JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Menua bersama


__ADS_3

"Nak bagaimana dengan hubungan kalian? Apakah kalian sudah berbaikan dan memutuskan sesuatu?" Tanya Lidia lagi penasaran.


"Emhh maksud ibu.." Belum Lidia menyelesaikan kalimatnya lagi, Anton sudah memotong ucapan Lidia.


"Bu.. Berikan kami waktu, kami akan mengurus semuanya dengan baik. Ibu tidak lerlu khawatir." Jawab Anton menenangkan Lidia agar tidak membahas masalah ini untuk sementara waktu.


"Tapi.." Ucap Lidia sedikit menolak.


'Bukankah lebih baik di lakaksanakan pernikahannya dengan segera? Bayi ini membutuhkan pengakuan di mata hukum bukan. Selain itu semakin lama Alice sendiri dia pasti akan mengalami kesulitan saat hamil muda apalagi jika hamil tua nantinya.' Batin Lidia apa yang menjadi ganjalan hatinya.


"Bu.. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri dulu.." Bram akhirnya angkat bicara dan menepuk tangan istrinya.


Lidia akhirnya hanya menghembuskan nafas panjang dan diam tidak membahas masalah itu lagi dan mereka kembali memakan makan siang mereka dengan tenang.


"Ibu.. Ayah.. Aku tahu apa kekhawatiran yang kalian berdua pikirkan.. Hubungan aku dan Anton kini sudah membaik saat ini, kalian berdua tidak perlu khawatir. Emhh bisakah aku merepotkan ayah dan ibu untuk mengatur pesta pernikahannya. Untuk sementara waktu aku dan Anton mungkin akan ada di kota X ini untuk mengatasi beberapa hal yang harus kami selesaikan." Ucap Alice saat semua orang sedang fokus pada makanan mereka.


Anton, Lidia dan Bram menghentikan makan mereka dan memandang ke arah gadis cantik itu.


"Nak Alice kau tidak perlu melakukan itu jika itu bukan kehendak mu." Ucap Bram buka suara.


"Benarkah Alice? Tapi benar kata Ayah, kau tidak perlu memaksakan dirimu jika tidak ingin terburu-buru. Ambil saja waktu yang kau butuhkan." Ujar Anton lagi memastikan keputusan Alice.


"Ya.. Aku mau secepatnya, kecuali memang kau yang memang keberatan." Ucap Alice sambil memandang wajah Anton.


"Mana mungkin aku keberatan.. Aku akan mengikuti apapun keputusan mu." Jawab Anton bahagia, senyum tidak pernah lepas dari wajah tampan pria itu.


"Kalau begitu sudah diputuskan bukan." Ucap Alice ikut tersenyum juga.


"Baiklah ibu akan mengatur semuanya. Ada tanggal atau bulan yang kau inginkan?" Ujar Lidia lagi memastikan acara pesta pernikahan untuk mereka nantinya.


"Tidak ada bu.. Tapi jika ayah dan ibu tidak keberatan aku tidak ingin pesta mewah bisakah hanya keluarga dan sahabat dekat saja." Ucap Alice yakin.


"Tentu nak.. Ibu akan menyiapkannnya." Ucap Lidia dengan penuh semangat mendengar berita itu.


"Emhh bagaimana jika kita mengurus surat pernikahan di kota X saja dulu dan baru merayakan pestanya di kota A saat kita pulang nanti?" Tanya Anton lagi memberikan saran.


"Aku tidak bermaksud mendesak mu, tapi aku sungguh ingin segera bersama mu." Ucap Anton lagi dengan penuh harap. Meskipun jika sampai Alice menolak, Anton tidak keberatan jika harus menunggu sampai kembali ke negara A.


"Mmm baiklah.. Kita siapkan pernikahan secara hukum dahulu baru setelah itu kita adakan pestanya di kota A." Ucap Alice akhirnya setuju dengan keinginan Anton.


"Sungguh Alice?"


"Ya.."


"Baiklah.. Terima kasih Alice.." Anton segera memeluk erat tubuh Alice dan gadis itu membalas pelukan itu erat.


Bagaimanapun sebelumnya mereka sudah merasakan bagaimana rasanya akan kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Maka dari pada itu mereka tidak ingin lagi berlama-lama untuk membuang buang waktu berharga bagi mereka berdua.


Setelah makan siang itu Anton dan Alice kembali ke hotel dan meminta Alice untuk tinggal di kamar hotel yang di tempati oleh Anton. Alice menuruti keinginan Anton karena gadis itu sudah sangat kelelahan dan mengantuk.


Gadis itu segera terlelap saat tubuhnya menempel pada kasur dan bantal. Dengan sigap Anton menyelimuti tubuh Alice.


"Sepertinya kau benar-benar kelelahan. Mungkin ini akibat kehamilan mu yang membuatnya mudah lelah. Istirahatlah yang baik." Ucap Anton dan mengecup pelipis gadis yang sedang bermimpi indah itu.


Malam harinya Alice suddah duduk di sofa ruang tamu kamar hotel itu namun dirinya masih belum mengetahui dimana keberadaan Anton saat ini. Pria itu sejak tadi sore saat Alice terbangun sudah tidak ada di dalam kamar itu, bahkan tidak bisa di hubungi.


Alice duduk dengan gelisah di kursinya, "Astaga.. Mengapa ponselnya tidak aktif.. Aku berharap dia baik-baik saja." Gumam Alice sambil sesekali melihat layar ponselnya siapa tahu kekasihnya itu menghubunginya atau mengiriminya sebuah pesan.


Tok tok tok


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar hotelnya.

__ADS_1


Tok tok tok bunyi suara itu lagi. Alice dengan sigap berjalan kearah pintu dan melihat kearah lubang kaca yang ada pada pintu dan melihat sosok pria menggunakan pakaian hotel berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


Alice membuka pintunya namun kuncian di pintu itu masih terpasang dan Alice tidak melepaskannya.


"Ya.. Ada apa ya?" Tanya Alice bingung dengan kehadiran pria itu disana. Pasalnya dia tidak menghubungi room service atau semacamnya.


"Ini nona ada titipan surat untuk nomor kamar ini atas nama Adeliana." Ucap pria itu dan menyerahkan amplop berwarna merah dari celah pintu yang terbuka. Alice mengambilnya dari tangan pria itu.


"Dari siapa pak?" Tanya Alice heran.


"Tidak ada nama pengirimnya nona. Saya hanya bertugas mengantarkannya saja dari bagian resepsionis." Jawab pria itu lagi.


"Kalau begitu saya permisi nona." Ucap pria itu undur diri dan meninggalkan depan kamar gadis itu.


Alice kembali menutup pintu rapat dan mengunci pintunya lalu melihat undangan berwarna merah di tangannya itu. Alice mendekati sofa dan duduk di sana. Kemudian gadis itu memperhatikan kembali apa yang ada di tangannya itu.


Di kertas pada bagian bawah amplop itu tertulis To. Adeliana.


Dengan sigap Alice membuka amplop itu dan hanya melihat sebuah kartu dengan tulisan ATAP.


Alice mengerutkan dahinya heran, namun meski demikian dengan sigap Alice berjalan cepat menuju pintu dan membuka seluruh kunci pintu dan bergegas berjalan masuk ke dalam lift menuju atap yang di maksud.


Alice sudah berfikiran buruk terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Gadis itu khawatir jika Anton akan di sandra atau semacamnya. Gadis itu segera keluar saat pintu lift sudah terbuka sampai di lantai teratas gedung hotel itu dan segera menuju pintu atap. Alice membuka pintu atap itu dengan keras.


Brak! Suara memekakkan telinga saat pintu besi yang berbanting menabrak tembok.


Terlihat jajaran lampu kecil berbentuk lilin berjajar rapih bersama dengan bungga mawar putih di dalam vas yang cantik di tata membuat sebuah jalan setapak menuju sebuah meja dan kursi dengan alas berwarna putih yang berada di tengah-tengah rooftop itu. Jalan setapak itu di beri karpet berwarna putih bersih dengan beberapa kelopak bunga mawar merah.


Alice berjalan selangkah demi selangkah pada jalan setapak di atas taburan kelopak bunga mawar merah tu.


Kerlipan bintang di langgit malam yang hitam beserta kilauan cahaya dari lampu-lampu dari gedung pencakar langit dan lampu pada jalanan ibu kota yang mulai ramai menambah kesan kecantikan pada kota di malam hari itu.


Tidak hanya memanjakan mata yang melihat Alice juga tersentuh dan terkejut saat melihat pria tampan dengan senyuman hangat yang menggembang. Pria itu berdiri di samping meja putih sambil mengulurkan tangan kearahnya menanti akan kedatangannya.


Alice dengan patuh duduk mengikuti keinginan pria itu, namun matanya tidak pernah lepas dari wajah pria di depannya itu.


"Apa yang ingin anda makan nona cantik." Ucap Anton sambil sedikit membungkukkan badannya sopan.


Alice tersenyum geli saat melihat pria itu sudah bagaikan seorang butler berpengalaman saja.


"Aku sedang ingin makan Baked Salmon." Ucap Alice santai.


"Baik nona.. Mohon di tunggu sebentar." Ucap Anton dan kemudian menepukkan tangannya sebanyak tiga kali dan datanglah seorang pria dengan troli makanan di hadapan mereka.


Pria itu meletakkan dua piring baked salmon di atas meja makan dan menaruh dua gelas jus jeruk disana.


"Silahkan dinikmati nona." Ucap Anton saat pelayan itu sudah meninggalkan mereka dan hanya ada mereka berdua saja di atap itu.


"Kau sudah mempersiapkan ini sebelumnya?" Tanya Alice heran


"Aku sudah mempersiapkan beberapa hidangan.." Jawab Anton sopan.


"Bolehkah saya duduk nona?" Tanya pria itu menggoda Alice.


Gadis itu tersenyum dan tertawa, "Hentikan itu Anton duduklah." Ujar Alice saat gadis itu sudah menghentikan tawanya.


"Aku senang melihat senyum bahagia mu." Ucap Anton akhirnya menyudahi aktingnya.


"Kau tahu, kau tadi membuat ku sangat khawatir dan sekarang aku jadi merasa sangat lapar." Keluh Alice dan mulai menyuapkan potongan ikan salmon itu kedalam mulutnya.


"Maafkan aku.. Aku hanya ingin memberimu sedikit kejutan makan malam" Ujar Anton sambil sedikit mengelap sudut bibir Alice yang berantakan dengan saus di mulutnya dengan serbet.

__ADS_1


"Makanlah yang banyak, aku memiliki beberapa menu lainnya jika kau ingin makan yang lain." Ucap Anton lagi.


"Hmmm." Hanya gumamman yang terdengar oleh Anton karena gadisnya sedang asik memakan makanan di depannya dengan lahap.


Anton tersenyum dan juga ikut memakan makanannya.


"Ada lagi yang kau inginkan nona?" Tanya Anton saat melihatvisi piring Alice sudah bersih.


"Aku sudah kenyang tapi aku ingin Molten Chocolate cake (lava cake/kue lava coklat cair).


"Tentu.." Ucapnya dan seketika seorang pria datang dengan membawa dua lava cake dan menaruhnya di meja dihadapan Alice dan Anton.


"Kau benar-benar sudah mempersiapkan semuanya." Ucap Alice takjub dengan semuanya.


"Belum semuanya.." Gumam Anton.


"Makanlah Alice.." Ucap Anton lagi dan Alice dengan senang hati menghabiskan makanan penutupnya.


Alice memasukan suapan terakhir lava cakenya dan meminum air putuh, "Astaga aku benar-benar kenyang."


"Aku senang jika kau menikmati makan malam kita.. Jadi Alice.." Anton menggantungkan perkataannya. Pria itu bangkit dari kursinya kemudian berjalan dan mendekati kearah kursi Alice. Pria itu berlutut dengan satu kaki sebagai penopangnya. Anton memegang tangan kanan Alice.


"Alice.. Aku akan mengulang kembali perkataan ku.. Mau kah kau menikah dengan ku, hidup dan menua bersama hingga ajal menjemput kita. Menerima segala kelebihan dan kekurangan ku. Memaafkan segala kesalahan di masa lalu dan bergandengan tangan menuju masa depan. Menjadi sahabat, kekasih, keluarga dan pendamping untuk hidup kita." Tanya Anton serius.


Alice yang mendengar itu meski bukan lamaran pertama kalinya di ajukan oleh pria itu namun tentunya memiliki kesan yang mendalam bagi mereka berdua. Mereka sudah mengalami banyak cobaan dalam hubungan mereka. Pasang surut serta badai dalam hubungan mereka. Namun keduanya sama-sama yakin mengenai kasih sayang yang terjalin di hati keduanya tidak pernah bisa berubah meski sebelumnya dendam memenuhi hatinya namun cinta itu masih disana tidak berubah dan tidak kemana-mana.


"Ya.. Tentu saja." Ucap Alice sambil tersenyum bahagia.


Anton mencium tangan Alice tepat pada cincin yang memang sudah tersematkan sebelumnya di sana. Cincin saat lamaran mereka sebelumnya.


Anton tersenyum hangat dan tiba-tiba seorang pria datang menghampiri mereka.


"Ini surat pernikahan kalian, kalian bisa tanda tangan di sini untuk wanita dan di sini untuk pria." Ujar pria itu yang tersenyum kepada pasangan itu.


"A aapa?" Tanya Alice heran.


"Aku sudah menyiapkan semuanya.. Kau tinggal tanda tangani saja dokumen itu. Aku tidak ingin membuat mu repot dengan segalanya. Aku ingin membuat mu bagagia dan mudah menjalani prosesnya." Ucap Anton cepat.


"Jadi kau sudah mempersiapkan semuanya?" Tanya Alice lagi.


"Tentu saja.. Aku tidak ingin kehilangan moment apapun dalam menjaga kalian." Ucap Anton serius.


Alice tersenyum mendengar penjelasan Anton. Meski sangat mendadak dan bahkan dia terkejut dengan kesigapan Anton, namun Alice bahagia pria itu begitu memperhatikannya dan calon bayi mereka.


Alice segera menandatangai buku nikah itu begitu juga dengan Anton yang di saksikan petugas catatan sipil itu.


"Aku berbahagia untuk kalian." Ucap pria itu dan menyalami Anton dan Juga Alice.


"Bahkan kau menikahi ku dengan nama Adeliana dan mengurus semuanya dalam sekejap?" Tanya Alice heran.


"Sudah aku bilang aku tidak ingin menyianyiakan waktu ku agar terus bisa bersama mu." Ucap Anton dan mengecup puncak kepala Alice.


"Baiklah istri ku bagaimana jika kita sekarang masuk ke dalam diluar sudah semakin malam dan di sini anginnya sudah cukup kencang." Ujar Anton lagi.


Alice menganggukkan kepalanya dan setuju untuk masuk kedalam. Anton dengan sigap merangkul bahu istrinya hangat. Panggilan istri membuat Alice sedikit malu dan membuat wajahnya merona.


"Apakah ini nyata? Kita mendapatkan buku nikah hanya dalam hitungan menit saja." Ucap Alice saat mereka sudah masuk kedalam kamar hotel mereka.


"Mendapatkan akta nikah sebenarnya tidak sulit, beberpaa jam saja sudah bisa di dapat asalkan semua syaratnya sudah terpenuhi. Yang sulit adalah menjalani dan menjaga pernikahan itu sendiri." Kata Anton sambil mengecup pelipis Alice.


"Hemm.. Jangan pernah berubah untuk selalu ada disisi ku dan menemani ku.." Ucap Alice dalam pelukan Anton.

__ADS_1


"Tentu.. Aku akan selalu ada di samping mu menemani dan menjaga kalian berdua." Ujarnya lembut dan memeluk tubuh Alice dan membawa gadis itu kedalam mimpinya.


Bersambung....


__ADS_2