
Galih yang awalnya mengantuk dan pusing dengan cepat berubah menjadi semangat mencoba membuka isi data di dalam memory card itu. Pria itu dengan lincah mengetikan sesuatu di atas keyboard.
"Aku tidak bisa membuka kuncinya." Ucap Galih kesal namun tetap mengetikan sesuatu di atas papan ketik itu.
"Tanggal ulang tahun ku." Ucap Alice teringat pesan terakhir yang di ucapkan Bahar sebelum panggilan telepon itu terputus.
Galih mengangguk mengerti dan langsung mengetikan tangan, bulan dan tahun lahir Alice dan benar saja data bisa di buka dengan bebas. Galih dengan semangat mengecek semua data yang ada di sana satu persatu.
"Dari mana kau dapatkan benda itu? Memang kapan kau bertemu dengan Bahar?" Tanya Juna bingung saat Alice menyebutkan nama pria target misi mereka tadi.
"Aku mendapatkan ini ada di dalam pisau lipat pemberiannya waktu di kapal pesiar. Dan aku baru mengetahui ada benda ini saat pria itu memberitahunya tadi di telepon." Jelas Alice mengenai kebingunggan Juna.
"Kau bisa menghubungi pria itu?" Ucap Juna kaget saat mengetahui kenyataan itu.
"Iya.. Tadi ada pesan dengan nomor tidak di kenal dan aku langsung menghubunginya dan benar saja itu adalah Bahar. Pria itu menolak untuk bertemu dan melarang ku agar tidak pergi ke tempat itu lagi. Sebagai gantinya dia memberi tahukan ini." Ucap Alice cepat.
"Apakah dia meminta sesuatu sebagai balasannya?" Tanya Juna mulai menyelidik mengapa Bahar begitu murah hati.
"Tidak.. Dia tidak mengatakan apapun." Ucap Alice cepat.
"Dapat!" Teriak Galih senang dan memperlihatkan layar laptopnya kepada Alice dan Juna.
"Ini adalah beberapa transaksi mengenai keikutsertaan mafia Black Mouse dan kejahatan dia sebelumnya. Ini juga terdapat beberapa anggaran dana yang di dapat dan mengirimnya ke suatu nama bank yang sama dengan yang sebelumnya aku cari. Dan sepertinya di sini juga terdapat nama-nama yang terlibat di dalamnya. Namun kau pasti tahukan kita membutuhkan akses langsung dari data di perusahaan itu dan ini sedikit sulit." Ucap Galih yang tadinya senang seketika menjadi sendu.
"Kalian tidak perlu khawatir aku sudah punya rencana untuk bisa memiliki akses secara bebas ke ruang data itu." Ucap Alice penuh keyakinan dan malah membuat Galih dan Juna heran.
"Apa maksud mu?" Tanya Galih dan Juna bersamaan.
"Aku akan mendapatkan nama dan identitas ku kembali." Ucap Alice yakin.
"Alice jangan gegabah, dengan mereka tahu identitas mu mereka pasti akan dengan mudahnya menghancurkan dan melenyapkan mu tanpa sisa." Ucap Galih kesal karena gadis itu tidak berpikir panjang untuk memutuskan sesuatu.
"Itu nama ku Gal, aku hanya menginginkan apa yang menjadi milik ku selain itu aku ingin mendapatkan informasi di ruang data. Resiko apapun akan aku ambil untuk mendapatkan bukti menyeret mereka masuk ke dalam penjara seumur hidup mereka." Ucap Alice dengan teguh.
__ADS_1
"Aku mengerti maksud mu.. Tapi kita bicarakan itu nanti Al.." Ucap Juna menengahi perdebatan Alice dan Galih.
"Gal.. Kirimkan informasi data itu ke Roy dan kita akan berangkat kembali ke kota A." Perintah Juna.
"Tidak bisa! Aku akan menemui seseorang!" Ucap Alice menolak rencana Juna.
"Tidak ada penolakan Al.. Kau sudah setuju akan mengikuti perintah ku, dan saat ini aku adalah kapten di tim ini! Dan ini adalah perintah! Kita sudah menyelesaikan misi dan kita akan pulang sekarang!" Ucap Juna tegas dan pria itu tidak ingin ucapannya di bantah.
Alice yang kesal segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan keras.
Blammm!
"Sepertinya dia sangat marah." Ucap Galih melihat kepergian Alice dengan emosi.
"Ya.. Tapi ini demi kebaikannya, dia terlalu emosi ingin menyelesaikan semuanya langsung tanpa perencanaan. Aku malah khawatir dia akan masuk ke dalam perangkap dan hancur begitu saja. Lebih baik menahan dia di sisi kita saat ini meskipun dia akan marah, ketimbang dia akan hancur di depan mata kita." Jelas Juna kepada Galih dan mendapatkan anggukan dari pria itu.
"Aku baru kali ini melihat dia mengeluarkan emosinya." Ucap Galih sambil tersenyum meringis.
"Dia jadi lebih kelihatan seperti manusia hidup bukan." Ucap Juna sambil terkekeh.
Galih dan Juna terkekeh bersamaan, mereka berdua tahu Alice di dalam kamarnya pasti bisa mendengarkan apa yang sedang mereka berdua katakan.
"Sepertinya dia sedang datang bulan.. Emosinya benar-benar naik turun." Bisik Galih kepada Juna dan sukses membuat sebuah benda lagi terdengar terlempar ke arah pintu dari dalam.
Brukkkk!!
"Srtttt..." Ucap Juna sambil meletakkan jari telunjukknya di bibirnya, meminta Galih agar menghentikan mengganggu gadis itu.
Juna tidak ingin membuat Alice lebih emosi lagi dan lebih baik jika dia pergi ke kamarnya untuk menghubungi Roy tentang kepulangan mereka nanti.
"Aku akan ke kamar menghubungi Roy. Kau selesaikan membaca laporan itu semua." Perintah Juna dan mendapatkan anggukan dari Galih.
Juna pergi ke kamarnya dan mengambil ponselnya di atas nakas dan mulai menghubungi Roy di kontaknya.
__ADS_1
****
Sedangkan di sisi lain di rumah sakit Kasih Ibu.
"Ini sarapan, minum serta obatnya.. Ada yang di perlukan lagi non Maya?" Tanya seorang wanita setengah baya yang berdiri di samping ranjang perawatan Maya.
"Bu Mae, panggil saya Maya saja." Ucap Maya sedikit tidak enak dengan panggilan itu.
"Baiklah Maya.. Ada yang di perlukan lagi?" Ulang bu Maesaroh lagi.
"Tidak bu.. Terima kasih." Ucap Maya sedikit sungkan.
Ya.. Sejak pertemuan terakhirnya kemarin dengan Juna yang akan berangkat ke kota S, dua jam kemudian muncul dua orang tamu wanita paruh baya dan seorang pria muda ke dalam ruang kamarnya.
Flashback On.
Tok tok tok Pintu kamar Maya di ketuk dari luar.
"Masuk.." Sahut Maya dan muncul dua orang wanita di balik pintu dan seorang pria muda yang sepertinya pernah dia lihat namun tidak dapat mengingatnya.
"Permisi, benar ini kamarnya nona Maya.." Tanya salah seorang wanita paruh baya yang muncul di kamarnya. Wanita itu menggunakan pakaian dress panjang sopan berwarna salem.
"Iya saya sendiri." Ucap Maya sedikit heran.
"Benar Bu.. Dia orangnya." Ucap pria di belakang kedua wanita itu untuk memastikan sesuatu.
"Maaf siapa ya?" Ucap Maya yang tidak mengenal salah satu dari ketiga orang di ruangannya.
"Nona Maya, saya Yoga teman Juna. Kita sebelumnya pernah bertemu di apartement sebelumnya bukan." Jelas Yoga yang membuat Maya teringat akan pria di depannya itu. Namun salah satu wanita di sana langsung melirik kearah Yoga dengan mata yang sedikit di picingkan.
"Apa maksudnya itu?" Bisik salah satu wanita yang menggunakan atasan bluss berwarna biru dan celana bahan yang nampak mempesona dan anggun meski sudah tidak muda lagi.
"Nanti akan saya jelaskan Nyonya." Jawab pria itu pelan. Namun Maya masih bisa mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1
"Ahh iya ada perlu apa ya?" Tanya Maya masih bingung dengan tujuan kedatangan ketiga orang itu.
Bersambung....