
Setelah seharian Alice melakukan perawatan tubuh, wajah dan rambut, Lidia membawa Alice dan semua menantu perempuan beserta anak-anaknya pergi ke Hotel Del Luna sore itu.
“Ini kamar mu, istirhatlah dahulu. Nanti pukul 06.00PM, beberapa orang akan datang membantumu berpakaian dan mempersiapkan semuanya. Ingat tidak boleh membukakan pintu untuk siapapun terkecuali petugas penatarias pukul 6 nanti, meski Anton berdiri di depan pintu kamar, jangan perbolehkan dia masuk” Ucap Lidia tegas.
“Baik Ibu..” Ucap Alice sambil sedikit tersenyum. Setelah itu Lidia meninggalkan Alice sendirian di kamar VVIP itu. Seluruh anggota keluarga yang lain menempati kamar tak jauh dari kamar yang Alice tempati.
“Huft.. sekarang masih pukul 03.00PM masih tiga jam lagi dengan jadwal kedatangan mereka. Lebih baik aku tidur saja dahulu.” Ucap Alice kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman itu.
Drrtt drrttt drrtt panggilan telepon dari ID Anton.
“Haloo..” Ucap Alice, menjawab saat panggilan itu dia terima.
“Halo sayang, kau sudah di kamar hotel?” Tanya Anton basa-basi.
“He’em.. baru saja tiba.” Ucap Alice memberitahunya.
“Sayang aku sangat merindukan mu.. bolehkan aku kesana sekarang?” Tanya Anton memelas.
“Tidak boleh, Ibu tidak mengizinkan aku membukakan pintu untuk mu. Meski kau sudah berdiri di depan kamar ku.” Ucap Alice sambil menggoda kekasihnya itu.
“Astaga, memang kenapa kalau hanya bertemu. Aku kan hanya ingin melihat mu saja.” Ucap Anton memelas lagi.
“Emhh entahlah, tapi kata ibu agar aku terlihat berbeda nanti saat bertemu dengan mu. Mungkin aku akan berubah lebih cantik melebihi bidadari.” Ucap Alice masih sempat bercanda menggoda kekasihnya lagi.
“Ahh astaga Alice, kau sudah seperti bidadari. Kau tidak perlu berubah lebih cantik lagi. Nanti malah lebih banyak saingan ku mendapatkan mu, aku tidak ingin itu terjadi.” Ucap Anton yang malah marah tidak jelas karena gurauan Alice.
“Terserah kau sajalah. Aku hanya bergurau dan kau langsung sewot. Sudah ahh aku mau istirahat saja ya. Bye Anton.” Ucap Alice dan langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Anton.
“Tunguuu…” Ucap Anton yang pasti tidak dapat terdengar oleh Alice, karena gadis itu sudah memutuskan panggilan telepon itu.
__ADS_1
“Huft.. aku sungguh merindukan mu.. tidak bisakah telepon video atau kirimkan aku sebuah foto saja.. huft..” Anton menghembuskan nafasnya berat.
“Sabar Broo.. bukankah tinggal beberapa jam lagi saja. Kau terlalu rewel ya, aku baru menyadarinya.” Ucap Widi asal.
“Huft kau tidak akan mengerti perasaan rindu ku saat ini Wid, karena kau adalah seorang penggoda ulung. Kau belum pernah mencintai seseorang yang benar-benar kau sayangi dan kau hanya tertuju kepada orang itu saja. Kau terlalu banyak cabang dan ranting dimana-mana jadi kau tidak akan pernah bisa merasakan apa yang ku rasakan saat ini.” Ucap Anton kesal.
“Huh!! Aku sudah rela datang mendadak ke negara A dan aku sekarang di sindir oleh mu bahkan di abaikan, wahh hebat sekali kau ya.” Ucap Widi sambil menyilangkan tangannya di tubuhnya.
“Sudahlah, sana kau pergi. Aku mau memandangi foto wajah kekasih ku saja.” Ucap Anton kemudian melengos kembali ke kamarnya meninggalkan Widi sendirian di ruang tamu kamar kotel itu.
“Hei dasar teman tidak punya ahlak!” Ucap Widi kesal sambil melempar bantal kursi kearah Anton. Namun bantal itu malah terpental terbentur pintu yang lebih dulu tertutup saat Anton masuk ke dalam kamarnya.
“Apakah benar aku belum pernah merasakan jatuh cinta seperti itu Sepertinya aku memang selalu mudah jatuh cinta dan kemudian mudah bosan. Aku belum pernah merasa terkunci terhadap satu orang saja. Hemm apakah aku akan pernah merasakan hal itu?” Gumam Widi kepada dirinya sendiri.
***
Tok.. tok.. tok.. pintu kamar Alice di ketuk. Gadis itu baru saja selesai mandi dan mengenakan handuk kimononya beserta handuk kecil yang melilit di kepalanya. Gadis itu bergegas menghampiri pintu dan melihat siapa yang mengetuknya dari celah lubang yang ada di pintu itu.
“Anda sudah siap Nona?” Tanya salah satu dari mereka saat sudah masuk ke dalam kamar.
“Sudah.” Ucap Alice.
“Baiklah kami akan mulai Nona, silahkan nona duduk di sini.” Ucap salah seorang mereka yang menarik kursi meja rias di kamar itu. Alice duduk di kursi dengan tenang.
“Kami akan memberikan riasan wajah dahulu Nona.” Izin salah satu wanita itu yang sudah membuka kotak besar yang ternyata berisi berbagai macan make up dan peralatannya di atas meja rias itu.
Alice hanya mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Penata rias itu mulai memberikan Alice cream dan serum ke wajah Alice dan kemudian mulai memberikan foundasion dan riasan lainnya untuk Alice.
“Anda sangat cantik nona.” Ucap penata rias itu saat dia merasa hasil riasannya menjadi sangat sempurna.
__ADS_1
“Sudah selesai, anda bisa membuka mata anda.” Ucap penata rias itu lagi.
“Ahh.. apakah itu wajah ku?” Tanya Alice sedikit bingung.
“Hemm anda sangat cantik, padahal ini hanya menggenakan makeup tipis dan simple. Baiklah kita lanjut ke rambut nona.” Ucap penatarias itu kemudian dia sedikit membereskan peralatan yang telah di gunakannya.
Petugas yang lain datang dan meminta izin kepada Alice, “Saya akan menata rambut nona, saya buka ya handuknya nona.”Ucap penata rambut itu, Alice hanya menganggukkan kepalanya.
Sang penata rambut membuka handuk di kepalanya dan mulai mengeringkan rambut Alice menggunakan hair drayer kemudian mulai menata rambut Alice. Rambut di ikat dan bawahnya di kepang besar di tata sedemikian rupa.
“Sudah selesai. Anda tampak sangat cantik sekali Nona.” Ucap sang penata rambut itu.
“Mari saya bantu mengenakan pakaiannya.” Ucap penata busana yang berada di belakang penata rambut untuk membantu Alice mengenakan pakaianannya. Dress berwarna biru panjang dengan berbagai manik mengiasinya. Setelah mengenakan dressnya Alice mengenakan high heelsnya.
Tok.. tok.. tok.. pintu di ketuk dari luar, seorang penata rias membukakan pintu itu. Dan tampak Lidia muncul di balik pintu itu membawa sebuah kotak beludru berwarna merah berbentuk persegi panjang di tangannya.
“Kau tampak sangat cantik sekali Nak.” Puji Lidia saat melihat Alice sudah siap dengan dress dan high heelsnya.
“Kenakan ini padanya.” Ucap Lidia kepada penata busana itu. Penata busana itu mengambil kotak persegi panjang itu dan menyerahkannya kepada Alice. Gadis itu membuka kotak tersebut dan membelalakan matanya.
“Ibu.. apakah ini terlalu berlebihan?” Tanya Alice khawatir saat melihat satu set permata indah di dlaam kotak tersebut.
“Tidak, itu memang pantas kau dapatkan. Bantu Anak saya memakaikannya.” Ucap Lidia kepada penata busana itu. Penata busana itu mengambil kotak di tangan Alice dan memasangkan kalung, anting serta gelang di lengan gadis itu.
“Kau sekarang sudah terlihat sempurna.” Ucap Lidia. Alice mendekati Lidia dan memeluk wanita tua itu.
“Terima kasih banyak ibu.” Ucap Alice dengan penuh haru, matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
“Sama-sama. Kau juga merupakan anak asuh ku bukan. Aku sudah menganggap mu sebagai putri ku sendiri. Berbahagialah Nak.” Ucapnya dan membalas pelukan gadis itu erat.
Bersambung....