
"Ibu terlalu memuji.. ini memang gaun buatan Bu Elizabethlah yang sangat cantik dan anggun sehingga membuatku jadi ikutan cantik." Ucap Alice merendah dengan wajah merah di kedua pipinya malu.
"Kau juga memang sangat cantik Nak." Puji Elizabeth tulus.
"Kau setuju dengan yang ini saja bukan? atau kau masih mau mencoba beberapa gaun lagi?" Tanya Lidia memastikan.
"Tidak ibu.. ini saja." Ucap Alice menyetujui pilihan calon ibu mertuanya. Lagipula dia juga sangat menyukai detail gaun ini.
Drrtt drrtt drrtt
"Halo.. ohh.. astaga saya lupa.. baiklah saya ke sana sekarang." Ucap Lidia cepat.
"Ada apa ibu?" Tanya Alice khawatir.
"Ibu melupakan mengambil dan mengatur sesuatu dan ini harus segera. Kau tidak masalahkan di tinggal sendiri Nak?" Tanya Lidia khawatir.
"Ahh iya ibu tidak apa-apa.. hanya tinggal fitting baju saja semuanya kan sudah kita putuskan untuk gaun dan hiasannya." Ucap Alice tenang.
"Tapi ini sudah mau malam.. kau benar tidak apa-apa sendiri? ahh apa i u suruh supir menunggu mu saja biar ibu pergi minta di jemput ayah." Ucap Lidia dengan idenya.
"Tidak perlu ibu.. itu malah akan memperlambat ibu. Ibu berangkat dengan pak supir saja, Alice nanti akan pulang naik taksi." Ucap Alice tenang. "Lagi pula ini hanya tinggal membereskan beberapa detail dan hanya sebentar. Ibu bisa pergi, tidak lerlu khawatir." Lanjut Alice. Akhirnya Lidia menyerah juga.
"Baiklah kalau begitu. Ibu pulang dahulu ya Nak." Pamit Lidia dan segera pergi dari sana.
Alice melakukan fitting bajunya beserta di bantu untuk melepaskan gaun itu. Dan beberapa detail lainnya jika Alice ingin mengubah beberapa hal. Tanpa terasa waktu sudah berganti malam.
"Perlu saya panggilkan taksi Nona?" Tanga seorang petugas butik menawarkan.
"Tidak perlu, saya bisa pesan sendiri. Ohya di mana Bu Elizabeth? saya akan pamit." Ucap Alice.
"Sepertinya beliau ada perlu Nona, apakah nona mau menunggu?" Tanya pegawai itu lagi.
"Tidak perlu. Jika begitu nanti tolong sampaikan saya pamit dahulu. Maaf tidak menunggunya." Ucap Alice menitipkan pesan.
"Baik Nona." Ucap petugas itu dan beranjak pergi mengantarkan Alice hingga keluar Butik.
Alice berjalan menyusuri jalan yang sudah mulai sepi. Tanpa di ketahuinya ada sebuah mobil van berwarna hitam yang memepet dirinya dan kemudian berhenti dengan tiba-tiba di samping tubuh gadis itu. Tiga orang pria dengan menggunakan penutup wajah hitam turun dari pintu tengah penumpang dan dengan secepat kilat membekap mulut Alice dan mengangkat tubuh gadis itu ke dalam van hitam itu.
__ADS_1
Petugas butik yang melibat itu dari kejauhan membelalakan matanya dan berteriak minta tolong.
"Tolong!!! penculikan!! tolong!!" Ucap wanita itu tetapi mobil sudah pergi menjauh dari tempat itu dengan kecepatan tinggi.
Perugas butik itu langsung menghubungi atasannya dan melaporkan apa yang baru saja di lihatnya. Elizabeth segera menghubungi Lidia temannya san melaporkan apa yang dilihat karyawannya.
"Anton!! Alice di culik!!" Ucap Lidia saat wanita tua itu baru saja sampai di rumahnya dan langsung menghubungi anak bungsunya itu.
"Apa Bu?? Bagaimana bisa?" Tanya Anton bingung dan cemas.
"Kejadiannya tak jauh dari butik, seorang oetugas butik melihat Alice di bekap dan di masukkan kedalam sebuah mobil van berwarna hitam." Jelas Lidia.
"Baiklah ibu tenang saja. Anton akan mencari tahu di mana Alice berada." Ucap Anton menenangkan ibunya, namun hatinya sendiri panik saat mendengar kabar kekasihnya di culik.
Anton segera menghubungi Paul memintanya untuk menemukan keberadaan Alice dari cincin yang di pakai gadis itu. Anton juga segera membereskan pekerjaannya dan membawa sebuah pistol dan di sembunyikan di dalam jasnya dan tidak lama sebuah mobil Range Rover Vogue yang merupakan mobil yang bisa menahan peluru panas dan granat tangan, bahkan mampu berjalan meski ban dalam kondisi pecah.
Mobil itu berhenti tepat di samping Anton Alex yang mengendarai mobil itu, di sampingnya ada Juna yang memegang laptopnya sedang menjelajahi dunia digital untuk memantau di mana keberadaan Nonanya itu.
"Kau sudah menemukan lokasinya?" Tanya Anton dingin.
"Brengsek!! beraninya mengganggu wanita ku.. lenyapkan siapapun yang berani menyentuh kekasih ku. Bahkan jika itu hanya di dalam fikirannya saja." Ucap Anton dingin.
"Baik Tuan." Ucap Paul dan Alex kompak. Inilah sisi lain dari bos mereka jika bos mereka sudah serius, jangankan hanya seorang manusia, sebuah gedungpun bisa dia runtuhkan jika gedung itu mengganggu pandangannya.
"Selidiki siapa bajingan-bajingan kecil itu." Ucap Anton lagi.
"Tuan dari rekaman cctv yang saya dapat sebelum mereka beraksi, mereka bertiga adalah seorang mantan narapidana kasus pelecehan dan juga pembunuhan." Jelas Juna.
"Berani sekali mereka menaegetkan orang ku." Desis Anton menahan amarah.
"Tuan info yang baru saya dapatkan mereka sepertinya di suruh oleh seseorang. Pria ini terekam cctv sehari sebelum kejadian penculikan. Setelah saya selidiki pria ini namanya Irfan kakak tertua Diana dari keluarga kuncoro." Ucap Paul menjelaskan.
"Woahh hal bagus.. adik bungsunya mencoba menggusik kekasih ku dan kini anak sulungnya juga ingin mengusik ku. Benar-benar cari mati." Ucap Anton sinis.
"Pauk buat semua usaha kuncoro bangkrut bahkan terlilit hutang. Aku ingin keluarga itu musnah dari kota A ini." Ucap Anton dingin.
__ADS_1
"Baik Tuan." Ucap Paul segera menjelajah lagi di dunia virtual dan menyuruh anak buahnya mengacaukan beberapa saham bahkan memgirimkan beberapa video Irfan dengan transaksi yang tidak senonoh bahkan hal menjijikan lainnya yang dapat menjatuhkan saham keluarga mereka.
"Kita sudah tiba tuan." Ucap Alex yang sedari tadi diam mengemudi.
"Pakai topeng kalian. Aku tidak mau ada keributan." Ucap Anton memakai topeng badutnya di ikuti oleh kedua orang kepercayaa nya itu.
"Masuk dan bereskan." Ucap Anton dingin. Alex dan Paul pergi masuk kedalam bar itu dan segera naik ke lantai 5 di mana sinyal cincin Alice berada.
"Di sini tuan." Ucap Paul pada sebuah kamar yang pintunya terkunci dari dalam. Anton menembak sensor kartu yang ada di pintu itu bwberapa kali dan kemudian menendang pintu itu kuat hingga pintu itu hampir saja terlepas dari engselnya.
Dor
Dor
Dor
Dor
"Arghh..." Kedua orang yang berdiri tak jauh dari pintu langsung berlutut dengan kedua paha mereka yang berlumuran darah tertembus timah panas dari pistol milik Anton.
Sedangkan kedua orang pria yang sedang merangkak di atas kasur toples kaget saat melihat penyusup masuk kedalam kamar mereka dan langsung menembak kedua rekannya. Disana terdapat video yang menyala untuk merekam aksi bejad yang tidak pantas.
Sedangkan Alice nampak pingsan dengan mata terpejam dan dengan atasan baju kemeja yang nampak berantakan namun pakaian kaus dalam dan celana jeans gadis itu masih terpasang utuh. Untunglah mereka tidak terlambat.
"Kalian berani-beraninya menyentuh hal yang tidak segarusnya kalian sentuh!" Ucap Anton murka.
"Alex, Paul ikat mereka berdua! dan jangan lupakan kedua orang yang tergeletak itu." Ucap Anton dingin.
"Baik Tuan." Ucap keduanya bersamaan.
"Tunggu.. tunggu tuan.. kami bersalah.. kami tidak akan melakukannya lagi." Ucap kedua orang itu memelas.
"Paul, panggil delapan orang ho*mo dan berikan dua pria itu. Buat video yang bagus. Setelah selesai kebiri kedua orang itu, dan jangan lupa dengan dua orang lainnya.!" Ucap Anton dingin.
"Baik tuan." Ucap keduanya dan mulai menjalankan tugasnya. Inilah kekejaman tuan mereka jika berani menggusiknya.
__ADS_1
Anton mengangkat tubuh Alice dan menggendongnya menuruni lift dan kemudian masuk ke dalam mobilnya. Anton mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen miliknya.
Bersambung....