
Anton dan Paul menyiapkan keberangkatan mereka ke kota F. Tidak lupa mereka juga membawa beberapa senjata dan sebagian anak buah The Black Phanter sudah bersiaga tidak jauh dari rumah itu.
"Semua sudah siap kan Paul?" Tanya Anton lagi untuk memastikan semuanya.
"Sudah Tuan.. Semua sudah siap.. Beberapa anak buah kita juga akan mengawal mobil kita." Jawab Paul cepat.
"Baiklah.. Aku akan menghubungi Juna.."
Anton mengambil ponselnya dan mencoba mencari nama pria itu di kontak miliknya dan kemudian menghubungi Juna.
📞 "Aku sudah siap dan akan berangkat sekarang.." Ucap Anton saat panggilan telepon itu sudah terhubung.
📞 "Okey." Jawab Juna di seberang telepon dan kemudian Anton mematikan sambungan ponselnya itu.
"Ayo kita berangkat sekarang." Kata Anton dan berjalan memasuki mobil hitamnya itu, mobil yang sudah di modifikasi anti peluru bahkan tabrakan keras sekalipun.
Beberapa mobil lainnya berkendara setelah mobil milik Anton membelah jalanan pagi itu.
"Kita harus menangkapnya agar dia bisa membayar atas perbuatannya mencelakai Alice dan anak ku..." Gumam Anton dengan penuh amarah mengepalkan kedua tangannya erat.
Paul yang melirik kaca spion yang ada di tengah memperlihatkan wajah Anton yang tampak menahan emosi dan gusar duduk di kursi belakang penumpang. Paul tahu bahwa perbuatan keluarga Stary kali ini adalah hal fatal yang akan menghancurkan keluarga besar itu.
Alice dan bayinya adalah segalanya untuk Anton.. Namun kini istrinya terluka dan bayi mereka meninggal, keluarga Stary pasti akan membayar mahal untuk semua perbuatan mereka.
Mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang, satu jam kemudian mereka tiba di kota F dan masuk ke dalam salah satu gudang kosong yang menjadi tempat bersembunyi anggota The Black Phanter.
"Tuan kita sudah tiba.." Ucap Paul saat mobil mereka berhenti tepat di depan gedung tua itu.
Anton keluar dari dalam mobil dan beberapa anak buahnya datang menghampiri Anton dan memberikan hormat kepada tuan mereka itu.
"Bagaimana situasi di sini?" Tanya Anton langsung pada Alex yang berdiri tepat di depan pria itu.
__ADS_1
"Jhon Markus masih belum ada pergerakan tuan.. Mereka tidak banyak melakukan aktifitas di luar rumah.. Bahkan sejak kami tiba kami belum pernah melihat Marina keluar dari rumah itu, pintu rumah dan pintu pagar selalu tertutup. Hanya seorang pemuda yang sering keluar masuk dari rumah itu." Jelas Alex.
"Baiklah.. Teruslah berjaga agar mereka tidka bisa kabur.. Aku tidak ingin dia melarikan diri dari perbuatan yang telah dia lakukan." Ucap Anton dingin.
"Baik Tuan.. Silahkan masuk tuan.." Ucap Alex dan mempersilahkan Anton untuk masuk mengawasi beberapa kamera CCTV yang ada di dalam ruang pemantauan di seluruh jalan komplek perumahan itu.
Beberapa saat kemudian anggota RJP masuk kedalam kawasan perumahan itu.
"Kita bergerak sekarang.. Kepung rumah itu.." Ucap Anton dan memeberikan perintahnya kepada seluruh anggota The Black Phanter.
Sedangkan di dalam rumah itu..
"Bos.. Bos.. Gawat..." Ucap seorang pemuda yang berlari menghampiri seorang pria paruh baya yang sedang duduk menikmati kopinya.
"Ada apa? Mengapa kau berlarian seperti orang kesetanan?" Tanya pria tua itu heran.
"Aku melihat beberapa mobil terparkir di beberapa sudut perumahan ini, aku tidak sengaja melihat salah satu dari mereka menggunakan pakaian serba hitam bertuluskan RJP. Dan hari ini ada rombongan beberapa mobil yang masuk ke dalam gudang tua yang tidak jauh dari perumahan ini.. Sepertinya mereka sudah tau posisi kita.. Kita harus melarikan diri sekarang, jika tidak kita akan tertangkap." Ucap pemuda itu menjelaskan situasi yang dia lihat.
"Apa? Mengapa kau baru memberitahukan ini sekarang!" Bentak pria tua itu yang ternyata adalah Jhon Markus.
"Maaf bos.. Saya masih mencoba mencaritahunya lebih dahulu baru memberitahukannya kepada anda." Ucap pria muda itu yang merasa bersalah karena telat memberitahukan kabar ini sebelumnya.
"Bodoh! Cepat pergi dari sini sekarang!" Ucap Jhon Markus memerintah pria muda itu.
"Baik saya sudah menyiapkan mobil.. Saya akan membawa nyonya masuk kedalam mobil lebih dulu.." Ucap pria muda itu.
"Sudah abaikan wanita itu kita pergi sekarang juga!" Perintah Jhon tegas.
"Tapi bos..." Ucap pria muda itu menolak keinginan Jhon.
"Bukankah aku yang memperkerjakan mu! Cepat ikuti perintah ku! Bentak Jhon yang sudah emosi.
__ADS_1
Dengan sigap pria muda itu langsung keluar dan menyalakan mobilnya, Jhon juga dengan sigap duduk di sampinh kursi pengemudi.
Mobil melaju dengan keepatan tinggi.
"Bos pagarnya belum di buka.." Ucap pria muda itu saat melihat pagar rumah itu masih tertutup.
"Sudah tabrak saja pagar reot itu!" Perintah Jhon kesal.
Pria muda itu mengikuti perintah Jhon dan menginjak pedal gas lebih dalam dan kemudian terdengar suara benturan yang kencang.
Brak! Brak! Pagar berwarna hitam yang sudah karatan itupun tumbang terlindas mobil yang mereka tumpangi.
Beberapa mobil yang sedang terparkir di sekitarpun segera menyalakan mesinnya untuk mengikuti perginya mobil yang ditumpangi Jhon itu. Begitu juga dengan mobil-mobil rombongan dari RJP yang akan pergi menyergap kearah rumah Maria menghentikan mobil mereka dan memutar arah saat melihat mobil itu pergi menjauh.
"Sialan! Mereka kabur! Cepat kejar mereka!" Perintah Juna dan Anton bersamaan di tempat yang berbeda kepada para anggota mereka masing-masing.
Sedangkan disisi lain..
"Bagus.. Pemulihannya jauh lebih cepat.. Namun tetap harus memperhatikan aktifitas ya.. Jangan dulu melakukan aktifitas fisik yang berat." Saran dokter kandungan, dokter Maria yang menangani Alice. Dokter itu memperingatkan Alice akan aktifitas gadis itu kedepannya.
"Terima kasih dok.. Tapi bolehkah saya pulang? Saya sudah bosan berada di rumah sakit." Ucap Alice meminta izin kepada dokter wanita itu.
"Tapi bukankah dokter Anton masih menyuruh untuk tinggal selama beberapa hari dahulu agar lebih bisa memastikannya?" Tanya dr. Maria lagi.
"Tidak bisakah saya pulang? Sungguh saya pasti akan menjaga diri saya dengan baik sesuai arahan dokter.." Kata Alice meminta agar dia bisa di pulangkan.
"Haishh.. Baiklah kau bisa pulang.. Tapi ingay untuk jangan be raktifitas fisik yang berat ya.." Dokter Maria pun kembali mengingatkan Alice.
"Tentu saja dok.." Ucap Alice riang.
"Baiklah kau bisa pulang." Ujar dokter Maria akhirnya, "Kalau begitu saya permisi dahulu.." Lanjut dokter Maria dan meninggalkan ruang perawatan Alice.
__ADS_1
Bersambung....