
Saat jam istirahat Alice mencari Namira yang tidak kelihatan batang hidungnya.
“Astaga bocah ini pergi kemana sih..” kesal Alice sambil menyusuri lapangan sepak bola itu. Beberapa anak laki-laki sedang melakukan permainan sepak bola itu dengan riang gembira. Alice melihat salah seorang teman sekelasnya yang berpapasan dengannya dan menghentikannya.
“Siska kamu lihat Namira gak?” Tanya Alice yang sudah lelah mencari Namira kemana-mana.
“Ahh aku tahu, Namira disuruh Pak Budi untuk membuang beberapa barang ke gudang sana, di samping pembuangan sampah.” Ucap gadis itu sambil menunjuk sebuah tempat yang terhalang oleh pepohonan.
“Masuk saja ke jalan setapak itu, nanti gak jauh dari sana ada gudang.” Ucap gadis itu.
“Ohh baiklah. Terima kasih Siska.” Ucap Namira.
“Iya sama-sama.” Ucap Siska dan pergi meninggalkan Alice sendirian.
Alice pergi berjalan menyusuri jalan yang di tunjukkan oleh siska, tempat ini memang agak tertutup dan sepi karena terhalang oleh pohon-pohon besar selain itu di belakang adalah tempat pembuangan sampah, yang pasti orang-orang akan segan untuk pergi kearah sana karena baunya yang tidak nyaman.
Alice melihat sosok Namira yang sedang membuang sesuatu dalam kotak kardus ke dalam bak sampah itu. Namun tiba-tiba dua orang pria mengenakan kain penutup wajah berwarna hitam muncul dari celah tembok dan pagar yang kawatnya sudah terpotong. Mendekati tubuh Namira dari arah belakang gadis itu dan langsung membekap Namira dengan kain berwarna putih di mulut dan hidungnya. Alice yang melihat itu langsung berlari menghampiri Namira dan berteriak.
“Tidak!! Namira!!” Teriak Alice dan tidak lama kemudian seorang pria juga mendekati Alice dan mengunci tubuh gadis itu kemudian membekap mulut dan hidung gadis itu.
Alice yang sudah tahu akan di bius, menahan nafasnya dan berpura-pura pingsan. Sesaat kemudian pria itu melepaskan kain penutup yang berisi obat bius itu dan Alice mulai menghembuskan dan mangambil nafasnya perlahan tanpa menimbulkan kecurigaan dari sang penculik.
Tubuhnya di angkat oleh pria itu dan memasuki sebuah celah sempit itu. Alice mendiamkan semua perlakuan dari penculik itu yang bahkan sedikit membanting tubuhnya ke atas kursi mobil itu. Saat Alice merasakan kedua penculik sudah duduk di kursi depan dan mengemudikan mobilnya, Alice sedikit membuka matanya dan melihat di sekitarnya. Namira masih tidak sadarkan diri di sampingnya akibat obat bius itu. Dan Alice mencoba melihat salah satu penculik yang duduk di samping pengemudi, pria itu menggunakan baju tanpa lengan dan dapat memperlihatkan sebuah tato tikus hitam di lengannya.
‘Gank Black Mouse.. akhirnya kalian muncul juga.’ Batin Alice dan sedikit menekan anting permata yang selalu di gunakannya itu dengan gerakkan perlahan agar tidak menimbulkan kecurigaan kepada sang penculik. Alice menekan tombol itu untuk memberikan Galih dan yang lainnya kode untuk memantau koordinatnya, dan satu antingnya untuk merekam kejadian disana.
“Ternyata segampang ini menangkap mereka. Benar-benar membuang waktu saja.” Ucap pria yang duduk di bangku penumpang di depan sana.
__ADS_1
Alice hanya terdiam dan berpura-pura tidur, untuk mengelabui kedua penculik itu. lagi pula lumayan jika dia benar bisa istirahat, nanti di saat waktu yang tepat gadis itu jadi bisa menghajar para penjahat ini dengan kekuatan penuhnya.
Beberapa jam kemudian mobil itu memelankan lajunya dan tidak lama berhenti di suatu tempat. Kemudian sang supir mematikan mesin mobilnya dan kedua pria itu bergerak keluar turun dari mobil. Tak lama terdengar suara pintu terbuka dari bagian tengah penumpang. Kedua pria itu mengangkat kedua gadis itu bersamaan bagaikan sebuah karung yang di panggul di bahu mereka.
Hawa dingin yang menyergapi tubuh Alice, gadis itu sedikit membuka matanya dan melihat sekelilingnya adalah sebuah pohon-pohon besar. Sepertinya daerah sini adalah sebuah daerah terpencil bahkan mungkin ini adalah sebuah hutan. Untunglah Alice telah menyalakan kode emergencynya sehingga mereka hanya perlu menanti penyelamatan itu.
Alice dan Namira yang sudah di bawa masuk ke dalam suatu ruangan itu kemudian di dudukan ke sebuah kursi yang ada di ruangan itu. kemudian keduanya di ikat dengan tangan ke belakang tubuh mereka kebelakang kursi dengan sebuah tali.
“Sudah selesai. Kau bisa pergi.” Perintah sebuah suara yang merupakan orang yang mengenakan baju tanpa lengan itu. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan dari sepasang sepatu high heels di ruangan itu.
“Wah wah kerja mu benar-benar bagus. Tidak sampai malam kau sudah menangkapnya.” Punji wanita itu.
‘Suara wanita itu sepertinya aku mengenalnya.. Ahh ya Diana.. untuk apa wnaita itu di sini.” Batin Alice penasaran.
“Kapan mereka akan sadar. Aku sudah tidak sabar lagi.” Ucap Diana yang menggebu-gebu ingin cepat melancarkan keinginannya.
“Hemm yaa,, kau benar juga.” Ucap Diana dengan suara manja.
‘Astaga aku sudah tidak kuat lagi mendengar suara wanita menjijikan ini.’ kesal Alice dalam hatinya.
Alice berpura-pura sedikit bergerak dan mengerjap-ngerjapkan matanya seolah dia baru saja tersadar dari pingsannya.
“Wahh kau cepat juga bangunnya. Syukurlah.. jadi tidak membuang banyak waktu ku.” Ucap Diana ketus.
“Diana? Apa yang kau lakukan? Di mana aku? Kenapa aku di ikat. Diana apa yang kau lakukan.. cepat lepaskan aku.” Ucap Alice pura-pura gelisah.
“Heh melepaskan mu.. sia-sia saja aku membayar 100jt jika melepaskanmu.” Ucap wanita itu ketus.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” Tanya Alice bingung.
“Bukankah kau bilang Anton tidak akan melirik ku, karena dia adalah milikmu. Namun jika kau menghilang dari dunia ini, aku yakin Anton pasti akan melirik ku dan menjadi milik ku.” Ucap Diana percaya diri.
“Kau sungguh sudah gila Diana. Kau benar-benar sudah tidak bermoral lagi. Bahkan mengancam nyawa seseorang demi kebahagiaan yang belum pasti akan kau dapatkan. Aku benar-benar kasihan kepada mu.” Ucap Alice tak kalah sinis.
Plakkkk tamparan keras mendarat di pipi Alice.
“Diam Kau!! Aku akan mendapatkan kebahagiaan ku jika kau menghilang. Lagi pula meskipun bukan aku yang menginginkan nyawamu, ada pihak lain juga yang ingin melenyapkan mu.” Ucap Diana ketus.
“Apa maksud mu?” Tanya Alice sungguh bingung dengan ucapan Diana.
“Roxi beri tahu dia.. aku akan mencuci tangan ku.. jijik mengenai pipi wanita itu.” Ucap Diana dan pergi meninggalkan Roxi bersama kedua gadis itu.
“Apa maksudnya!” Ucap Alice penasaran.
“Baiklah aku akan memberi tahu mu. Lagi pula tak masalah jika aku memberi tahumu, karena sebentar lagi kau akan ma*ti di tangan ku.” Ucap pria itu.
“Ketua Black Mouse mengincar gadis di samping mu itu untuk mengancam kakaknya agar mau menemui ketua kami dan kembali ke perusahaan. Namun sepertinya wanita itu tiba-tiba menghilang dan kami hanya bisa menculiknya adiknya dahulu. Kemudian wanita itu pasti akan datang langsung menghampiri kita.” Jelas pria itu.
“Lalu apa hubungannya perusahaan dengan gank Black Mouse? Mengapa harus sibuk melakukan hal ini hanya untuk seorang artis kecil.” Ucap Alice penasaran.
“Hahaha kau hanya tahu Jessy itu hanya artis kecil, tapi perusahaan di belakang black mouse adalah perusahaan besar yang menyokong kami gank black mouse. Tentu saja itu menjadi hal besar jika Jessy itu membuka mulutnya. Belum lagi wanita itu bisa menghasilkan banyak uang dalam sekejap untuk perusahaan, tentu saja dia barang yang berharga.” Ucap Pria itu lagi.
“Apakah maksudmu ada hubungannya dengan penculikan dan penyekapan serta kasus prosti*tusi kak Jessy?” Tanya Alice semakin menggali informasi dari mulut pria itu.
Bersambung....
__ADS_1