JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Rumah ku


__ADS_3

📞"Tante Belinda! Apa maksudnya?" Tanya Alice yang sudah geram wanita itu mengabaikan pertanyaannya dan malah tertawa dengan bahagia.


📞"Tidakkah menurut mu ibu mu tidak layak untuk di makamkan di makam keluarga Baskoro? Dia hanya seorang wanita rendahan yang tidak memiliki kedua orang tua dan dia ingin di semayamkan di sana. Mimpi saja! Tentu saja aku sudah mengebumikan dia di tempat lain." Ucap Belinda dan kemudian menutup panggilan telepon itu.


"Astaga! Ada apa sebenarnya ini, Apakah benar ibu ku tidak di makamkan di bukit di belakang mansion? Lalu jika tidak berada di sana, dimana makam ibu ku." Ucap Alice mulai panik dan tanpa terasa air mata menetes di kedua pipinya.


"Aku akan menanyakannya kepada paman Imanuel." Ucap Alice cepat kemudian menghapus kedua air matanya dan segera menghubungi nomor ponsel Imanuel.


📞"Halo paman.. Bolehkah aku menanyakan sesuatu." Tanya Alice langsung saat panggilan itu sudah tersambung.


📞"Ya Alice, ada apa?" Jawab Imanuel cepat meskipun pria tua itu bingung mengapa Alice tiba-tiba ingin menanyakan sesuatu. Padahal baru beberapa saat yang lalu mereka bertemu.


📞"Paman saat kedua irang tua ku di makamkan, siapa saja yang ada di sana?" Tanya Alice langsung tanpa basa-basi.


📞"Ah.. Masalah pemakaman, maaf Alice pada hari itu aku menjaga mu di rumah sakit karena kau dalam kondisi drop saat itu. Saat kondisi mu sudah stabil, aku baru pergi ke tempat pemakaman dan acara pemakaman sudah selesai." Jawab Imanuel.


"Ada apa Alice?" Tanya Imanuel bingung.


"Tidak ada paman. Kalau begitu terima kasih paman, aku akan tutup teleponnya." Jawab Alice berbohong dan menutup panggilan telepon itu.


"Bahkan paman Imanuel saja tidak tahu bahwa makam itu kosong. Berarti akan ada dua kemungkinan. Satu memang yang di ucapkan Belinda adalah kebohongan atau dia mengatakan hal yang sebenarnya. Aku harus segera menemui Belinda!" Ucap Alice monoton kepada dirinya sendiri.


"Ibu.. Hiks.." Ucap Alice sambil mengenang kembali saat terakhir ibunya memintanya untuk menyanyikan sebuah lagu dan bahkan masih sempat untuk ibunya, melindungi Alice saat kecelakaan itu terjadi.


Ceklek.. Pintu ruang kerja Alice terbuka dan kemudian muncul sosok Galih dari balik pintu.


"Alice, kau menangis.. Ada apa?" Tanya Galih yang heran saat melihat wajah Alice yang sudah berlinangan air mata.


"Galih, aku akan pergi ke mansion keluarga ku." Ucap Alice dangan pasti dan menyeka air matanya dengan kasar.

__ADS_1


"Ada apa Alice? Sekarang situasinya masih berbahaya kita tidak bisa datang kesana langsung." Ucap Galih yang bingung dengan keinginan Alice.


"Aku akan pergi ke mansion dengan atau tanpa mu!" Ucap Alice tegas dengan penuh tekad di kedua matanya.


Alice ingin pergi ke mansion Baskoro untuk langsung menemui Belinda dan menanyakan prihal dimana ibunya di semayamkan. Bahkan dokter Imanuel saja memberitahukan makam kedua orang tuanya di bukit belakang yang tidak jauh dari mansion. Lalu siapa yang tahu sebenarnya dimana ibunya di semanyamkan.


"Baiklah.. Aku akan ikut bersama mu." Ucap Galih yang langsung berlari mengikuti Alice dari belakang tubuh gadis itu.


Saat mereka akan menuruni lift, mereka berpapasan dengan Juna dan Roy yang keluar dari pintu lift.


"Kalian mau kemana? Aku baru membeli sesuatu untuk makan malam." Ucap Juna dengan menenteng beberapa paperbag di tangannya.


"Alice aku sudah lapar bisakah kita makan dahulu?" Ucap Galih melirik kepada Alice, gadis itu menganggukkan kepalanya kaku.


Juna heran mengapa hawanya terasa kaku saat ini. Juna melirik kearah Roy dan pria itu hanya mengangkat kedua bahunya, bahwa dirinya juga tidak mengerti apa yang telah terjadi.


Juna, Galih, Roy dan Alice masuk kembali ke ruang kerja Alice. Mereka semua duduk di sofa dan Juna meletakkan papper bag isi makanan di atas meja.


"Ada Al?" Tanya Roy saat melihat wajah Alice masih tidak tenang dan tampak bingung.


"Aku ingin pergi ke mansion sekarang." Jawab Alice mengungkapkan keinginannya.


"Sesuatu terjadi?" Tanya Roy lagi sambil menantap lekat ke dalam wajah Alice.


"Ya.." Jawab Alice singkat.


"Baiklah kita akan pergi setelah makan malam. Bukankah aku sudah bilang, kita akan menemani mu kemanapun kau pergi." Ucap Roy lagi.


"Maaf aku belum bisa menjelaskan apapun." Cicit Alice dan merasa bersalah dia tidak mengungkapkan kebenaran mengapa dia ingin segera tiba di mansion itu. Dia tidak memberitahunya karena masih ingin menyelidikinya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Jika kau tidak ingin membicarakannya, kau tidak perlu membicaraknnya. Yang pasti lakukan apapun mau mu. Dan kami akan melakukan tugas kami menemani mu." Ucap Roy lagi sambil mengusap lembut rambut Alice.


"Sudah.. Makan dahulu baru nanti kita lanjutkan lagi." Ucap Juna menengahi dan mulai memakan makanannya.


Alice dan Roy pun mulai memakan makan malamnya. Sesekali mereka berbicara dan bercanda untuk menghangatkan suasana di dalam ruangan.


Setelah selesai makan mereka berempat pergi menuju mansion keluarga besar Baskoro. Mobil mereka berhenti tepat di depan gerbang mansion tinggi bernuansa gold.


Seorang petugas berdiri tepat di samping Galih yang mengemudikan mobil mereka.


"Kami ingin masuk. Saya Adeliana Fransisca Baskoro." Ucap Alice datar saat kaca mobil di turunkan. Petugas keamanan itu langsung mengenali Alice saat konfrensi pers langsung mengangguk dan memberikan penghormatan kepada Alice.


"Maaf nona, silahkan masuk nona." Ucap Penjaga itu dan kemudian membuka gerbang itu lebar.


Mobil memasuki halaman mansion dan berhenti tepat di depan mansion.


Alice, Galih dan Juna turun dari mobil dan berjalan menuju pintu mansion itu.


Dua pelayan berdiri menyambut kedatangan mereka, salah satu dari pelayan itu membelalakan matanya saat melihat wajah Alice dan kemudian masuk ke dalam mansion. Sepertinya salah satu pelayan yang masuk itu sedang melaporkan kedatangan Alice kepada Fiktor karena tidak berapa lama pria itu muncul keluar.


"Woah.. Keponakan ku kau berani pulang setelah membuat keributan besar di perusahaan?" Tanya Fiktor sinis saat pria itu melihat Alice berjalan akan memasuki mansion dengan santai.


"Terima kasih atas sambutan mu paman. Aku hanya membantu mu mencabut rumput-rumput liar dan membersihkan hama yang tidak penting." Jawab Alice dengan angkuh dan percaya diri.


Gadis itu berjalan masuk ke dalam mansion dan mulai melewati ruang tamu dan Fiktor yang berdiri disana.


"Apakah kau tidak tahu sopan santun? Aku belum mempersilahkan mu masuk dan kau langsung masuk begitu saja." Ucap Fiktor sinis sambil menatap punggung gadis itu.


"Ahh apa paman lupa, ini adalah rumah ku. Untuk apa aku menunggu paman mempersilahkan ku masuk." Jawab Alice tidak kalah sinis dan kemudian berjalan mengabaikan Fiktor yang kesal karena ucapannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2