
Flashbacak 10 tahun yang lalu.
Dua minggu sebelum kecelakaan di mulai.
"Anton.. bisakah kau menggantikan ku menjadi petugas medis di sekolah dasar hanya seminggu saja kok tidak lama." Ucap Widi sahabat kuliahnya itu.
"Astaga.. memangnya kenapa? bukankah kau yang memilih di sekolah itu?" Tanya Anton bingung.
"Aku mendadak ada perlu, dan harus membatu ayah ku.. kau tahu bagaimana sikap dia jika aku menolak keinginannya." Ucap Widi memelas.
"Astaga astaga.. baiklah.. di sekolah dasar mana?" Tanya Anto santai.
"Di Sekolah Dasar Negri Langit Biru yang berada di kota X." Ucap Widi.
"Ha? jauh sekali.. aku pikir di dekat-dekat kampus kita di kota S." Tanya Anton ketus.
"Ohh ayolah.. kau bisa tinggal di sana dahulu selama 1minggu.. lagian dengan perjalanan darat kota S dan kota X hanya membutuhkan waktu 4jam kok." Ucap Widi memelas.
"Kau benar-benar merepotkan." Ucap Anton ketus.
Anton dan widi saat itu sedang kuliah kedokteran semester 4 akhir. Mereka melakukan pekerjaan lapangan dan mengadakan penyuluhan untuk membantu beberapa siswa sekolah dasar seperti mengadakan acara usaha kesehatan gigi sekolah dan hal lainnya.
Sebelumnya Anton memang belum memutuskan akan praktik lapangan di mana. Namun dengan kejadian ini, akhirnya pria itu memutuskan untuk ke kota X dan mengerjakan pekerjaan lapangannya di sana.
***
Anton sudah tiba di SDN Langit Biru dan menghadap ke ruang kepala sekolah dan menyerahkan surat magangnya. Penyambutan calon dokter muda itu begitu hangat di sekolah itu. Anton juga di berikan di ruangan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) yang kebetulan juga sedang tidak memiliki dokter karena dokternya sedang cuti melahirkan.
Tok tok tok suara pintu di ketuk dari luar ruangan kesehatan itu.
"Dokter Meilin, Ana sakit lagi.. minta obat dong." Ucap gadis kecil itu dan langsung masuk ke ruangan itu.
"Ha? siapa kamu? dokter Meilin mana?" Tanya gadis kecil itu dengan mata yang jernih.
"Ehem.. Perkenalkan saya Antonius, untuk sementara saya yang akan menggantikan dokter Meilin yang cuti melahirkan." Jelas Anton kepada gadis manis dengan jepit stowbery itu.
"Ahh.. begitu, udah mau keluar ya dede bayinya." Ucap Gadia itu polos.
"Hemm.. iya.. ada yang bisa saya bantu?" Ucap Anton lagi.
__ADS_1
"Iya.. aku terjatuh tadi saat mengejar kucing." Ucap gadis kecil itu dan memperlihatkan lututnya yang terluka dan berdarah.
"Ahh.. mari kita bersihkan dahulu. Kamu duduk di sini." Ucap Anton dan menepuk kasur pemeriksaan.
"Okey." Ucap gadis itu singkat dan beranjak duduk di tempat yang di suruh oleh Anton.
"Kau gadis pintar kau tidak menangis saat terluka, padahal lukanya lumayan dalam loh, dan mengeluarkan banyak darah.. kamu anak yamg pintar." Puji Anton sambil mencoba membersihkan luka itu dari beberapa pasir dengan menggunakan cairan NACL.
"Emh.." Keluh gadis itu saat merasa sedikit perih saat di bersihkan lukanya.
"Jika kau ingin menangis, menangis saja." Ucap Anton lagi.
"Tidak apa-apa, aku masih bisa menahannya." Ucap gadis kecil itu. Pipi gembulnya tampak memerah menahan tangisnya, bibir kecilnya di gigit agar tidak terdengar suara tangisan itu. Anton melihat gadis kecil itu sangat lucu dan menggemaskan.
"Baiklah sudah selasai. Kau benar-benar anak yang hebat." Ucap Anton memuji gadis itu dan mengusap lembut rambut gadis itu.
"Hemm aku tahu aku anak yang hebat.. ehh tapi dokter.. aku belum kenalan dengan dokter.. perkanalkan nama ku Adeliana Fransisca Baskoro." Ucap gadis itu lantang sambil mengulurkan tangannya.
Anton yang melihat itu tersenyum gemas dan menyambut uluran tangan kecil gadis itu.
"Antonius Hadi Jaya.." Ucap pria itu sambil tersenyum.
"Terima kasih pujiannya." Ucap Anton dan mengelus lagi puncak rambut gadis itu.
"Dokter mau ya jadi teman aku." Ucap gadis itu lagi.
"Tentu saja.." Ucap Anton membalas gadis kecil itu.
"Baiklah mulai saat ini dokter adalah teman ku. Ya sudah aku kembali ke kelas dahulu ya.. dadah dokter tampan." Ucap Adeliana dan pergi meninggalkan Anton sendirian di ruangannya.
Sejak saat itu, Adelianan sering mampir ke UKS hanya untuk menyapa Anton atau hanya untuk makan siang bersama dokter tampan itu di ruangan kesehatan. Bahkan jika ada siswa lain di kelasnya yang harus ke UKS, dia dengan senang hati akan mengantarkannya.
"Bukankah kau terlalu sering kemari nona kecil?" Tanya Anton.
"Hemm.. aku suka melihat dokter tampan bekerja." Ucap gadis kecil itu jujur.
"Ohya bukankah besok adalah acara pekan olahraga? kamu tidak latihan?" Tanya Anton lagi.
"Aku sudah latihan tadi." Ucapnya singkat dan memilih menemani Anton makan di siang hari itu.
__ADS_1
"Ohya.. besok juga merupakan hari terakhir saya di sini." Ucap Anton lagi.
"Ha? Dokter sudah ga kerja di sini lagi?" Tanya Adeliana yang sedikit sendu.
"Iya.. saya ka juga harus sekolah juga.. biar bisa jadi dokter yang baik." Ucap Anton.
"Huh.. aku bakalan sendiri lagi dong." Ucap gadis kecil itu sendu dan tidak memakan buah strowberynya lagi.
"Kamu tenang saja. Dokter Meilin akan segera kembali kok." Jelas Anton dan kembali minum gelas kopinya.
"Hemm.. baiklah.. tapi dokter akan meninggalkan ku." Ucap Adeliana masih sendu. "Ahh aku tahu.. dokter mau tidak jadi suami ku? kata ibu ku suami istri itu tidak terpisahkan. Mangkanya ibu selalu pergi kemanapun Ayah pergi." Ucap polos Adeliana yang membuat Anton yang sedang minum menyemburkan minumannya.
"Kenapa? dokter tidak mau? aku kan baik dan manis. Sudah gitu aku anak yang nurut kok ga bandel." Ucap gadis kecil itu lagi. Sambil menyerahkan sapu tangannya kepada Anton untuk membersihkan bekas semburan kopinya itu.
"Astaga Adeliana, lain kali tidak boleh berbicara seperti itu dengan pria lain ya. Kamu boleh berbicara seperti itu jika kamu sudah memahami artinya." Ucap Anton sambil mengelap mulutnya dengan sapu tangan milik Adeliana.
"Aku tidak akan bilang kepada siapapun. aku hanya mau bilang seperti itu sama dokter saja." Ucap gadis itu masih dengan wajah polosnya.
"Haihh.. anak kecil jaman sekarang ya.. Huft.. begini Adeliana kan masih kecil..." Belum selesai Anton berucap, gadis itu memotong pembicaraan Anton.
"Aku sudah besar. sebentar lagi umurku 10 tahun." Ucap gadis itu bangga.
"Aishh.. itu tandanya Adeliana masih sangat muda. lebih baik adeliana menikmati sekolah dan bermain bersama teman-teman." Ucap Anton lagi.
"Tapi Ana juga mau selalu main bersama pak dokter juga. Bukankah dengan begitu Ana akan selalu bersama dokter?" Tanya gadis itu lagi.
"Adeliana.. kamu di sini? sudah waktunya pulang Non." Ucap seorang pria menghampiri mereka.
"Ahh tapi Ana belum selesai bicaranya dengan pak dokter." Ucap Adeliana menolak untuk pulang.
"Lain kali kan bisa Nona." Ucap pria itu.
"Baiklah.." Ucap Adeliana akhirnya dan menurut mengikuti pria itu.
"Terima kasih sudah menjaga Nona saya." Ucap pria itu dan membungkuk hormat kepada Anton.
"Sama-sama pak." Ucap Anton sopan, sepertinya pria itu adalah supir dari Adeliana.
"Haih.. susahnya menjelaskan kepada bocah kecil itu.. astaga bisa-bisanya aku di umur 20 tahun ini di lamar oleh bocah kecil umur 10 tahun. Bisa di bilang phedo nih kalau begini oleh Widi.. Haihh untunglah besok hari terakhir ku di sini." Ucap Anton dan kembali merapihkan bekas makan siangnya itu.
__ADS_1
Bersambung....