tidur aku tidak bisa melupakannya dan lagi sepertinya dia sadar di bulan ke duanya saat di rawat. Tidak banyak pasien yang koma dan bisa sadar. Jadi aku menuliskan data pasien mengenai kondisinya." Jelas Nabila lagi.


"Ahh.. benar!! ini sama.. dia memiliki bekas luka oprasi di tubuhnya di bagian yang sama dan beberapa luka lainnya yang sama, selain keadaan yang vegetatif yang sama juga. Namun nama pasien keduanya berbeda. Dan aku ingat pasien yang aku rawat dia sadar, karena jika plus(+) aku pasti yang akan memandikannya dan membersihkannya." Ucap Nadia.


"Boleh di jelaskan datanya? siapa yang bertanggung jawab terhadapnya." Tanya Anton.


"Tunggu.. di sini dokter yang bertanggung jawab adalah dokter Bagas Angkara, dan nama pasien adalah putri usia 10 tahun vegetatif kecelakaan akibat tabrakan pindahan dari rumah sakit. Dan walinya adalah Lidia Handoko." Ucap Nabila membacakan data yang tertulis di bukunya.


"Ha? Ayah ku dan Ibu mu? Sebenarnya ada apa dengan pasien ini Anton?" Tanya Widi mulai bingung karena membawa nama orang tuanya dan juga nama ibu Anton.


"Sudah ku duga.. pasti Alice di pindahkan di sini dan di rawat di sini hingga siuman. Namun di rumah sakit seblumnya mengapa harus dinyatakan meninggal?" Gumam Anton bingung.


"Tidak ada yang kalian perlu cemaskan.. terima kasih atas bantuan kalian berdua.. Terima kasih atas informasinya Nona.. aku pamit dahulu." Ucap Anton dan segera pergi meninggalkan ruangan itu di ikuti oleh Aldo.


"Ha?? ada apa dengan pria itu.. datang sesuka hati dan pergi sesuka hati juga.!!" Kesal Widi terhadap sahabatnya itu.


"Ehemm.. ada yang bisa saya bantu lagi dokter Widi?" Tanya Nabila bersikap datar.


"Aku tahu kau masih marah.. bagaimana jika kita sarapan bersama.. mau ya?" Tanya Widi sambil menaik turunkan alisnya menggoda Nabila.


"Sepertinya anda lebih memilih untuk makan dengan gadis yang sebelumnya ketimbang dengan saya. Saya hanya wanita kaku yang tidak bisa menyenangkan hati dokter Widi.. jadi lebih baik saya tidak mengambil kesempatan ini." Ucap gadis itu datar dan membuka pintu ruangan itu lebar-lebar meminta Widi untuk meninggalkan ruangannya.


Widi berjalan menuju keluar pintu namun saat dia akan berbicara, pintu di depannya langsung tertutup dengan keras tepat di depan mukanya.

__ADS_1


"Astaga.. wanita itu masih marah!! Aihh bodohnya aku." Gerutu Widi dan kemudian pergi menuju ruangannya.


***


"Paman Aldo kita ke hotel dahulu." Ucap Anton dan di angguki oleh Aldo. Mereka pergi meninggalkan rumah sakit dan pergi ke hotel yang tidak jauh dari rumah sakit tempat Paul dan Alex.


"Maaf tuan saya tidak menjemput anda di rumah sakit." Ucap Alex dan Paul bersamaan.


"Bukan salah kalian. saya memang ingin pergi ke hotel sendiri tanpa perlu merepotkan kalian. Kalian pasti masih lelah. Istirahatlah. nanti siang kita akan mulai pencarian lagi." Ucap Anton saat di depan lobby dan ternyata kedua anak buahnya setia langsung turun ke bawah saat mendengar Anton akan mengambil kunci kamar di resepsionist.


"Baik Tuan.." Ucap Paul dan Alex dan kembali ke kamar mereka masing-masing.


"Kau bisa mengendalikan dua anak nakal itu.. bagus.. bagus.. mereka sangat loyal terhadap mu." Ucap Pak Aldo saat melihat interaksi ketiganya.


"Saya yang merasa beruntung memiliki keduanya paman." Ucap Anton membalas perkataan Pak Aldo.


"Kau sama baiknya dengan paman mu." Puji Aldo lagi.


"Anda terlalu memuji Paman Aldo.. Paman Beno masih terlalu jauh untuk ku jangkau." Ucap Anton merendah.


"Baiklah.. apa yang bisa aku bantu Nak." Ucap Aldo yang mengerti Anton pasti akan membutuhkan sesuatu.


"Paman toling bantu aku menyelidiki keluarga besar Baskoro. Aku bisa pastikan Alice berasal dari keluarga itu. Namun mengapa paman Bagas dan Ibu menyembungikan identitas Alice dari keluarga besarnya? apakah benar karena kekuasaan? atau ada hal lainnya? dan juga mengenai kecelakaan itu." Ucap Anton meminta tolong kepada Aldo untuk mencari tahu kebenaran dari kecelakaan itu dan kebenaran keluarga besar itu.


"Tentu.. paman pasti akan memberi tahumu secepatnya." Ucap Pak Aldo yakin.


Pak Aldo pamit pergi meninggalkan Anton, pria tua itu menghubungi beberapa rekannya untuk membantunya menyelidiki sebuah kasus lama itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2